
POV. Izal
Di saat aku hendak menghidupkan mesin sepeda motorku, tiba-tiba Mira muncul di hadapanku dan meminta tolong kepadaku untuk mengantarkan ke apotek untuk membelikan obat anaknya yang sedang sakit, karena suaminya sedang survey lapangan untuk nasabah baru.
" Bang Izal, tolong antar aku ke apotek untuk membelikan obat anakku sedang demam ini", ucapnya sambil menangis menggendong anaknya.
Karena merasa kasihan, aku mengiyakan untuk mengantarkannya ke apotek. Aku membonceng nya untuk ke apotek, dia memeluk pinggangku, karena takut jatuh. Sebenarnya aku merasa risih, tapi daripada dia jatuh, bisa gawat juga, ntar kasihan anknya terluka. Bayi berumur 6 bulan sedang tidur di gendongannya Mira.
Ketika dalam perjalanan menuju apotek, kami melewati sebuah taman kecil yang lumayan sepi, dan Mira untuk diturunkan disini. Aku jadi bingung, katanya mau ke apotek, tapi kok dia minta turun disini ya, ucapku dalam hati.
" Bang Izal, ayo kita duduk sebentar di taman ini ada yang mau kubicarakan denganmu, sangat penting", ucap Mira sambil memaksaku untuk turun.
" Kita bicaranya disini, ntar menimbulkan fitnah, kalau kita berdua aja", ucapku padanya.
" Ga enak kalau gini ngomongnya ba bag, aku cape berdiri lama-lama, sambil menggendong gini", ucapanya lagi membujukku.
Setelah berdebat cukup lama, akhirnya aku ikut turun dan duduk di kursi taman.
" Cepat, kamu mau ngomong apa sama aku?", tanyaku tidak sabar.
" Sebenarnya bang Izal,aku masih sangat mencintai kamu bang, aku menyesal sudah meninggalkanmu dulu, jujur saja aku tidak pernah bahagia dengan pernikahanku ini, ini semua kulakukan untuk orang tuaku, yang bersikukuh agar aku menikahi Fauzi, kalau tidak, aku akan tidak dianggap sebagai anak bang", ucapnya sambil berlinang air mata
__ADS_1
" Kamu kan sudah punya anak dengan Fauzi, dan aku juga sudah menikah dengan Ani dan kami juga akan segera memiliki anak", ucapku ragu dengan ucapannya barusan.
" Kalau soal anakmu nanti akan aku rawat denga penuh kasih sayang dan anakku akan aku berikan ke Fauzi, biar dia yang merawat anak kami", ucapnya dengan penuh keyakinan.
Aku kaget dengan perkataannya.
Jujur aku bingung perasaanku sebelumnya bagaimana, aku bahagia hidup bersama istriku, walau sampai saat ini, aku belum yakin akan perasaanku padanya, cinta atau hanya berdasarkan kebutuhan saja, tapi perasaanku pada Mira masih ada, walau tidak sebesar dulu saat kami masih pacaran.
Mira adalah cinta pertamaku saat sekolah SMP dulu, kami adalah teman sekelasku, kata orang itu hanyalah cinta monyet, tapi bagiku, Mira adalah satu- satunya untukku.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, saat kami kelas VII, semester kedua, aku mengutarakan isi hatiku padanya sepulang sekolah, karena jarak rumah kami juga berdekatan, hanya 10 meter saja, tapi keluarganya lebih berada dibandingkan keluarga ku.
Sampai Mira sekolah di Sidimpuan pun, kami masih pacaran. Saat kami sudah sama-sama lulus SMA, orang tuanya mengetahui hubungan kami, dan tidak merestui hubungan kami, akhirnya mereka menikahkan Mira dengan Fauzi, yang sekarang adalah bawahanku di kantor.
" Bang Izal..!", ucap Mira sambil menggenggam tanganku, dan mulai mendekati aku, wajahnya semakin dekat dengan wajahku, kami berciuman cukup lama,karena kaget, ada suara hp, aku langsung menjauhkan diriku darinya. Aku langsung merogoh kantongku untuk mencek hp ku, ternyata hp ku tidak aktif, dan aku segera melihat jam tanganku, sudah pukul 6 sore, hampir magrib.
