
Hari pun berlalu, aku belum bisa memutuskan untuk menerima atau menolak lamaran bang Zainal.
Karena, aku masih mengharapkan Azam. Entah kenapa, dia tidak bisa dihubungi ataupun tidak ada kabar darinya.
Aku masih ingat, terakhir kali kami berkomunikasi melalui WhatsApp, dia bilang, aku harus menunggunya, tapi sudah sebuah lebih aku tidak tahu kepastian tentang perasaannya padaku.
Sejujurnya, aku bimbang dengan perasaanku sendiri, di satu sisi aku nyaman dan suka pada bang Zainal, karena dia menyayangi anak-anakku dan mau menerima aku apa adanya, dan di sisi lain, aku mencintai Azam, karena dia adalah cinta pertamaku.
Apakah benar, kami memang tidak berjodoh?, tanyaku dalam hati.
Aku mengambil ponselku, dan menghubungi nomor handphone Putri, untuk menanyakan keberadaan Azam, tapi nomor ponselnya tidak bisa dihubungi.
Di tengah kebimbangan ini, akupun memutuskan untuk melakukan sholat istikharah nanti malam, setelah menemui paman dan bibiku setelah Habib pulang sekolah.
" Ma, kita jadi pergi ke rumah nenek?", tanya Syakira.
" Iya nak, setelah adekmu Habib pulang dari sekolah", ucapku sambil tersenyum padanya dan menyusun belanjaanku, yang sudah kubelanjakan setelah sholat shubuh tadi.
" Emangnya, kita mau ngapain kerumah nenek ma?", tanyanya.
" Ada hal penting yang harus mama bicarakan dengan kakek dan nenekmu.
" Apa mengenai om Insan yang sudah menikah di Palembang?", tanyanya.
" Ga nak, ada hal lain ", ucapku masih sibuk dengan kegiatanku.
" Apa mengenai om Zain, apa dia mengajak ibu untuk menikah dengannya?", tanyanya.
Aku terdiam sejenak dan menatap wajahnya.
" Bagaimana pendapatmu jika mama menikah dengan om Zain?", tanyaku.
" Jujur saja ma, aku senang kalau mama menikah dengan om Zain, tapi jika mama juga bahagia menikah dengan om Zain, mama harus lebih utamain kebahagiaan mama dulu, karena mama sudah banyak berkorban untuk kebahagiaan kami", ucapnya.
Aku tersenyum mendengar ucapannya.
" Ternyata putri mama udah mulai dewasa ya!", ucapku sambil mencubit hidungnya.
" Kerjaan mama, udah selesai, ayo kita sarapan dulu, adek-adekmu udah bangun belum?", tanyaku.
" Kalau Habib udah bangun ma, sekarang dia sudah selesai memakan seragam sekolahnya, tinggal sarapan aja, baru dia berangkat ke sekolah ", jawabnya.
" Kalau adekmu Syifa?", tanyaku lagi.
" Syifa masih bobo ma, tadi Kira bangunin masih ngantuk katanya ", ucapnya.
" Ya udah, mama aja yang bangunin Syifa setelah mengantar adekmu Habib ke sekolah ", ucapku sambil berlalu menuju dapur untuk mencuci tanganku di westafel yang ada di dekat kompor.
" Habib udah selesai sarapan sayang?", tanyaku.
" Udah ma, ini mau pake perkembangan seragam sekolah sekalian make sepatu sekolah, Habib tunggu di teras aja ya ma, mama sarapan aja dulu!", ucapnya.
" Iya sayang, mama sarapannya cuma sedikit kok, jadi gak lama, tungguin mama di teras ya, sambil dibaca aja buku pelajaran hari ini!", ucapku.
" Iya ma!", ucapnya sambil berlalu pergi.
Beberapa menit kemudian, kami selesai sarapan. Aku bergegas menuju teras rumah untuk menemui Habib putraku dan mengantarnya ke sekolah dengan menaiki motor matic.
__ADS_1
Setelah mengantar Habib ke sekolah, aku mampir ke ATM yang ada di dekat sekolah Habib untuk mencek saldo rekening bank milikku.
Aku memarkirkan motor matic ku di depan ruang ATM, dan segera masuk ke dalamnya.
Aku memasukkan kartu ATM ku ke mesin ATM dan mencek saldo rekeningku, yang tertera senilai sembilan puluh juta rupiah.
Setelah mengeluarkan kartu ATM ku dari mesin ATM, akupun segera keluar dari ruang ATM dan menaiki motor matic ku.
Setelah menghidupkan mesin motorku, aku melajukannya dengan kecepatan sedang menuju rumah kami.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah kami. Para tetangga yang sedang membeli pun segera menyapaku.
" Baru ngantar anaknya ke sekolah ya Bu Ani?", tanya salah satu pembeli.
" Iya Bu, maaf ya Bu, agak lama pelayanannya, karena putriku masih belum mahir dalam melayani pembeli", ucapku basa-basi.
" Kalau begitu, Bu Ani segera cari Ayah baru aja, biar ga kerepotan ngantar anak ke sekolah ", ucapnya.
" Jodohnya belum datang Bu!", ucapku sambil tersenyum sambil mengambil barang pesanan mereka yang sudah kubelanjakan.
