
Ternyata yang datang adalah bang Zainal Abidin.
" Ternyata bang Zainal", ucap suamiku sambil menghampirinya. Merekapun bersalaman.
Bang Zainal memberikan bingkisan buah kepada suamiku dan memberikannya padaku.
Aku meletakkan bingkisannya di atas lemari yang tersedia.
" Gimana keadaan neneknya ", tanyanya pada bang Izal.
" Alhamdulillah udah mendingan bang", jawab bang Izal.
" Abang kok tau kami disini?", tanya bang Izal penasaran.
" Tadi aku ketemu dek Ani diluar, pas dia mau beli makanan dan minuman di seberang jalan rumah sakit, makanya aku tahu kalian ada disini", jawabnya sambil tersenyum.
" Terima kasih Atas kedatangan dan perhatikan Abang kepada kami, padahal kita baru kenal tadi malam", ucap suamiku sambil melirikku. Aku jadi serba salah, karena aku tau maksudnya bang Izal melirikku seperti itu.l
" Ya sudah, kalau begitu Abang pamit dulu ya dek, semoga neneknya lekas sembuh", ucap bang Zainal sambil tersenyum pada kami, dan diapun segera keluar dari kamar pasien.
__ADS_1
" Kok adek ga cerita sama abang Kalau ketemu sama bang Zainal tadi diluar?", tnua suamiku dengan sinis.
" Pas aku mau cerita tadi sama Abang, ternyata orangnya udah langsung datang, yah percuma juga adek ceritain, orangnya aja yang langsung cerita", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Abang cemburu ya?!", tanyaku sambil mencolek hidungnya.
" Ga lah dk, siapa yang cemburu, abang kan cuma nanya sama adek!", jawabnya mengelak.
Aku hanya tersenyum melihat reaksinya dan duduk di samping tempat tidur pasien.
Di saat aku menggenggam tangan nenek, nenek membuka matanya," Ani udah lama datangnya?", tanya nenekku dengan suara parau.
" Lumayan lama nek, kami datang, Nenek sedang tidur, paman dan Irul, sudah pulang ke rumah dari tadi, setelah kami tiba disini. Gimana keadaan, masih ada yang sakit nek?", tanyaku sambil tersenyum padanya.
" Kenapa nenek bisa menjadi seperti ini, apa ada masalah yang sulit yang sedang nenek hadapi?", tanyaku sambil menggenggam tangannya.
" Ini karena pamanmu Rasid, dia memaki nenek dan mendorong tubuh nenek sampai jatuh tersungkur ke bawah mesin jahit, hanya karena nenek tidak mau memberikannya uang untuk membeli sepeda motor", ucap nenek sambil meneteskan air mata.
" Sabar ya nek, mudah-mudahan paman diberi Allah hidayah agar menjadi orang yang baik atau diberikan Allah peringatan agar dia bisa cepat bertaubat akan kedzoliman yang dia lakukan pada keluarganya", ucapku sambil tersenyum padanya.
__ADS_1
" Kata dokter, nenek sudah bisa pulang besok, dan nenek menjalani pengobatan alami aja, seperti pijat refleksi dan pemandian air panas yang mengandung obat yang ada di Sipirok ini, mudah-mudahan nenek cepat sembuh", ucapku menghiburnya.
" Iya nek, kita hanya bisa bersabar dan berdoa, semoga om Rasid mendapat hidayah dari Allah SWT, dan segera menyadari kesalahannya", ucap suamiku menambahi.
" Jika kita benar, kita harus kuat dan tidak boleh putus asa nek, karena Allah SWT beserta orang-orang yang sabar dan benar", ucapku menguatkan hatinya.
" Assalamualaikum", ucap suster dan masuk ke dalam kamar.
" Ini makan malam untuk pasiennya ya kak", ucapnya sambil tersenyum.
" Adek udah lama kerja disini", tanya bang Izal pada suster.
" Sudah lumayan lama bang, selama lima tahun saya sudah mengabdi di rumah sakit ini", ucapnya.
" Nama adek siapa kalau boleh tau?", tanya suamiku sambil melirikku, dan aku tahu maksudnya apa.
" Namaku Tika Siregar bang", ucapnya sambil tersenyum.
Aku hanya cuek saja mendengar perkenalan mereka, awas aja kamu bang Izal, ga dapat jatah seminggu, ucapku dalam hati sambil tersenyum sendiri.
__ADS_1
Lihat saja nanti permainan adek bang, biar tau rasa nanti adek bikin pusing tujuh keliling, hehehe...
Bersambung...