
Tinggal tiga hari lagi sisa liburan kami. Hari ini, kami berencana akan berkunjung ke Sidempuan, ke rumah pamanku, dan kami akan menginap satu malam di rumahnya.
Beberapa jama di perjalanan, kami tiba di depan rumah pamanku.
" Assalamualaikum" ucapku sambil mengetuk pintu rumah pamanku.
" Wa alaikum salam", jawab bibiku sambil membuka pintu, Karena aku kemarin Sore sudah mengabari mereka bahwa kami akan datang berkunjung.
" Gimana kabarnya Bi?" tanyaku sambil menyalami dan memeluknya.
" Alhamdulillah, paman dan bibi, sehat selalu berkat Rahmat Allah dan doa kalian ", ucap bibiku sambil tersenyum.
" Ayo masuk nak Izal, om mu ada di ruang tamu ", ucap bibiku.
Kami segera masuk ke dalam rumah, suamiku ke ruang tamu dan kami ke dapur untuk membuatkan minuman dan cemilan.
" Aku melihat bibi agak pucat, apa bibi lagi sakit ?" tanyaku sambil menatap matanya.
" Bibi memang lagi kurang sehat nak, karena saat ini bibi sedang mengandung anak pertama kami, setelah sepuluh tahun menunggu, berusaha dan berdoa, akhirnya Allah SWT mempercayai kami untuk memperoleh keturunan ", ucap bibiku sambil tersenyum bahagia dan berlinang air mata.
__ADS_1
" Alhamdulillah bi, Ani senang mendengarnya, akhirnya doa bibi dikabulkan oleh Allah SWT, semoga Allah SWT memberikan kekuatan, kesehatan dan umur panjang untuk bibi,dan calon adikku, paman, dan kita semua", ucapku sambil memeluk tubuhnya.
" Aamiin ya Allah ", ucap bibiku dengan penuh semangat.
" Mungkin nenekmu kecewa, karena bibi tidak datang menjenguknya, kondisi kandungan bibi agak lemah, dan bibi tidak bisa kecapean, dan perjalanan jauh, bisa mempengaruhi kandunganku", ucap bibi sedih.
" Kalau nenek tahu kondisi bibi, pasti nenek mengerti, bahkan akan bahagia mendengar kabar kehamilan bibi", ucapku menghiburnya.
" Iya nak, semoga saja nenekmu tidak marah pada bibi", ucapnya sambil tersenyum.
Selesai membuat minuman dan cemilan berupa roti isi kacang hijau, sarikaya, dan coklat, kami bergegas ke ruang tamu untuk menemui pamanku dan suamiku yang sedang asyik berbincang - bincang, ntah apa yang mereka bicarakan, sehingga mereka tidak menyadari kedatangan kami.
Bayangkan saja, selama sepuluh tahun penantian mereka, akhirnya terkabul juga doa dan keinginan mereka selama ini. Aku salut dan kagum melihat cinta mereka, padahal banyak pasangan di luar sana, yang berpisah hanya karena tidak mempunyai keturunan, saling menyalahkan dan memojokkan pasangan mereka.
Beda dengan paman dan bibiku, cinta mereka sangat kuat, dan penuh kesabaran, serta saling mendukung dan melengkapi. Mereka adalah panutanku, walau sebelumnya aku salah menilai mereka.
Setelah bercerai panjang lebar dengan paman dan bibi, kami beristirahat di kamarku yang dulu. Aku juga merasa lelah, perjalanan ke Sidempuan lumayan jauh dari Gunung Tua, belum lagi, tadi duduk terlalu lama, karena bercerita dengan paman dan bibi.
Jujur saja, aku memang sangat merindukanmu mereka. Mereka kuanggap seperti orang tuaku sendiri, karena kulihat mereka juga memiliki perasaan sayang padaku.
__ADS_1
Kurebahka tubuhku di atas ranjang, sambil telentang, kupejamkan mataku. Rasanya nyaman sekali, karena mungkin kamar ini selalu dibersihkan oleh paman atau bibiku, sehingga kamar ini terlihat selalu rapih.
Aku terlelap sejenak, sampai akhirnya aku dibangunkan oleh suamiku untuk sholat Dzuhur, karena sekarang sudah hampir pukul dua. Aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dan sekalian mengambil wudhu untuk sholat Dzuhur.
Selesai berpakaian dan sholat, pikiran dan tubuhku semakin segar. Aku menuju teras rumah menemui bibiku yang sedang mengobrol dengan pamanku.
" Jadi warung bibi ditutup untuk sementara ya?", tanyaku.
" Iya nak, kemungkinan sampai bibi melahirkan dan adikmu nanti berumur dua tahun, barulah bibi berencana untuk berjualan sembako lagi", ucapnya sambil tersenyum.
" Ani gimana kandunganmu, udah periksa kandungan ke dokter spesialis kandungan ga?", tanya bibi.
" Sebelum pulang kampung, aku Uda periksa kandungan bi, dan Alhamdulillah, kandunganku sehat, dan sekarang udah memasuki bulan ke enam", ucapku sambil tersenyum.
" Kemaren waktu hamil muda, Ani ngidam apa nak?", tanyanya lagi.
Aku langsung tersenyum mendengar pertanyaan bibiku, dan membuat mereka semakin penasaran....
Bersambung...
__ADS_1