Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Perpisahan yang tidak terduga... part. 4


__ADS_3

Maf y guys, telat update, kurang sehat kemaren, udah agak mendingan nih..!


kita lanjut ya guys .


thanks for dukungannya dan komentar positif nya...


Love u All...


" Menurut Abang, solusi yang terbaik untuk masalah ini hanyalah solusi yang adek berikan, karena bagaimanapun juga, Marni tidak mungkin tinggal bersama ayah dirumah ini untuk merawat ayah", ucap suamiku memutuskan.


" Iya sayang, solusi yang adek katakan lebih baik kita lakukan", ucapku sambil tersenyum.


Waktu berlalu, setelah keputusan yang sudah kami ambil untuk membawa ayah mertuaku dan dek Marni tinggal di rumah kami yang ada di kota Medan.


Pagi ini, seperti biasa, aku melakukan aktivitasku sebagai seorang ibu rumah tangga.


Aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, karena kami bercinta lagi semalam. Itu adalah kewajibanku sebagai istri untuk melayani suamiku. Sebagai obat untuk lebih memperkuat hubungan kami.


Di saat aku sudah tiba di depan kamar mandi, aku melihat tubuh ayah mertuaku yang sudah terbujur kaku di dalam kamar mandi.


" Tolooong..bang Izal..!", teriakku.


Aku bergegas berlari menuju kamar tidur kami, karena bang Izal belum datang juga, mungkin karena kelelahan dan tertidur lelap.


" Bang, bangun, ayah tergeletak di kamar mandi dan tidak sadarkan diri", ucapku sambil menggoyangkan tubuhnya.


" Apa...", ucapnya langsung berdiri dan memakai celana panjangnya, kami langsung berlari menuju kamar mandi.


Karena tubuh ayah mertuaku tinggi besar, gemuk, kami kesusahan mengangkat tubuhnya, apalagi aku baru operasi Caesar, aku tidak diperbolehkan untuk mengangkat barang-barang yang berat.


"Bang cepetan minta bantuan ke tetangga, biar ayah bisa kita bawa ke rumah sakit", ucapku panik.


Suamiku langsung bergegas menuju ke luar rumah dan berlari meminta pertolongan ke para tetangga.


Lima menit kemudian, suamiku dan para tetangga sudah di dalam rumah, dan bergegas membantu suamiku untuk mengangkat tubuh ayah mertuaku menuju mobil pak kepala desa yang sudah terparkir di depan rumah kami.


Aku sedang sibuk menimang bayiku yang sedang menangis histeris, karena terkejut. Sedangkan adik iparku bersama suamiku dan beberapa penduduk serta pak kepala desa, untuk membawa ayah mertuaku ke rumah sakit umum.


Aku bergegas ke dapur untuk memasak makanan untuk kami. Aku khawatir dengan keadaan ayah mertuaku. Karena takut maag ku kambuh jika telat makan, aku terpaksa makan duluan, baru menyusul mereka ke rumah sakit.


Setelah makan, mandi dan memandikan bayiku, aku bergegas menuju ke halaman rumah untuk menyusul suamiku ke rumah sakit, tapi di saat aku sedang mengunci pintu rumah, mobil ambulance tiba di depan rumah kami.


Sontak aku kaget dan was-was, apa yang sedang terjadi saat ini.


Aku melihat suamiku dan adik iparku turun dari mobil ambulance sambil menangis.


Aku tidak jadi mengunci rumah, membuka pintu rumah lebar -lebar, untuk mempermudah mereka untuk membawa tubuh ayah mertuaku yang sudah terbujur kaku di atas tempat tidur rumah sakit.


Air mataku bercucuran tanpa henti, padahak kami baru kehilangan nenekku, sekarang kami kehilangan ayah mertuaku.


Sungguh sakit tak terkira, di waktu yang berdekatan, kami berpisah dengan orang yang kami kasihi.


Sungguh perpisahan yang tidak terduga ini, sangat menyakitkan, tapi kami harus tabah dalam menghadapi ujian hidup ini, semua ini adalah taqdir dari Allah SWT yang harus kami jalani.


Setelah melihat suamiku yang menangis, aku masih terpaku diam melihatnya , seorang tetangga menyadarkan aku untuk menggelarkan tikar, agar para penduduk yang mau melayat, bisa melihat jenazah.

__ADS_1


Aku bergegas menuju ke dalam rumah, dan mengambil tikar pandan yang berukuran 2*6 sebanyak dia lembar, dan menggelarkannya di ruang tamu.


Setelah menyiapkan kasur untuk pembaringan jenazah, para tetangga dan petugas rumah sakit mengangkat tubuh ayah mertuaku dan meletakkannya di atas kasur.


Suamiku menutupi seluruh tubuhnya dengan kain putih yang diberikan oleh salah satu tetangga kami. Aku bergegas ke kamar tidur kami untuk mengambil ponselku.


