
POV. Izal
Saat aku tiba di rumah kami, aku melihat wajah istriku yang sedang gelisah, dari raut wajahnya,aku menyadari kalau istriku mulai mencurigaiku.
Aku bertingkah seperti biasanya, agar istriku tidak semakin curiga, dan saat aku mandi, aku melihat bekas cakaran dari Mira, istri simpananku yang baru kunikahi seminggu yang lalu.
Aku terpaksa menikahinya untuk bertanggung jawab atas kematian suaminya Fauzi yang tertabrak mobilku. Aku harus menikahinya, agar dia tidak menuntutku di pengadilan, agar aku tidak dihukum penjara.
Aku menyembunyikan semua itu dari istriku, karena dia sedang mengandung anak kedua kami. Aku berencana tidak akan mengunjungi Mira selama dua Minggu ini, karena istriku sedang mencurigaiku.
Aku memang merasa sangat bersalah, apalagi dia sedang mengandung anak kedua kami, dan aku tidak mau terjadi apa-apa padanya. Tapi, entah kenapa, pernikahanku dengan Mira, membuatku sanagt bahagia, mungkin karena aku masih memiliki perasaan padanya.
Hari ini, aku tidak masuk kerja, karena ingin bermesraan dengannya, sejak pagi sampai sore ini, kami melakukan hubungan intim beberapa kali. Rasanya sangat menakjubkan bagiku, berbeda dengan rasa yang kurasakan saat bercinta dengan istriku, mungkin karena dia sedang mengandung, sehingga dia tidak bisa aktif seperti biasanya.
Aku mengenakan pakaianku di dalam kamar mandi, karena aku takut istriku melihat bekas cakaran itu yang ada di dadaku. Ponselku juga kubawa ke dalam kamar mandi karena aku tahu, pasti istriku akan memeriksa semua isi ponselku. Aku akan berusaha menjadi suami yang adil bagi mereka berdua, janjiku dalam hati.
Kembali ke topik ya guys..!
Waktu berlalu, urusan kepemilikan rumah ini sudah di alihkan menjadi atas namaku, dan sudah sah menjadi milik keluarga kami.
Malam ini, disaat semua orang tertidur lelap, aku merasakan sakit di bawah perutku. Mungkin aku akan melahirkan malam ini, ucapku dalam hati.
" Bang, bangun, perutku sakit banget ini, kayaknya aku akan melahirkan", ucapku sambil menggoyangkan tubuhnya.
Dia langsung beranjak dari tempat tidur dan membantuku keluar dari kamar tidur kami.
Aku memintanya untuk membangunkan adik iparku, agar dia menemani Syakira dirumah, agar aku bisa fokus dalam melahirkan bayiku.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah sakit dengan menaiki mobil.
Aku direbahkan di atas tempat tidur rumah sakit yang ada di ruang dokter spesialis kandungan. Kebetulan dokternya baru selesai mengoperasi seorang pasien wanita yang melahirkan juga.
Dokter menjelaskan bahwa aku tidak bisa melahirkan secara normal, karena panggulku sempit, yang bisa menyebabkan bayi akan tercekik, jika melahirkan secara normal.
Akhirnya, kami memutuskan untuk operasi Caesar.
Waktu berlalu, aku selesai di operasi Caesar. Aku melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan. Aku sangat bahagia dengan anugerah yang diberikan oleh Allah SWT kepada kami.
Semoga Allah SWT menjadikanmu anak yang Sholeh ya sayang, ucapku dalam hati sambil mencium pipinya.
Putriku Syakira juga sangat bahagia mendapatkan adik ganteng seperti yang dia inginkan.
Tiga hari berlalu, aku sudah bisa pulang ke rumah kami, karena kondisiku sudah sangat sehat dan stabil.
Aku juga melihat suamiku sangat bahagia dan mengurusku dengan baik.
Aku tidak mencurigainya lagi, karena dari sikapnya, aku yakin kalau suamiku tidak akan menghianatiku sampai sekejam itu.
Saat ini, kami baru tiba dirumah. Selain tiga hari ini, putriku tidak sekolah dan suamiku juga cuti bekerja.
