
Aku membalikkan tubuhku dan melihat siapa yang memanggil namaku dan aku melihat lamaku Putri setengah berlari menuju tempatku berdiri.
" Putri....?", tanyaku memastikan, karena dia terlihat lebih cantik dan lebih dewasa sekarang ini.
" Iya Ni, aku Putri, sepupunya Azam, lama tak jumpa ya Ni, sehingga kamu lupa padaku?", jawabnya.
" Ga lah Put, aku hanya memastikan saja, takut salah orang, karena dirimu yang sekarang sangat berbeda yang dulu", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Kamu bisa aja Ni, kamu ngapain disini?", tanyanya padaku.
" Aku disini mau menjenguknya kakakku sedang dirawat di rumah sakit ini, dan aku sedang menanyakannya pada petugas rumah sakit ini ruang rawat atas nama kakakku Khadijah ", ucapku sambil memeluk putriku yang mulai tak sabar, mungkin dia kecapean berjalan seharian.
" Ooh.. kelihatannya putrimu sedang kecapean, ayo kita duduk dulu sebentar di ruangan kerjaku, ada di lantai satu ini juga, jaraknya tidak jauh dari sini, nanti aku antar ke ruang rawat Kakakmu, setelah diberitahu pihak informasi pasien rumah sakit ini ", ucapnya.
Karena merasa cape juga, aku menuruti keinginannya untuk ke ruangan kerjanya.
" Bagaimana keadaanmu sekarang Ni, apa rumah tanggamu baik-baik saja, karena kulihat tubuhmu makin kurus, dibandingkan terakhir kali kita bertemu dulu", ucapnya sambil berjalan membawa tas bawaanku.
" Aku dan rumah tanggaku baik-baik saja kok, dan mungkin aku kelihatan kurus seperti ini, karena aku memang diet, agar lebih mudah bergerak, bekerja dan mengurus putriku ", ucapku sambil tersenyum padanya.
Aku melihat tatapan matanya yang penuh duka dan luka, aku tahu kamu berbohong Ni, ucap Putri dalam hati.
" Syukurlah kalau begitu Ni, semoga kalian senantiasa bahagia, dan bang Azam juga bahagia dengan pernikahannya, ooh..ya aku jadi lupa untuk menceritakannya padamu, tiga bulan yang lalu, kami menjodohkan bang Azam dengan putri teman ayahku, dan sekarang mereka tinggal di kota Jakarta, karena bang Azam masih terikat kontrak dengan perusahaan kapal tengker tempatnya bekerja dulu, dan mereka bertemu tiga kali dalam setahun, jika bang Azam mengambil cutinya ", ucapnya menjelaskan.
" Syukurlah kalau Azam sudah menikah, dan semoga dia selalu bahagia dengan istrinya", ucapku tulus mendoakannya.
" Ooh ya Ni, putrimu namanya siapa, kamu rebahkan dulu putrimu diatas ranjang yang ada di dekat meja kerjaku itu?", ucapnya sambil tersenyum padaku dan duduk di sofa yang ada di dekat pintu masuk.
" Namanya Syakira ", ucapku sambil merebahkan tubuh putriku yang terlihat lelah di atas ranjang yang ditunjukkan oleh Putri.
"Kamu Kerja bagian apa disini Put ?", tanyaku penasaran.
" Aku bekerja sebagai administrator di rumah sakit ini, dan ini ruangan kerjaku", ucapnya menjelaskan.
" Apa kamu sudah menikah?", tanyaku.
" Alhamdulillah udah Ni, setahun yang lalu aku menikah, dan belum punya anak", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Sabar ya Put, mungkin belum waktunya dikasih Allah SWT, nanti kalian berusaha terus biar cepat dapat momongan", ucapku menggodanya.
" Iya Ni, kami tiap hari, usaha terus kok, mungkin Allah belum percaya sama kami untuk memilik keturunan", ucapnya sambil tersenyum padaku.
Aku teringat ponselku, bodohnya aku, aku kok ga kepikiran buat nelpon bang Raka atau kak Khadijah kalau aku Uda nyampe disini.
" Tunggu ya Put, aku telpon bang Raka sama kakakku dulu ya, dari tadi kok aku ga kepikiran ya?", ucapku sambil menggandeng kepalaku yang tidak gatal.
__ADS_1
" Karena kamu mikirin suamimu terus kali ya, maka ni ya ga kepikiran buat nelpon mereka", ucapnya menggodaku.
Aku hanya pura-pura tidak mendengarnya, karena takut ketahuan apa yang sedang kusembunyikan rapat-rapat.
" Assalamualaikum bang Raka", ucapku setelah bang Raka menerima panggilan teleponku.
" Wa alaikum salam dek, kamu dimana sekarang?, kakakmu sebentar lagi akan di operasi Caesar, karena dari tadi pagi, ga ada pembukaan jalan lahir dibilang dokternya, jadi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, harus di Caesar ", ucapnya menjelaskan.
" Maaf ya bang, aku baru kepikiran nelpon Abang, aku sudah di rumah sakit ini, kalian di ruangan mana, agar kami segera kesana ", ucap khawatir dengan kondisi kakakku.
" Kami sudah di ruangan persiapan operasi di lantai dua, adek kesini aja ya, Abang ga bisa jemput adek lagi, kakakmu ga ada yang nemanin", ucapnya menjelaskan.
" Iya bang, kami akan segera kesana ", ucapku sambil mengakhiri telepon.
