
Aku merahasiakan keputusan akhir tentang lamaran bang Zainal padaku, karena aku ingin mengatakannya secara langsung padanya.
Waktu berlalu, Kak Dewi sudah kembali ke rumah om nya, yaitu bang Zainal. Sejujurnya, aku merasa risih saat kak Dewi menggodaku dengan panggilan Tante, karena aku akan menikah dengan om nya, Zainal.
Padahal, belum tentu aku menerima lamarannya bang Zainal, karena banyak hal yang harus aku pertimbangkan untuk masa depanku dan anak-anakku.
Setelah makan malam, kami bersantai sambil menonton film sinetron kesukaanku di ruang tv.
" Assalamualaikum", ucap seseorang mengetuk pintu rumah kami.
Mungkin, itu adalah bang Zainal, karena dia sudah memberi tahuku bahwa dia akan datang malam ini, ucapku dalam hati sambil bergegas menuju pintu rumah kami untuk memastikannya.
" Wa alaikum salam", ucapku sambil membuka pintu rumah kami.
Àku melihat buket bunga mawar merah tepat di depan wajahku, sehingga aku tidak bisa melihat orang yang ada di depanku.
" Siapa ya?", tanyaku memastikan.
Kemudian dia menurunkan buket bunga mawar merahnya dan tersenyum padaku.
" Bunga ini untuk adek", ucapnya sambil memberikan buket bunga itu padaku.
" Seharusnya Abang tidak perlu repot-repot bawa buket bunga", ucapku sambil meletakkan buket bunga mawar tersebut di kursi tamu.
" Silahkan masuk bang!", ucapku.
" Iya dek, terima kasih", ucapnya.
" Aku buatin minum dulu ya bang!", ucapku.
" Iya, Abang tunggu disini ya", ucapnya sambil tersenyum padaku.
Aku bergegas menuju dapur untuk membuatkan minuman teh manis hangat untuk kami dan sepiring keripik singkong sebagai cemilan kami.
Aku membawa minuman dan cemilan tersebut dengan menggunakan nampan.
" Silahkan di minum bang!", ucapku sambil meletakkan segelas teh manis hangat di atas meja tamu yang ada di depannya.
" Terima kasih ya dek!", ucapnya.
Akupun duduk di kursi sebelahnya.
" Ooh ya, dimana anak-anak?", tanyanya.
" Mereka lagi asyik nonton tv bang", ucapku.
Dia pun meneguk minuman yang sudah kusediakan dan memakan cemilan yang sudah kusediakan juga.
Ehmmm..ehmmm..
ucapnya sambil tersenyum dan mulai berbicara denganku.
" Di minum lagi tehnya bang, biar ga sakit tenggorokannya", ucapku sambil tersenyum.
" Iya dek, Abang jadi gerigi nih!, kayak anak remaja aja pake gerogi segala", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Apa benar Abang gerogi?", tanyaku tak sabar.
" Iya dek, habis adek cantik banget malam ini, padahal cuma pake piyama aja", ucapnya.
" Pandai juga ya Abang ngegombal", ucapku sambil tertawa.
" Emang bener kok dek, adek cantik, Abang ga ngegombal lho!", ucapnya.
__ADS_1
" Ya udah, makasih bang atas pujiannya", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Ooh ya!, gimana dengan Perta Abang tiga hari yang lalu, apa jawaban adek?", tanyanya to the point.
" Pertanyaan yang mana ya bang?", tanyaku pura-pura tidak ingat.
" Maukah adek menikah dengan Abang?, hidup bersama abang selamanya?", ucapnya sambil menggenggam tanganku.
Aku terdiam sejenak, kemudian melepaskan tanganku dari genggaman tangannya.
" Sebelumnya, aku minta maaf sama Abang, selama ini Abang sudah baik padaku dan anak-anakku, rasanya tidak mungkin, orang terhormat seperti Abang mau menerima aku dan anak-anakku dengan tangan terbuka", ucapku sambil menatap wajahnya.
" Itu karena Abang tulus mencintai kamu dek!", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Tapi bang, jujur saja, saat ini, aku belum mencintai Abang!", ucapku sambil menatap wajahnya dengan serius.
Dia pun terdiam sejenak mendengar ucapanku.
" Apakah tidak ada sedikitpun rasa suka atau sayang dihatimu untuk Abang, dek?", tanyanya sendu.
" Jujur saja, aku menyukai Abang dan nyaman bersama abang!", ucapku.
" Berikanlah aku kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta padaku dengan menikah denganku?", ucapnya.
" Atau kamu memang mencintai orang lain?", tanyanya sambil menatap mataku dengan tajam.
Aku terdiam sejenak mendengar ucapannya.
" Sejujurnya, aku memang mencintai pria lain bang, tapi sepertinya cintaku bertepuk sebelah tangan, apakah Abang mau menerima wanita yang mencintai pria lain?", tanyaku.
" Siapa pria itu dek?, apakah orangnya ada di daerah ini?", tanyanya sambil menatapku dengan tatapan yang tajam.
" Ga bang, dia jauh di seberang sana, Abang mau tahu namanya siapa?", tanyaku.
" Katakan saja dek!, Abang tidak akan marah", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Adek bikin jantung Abang seakan berhenti berdetak, Abang pikir adek serius, ternyata cuma bercanda!", ucapnya sambil mencubit hidungku.
