Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Sepi..


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepat. Tidak terasa putriku sudah berumur sembilan bulan.


Aku mengisi hari-hariku sebagai ibu rumah tangga seperti biasanya.


Selama beberapa bulan ini, aku belajar menjahit pakaian jadi secara otodidak dengan menggunakan mesin jahit manual bekas yang kubeli dengan sisa uang warisan yang diberikan oleh pamanku.


Kulewati hari dengan perasaan sepi, tidak ada kehangatan maupun kasih sayang lagi dari suamiku. Dia menyibukkan dirinya dengan bekerja dan kumpul bersama dengan teman kerjanya.


Dia mendekatiku, hanya ingin untuk menyalurkan hasrat seksualnya, dan aku tidak pernah membalas cumbuannya, karena aku sudah mati rasa melihat tingkahnya.


Hanya karena masalah sepele, akibatnya sangat menyakitkan, padahal aku sudah berulang kali meminta maaf dan membujuknya, agar hubungan kami kembali seperti dulu, tapi semua sia-sia.


Barulah kusadari sifat aslinya seperti apa, berarti sifat baik yang dia lakukan selama ini hanyalah sebuah topeng untuk membodohi aku. Tapi, mau gimana lagi, nasi sudah menjadi bubur, kami sudah memiliki seorang putri, dan aku tidak ingin putriku merasakan penderitaan yang kurasakan saat aku masih anak-anak, sampai aku dewasa dan berumah tangga, rasa sakit tidak merasakan kasih sayang kedua orang tuaku, sangatlah menyiksaku.


Aku menata hatiku, dan mencoba berdamai dengan diri sendiri, agar aku menjadi lebih sabar, tabah, dan kuat dalam menghadapi ujian hidup ini.


Setelah belajar sungguh-sungguh, akhirnya aku bisa menjahit pakaian jadi sesuai dengan model yang terbaru yang lagi booming saat ini.


Aku memajangnya ruang tamu kami, yang sudah menjadi ruang kerjaku untuk menjahit.


Sedangkan kursi tamunya sebagian kupindahkan ke ruang tv. Suamiku tidak berkomentar apapun, dia hanya enjoy dan tidak peduli dengan apapun yang aku kerjakan.


Aku tidak pernah menceritakan semua luka yang kurasakan ini kepada siapapun, hanya Allah SWT saja tempatku mencurahkan isi hatiku dan tempatku memohon pertolongan.


Hanya Allah SWT yang bisa membolak-balikkan hati seorang hamba yang diinginkannya, semoga Allah menyadarkan suamiku akan kesalahannya, karena telah mengabaikan aku dan putrinya.


Aamiin, do'aku setiap kali aku bersujud kepada Allah.


Hari ini, aku sedang mengerjakan pesanan baju gamis berwarna merah, dari tetanggaku. Aku hampir menyelesaikannya kemaren, tapi karena putriku Syakira agak rewel, aku menghentikan pekerjaanku.


Nafkah dari suamiku memang cukup untuk kebutuhan kami sehari-hari, tapi aku tidak ingin menggantungkan hidupku padanya, karena kita tidak tahu, apa yang akan terjadi esok hari.


Aku menabung sedikit demi sedikit dari sisa uang belanja dan hasil jahitan pakaian dari langgananku. Setelah menyelesaikan pekerjaanku, aku bergegas menuju pintu rumah untuk mengantarkan pesanan tetanggaku ini.


" Assalamualaikum Kak", ucapku sambil mengetuk pintu rumahnya.


" Wa alaikum salam dek", jawabnya sambil membuka pintu rumahnya.

__ADS_1


" Ini Kak, pakaian kakak udah selesai aku jahit", ucapku sambil menyodorkan plastik yang berisi pakaiannya.


" Tunggu sebentar ya dek, duduk dulu disini, Kakak coba dulu, apa udah pas di tubuh kakak atau masih ada perbaikan", ucap kak Nur, tetanggaku.


" Iya kak, tapi jangan lama-lama ya kak, soalnya putriku sedang tidur, takut kebangun nantinya langsung nangis, kalau dia tidak melihat wajahku", ucapku sambil tersenyum.


" Iya dek, kakak ga lama kok", ucapnya sambil berlalu pergi menuju kamarnya.


Beberapa menit kemudian, dia menemuiku di dengan mengenakan pakaian yang kujahit itu, dan terlihat sangat cocok dan bagus dipakainya.


"Kakak puas dengan hasil jahitanmu dek, nanti Kakak bantu promosiin ke teman-teman Kakak di kantor ya, biar langganan adek makin banyak ", ucapnya sambil tersenyum dan memberikan tiga lembar uang seratus ribuan padaku.


" Ambil aja uang kembaliannya yang lima puluh ribu lagi untuk keperluan adek, Kakak ikhlas kok dek ngasihnya", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Terima kasih banyak ya kak, semoga Allah SWT melimpahkan rezeki kakak dan keluarga kakak ", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Sama-sama dek, adek juga ya, dan tetap semangat ya", ucapnya seakan tahu masalah bathinku.