" Putri, apa kamu bisa menemani aku ke ruang persiapan operasi?, karena kakakku akan di operasi Caesar ", ucapku singkat.
" Iya, ayo aku antar kesana ", ucapnya sambil beranjak dari tempat duduknya.
Kamipun bergegas menuju ruang persiapan operasi untuk menemui Kak Khadijah, sedangkan tasku, kami tinggalkan di ruang kerjanya Putri.
Kami menggunakan lift, agar lebih cepat nyampe di ruang persiapan operasi.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan ruangan tersebut. Aku melihat bang Raka berjalan mondar -mandir sambil mengepalkan tangannya.
" Bang Raka, gimana kondisi Kak Khadijah", tanyaku penasaran.
" Abang tidak usah khawatir, Kak Khadijah akan baik-baik saja, Allah SWT akan selalu melindungi orang baik seperti kak Khadijah ", ucapku menghiburnya.
" Iya pak, dokter di rumah sakit ini sudah berpengalaman semua, Inshaa Allah, istri bapak akan baik-baik saja, kita doakan saja semoga operasinya berjalan lancar ", ucap Putri menambahi.
" Iya Bu, terima kasih doanya", ucap bang Raka sambil tersenyum.
" Ooh ya bang Raka, kenalin ini temanku Putri, bekerja di rumah sakit ini juga", ucapku mengenalkan Putri pada bang Raka.
" Salam kenal ya ", ucap bang Raka singkat, mungkin karena dia masih khawatir dengan kondisi kak Khadijah.
Dua jam berlalu, operasi Caesar sudah selesai, Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar, ucapku dalam hati.
Kami melihat seorang suster sedang membawa seorang bayi dengan menggunakan box bayi dari ruang operasi.
" Gimana suster keadaan istri saya?", tanya bang Raka tak sabar.
" Alhamdulillah keadaan istri bapak baik-baik saja, dan ini bayi bapak, selamat ya pak , bayi bapak laki-laki, ganteng seperti ayahnya ", ucap suster sambil tersenyum pada kami.
" Alhamdulillah, selamat ya bang, semoga panjang umur, sehat selalu dan banyak rezekinya ", ucapku sambil mengelus kepala sang bayi.
__ADS_1
" Terima kasih ya dek, atas doanya ", ucap bang Raka terharu.
Beberapa menit kemudian, Kak Khadijah dibawa keluar dari ruang operasi dengan menggunakan brankar yang didorong oleh dua orang suster.
" Ani", panggil kak Khadijah.
" Iya kak, selamat ya kak, bayi kakak laki-laki, pasti bang Raka semakin mencintai Kakak", ucapku bahagia sambil tersenyum padanya.
Kak Khadijah pun tersenyum mendengar ucapanku itu.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan ruang rawat inap kak Khadijah.
Kelas VIP, yang memiliki dua tempat tidur pasien dan sofa serta televisi.
Ruangannya bersih dan wangi. Pasti pasien akan betah di rawat di rumah sakit ini, ucapku dalam hati.
" Ni, nanti tasmu, Suster aja yang ngantar ke kamar ini ya, karena aku masih ada kerjaan", ucapnya padaku.
" Iya, ga apa-apa Put, makasih banyak ya, udah mau nemanin aku", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Iya, sama-sama Ni", ucapnya sambil berlalu pergi meninggalkan kami di kamar ini.
Aku merebahkan tubuh putriku yang sudah tertidur lelap digendonganku ke atas tempat tidur pasien yang kosong.
Aku segera menggendong bayi kak Khadijah dan menciumnya pelan.
" Bayimu sangat tampan kak, dan imut sekali", ucapku sambil menciumnya lagi.
" Iya, tampan seperti ayahnya", ucap kak Khadijah sambil tersenyum melihat bang Raka.
Aku melihat bang Raka pura-pura tidak mendengar, dan aku tahu kalau dia sangat bahagia dengan kelahiran putranya.
" Bu, bayinya setiap kurang dua jam harus dikasih minum susu ya, biar dia makin sehat dan kuat, tapi kalau ASI nya udah keluar, lebih baik dikasih langsung sama bayinya, colostrum Asi nya sangat baik untuk kesehatan bayinya ya Bu", ucap Suster menjelaskan dan berlalu pergi meninggalkan kami.
Beberapa menit kemudian, ada seorang suster yang datang ke kamar kami membawa tas bawaanku. Aku mengucapkan terima kasih padanya.
" Izal dimana Ni?", tanya Kak Khadijah.
" Dia lagi sibuk kerja kak, ga bisa ikut, katanya jadwal mereka padat kak", ucapku menjelaskan.
" Sabar ya dek, mudah-mudahan Izal kembali seperti dulu lagi, kakak sedih melihat tatapan matamu yang penuh luka itu, semoga Allah segera menyadarkan Izal akan kesalahannya", ucap kak Khadijah.
" Semoga kak, sebelum semuanya terlambat bagiku, jika semua batas kesabaran itu sudah lewat, dia akan menyesali semua perbuatannya padaku kak", ucapku sambil menahan air mataku.
" Jangan katakan seperti itu dek, Izal pasti akan berubah, teruslah berdoa dan bersabar, Kakak yakin, hubungan kalian akan kembali seperti dulu lagi ", ucapnya menghiburku.
__ADS_1
Semoga saja, Allah memberikan aku kekuatan dan kesabaran dalam menjalani ujian ini, ucapku dalam hati.
Bersambung....