
POV. Mira
Sejak menginjak remaja, aku mulai mengalami pubertas, tapi menurutku pubertas yang ku alami ini sangat mengerikan, karena aku tidak merasa puas dengan satu pria saja. Memang pacar pertamaku adalah bang Izal, dan aku benar-benar menyukai dan mencintainya.
Bang Izal orangnya sangat baik dan pengertian, tapi dia sangat pendiam dan tidak romantis dan selalu menjaga jarak denganku, dia tidak pernah mau menyentuhku, tapi pada akhirnya karena aku selalu merayunya, dia mau menyentuhku dan menciumku, hanya sebatas itu, tidak sampai melakukan intim.
Sejak satu jam yang lalu, aku sudah menunggu bang Izal di luar kantor, sebelumnya aku menelpon suamiku terlebih dahulu untuk memastikan dia di kantor atau di lapangan, agar rencanaku untuk mendapatkan bang Izal kembali ke pelukanju, berjalan lancar.
Hari ini, keberuntungan memihak padaku, suamiku sedang bertugas di lapangan untuk melakukan survei nasabah baru. Aku mulai melancarkan aksiku untuk mendekati bang Izal.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, aku melihat bang Izal keluar dari kantor, dia tampak terburu-buru, aku bergegas menemuinya sebelum dia pergi, ketika dia menghidupkan mesin sepeda motornya, aku menghadang sepeda motornya, dan kulakukan berbagai cara agar dia mau mengantarkanku membelikan obat untuk anakku, padahal anakku sehat, tapi demi melancarkan rencanaku, aku harus pandai berakting untuk meyakinkan dia.
__ADS_1
Saat dia memboncengku, aku tersenyum sendiri mengingat aktingku barusan, bang Izal begitu naif, dengan mudahnya bisa kumanfaatkan, memang kalau orang baik, sangat mudah ditipu jika tentang kehidupannya yang susah atau mengenai anak, pasti mudah merasa kasihan, kalau aku menjadi aktris, mungil aku akan memenangkan piala Citra, karena aktingku yang memukau, buktinya bang Izal langsung mempercayaiku, ucapku dalam hati sambil tersenyum sendiri.
Aku tidak mau bang Izal menolak ku, aku harus mendapatkan bang Izal kembali. Walau aku harus bercerai dengan Fauzi, dan memberikan anakku padanya, aku tidak perduli, karena aku ingin bang Izal menjadi milikku dan membuat Ani menderita. Aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkan bang Izal lagi.
Sesampainya di taman, aku mulai membujuknya, agar mau ikut duduk bersamaku di kursi taman, separuh rencanaku sudah berhasil, dan tinggal menunggu hasil akhirnya, ketika bang Izal melamun, aku tidak tahu apa yang di pikirkan saat itu, dia tidak menyadari kalau aku mendekatinya, dan semakin mendekatkan wajahku ke wajahnya, dan aku segera mencium bibirnya, dan diapun membalas ciumanku.
Aku sangat bahagia, tapi ketika dia tersadar karena suara hp ku, dia langsung mendorongku dan menjauhiku, untunglah anakku tidak bangun dan menangis, karena suara bang Izal yang lumayan keras karena marah padaku.
Sejak saat itu, aku sangat membencinya, dan aku akan berusaha memisahkan bang Izal dengan Ani, sedangkan dulu aku bisa dengan mudah memisahkan Ani dengan Azam, tentulah rencanaku ini lebih mudah kulakukan, karena aku tehu kelemahan dari bang Izal dan Ani, ucapku dalam hati sambil tersenyum sendiri.
Semoga keberuntungan memihak padaku lagi, agar aku bisa memisahkan bang Izal dengan Ani, karena aku tidak ingin melihat mereka bahagia, sedangkan hidupku sangat menderita melihat mereka bahagia. Ini adalah penyakit baruku yang baru kusadari,
__ADS_1
Susah melihat orang senang..
Senang melihat orang susah..
khususnya untuk Ani. Entah kenapa dia selalu lebih beruntung daripada aku, padahal menurutku, aku jauh lebih cantik daripada dia, sewaktu sekolah dulu, pacarku saja tidak terhitung jumlahnya, sekali sebulan ganti pacar, sedangkan Ani, hanya dekat dengan satu pria, yaitu Azam.
Salah satu kunci rencanaku agar berhasil, aku harus mengetahui tentang keberadaan si Azam, agar rencanaku cepat terlaksana dan bisa berhasil.
Azam dimanakah dirimu...?
Bersambung...
__ADS_1