" Paman, ayah mertuaku sudah meninggal, kalian datanglah kemari ", ucapku sambil menangis melalui sambungan telepon seluler kami


" Iya nak, kebetulan kami masih di dasa Landia, rencananya nanti sore kami mau pulang ke Sipirok", ucap Pamanku yang dari Sipirok.


Aku langsung mengakhiri sambungan telepon seluler kami, dan bergegas ke ruang tamu.


Singkat cerita, pagi beranjak siang, saat ini, jenazah sedang dimandikan dan seterusnya akan dikafani. Pamanku yang dari Sipirok dan Sidempuan ikut memandikan jenazah ayah mertuaku. Setelah sholat Dzuhur, jenazah akan disholatkan.


Waktu berlalu, setelah pemakaman jenazah ayah mertuaku, para tetangga kembali ke rumah masing-masing. Para sanak famili yang datang melayat, telah pergi. Sekarang suasana rumah kami kembali sepi.


Aku membantu adik iparku membersihkan rumah, sedangkan suamiku menjaga putri kami.


Selesai membersihkan, dan mengembalikan barang-barang para tetangga yang kami pakai, kami beristirahat di ruang tamu.


" Bang, apa Abang sudah mengabari atasan Abang, kalau tiga hari lagi lagi, baru abang bisa bekerja kembali", ucapku sambik menggenggam tangannya untuk memberikan kekuatan untuknya.


Aku berusaha untuk mengalihkan perhatian dan pikirannya ke pekerjaannya, agar dia tidak larut dalam kesedihan.


" Keterlaluan kamu ya, ayahku baru meninggal, kamu udah ngungkit pekerjaan, kamu takut kalau aku pengangguran dan kamu ga bisa akau kasih makan ?", ucapnya marah sambil berdiri dan berlalu pergi ke luar rumah.


" Adek ga ada maksud negatif bang, adek cuma ngalihin perhatian Abang, agar tidak larut dalam kesedihan", ucapku bergegas menahannya agar tidak pergi dalam keadaan marah seperti itu.


Suamiku berlalu pergi dalam keadaan marah dan tidak mau mendengarkanku. Padahal aku tidak bermaksud buruk, aku hanya ingin menghiburnya.


" Syukurlah Abang sudah pulang, Abang belum makan sejak pagi, ayo kita makan bang", ucapku sambil tersenyum membujuknya.


Kamipun makan malam bersama di dapur, sedangkan putriku ditemani oleh adik iparku.


" Bang, aku minta maaf ya, jika perkataanku tadi siang menyinggung perasaan Abang, aku ga ada maksud yang buruk bang, aku hanya ingin Abang tidak larut dalam kesedihan", ucapku sambil menatap matanya.


Kulihat dari tatapan matanya, tidak ada kehangatan maupun kasih sayang lagi, hanya ada kebencian. Aku kaget menyadari kalau Suamiku memiliki perasaan benci padaku.


Aku terdiam melihat suamiku berjalan menjauh dariku tanpa sepatah katapun.


Aku akan berusaha untuk sabar dan tabah dalam menghadapi ujian rumah tangga kami ini, ucapku dalam hati.


Hari berganti hari, tiga hari berlalu. Setelah mengurus pemakaman, dan acara sedekah untuk fakir miskin, uang yang diberikan oleh pamanku kemaren sewaktu di rumah nenekku, sisanya dua juta lagi. Aku ikhlas memberikannya untuk membantu suamiku, walau niatku sebelumnya, uang itu untuk membelikan emas untuk putriku.


Malam ini, kami akan kembali ke Medan dengan menggunakan bus Bayang Pane. Setelah berkemas dan pamit kepada para tetangga, dan berpesan jika ada yang ingin mengontrak rumah kami, agar menghubungi nomor handphone kami.


Setelah itu, kami bergegas menuju loket bus Bayang Pane dengan menaiki becak motor.


Walau sikap suamiku sudah berubah padaku, tidak seperti sebelumnya, aku tetap mencintainya dan menghormatinya.


Semoga suatu saat nanti, suamiku akan memaafkan kesalahaku itu, yang menurutku hanya masal kecil, tapi besar akibatnya, ucapku dalam hati.


Setelah menempuh perjalanan selama delapan jam, akhirnya kami tiba di loket bus Bayang Pane kota Medan. Suamiku mengangkati barang bawaan kami ke dalam becak motor yang sudah terparkir di depan loket.


Aku satu becak dengan adik iparku, sedangkan suamiku satu becak dengan barang bawaan kami. Biarlah mungkin menurutnya itu yang terbaik, ucapku dalam hati.

__ADS_1


Aku tetap berusaha untuk tetap tegar dan tersenyum demi putriku, bagaimanapun juga, dia adalah suamiku, ayah kandung putriku, ucapku dalam hati sambil tersenyum.