" Yang pake mobil hitam kemaren, bukannya calon suami ibu Ani?", tanyanya.
" Iya Bu, itu memang calon ayah baru kami", jawab Syakira tiba-tiba.
" Tuh kan Bu, itu memang benar calon suaminya ibu Ani yang baru, yang pertama kan sudah meninggal dunia, benar kan Bu Ani?", tanyanya.
Aku hanya diam saja, karena aku tidak perlu menjawab pertanyaan mereka.
" Ini pesanan ibu yang sudah kusediakan!", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Terima kasih ya Bu Ani, jangan tersinggung atau marah dengan perkataanku barusan ya Bu!", ucapnya.
Diapun terdiam mendengar perkataanku dan langsung berlalu pergi menuju rumahnya.
Syakira pun sudah selesai melayani pembeli yang lain.
" Mama yang sabar ya, emanglah itu Mak rempong, suka banget ngurusin urusan orang, padahal dirinya sendiri aja belum tentu baik, hidupnya juga belum tentu bahagia!", ucap Syakira dengan nada ketus.
" Biarin aja sayang, orang mau ngomong apa, yang penting kita harus tetap bersabar dan maju dalam hidup ini ", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Syifa udah bangun belum nak?", tanyaku.
" Udah ma, tadi pas mama ngantar Habib ke sekolah, Syifa bangun dan kusuruh aja dia mandi dulu baru sarapan, Syifa kan udah besar ma, ga boleh terus dimanjain gitu ya ma!", ucapnya sewot.
" Ga apa-apalah sayang, Syifa kan adek kamu juga, Kira harus sayang sama Syifa sama seperti sayangnya Kira sama Habib, ingat itu ya nak!", ucapku.
" Iya ma, tapi ga apa-apalah ma, sesekali Syifa harus diajarin untuk lebih mandiri!", ucapnya lagi.
" Iya nak", ucapku sambil tersenyum padanya.
Hari beranjak siang, aku melihat jam di dinding menunjukkan pukul Dua belas siang, waktunya Habib pulang sekolah.
" Mama jemput Habib dulu ya nak, ntar warungnya Kira tutup aja, jangan lupa dikunci pintunya, habis makan siang, kita pergi ke rumah kakekmu!", ucapku sambil berlalu menuju parkiran motor matic ku.
" Iya ma!", ucap Kira.
Aku segera menghidupkan mesin motorku, dan melajukannya dengan kecepatan sedang menuju sekolah Habib.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan sekolahnya.
" Habib!", panggilku sambil melambaikan tanganku.
" Iya ma!", ucapnya sambil berlari menuju tempatku berdiri.
" Hati-hati sayang, ga usah lari, ntar jatuh gimana!", ucapku setengah teriak.
Dia pun berjalan perlahan menuju tempatku menunggunya.
" Ayo ma, kita langsung ke rumah kakek atau ke rumah kita dulu?", tanyanya.
" Kita ke rumah dulu, kamu ganti pakaian dulu, baru kita makan siang bersama, setelah itu, baru kita berangkat ke rumah kakekmu!", ucapku sambil menghidupkan mesin motorku dan melajukannya dengan kecepatan sedang menuju rumah kami.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah kami.
Setelah memarkirkan motor matic ku, kami bergegas menuju ke dalam rumah kami.
" Assalamualaikum", ucapku.
" Wa alaikum salam ma!", ucap mereka bersamaan.
" Kalian sudah makan siang nak?", tanyaku.
" Belum ma, kami nungguin mama untuk makan siang bersama", jawab Syakira, sedangkan Syifa sibuk menonton televisi.
" Ayo kita makan siang!", ajakku.
" Habib udah ganti baju ma, ayo kita makan ma, perut Habib udah lapar nih ma!", ucapnya sambil mengelus perutnya.
Kamipun tertawa melihat tingkahnya yang lucu tersebut.
Selesai makan aku siang, kami segera membersihkan meja makan dan mencuci peralatan masak dan makan siang yang sudah kotor.
Setelah itu, kami bergegas menuju teras rumah. Setelah mengunci pintu rumah, kami pun bergegas menuju parkiran motor matic kami.
Kami hanya menggunakan motor matic ini kemanapun kami pergi bersama, walau sudah terasa padat, tak apalah, yang penting kami tiba di tempat tujuan kami dengan selamat.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah pamanku.
Setelah memarkirkan motor matic kami, kamipun bergegas menuju teras rumah pamanku.
" Assalamualaikum", ucapku sambil mengetuk pintu rumahnya.
" Wa alaikum salam!", ucap Bibiku sambil membuka pintu rumahnya untuk kami.
" Ooh!, cucu nenek rupanya, ayo masuk ke dalam, nenek baru masak goreng pisang crispy!", ajaknya.
" Mantap donk nek!", ucap Habib dan Syifa bersamaan.
" Iya donk, kalau nenek yang masak, pasti mantap donk!", ucap Syakira menimpali.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan mereka. Goreng pisang aja udah bisa bikin anak-anakku bahagia, ucapku dalam hati sambil tersenyum melihat tingkah mereka yang rebutan pisang goreng crispy buatan neneknya.
" Dimana paman Bi ?", tanyaku.
" Pamanmu sedang....
__ADS_1
Bersambung...