" Astaghfirullah, ya Allah, ampuni aku, karena sudah khilaf, melakukan dosa terhadap istriku", ucapku sambil menundukkan kepalaku,
" Ini bukan dosa bang Izal, ini adalah cinta kita, aku yakin bang Izal masih mencintai ku, dan akan segera meninggalkan Ani untuk kembali padaku", ucap Mira tanpa rasa malu.
"Dasar wanita gila, kamu itu sudah menikah dan punya anak, masih aja kamu mengharapkan aku, aku juga sudah punya istri, dan kamu sudah punya suami, apa kamu tidak merasa bersalah sedikitpun sudah menghianati suamimu sendiri, ternyata kamu orangnya egois, berarti dulu saat kita pacaran, kamu juga pasti punya pacar yang lain selain aku, sedangkan kamu sudah menikah saja mau menghianati suamimu sendiri, betapa bodoh ya aku bisa mencintai orang sepertimu, mulai sekarang jangan pernah muncul dihadapan ku atau jangan pernah datang ke rumahku, atau kamu akan menyesal Mira", ucapku dengan marah sambil meninggalkannya di taman itu, terserah dia mau pulang naik apa atau diculik genderuwo aja sekalian, biar dijadiin istrinya, sungut ku dalam hati.
__ADS_1
Aku bergegas melajukan sepeda motorku menuju ke rumah, pasti Ani akan marah dan kecewa padaku, karena aku sudah menghianati kepercayaannya.
Aku berjanji kepada diriku sendiri, tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
Setibanya di rumah, aku mengetuk pintu rumah kami, " Assalaamu alaikum dek Ani..!", ucapku setengah berteriak.
" Wa alaikum salam bang, tunggu sebentar, aku lipat mukenah dulu", jawabnya setengah berteriak.
Beberapa menit kemudian, Ani datang untuk membukakan pintu rumah untuk ku. Setelah pintu rumah dibuka, ku lihat wajah sendunya yang masih agak basah karena air wudhu. Betapa bodohnya aku, jika menyia-nyiakan wanita yang shalihah seperti dia, istri idaman semua pria yang ada di dunia ini.
" Setelah aku masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi tamu, Ani datang membawakan segelas air putih untuk ku. Aku semakin merasa bersalah dengan perbuatan ku sendiri, yang mudah tergoda oleh rayuan wanita murahan seperti Mira. Aku menyesal sudah pernah mencintai wanita seperti itu.
Aku pikir, istriku Ani, akan marah, karena tidak jadi berbelanja ke Carrefour untuk membelikan hadiah untuk pernikahan family kami yang tinggal di kota Binjai Minggu lusa, tapi sebaliknya, dia tidak marah sama sekali, malahan dia khawatir tidak bisa menghubungi nomor handphone ku, dan aku terpaksa berbohong padanya, karena takut dia akan kecewa dan meninggalkan ku.
Sejujurnya setelah melakukan kesalahan itu, aku menyadari perasaan cintaku pada Ani, tapi aku tidak tahu cara untuk mengungkapkan perasaan cinta ku pada Ani, jadi kupendam saja untuk sementara sampai aku siap mengutarakan isi hatiku padanya, istriku sendiri.
Aku tahu, Ani juga mencintaiku, karena berkali-kali dia katakan padaku, tapi aku tidak pernah membalasnya, karena aku masih bingung dengan perasaanku sendiri, karena aku yakin, lambat lain aku pasti jatuh cinta pada Ani, yang menurutku adalah wanita cantik, cantik fisiknya dan cantik hatinya.
Betapa bodonya aku, jika aku membuang emas demi mendapatkan tembaga. Aku akan menjadi pria terbodoh sedunia, jika menyia-nyiakan Ani, istri yang ku cinta, walau terlambat, daripada tidak sama sekali.
Betapa beruntungnya aku mendapatkan istri seperti Ani...
__ADS_1
Cintaku...