__ADS_1
Rencananya, besok dia akan bekerja kembali, setelah mengurus semua keperluanku di pagi hari, dan pulang di sore hari.
Aku merasa terbantu dengan kehadiran adik iparku, karena dia bisa membantuku mengurus putriku dan pekerjaan rumah selama pemulihanku.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, sebulan pun berlalu.
Sejujurnya, aku merasa heran karena suamiku tidak pernah meminta jatah padaku, seperti dulu sewaktu aku habis melahirkan putriku, mungkin karena dia tahu kalau aku masih dalam keadaan nifas, atau ada hal yang dia sembunyikan dariku, ucapku dalam hati.
Tapi, kulihat dari perilakunya selama ini, semuanya biasa saja, memang terkadang dia terlambat pulang, karena kerja lembur dan ada kunjungan dadadkan katanya dari pusat.
Aku pasrahkan semuanya kepada Allah SWT, jika dia memang menghianatiku, Allah SWT pasti akan menunjukkan bangkai yang dia sembunyikan, karena sepandai-pandainya tupai melompat, sesekali pasti akan jatuh juga.
" Bang, apa Abang bisa usahain lima juta untuk paman, karena dia sedang membutuhkan uangnya", tanyaku padanya setelah makan malam.
" Iya dek, kebetulan Abang dapat bonus lembur sebanyak enam juta rupiah, jadi nanti sisanya untuk adek aja beli keperluan adek sama anak-anak kita", ucapnya sambil tersenyum.
" Ooh.. syukurlah, kalau uangnya sudah ada,agar kita tidak malu kepada Paman, karena dia sudah mau membantu kita kemaren untuk meminjamkan uangnya kepada kita ", ucapku sambil tersenyum padanya.
Setelah makan malam, suamiku memberikan uang enam juta kepadaku.
Rencananya, besok pagi aku akan ke bank untuk menyetorkan uang yang diberikan suami ke dalam rekening tabunganku, agar uang tabunganku menjadi Lima puluh juta lagi.
Malam menjadi pagi, waktu bergulir dengan cepatnya. Aku masih teringat percintaan kami tadi malam, tidak sama seperti dulu, aku memang sengaja meminta nafkah bathinku pada suamiku, agar aku mengetahui apakah dia masih sama seperti dulu atau tidak.
Aku mengambil kesimpulan, kalau dia sudah memiliki wanita lain dihatinya, begitulah firasat seorang istri.
Aku sudah memberikannya seorang putri dan putra, tapi dia tetap tidak mencintaiku.
Aku harus tetap bersabar dan mempertahankan pernikahan kami, sampai anakku Habib berumur tiga tahun, agar aku bisa melepaskan mereka, mau tinggal bersama ayahnya atau ibunya.
Sekali dalam tiga bulan, aku meminta hakku padanta, agar dia tidak curiga, kalau aku sudah mengetahui tentang penghianatannya padaku. Sekali dalam dua bulan, aku meminta uang sebesar lima juta rupiah untuk aku setorkan ke dalam rekening bank milikku.
Satu tahun berlalu, anakku Habib sudah bisa berjalan sendiri tanpa bantuanku. Aku sudah memberikannya makanan nasi, agar dia lebih kuat dan cepat tumbuh dan berkembang.
" Dek, Habib cepat besar juga ya, tidak terasa, dia sudah berumur hampir satu tahun, dan wajahnya sangat tampan, dan sangat mirip dengan wajahmu", ucap suamiku sambil tersenyum padaku di ruang tv, karena saat ini kami sedang menemani anak-anak kami menonton televisi, film kartun yang sangat mereka sukai, upan dan opon.
" Iya bang, Alhamdulillah, semoga Syakira dan Habib selalu sehat dan panjang umur, dan menjadi anak yang Sholeh dan Sholehah" ucapku sambil tersenyum padanya.
" Aamiin ", ucapnya sambil menggenggam tanganku,dan aku biarkan saja, sampai dia puas sudah bisa membodohiku dalam pikirannya.
" Tinggal berapa lagi sisa pinjaman uang kita pada om?", tanyanya padaku, karena dia tidak pernah menghitung berapa jumlah uang yang diberikannya padaku.
