
Hari pun berlalu. Malam ini, kami mengadakan acara tahlilan dirumah pamanku.
Para tetangga dan alim ulama yang kami undang sudah berdatangan.
Setelah semua undangan sudah berkumpul di ruang tamu, salah satu alim ulama memulai acara tahlilan.
Beberapa jam kemudian, acara tahlilan dirumah pamanku pun diakhiri dengan doa yang terbaik dan khusyuk, serta dikhususkan untuk almarhum bang Izal.
Setelah makan malam bersama, kami beristirahat sejenak, kemudian membersihkan rumah dan peralatan makan yang sudah kotor dengan bantuan para tetangga.
Pekerjaan seberat apapun akan terasa mudah dan cepat selesai jika dikerjakan secara gotong royong.
Beberapa jam kemudian, semua pekerjaan rumah telah selesai kami kerjakan. Para tetangga sudah kembali ke rumah masing-masing.
Saat ini, aku sedang menidurkan putraku Habib, karena tadi dia terbangun, mungkin suara berisik yang terjadi saat kami mengerjakan pekerjaan rumah.
Setelah menidurkan putraku Habib, aku beranjak dari tempat tidur untuk menemui putriku yang masih bercerita dengan Pamanku.
" Ayo tidur nak, ini sudah larut malam, besok Kira mau ke sekolah ga?", tanyaku.
" Kira belum mau sekolah ma", ucapnya.
" Baiklah sayang, Kira libur sekolah dulu dua hari lagi, tapi jangan sedih dan nangis terus, nanti mama dan almarhum ayahmu juga ikut sedih, perbanyaklah berdoa dan mengaji, agar Allah SWT memberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya untuk ayahmu ya sayang ", ucapku menjelaskan.
" Iya ma, Kira bobo dulu ya ma", ucapnya sambil berlalu pergi menuju kamar tidur.
" Nak, kamu jangan terlalu keras menasehati Syakira, karena bagaimanapun juga, dia pasti sangat sedih atas kepergian ayahnya, kamu harus lebih memperhatikan Putrimu, agar dia lupa akan kesedihannya", ucap bibiku sambil tersenyum.
" Iya nak, sekarang mereka hanya memiliki kamu, ibunya, tempat mereka untuk berlindung dan mengharapkan kasih sayang yang sepenuhnya untuk mereka ", ucap Pamanku menambahi.
" Iya paman, aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk kedua anakku, aku akan lebih memperhatikan mereka, agar mereka lupa akan kepergian bang Izal, dan tidak bersedih lagi. Terima kasih ya paman dan bibi, atas semua dukungan dan nasihat kalian, sungguh, aku sangat beruntung memiliki kalian sebagai keluargaku", ucapku sambil tersenyum dan memeluk tubuh Bibiku.
" Kita kan keluarga nak, sudah seharusnya kita harus saling mendukung dan saling menyayangi satu sama lain ", ucap bibiku sambil tersenyum padaku.
" Aku istirahat duluan ya Bu, badanku pegal-pegal semua ", ucapku sambil melepaskan pelukanku.
" Iya nak, apa sebaiknya kita meminta tukang kusuk langganan bibi untuk datang ke rumah besok pagi sebelum sarapan pagi ", ucap Bibiku.
" Boleh juga Bi, setelah semua pekerjaan yang kulakukan sewaktu bang Izal dirumah sakit, baru sekarang terasa capeknya", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Ya udah, nanti bibi SMS in tukang kusuk langganan bibi ya", ucapnya.
" Iya Bi, terima kasih ya Bi", ucapku sambil tersenyum padanya.
Akupun berlalu pergi menuju ke kamar tidur untuk beristirahat. Sebelum tidur, aku terlebih dahulu membersihkan tubuhku dan mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat isya dan sholat sunat lainnya.
Setelah sholat, aku merasakan hatiku lebih tenang dan pikiranku lebih jernih untuk berfikir. Ya Allah, aku ridho dalam menjalani taqdir hidup yang sudah Engkau tentukan, ampunilah semua dosaku, dan berikanlah aku kekuatan dan keikhlasan serta ketabahan, Aamiin.
Aku beranjak dari tempat sholat dan berjalan perlahan menuju tempat tidur.
Beberapa menit kemudian, aku mulai terlelap dalam tidurku.
Took ...took..
__ADS_1
" Nak, bangun dulu, ada hal penting yang mau Bibi omongin", ucap bibiku pelan, karena takut membangunkan anak-anakku yang sedang tidur.
Aku beranjak dari tempat tidur menuju pintu kamar untuk membukakannya.
" Ada apa Bi?", tanyaku sambil menutup mulutku yang sedang menguap, karena mengantuk.
" Ayo ke ruang tamu dulu", ucap Bibiku.
Akupun mengikuti Bibiku dari belakang menuju ruang tamu.
Saat berjalan menuju ruang tamu, aku mendengar suara tangisan bayi yang cukup keras.
" Bayi siapa Bu, kok ada suara tangisan bayi", ucapku penasaran.
" Iya, ayo kamu lihat aja langsung", ucap Bibiku.
Setibanya di ruang tamu, aku melihat seorang bayi yang ada di gendongan pamanku.
" Itu bayi siapa paman?", tanyaku.
" Kamu liat dulu wajahnya pasti kamu akan langsung mengenalnya", ucap Pamanku.
