
Hari pun berlalu, malam pun tiba. Malam ini, kami akan kembali ke Medan dengan menaiki bus Bayang Pane. Kamipun bergegas menuju loket bus Bayang Pane dengan menaiki becak motor.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di loket bus Bayang Pane. Sopir becak dan suamiku langsung turun dari becak motor, dan mengangkati barang bawaan kami ke dalam loket bus Bayang Pane.
Setelah membayar ongkos becak, suamiku masuk ke dalam loket untuk menemui petugas loket. Kami segera duduk di bangku yang kosong yang sudah disediakan oleh pemilik loket di sekitar lokasi loket bus Bayang Pane.
Aku melihat banyak penumpang yang sedang duduk untuk menunggu antrian pembelian tiket bus Bayang Pane. Untung saja, suamiku cepat membeli tiket tadi malam.
Beberapa menit kemudian, sang petugas loket meminta semua penumpang yang sudah memiliki tiket untuk masuk ke dalam bus. Agar bus segera berangkat menuju kota Medan.
Semua penumpang pun bergegas menuju ke pintu masuk bus Bayang Pane, dengan teratur dan rapi, agar tidak terjadi desak-desakan antar penumpang.
Setelah semua penumpang masuk, petugas loket memeriksa semua tiket penumpang, apakah tempat duduknya sudah sesuai dengan nomor tiketnya.
Setelah semuanya selesai di cek petugas loket, sopir bus mulai melajukan bus dengan kecepatan sedang.
Selama delapan jam perjalanan, akhirnya kami tiba di kota Medan. Tepat pukul enam pagi, kami tiba di loket bus Bayang Pane kota Medan. Setelah mengambil barang bawaan kami. Suamiku memanggil tukang becak motor.
__ADS_1
Karena ukuran becak motor di Medan lebih kecil dibandingkan ukuran becak motor di gunung tua, terpaksa kami menyewa dua becak motor untuk membersihkan barang bawaan kami dan adik iparku.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah kontrakan kami. Aku bergegas turun dari becak motor, dan membuka pintu rumah kami. Suami dan adikku menyusul dari belakang sambil membawa barang bawaan kami ke dalam rumah.
" Dek, ini kamarmu", ucapku sambil menunjuk kamar tidur tamu sebagai kamarnya.
Aku langsung menuju kamar tidur kami untuk beristirahat sebentar. Badanku terasa pegal semua, ingin rasanya mendapatkan pijatan di seluruh tubuhku ini, biar segar dan bugar kembali.
Mungkin karena kondisi kandunganku yang sudah genap enam bulan, dan bayiku sangat aktif, sehingga membuatku cepat lelah.
Aku diam saja memperhatikan dia melakukannya sendiri.
Aku berinisiatif untuk mandi, agar badanku tidak pegal dan capek. Aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Setelah mandi, badanku terasa lebih segar dan bugar. Aku berpakaian di kamar tidur kami. Saat ini aku memakai pakaian daster selutut berwarna pink muda, berlengan pendek. Agar tubuhku lebih leluasa untuk bergerak.
Suamiku sudah selesai merapikan pakaian kami. Sekarang dia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Aku menyiapkan pakaian santai yang biasa dia pakai di dalam rumah. Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Tak lama kemudian, aku tertidur lelap sambil memeluk bantal gulingku.
__ADS_1
Setelah mandi, suamiku memakai pakaian yang aku siapkan di atas tempat tidur. Dia juga ikut merebahkan tubuhnya disampingku, dan memeluk tubuhku dari belakang.
kami tidur lelap sambil berpelukan. Saat adzan Dzuhur berkumandang, kami terbangun dari tidur siang kami. Aku merasa lapar. Aku bergegas ke dapur untuk memasak mie rebus dan telur mata sapi.
Untunglah persediaan bahan makanan kami masih utuh di dalam lemari makan.
Selesai memasak nasi dan mie rebus serta telur mata sapinya. Aku menghidangkannya di atas meja makan dan menutupnya dengan tudung saji.
Aku bergegas ke kamar tidur kami untuk memanggil suamiku untuk makan siang dan adik iparku juga.
" Bang, ayo makan siang bersama!", ajakku sambil menarik tangannya. Suamiku hanya mengikuti saja. Saat melewati kamar adik iparku, aku memanggilnya juga untuk makan siang.
." Dek, ayo makan siang dulu", ajakku sambil tersenyum padanya.
Akhirnya kami makan siang bersama dengan lahapnya...
Bersambung...
__ADS_1