Aku berpamitan padanya dan berjalan menuju rumah kami yang tidak seberapa jauh jaraknya.


Di saat aku sudah di dalam rumah, aku mendengar suara ponselku yang berdering keras. Aku takut putriku terbangun gara-gara suara ponselku itu, karena aku lupa mengecilkan volume suaranya.


" Assalamualaikum dek", ucap kak Khadijah di seberang telepon.


" Wa alaikum salam kak, gimana kabarnya?", tanyaku.


" Alhamdulillah Kakak baik-baik saja, sekarang ini kakak sedang di ruang persalinan normal untuk melahirkan dek, di rumah sakit umum Binjai dek, kakak sempatkan ngasih tahu adek, agar adek bisa menjenguk Kakak disini, tolong sampaikan kepada bibi kita ya dek", ucapnya sambil meringis kesakitan.


" Iya kak, insha Allah, kami akan datang kesana untuk menjenguk Kakak, kakak yang kuat ya, doa kami menyertai kakak ", ucapku haru.


Aku mengakhiri pembicaraan kami dengan mengucapkan kata-kata positif sebagai motivasi untuk kak Khadijah.


Selesai berbicara dengan kak Khadijah, aku segera menelepon suamiku yang sedang bekerja di kantor, walau hari ini adalah hari Minggu. Aku tidak mempermasalahkannya, karena sejak masalah kami yang dulu, sehingga membuat sikapnya berubah menjadi cuek padaku, dia jarang menghabiskan waktu liburnya bersama kami.


" Assalamualaikum Bang ", ucapku ragu


" Ada apa kamu nelpon?", tanyanya cuek padaku.

__ADS_1


" Baru saja kak Khadijah menelpon aku untuk memberitahukan kalau dia akan melahirkan di kota Binjai, dan kak Khadijah meminta kita untuk datang menjenguknya di rumah sakit umum kota Binjai ", ucapku takut dia marah, karena akhir- akhir ini dia suka marah akan hal-hal sepele.


" Ooh..aku tidak sempat kesana, kamu saja yang pergi sendiri kesana", ucapnya sambil mengakhiri pembicaraan dan mematikan sambungan telepon kami.


Aku terdiam dan terpaku mendengar ucapannya. Aku bergegas ke kamar tidur untuk bersiap-siap untuk berangkat ke kota Binjai untuk menjenguk Kakakku Khadijah.


Aku menggendong putriku yang tertidur pulas di dalam box bayi, dengan menggunakan kain gendongan.


Aku berpesan kepada adik iparku untuk mengunci pintu rumah dan memberitahukannya bahwa aku pergi selama tiga hari dengan menggunakan bahasa isyarat tentunya.


Aku berjalan perlahan dengan menjinjing tas besar yang berisi pakaianku dan putriku dan uang tunai tabunganku yang lumayan banyak, hasil kerja kerasku menjahit pakaian jadi.


Aku berniat meninggalkan Suamiku untuk beberapa hari ke depan, sampai dia sendiri yang menjemput kami ke rumah kak Khadijah.


Aku memanggil becak motor yang sedang lewat, ketika sopir becak motor berhenti di depanku, aku memintanya untuk mengantarkan aku ke loket minibus jurusan Binjai.


Sopir becak motor langsung melajukan becaknya menuju loket minibus dengan kecepatan sedang.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan loket minibus. Setelah membayar ongkos becak, aku bergegas masuk ke dalam loket untuk membelikan tiket.


Sopir becak membantuku membawakan tas besar bawahanku ke dalam loket, mungkin dia kasihan melihatku yang sedang susah payah menggendong putriku yang tertidur pulas di dalam gendonganku.


Setelah menikah beberapa menit, minibus berangkat menuju kota Binjai. Selama dua jam perjalanan, akhirnya kami tiba di kota Binjai, dan aku meminta tolong kepada pak sopir minibus untuk mengangkat aku langsung ke rumah sakit umum.


Sopir minibus pun langsung melajukan mobil menuju rumah sakit umum, karena menurutnya, urusanku sangat urgent, untuk didahulukan.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah sakit umum Binjai. Setelah mengucapkan terima kasih, aku membawa tas besarku yang sudah diturunkan oleh sopir minibus menuju lobi rumah sakit.


Karena sudah siang, aku merasa sangat lapar, putriku juga sudah bangun, jadi aku melangkahkan kakiku menuju kantin rumah sakit yang ada di samping rumah sakit ini.


Aku menitipkan tas ku ke pemilik kantin, setelah membayar makanan yang sudah kusantap dengan putriku, mungkin karena terlalu lapar, sehingga dalam waktu singkat, kami menghabiskan makanannya seperti kesetanan, hehe.


Aku bergegas menuju lobi rumah sakit, dan menanyakan nama pasien yang bernama Khadijah.


Di saat petugas rumah sakit mengecek nama yang kukatakan, ada seseorang yang memanggil namaku.


" Aanii...!", ucapnya setengah berteriak.

__ADS_1


Aku membalikkan tubuhku dan melihat siapa yang memanggil namaku, dan aku sangat terkejut melihatnya dan aku ....


Bersambung...


__ADS_2