Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Terus semangat...


__ADS_3

Aku mengatakannya kepada suamiku tentang jadwal kuliahu, yang tinggal Lina SKS lagi, sebelum aku bisa menyusun skripsiku di kampus yang baru. Aku kuliah mulai hari Selasa samapi Jumat, karena disitu baru ada dosen mata kuliahnya. " Masuk kuliahnya jam berapa sayang ?", tanya suamiku, aku menjawab mulai dari jam 8 pagi sampai siang, kalau dosennya hadir, bisa cepat selesai, kadang-kadang bisa saja dosennya tidak bisa hadir, jadi harus dikonfirmasi duluan sama dosen yang bersangkutan.


Selesai mengobrol, aku mengajaknya suamiku untuk makan malam. Aku menghidangkan makanan yang sudah kumasak tadi pagi, dan sudah memanaskannya tadi sore. Makanan kesukaan suamiku adalah sambal ikan teri kacang pake tempe, dan sayurnya kangkung tumis pake sambal terasi. Tiap hari tentunya menu makanannya berbeda-beda. Kamipun makan dengan lahapnya. Setelah kenyang, aku membereskan piring yang sudah kami pakai, dan langsung mencucinya.


Setelah membersihkan dapur, aku menemani suamiku kembali di ruang tv. Sekarang siaran TV-nya tentang berita bencana alam yang terjadi di beberapa daerah, seperti bencana gempa bumi, bencana banjir bandang, dan lainnya. Aku berucap dalam hati, jika Allah SWT sudah menghendaki, apapun BB Isa terjadi tanpa kita sadari dan tanpa kita tahu hal apa yang akan terjadi. Aku bersyukur kejadian bencananya tidak ada yang terjadi di kampung kami.

__ADS_1


Sekarang tepat pukul 9 malam, mataku mulai mengantuk dan terus menguap. Suamiku yang melihatku seperti itu langsung mengajakku untuk tidur di kamar. Aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekalian mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat isya, karena takut ketiduran, jadi bolong lagi sholatnya. Selesai sholat, aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, ketika aku mulai terlelap, aku merasakan ada tangan yang meraba perutku.


Saking ngantuknya, akupun tidak peduli apa yang sedang dilakukan oleh suamiku. Lama-kelamaan tangannya mulai meraba-raba ke bagbagian tubuhku yang lain, yang lebih sensitif, sehingga aku merasa kegelian, dengan mata yang berat kucoba untuk membuka mataku, kulihat wajah suamiku dan dia tersenyum melihatku yang terbangnya akibat ulahnya.


Sekarang suamiku sudah berada di atas tubuhku dan mulai beraksi melepaskan pakaianku satu-persatu, dan kamipun melakukannya lagi dan lagi, sampai kami merasa puas dan lelah. Sebelum tidur, suamiku mencium perutku sambil berbisik " semoga bibit yang kutanam ini cepat tumbuh subur dan berkembang", aamiin, ucapku dalam hati. Kamipun tertidur lelap sambil berpelukan.

__ADS_1


Aku bergegas menuju dapur dan memasak untuk sarapan pagi dan makan siang, karena takut kerepotan. Menu sarapan pagi kami adalah nasi goreng sambal terasi pake telur dadar, dan untuk makan siang, aku memasak opor ayam saja, aku takut telat berangkat ke kampus, kalau memasak menu makanan yang banyak.


Aku menghidangkan nasi gorengnya di atas meja makan, dan opor ayamnya masih di panci, karena nanti siang, agar bisa kupanaskan lagi. Setelah berpakaian, suamiku menyusul ke dapur, dan duduk di kursi meja makan. Kamipun sarapan bersama. Suamiku memang tidak pernah memuji masakanku, mungkin rasanya tidak enak atau mungkin dia tidak tau bagaimana cara memujinya, hanya saja makanan yg kusediakan untuknya, selalu habis, dan aku menganggap dia menyukainya.


Selesai sarapan, aku membereskan meja makan dan mencuci piring dan alat masak yang sudah kotor. Selesai membersihkan dapur, aku melihat suamiku sedang menyapu seluruh ruangan. Aku tersenyum melihatnya, kupikir dia akan malu untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Aku bahagia memilikimu, ucapku dalam hati, karena menurutku, tugas rumah tangga bukanlah hanya tugas seorang istri saja, tapi seluruh anggota keluarga juga harus turut serta dalam tugas rumah tangga tersebut, bagaiman menurutmu....?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2