
Malam yang hangat telah berlalu. Pagi yang indah pun tiba.
Aku menggeliatkan tubuhku untuk meregangkan otot-otot tubuhku.
Aku melihat suamiku yang masih terlelap. Aku memandangi wajahnya yang terlihat polos dan tampan.
Pantas saja Mira menyesal meninggalkan Bang Izal yang boleh dikatakan menurutku adalah pria yang hampir sempurna.
Walau dia tidak pernah mengatakan cintanya padaku, tapi dari sikap dan ketulusannya padaku, sudah membuktikan bahwa dia memiliki perasaan cinta padaku.
Aku melihat dia menggeliatkan tubuhnya, aku pura-pura tidur kembali. Dia mengelus wajahku untuk membangunkan aku. Aku membuka mataku dan tersenyum padanya.
" Adek udah bangun duluan kan tadi?" tanyanya. Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.
Kamipun mandi bersama.
Selesai mandi, kami memakai pakaian couple bermotif batik berwarna merah. Aku model gamis dan suamiku model kemeja bercelana jeans, dan aku memakai jilbab pashmina berwarna hitam.
Setelah berkemas dan mengembalikan kunci kamar kepada pemilik penginapan. Kami berangkat menuju rumah pamanku.
Setelah sarapan pagi di warung makan di pinggir jalan menuju kota Sidempuan. Kami segera berangkat menuju rumah Pamanku.
Beberapa jam kemudian, kami tiba di depan rumah Pamanku.
__ADS_1
" Assalamualaikum", ucapku sambil mengetuk pintu rumah.
" Wa alaikum salam", jawab pamanku sambil membuka pintu rumah.
Kami segera masuk ke dalam rumah sambil menyalami pamanku.
" Dimana bibi?", tanyaku.
" Bibimu ada di dapur sedang memasak makanan untuk makan siang", jawab pamanku.
Aku bergegas menuju ke kamar tidur kami, untuk menaruh tas ransel bawaan kami. Sedangkan suamiku sedang di ruang tamu mengobrol dengan pamanku.
" Bibi lagi masak apa?", tanyaku sambil mendekatinya di dapur.
" Oo.. kalian Uda pulang'nak..!, bibi sedang memasak sayur asem ikan mas, ntar lagi matang, Ani istirahat aja dulu ", ucap bibiku sambil tersenyum.
" Iya nak, ntar selesai makan siang, baru kalian pulang, apa kalian udah sarapan tadi pagi?", tanyanya.
" Udah bi, kami sarapan pagi di warung makan dekat penginapan" jawabku sambil tersenyum.
Setelah menghidangkan makanan di atas meja makan dan menutupnya dengan tudung saji. Kami bergegas menuju ruang tamu sambil membawakan minuman dan cemilan untuk kami mengobrol.
" Lagi ngomongin soal apa bang?", tanyaku pada bang Izal.
__ADS_1
" Ini lagi ngomongin soal rencana kita untuk kembali ke Medan besok malam ", jawab suamiku.
" Emang kita pulangnya ke Medan mau naik bus atau minibus?", tanyaku lagi.
" Kita naik bus Bayang Pane aja biar lebih aman dan nyaman", ucap suamiku.
" Gimana kabarnya Kakakmu Khadijah setelah pindah ke Binjai ", tanya bibiku.
" Aku belum pernah mengobrol atau bertemu dengan kak Khadijah bi, nanti setelah pulang ke Medan, kami akan berkunjung ke rumah kak Khadijah ", ucapku sambil tersenyum.
" Iya Ni, setiap kali Bibi hubungi, nomor handphonenya tidak aktif, bibi jadi khawatir, atau hp nya hilang, ntah kemana, ga ada kabar lagi", ucap bibiku was-was.
" Iya Bi, nanti kalau udah di Medan, Kami akan segera mengunjungi kak Khadijah", ucapku menenangkannya.
" Iya nak, semoga Khadijah baik-baik saja", ucap bibiku sambil tersenyum padaku.
" Aamiin", ucapku dengan penuh keyakinan.
Setelah satu jam mengobrol di ruang tamu. Adzan Dzuhur berkumandang. Kami bergegas untuk bersiap-siap melakukan shalat Dzuhur berjamaah.
Selesai sholat, kamipun makan siang bersama dengan lahapnya.
Setelah membantu bibiku membersihkan dapur dan mencuci peralatan masak dan makan. Aku bergegas menuju kamar tidur kami untuk mengemasi barang-barang kami.
__ADS_1
Setelah berpamitan pada Paman dan bibi, kami berjalan kaki menuju pinggir jalan untuk menaiki minibus menuju Gunung Tua.
Bersambung...