Aku berjalan perlahan mendekati pamanku. Aku melihat wajahnya dan memperhatikan wajahnya dengan seksama.
" Astaghfirullah", ucapku dengan suara cukup keras karena terkejut setelah mengenali wajah bayi tersebut.
" Apa ini bayinya bang Izal dengan Mira?", tanyaku.
" Memang wanita itu sudah gila, dia tega menelantarkan bayinya sendiri, bayi perempuan atau laki-laki Bi?", tanyaku.
" Bayi perempuan nak, makanya wajahnya sangat mirip dengan Izal, sungguh tega wanita ajaib tu, untung saja pamanmu tadi belum tidur, sehingga dia mendengar suara tangis bayi yang malang ini, dan di dalam kardus itu ada suratnya lagi", ucap Bibiku.
" Mana suratnya Bi?", tanyaku.
" Itu, pamanmu letakkan di atas meja ", ucap Bibi sambil menunjuk surat tersebut.
Aku bergegas menuju meja tersebut dan mengambil suratnya dan membacanya dengan suara pelan.
Untuk mu, Ani, kuserahkan padamu kenangan terakhir dari Izal, aku tidak ingin mengingat ataupun mengenangnya lagi, jika kamu tidak ingin merawatnya dan membesarkannya, silahkan kamu buang dia ke panti asuhan ataupun berikan pada orang lain, aku tidak ingin berurusan lagi dengan anak pembawa s*ial itu, karena dia hidupku menderita.
Begitulah isi suratnya.
Aku terdiam dan terpaku setelah membaca surat tersebut, dan bingung harus berbuat apa.
" Bagaimana bi, apa yang harus aku lakukan?", tanyaku sambil menatap wajah bibiku.
" Lebih baik kamu pikirkan dulu matang-matang nak, sebelum kamu bisa mengambil keputusan, paman da Bibimu yang akan mengurusnya untuk sementara", ucap Pamanku.
" Baiklah paman, jika itu menurut paman, aku akan menuruti nasihat paman", ucapku sambil berlalu pergi menuju kamar tidurku.
Setibanya di dalam kamar, aku membaringkan tubuhku di atas ranjang. Kucoba memejamkan mataku, aku tidak bisa tidur, karena fikiranku tertuju kepada bayi itu.
Apa yang harus aku lakukan dengan bayi itu?, ucapku dalam hati.
__ADS_1
Satu sisi, aku kasihan dengan bayi itu, satu sisi lagi, aku tidak ingin anak-anakku merasa kalau kasih sayangku terhadap mereka menjadi terbagi, karena aku sudah berjanji untuk lebih memperhatikan dan lebih menyayangi mereka, hal ini membuatku jadi galau.
Akhirnya, karena lelah berfikir antara mendengar kata hati atau fikiranku, aku tertidur lelap sambil memeluk bantal gulingku.
Malam pun berlalu, pagi pun menjelang.
Seperti biasa, aku melakukan aktivitasku setiap pagi. Aku membangunkan putriku untuk melaksanakan sholat subuh.
Setelah sholat, aku mengajak putriku Syakira menemui bibiku dikamarnya.
" Bi", ucapku sambil mengetuk pintu kamarnya.
" Iya nak", ucapnya sambil membuka pintu.
" Dimana bayi itu bi?", tanyaku.
" Itu masih tidur di box bayi puny adekmu dulu", ucapnya sambil tersenyum.
Aku menggenggam tangan putriku sambil berjalan menuju box bayi tersebut.
" Kira, liat dulu adek bayi itu!", ucapku.
Syakira pun memandangi wajah bayi itu.
" Cantik banget wajahnya ma, tapi kok mirip ayah ya wajahnya?", ucapnya.
" Kira mau ga punya adek perempuan?", tanyaku.
" Iya ma, apa dia Adeknya Kira sama seperti adek Habib?", tanyanya.
" Iya sayang, dia adalah Adeknya Kira dan Adeknya Habib, apa Kira suka?", tanyaku lagi.
" Iya ma, kita bawa pulang aja ke rumah kita, biar rumah kita makin ramai ", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Iya sayang, besok kita bawa pulang ke rumah kita ya, karena nanti malam masih ada acar tahlilan dirumah kakekmu ini", ucapku menjelaskan.
" Hooree, kira punya adek lagi, adek cantik ", ucapnya sambil bertepuk tangan.
" Ya udah, Kira sarapan dulu ya, mama mau ngasih adej bayinya minum susu ", ucapku.
" Ooh, iya ma, tapi nama adekbya siapa ma?", tanyanya.
" Kalau soal namanya kita kasih nama Syifa, menurut Kira bagaimana?", tanyaku.
" Arti namanya apa ma?", tanyanya penasaran.
" Syifa artinya adalah obat, yang maksudnya Obat untuk kesedihan yang kita alami, semoga dengan kehadirannya di dalam keluarga kecil kita, hidup kita semakin berkah dan bahagia", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Iya ma, namanya bagus banget, Syifa adalah obat dari kesedihan kita ma, dan aku akan menyayanginya seperti aku menyayangi adej Habib ma", ucapnya dengan bahagia.
" Iya sayang, karena Syifa memang adalah adikmu, sama dengan adik Habib", ucapku sambil tersenyum padanya.
Bersambung...
__ADS_1