Setengah jam kemudian kami, kami tiba di depan rumah kontrakan kami. Aku turun dari becak motor dan bergegas menuju pintu rumah kami untuk membukanya, karena kunci pintu rumah ada padaku.


Setelah pintu rumah terbuka, suamiku mengangkati barang bawaan kami ke dalam rumah dan segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sedangkan aku meletakkan tubuh putriku yang tertidur pulas di dalam box bayi yang sudah kubersihkan terlebih dahulu.


Aku bergegas mengambil pakaian kerja suamiku, karena aku tahu, kalau dia langsung bekerja hari ini, karena diminta atasannya.


Aku menaruh pakaian kerjanya di atas tempat tidur yang sudah kubersihkan terlebih dahulu.


Aku melihat suamiku sudah memakai pakaian yang kusediakan, walau tidak ada komentar sama sekali, seperti dulu. Syukurlah, doa masih menghargai usahaku.


Aku melihat di bergegaslah ke luar rumah untuk mengambil sepeda motornya yang ada di rumah tetangga kami.


" Aku sarapan di kantor saja, takut telat, aku berangkat ya ", ucapnya tanpa menunggu jawaban dariku.


Aku melihat dia dari kejauhan sambil tersenyum padanya, agar dia tahu, kalau aku tidak mempermasalahkan hal itu.


Adik iparku mulai menyapu seluruh ruangan rumah kami, kecuali kamar tidur kami, karena aku sudah membersihkannya terlebih dahulu.


Aku mengambil ponselku untuk memesan makanan untuk kami sarapan pagi ini dan bahan makanan yang akan ku masak untuk makan siang dan makan malam. Aku memesannya secara online.


Sikap suamiku yang sudah berubah membuatku mulai tidak nyaman dan tidak bahagia, aku mulai khawatir jika tiba-tiba dia aka selingkuh dan meninggalkan kami.


Aku harus berubah juga untuk menjadi wanita yang mandiri, agar aku tidak bergantung kepadanya, dan dia tidak semena-mena padaku, ucapku dalam hati.


Setengah jam kemudian, saat aku baru selesai mandi dan berpakaian, si tukang antar pesananku sudah tiba di depan rumah. Aku bergegas menuju pintu rumah kami untuk mengambil pesananku.


Setelah membayar semua biaya pesananku sebanyak lima ratus ribu rupiah, aku berterima kasih kepadanya, karena sudah membantuku.


Aku membawa karung berisi belanjaan dan sarapan pagi kami ke dalam rumah menuju dapur. Aku mengajak adik iparku untuk sarapan pagi terlebih dahulu, karena perutku mulai keroncongan karena lapar.


Setelah sarapan, aku meminta adik iparku untuk membersihkan halaman rumah yang kotor. Setelah istirahat sebentar, aku melanjutkan pekerjaanku, dan adikku melakukan pekerjaan yang kuminta padanya.


Di saat aku sedang sibuk memasak, putriku terbangun dan menangis. Aku mematikan api kompor, dan mencuci tanganku. Aku bergegas menuju kamar tidur kami untuk melihat putriku yang sedang menangis.


Aku segera menyusuinya, agar tidak menanggapi lagi. Akhirnya dia tertidur kembali, dan aku segera meletakkan tubuh putriku ke dalam box bayi.


Aku menuju dapur untuk menyelesaikan pekerjaanku yang sempat tertunda. Dua jam berkutat di dapur sambil membersihkan dapur dan mencuci peralatan masak dan makan kami, aku segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang terasa lengket karena keringatan.


Selesai mandi, aku bergegas ke kamar tidur kami untuk memakai pakaianku. Aku mengambil baju daster motif bunga matahari kesukaanku. Aku menyisir rambutku yang panjang dan memakai bedak tipis dan parfum non alkohol, wangi melati, agar lebih fresh.


Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, karena merasa mengantuk, akhirnya aku tertidur lelap sambil memeluk bantal gulingku.


Waktu berlalu, aku dan Putriku tertidur sampai tiga jam, saat ini sudah lama pukul dua siang, waktunya untuk makan siang.


Siang ini, suamiku tidak pulang ke rumah untuk makan siang, mungkin dia sedang banyak pekerjaan, karena dia sudah seminggu tidak masuk kerja, ucapku dalam hati.


Aku menggendong putriku menggunakan kain gendongan menuju dapur untuk mengambil makanan untukku santap siang hari ini. Aku melihat adik iparku sedang menonton televisi.


Aku memintanya untuk makan siang bersama, dan dia dengan bahasa isyarat, mengatakan kalau dia sudah makan siang terlebih dahulu.


Akhirnya, aku makan siang sendirian. Aku menyantapnya makanan yang ada di Piringku dengan lahapnya, agar rasa laparku terobati.


Bersambung

__ADS_1


..


__ADS_2