" Aduuh!, sakit lho bang!", ucapku pura-pura marah.
" Maaf ya sayang, sini Abang obatin!", ucapnya sambil mencium hidungku.
" Berarti adek mau kan menikah dengan Abang?", tanyanya dengan nada serius.
" Iya bang, Inshaa Allah, aku akan mendampingi Abang untuk selamanya, dan hanya satu permintaanku!", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Apa itu dek?", tanyanya sambil menggenggam tanganku.
" Jangan pernah menduakan cintaku!", ucapku sambil menatap matanya.
" Insha Allah dek, Abang tidak akan pernah berniat untuk menduakan cinta adek, percayalah pada Abang, Abang akan memberikan semua kebahagiaan di dunia ini, sehingga adek lupa dengan si Salman Khan!", ucapnya dengan penuh semangat.
Aku tertawa melihat wajahnya yang menggemaskan itu.
Kamipun saling berpelukan dan tertawa bahagia.
" Jadi, Kapan kita adakan akad nikahnya dek?", tanyanya.
" Terserah Abang kapan waktunya, Abang saja yang mengaturnya, adek oke-oke saja!", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Baiklah sayang, besok Abang urusin semuanya ya, berkas-berkas untuk buku nikahnya dan penghulunya, setelah selesai, baru Abang kabarin harinya, paling lambat nanti tiga hari udah selesai urusannya ", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Ooh, iya bang, akta ceraiku, apa Abang perlukan untuk mengurus buku nikahnya?", tanyaku.
__ADS_1
" Iya dek, kayaknya itu memang diperlukan, agar urusannya cepat selesai ", ucapnya.
" Tunggu ya bang, biar adek ambilkan di kamar ", ucapku sambil beranjak dari tempat dudukku dan berjalan menuju kamar tidurku.
Setelah mengambil akta ceraiku dari tempat penyimpanan berkas -berkasku yang ada di lemariku, aku bergegas menuju ruang tamu untuk menemui bang Zainal.
" Ini bang", ucapku sambil menyerahkan akta ceraiku.
" Tapi dek, ini keterangannya cerai mati, kok bisa?", tanyanya.
"Ooh, itu pamanku yang mengajukanbya, karena bang Izal meninggal dunia sebelum ketuk palu tentang keputusan cerai kami, jadi pamanku bilang ke pengurus akta ceraiku, dibuat aja keterangannya cerai mati, gitu bang!", ucapku menjelaskan.
" Iya dek, memang lebih bagus dibuat keterangan cerai mati", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Kalau begitu, Abang pulang dulu ya a, karena udah mulai larut malam nih!, nanti Abang telpon lagi ya dek, kalau udah nyampe rumah ", ucapnya.
" Iya bang, hati-hati dijalan " ucapku sambil tersenyum padanya.
Akupun mengantarnya sampai ke teras rumah, kebetulan lampu teras kami tidak dinyalakan.
Bang Zainal menarik tanganku dan membawaku ke sudut teras rumah kami yang lumayan gelap.
Diapun memeluk tubuhku dengan erat dan berbisik.
" Abang tak sabar ingin memilikimu seutuhnya!", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Ya udah, Abang urusin semuanya dengan cepat, agar aku menjadi milik Abang seutuhnya ", ucapku sambil mengedipkan sebelah mataku padanya.
" Adek udah mulai ya menggoda Abang sekarang!", ucapnya sambil mulai menciumi wajahku.
Aku hanya pasrah dengan perlakuannya. Saat ini, kami sedang berciuman sampai kehabisan nafas dan membuat kami terengah-engah.
Kamipun tersenyum bahagia dan melepaskan pelukan kami.
" Abang pulang dulu ya sayang!", ucapnya sambil tersenyum dan berlalu pergi menuju mobilnya.
" Iya bang, hati -hati ya sayang!", ucapku sambil tersenyum padanya.
Setelah kepergiannya, aku kembali ke dalam rumah dan mengunci pintu rumah kami.
" Gimana ma, mama Nerima om Zain kan?", tanya anak-anakku sambil menatapku dengan seksama.
" Iya sayang, mama Nerima lamaran om Zain untuk menjadi ayah kalian", ucapku sambil tersenyum bahagia.
Hooree...
kita punya ayah..
om Zain jadi ayah kita...
ucap anak-anakku sambil bersorak kegirangan.
Akupun tertawa bahagia melihat kebahagiaan anak-anakku.
Yah, kebahagiaan anak-anakku lebih utama dibandingkan kebahagianku.
Walaupun, di dalam mimpiku, aku selalu bertemu dengan Azam, tapi aku harus menerima lamaran bang Zainal, demi kebahagiaan anak-anakku.
Mungkin, aku dan Azam memang tidak ditakdirkan untuk hidup bersama, apalagi sampai sekarang, belum ada kabar daribta setelah sebulan lebih.
Aku tidak mau mengorbankan kebahagiaan anak-anakku hanya untuk mengaharapkan cinta yang tidak pasti dari Azam, walau dia adalah Cinta Pertamaku.
Azam, dimanapun kamu berada, semoga kamu selalu bahagia, dan maafkan aku karena tidak bisa menepati janjiku padamu.
__ADS_1
Maafkan aku Azam...
Bersambung...