
Hari ini, kami mengadakan acara membagikan makanan kepda anak yatim-piatu, dan fakir miskin. Setelah kepergian nenekku dua hari yang lalu, kami masih di rumah nenek. Rencananya, setelah acara hari ini, kami akan kembali ke rumah kami yang ada di gunung tua.
Kemaren sore, ayah mertuaku sudah kembali ke rumah kami terlebih dahulu bersama adik iparku Marni, karena ada urusan penting dengan teman lamanya yang ada di gunung tua.
Aku sedang membantu bibiku untuk membungkus makanan yang akan kami bagikan untuk anak yatim-piatu dan fakir miskin sebanyak lima puluh bungkus.
Sedangkan putriku Syakira sedang bersama ayahnya di halaman rumah. Suamiku sedang mengobrol dengan pamanku.
Setelah selesai mengerjakan pekerjaan kami yang terasa ringan jika dikerjakan bersama, kami membersihkan rumah bersama - sama juga, agar pekerjaan kami cepat selesai.
Para pria bertugas untuk membagikan makanan ke rumah mereka yang sudah terdaftar di sebuah kertas yang ditulis oleh pamanku yang dari Sipirok.
" Dek, Ini putri kita udah tidur dari tadi, taruh dulu ke kamar, biar Abang bantu berkemasnya", ucap suamiku.
" Iya bang", ucapku sambil menggendongku putriku dan membawanya ke kamar.
Aku meletakkan tubuh putriku di atas kasur.
Setelah itu, aku bergegas mengemasi barang-barang kami, tanpa memanggil suamiku.
" Adek ga manggil Abang?", tanyanya sambil duduk di atas tempat tidur.
" Ini kan pekerjaan ringan sayang, jadi ga usah Abang bantuin, adek bisa ngerjain sendiri ", ucapku sambil tersenyum.
Selesai berkemas, aku duduk di samping suamiku.
" Dek, Abang kangen banget nih sama adek ", ucap suamiku sambil membelai wajahku.
" Kok Abang kangen sama adek, padahal kita kan sama terus dari kemaren ", ucapku menggodanya.
" Iya sayang, walau sana terus, masih kangen banget nih, lagian adek pura-pura ga tau apa maksud Abang!", ucapnya sambil memeluk tubuhku.
" Malu dong yank, ini kan rumah nenek, dan Kita lagi berduka, masa mau gitu- gituan", ucapku menolaknya dengan halus.
" Ya udah, kita langsung pulang ke gunung tua aja yuk, biar ga kangen lagi nih", ucapnya sambil mencium bibirku.
Aku mencubit telinganya, agar dia menghentikan aksinya, karena malu juga kalau kepergok sama orang.
" Udah ya sayang, nanti kita lanjutin dirumah aja ya, malu kalau disini ", ucapku sambil tersenyum.
" Iya sayang, udah satu minggu nih ga dapat jatah si junior " ucap suamiku sambil tersenyum.
Aku menggendong putriku yang tertidur pulas dengan menggunakan kain gendongan bayi, dan suamiku yang membawa koper bawaan kami.
__ADS_1
Saat kami keluar dari kamar, aku melihat paman dan bibiku sedang berkumpul di ruang tamu.
" Kalian sudah mau berangkat", tanya pamanku yang dari Sidimpuan.
" Iya om m, kami akan berangkat siang ini", ucap suamiku sambil duduk di samping paman.
" Kalian lagi ngebahas apa Bi", tanyaku.
" Ini masalah warisan, dan tentang adikmu si Irul, jadi kami sepakat untuk memberikan uang sebagai warisan untukmu dan adikmu, sebesar dua puluh juta, jadi masing-masing dari kalian, mendapatkan uang 10juta rupiah ", ucap Bibiku menjelaskan.
" Alhamdulillah, kalau paman dan bibi masih memikirkan kami, karena aku ga kepikiran tentang hal itu ", ucapku sambil tersenyum.
" Sekarang kami akan memberikan hak kalian sebagai cucu, karena bagaimanapun dalam hukum Islam, hukum waris, menentukan kalau kalian mempunyai hak atas uang ini", ucap Pamanku yang dari Sipirok sambil memberikan sebuah amplop yang lumayan tebal kepadaku.
" Terima kasih ya paman", ucapku sambil tersenyum padanya.
Kamipun menyalami mereka satu-persatu, dan pamit kepada mereka, untunglah saat kami sudah di teras, pamanku yang tinggal di desa Seberang, baru tiba di depan rumah.
" Kami pamit ya Om", ucap suamiku. Dia tidak merespon sedikitpun, bahkan menolehpun tidak. Dasar manusia Fir'aun, ucapku dalam hati sambil menarik tangan suamiku menuju ke tepi jalan untuk menaiki minibus.
" Sekali lagi, Abang ga usah ngajak manusia Fir'aun itu ngomongin apapun", ucapku sambil menatapnya tajam.
" Jangan ngomong gitulah dek, gimanapun juga, dia itu masih adik dari ayah kandungmu, pamanmu sendiri, jadi kita harus tetap menghormatinya", ucap suamiku menasehatiku.
Suamiku hanya tersenyum mendengar ucapanku, karena dia tahu, kalau dia semakin mendebat pendapatku, nanti juniornya yang akan ku buat menderita.
Beberapa menit kemudian, minibus yang menuju Gunung Tua pun akhirnya lewat juga, sehingga kami tidak terlalu lama untuk menunggunya di tepi jalan raya ini.
Suamiku menyetop minibusnya, dan supirnya membukakan pintu untuk kami. Setelah kami duduk dengan tenang, supir minibus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Setengah jam kemudian, kami tiba di loket minibus yang ada di Gunung Tua. Setelah membayar ongkos kami, suamiku membawa koper bawaan kami ke becak motor yang sudah dipanggilnya.
Beberapa menit kemudian kami tiba di depan rumah kami yang ada di Gunung Tua.
" Assalamualaikum", ucap suamiku sambil membuka pintu rumah yang tidak dikunci.
" Wa alaikum salam", jawab ayah mertuaku.
Kamipun menyalami ayah mertuaku secara bergantian.
" Acara disana udah selesai Zal ?", tanya ayah.
" Alhamdulillah udah selesai Yah", ucapnya sambil membawa koper kami ke dalam kamar kami dan kembali menemui Aya mertuaku.
__ADS_1
Aku bergegas meletakkan Syakira ke atas tempat tidur yang sudah keliatan bersih, mungkin sudah dibersihkan adik iparku.
Setelah meletakkan putriku yang tertidur pulas, aku bergegas keluar dari kamar tidur menuju kamar mandi.
Sekilas aku mendengar pembicaraan ayah mertuaku dan suamiku mengenai kesehatan ayah mertuaku yang sering sakit kepala.
Setelah menyelesaikan urusanku dengan kamar mandi, aku menemui mereka yang masih mengobrol di ruang tamu.
" Emangnya ayah sakit apa?", tanyaku penasaran.
" Emang Ayah dari dulu punya penyakit darah tinggi, ntah mengapa, akhir-akhir ini,. penyakit ayah sering kambuh", ucap suamiku.
" Mungkin makanan ayah ga terkontrol sewaktu disini, jadi ayah udah berobat ke dokter?", tanyaju lagi.
" Iya, kemaren ayah udah berobat ke puskesmas, dan udah mendingan sekarang, tapi ayah takut nantinya kumat lagi" ucap ayah mertuaku.
" Ya udah, lebih baik kita berobat ke dokter spesialis penyakit dalam aja, biar dokternya langsung memeriksa kesehatan ayah yang sebenarnya " ucapku lagi.
" Ga usah nak, kalau periksa ke dokter, biayanya mahal, nanti kalian jadi kesusahan karena penyakit ayah ini", ucap ayah mertuaku.
" Ayah ga usah mikirin biayanya, anak ayah kan kerja, Inshaa Allah, pasti ada rezekinya, dan semoga pekerjaan anak ayah semakin maju dan sukses nantinya, Ayah doain ya, lagian menjaga dan merawat ayah adalah kewajiban kami", ucapku sambil tersenyum.
" Terima kasih ya nak, semoga Allah melimpahkan rezeki untuk kalian berdua ", ucap ayah mertuaku sambil tersenyum.
" Aamiin Yah " ucap kami bersamaan.
Setelah memutuskan jadwal untuk membawa Ayah berobat ke dokter spesialis penyakit dalam, aku bergegas menuju kamar kami, karena mendengar suara tangisan putriku. Mungkin dia sudah merasa lapar dan haus.
Aku menggendong putriku sambil menyusuinya, agar dia tidak menangis lagi, karena ini adalah jurus jitu untuk menenangkan bayi yang sedang menangis, menurut pendapatku.
Setelah putriku mulai tenang dan sudah kenyang, aku menaruhnya di atas tempat tidur, dan akupun merebahkannya tubuhku disamping Putriku. Aku menciumi wajahnya yang menggemaskan.
Disaat sibuk dengan putriku, suaminya datang ke kamar dan mengunci pintunya.
Dia merebahkannya tubuhnya di sampingku dan memeluk tubuhku dari belakang, dan mulai menciumiku.
" Abang udah ga tahan nih sayang, gimana nih, Syakira udah bangun, Abang ga puas kalau mainnya buru-buru dan cepat -cepat", ucapnya sambil berbisik.
" Makanya tunggu malam aja yank Syakira, Bobo dulu, baru kita lanjutin permainan hot nya", ucapku melakukan penawaran.
Ternyata...
Bersambung...
__ADS_1
.