" Sisa tiga puluh juta lagi bang, karena uang yang Abang kasih kemaren, hanya dua juta saja yang aku setorkan, karena yang empat juta untuk membayangkan uang sekolah Syakira dan belanja keperluan dapur dan rumah tangga kita", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Ooh,,tidak apa-apa dek, yang penting uangnya adek gunakan untuk hal-hal yang positif ", ucapnya sambil mengelus tanganku, dan aku tidak memberikan respon apapun padanya, karena sejujurnya, aku sudah illfeel padanya, dan selama ini, aku bertahan, demi anak-anakku.
Aku akan terus bersabar dan berjuang untuk mendapatkan hak-hak anakku ,dan bersenang-senang lah sepuas hatimu dengan wanita jal*Ng itu, ucapku dalam hati.
" Mama, aku mau makan bakso, kita jalan-jalan yuk", ajak putriku.
__ADS_1
" Tanya sama ayahmu nak, bukan sama mama", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Ayo yah, kita jalan-jalan, ayah sudah lama tidak mengajak kami jalan-jalan", ucap Putriku pada suamiku.
Aku melihat suamiku terdiam mendengar perkataan putriku Syakira.
Barulah dia sadar, kalau dia sudah mengabaikan kami selama ini.
Aku hanya diam saja melihat reaksinya itu.
" Iya putriku yang cantik, kita jalan -jalan malam ini sambil makan bakso, dan selama ini, kita tidak pernah jalan -jalan, karena adikmu Habib masih kecil", ucapnya menjelaskan sambil melirikku.
Aku mengerti maksudnya apa, dia ingin melihat reaksiku, jujur saja sebenarnya dia mau datang atau tidak kerumah ini, aku sudah tidak peduli, karena setiap melihat dia, aku selalu mengingat bekas cakaran di tubuhnya sewaktu kami bercinta sebulan yang lalu.
Aku mencoba bersabar dan menunggukubdi waktu yang tepat untuk meninggalkannya dan memberikan pelajaran terakhir padanya sebagai hukuman atas penghianatannya.
Malam ini, kami bersiap -siap untuk makan malam diluar bersama. Adik iparku juga ikut serta dengan kami. Kami makan dengan lahapnya di warung makan ayam peecak ini.
Kami membelikan seporsi bakso rudal untuk putriku, karena dia sangat menginginkannya.
Saat membayar tagihan makanan kami, aku bertemu dengan Mira, mantan kekasih suamiku dulu.
" Hey, Ani, apa kabarmu?", tanyanya padaku sambil tersenyum sinis.
" Kabarku baik, dan sanagt bahagia", ucapku dengan tersenyum bangga.
" Ani, tidak selamanya yang kamu lihat baik didepanmu, baik juga di belakangmu", ucapnya ingin memancing emosiku.
"Maksud kamu ala berkata seperti itu padaku?, mulut kamu itu dijaga, jangan suka memfitnah orang ", ucapku mulai emosi.
" Tenang saja say, jangan emosi, karena yang menjadi milikmu sudah menjadi milikku, dan kamu tidak tahu itu, karena kamu sangat bodoh ", ucapnya lagi sambil tertawa terbahak -bahak menghinaku.
Plaaak...
plaak...
Aku menampar pipinya kiri dan kanan, sampai memerah seperti tomat yang busuk.
" Ada apa ini?", tanya suamiku sambil menggendong putra kami.
" Ini wanita *******, sedang memfitnahmu, katanya kamu adalah miliknya, dan aku tidak terima dia berkata seperti itu, apa yang dia katakan benar adanya bang?", tanyaku dengan nada tinggi.
" Tentu saja itu tidak benar dek, dia hanya mengada-ada dan kamu tidak usah mendengarkan ucapannya yang tidak bermanfaat itu", ucapnya sambil menatap tajam ke arah Mira.
Aku tersenyum puas mendengar perkataan suamiku yang membuat Mira pergi dengan wajah malu dan merah seperti itu.
Di dalam hatiku, barulah aku menyadari kalau wanita simpanan suamiku adalah Mira, karena aku sempat melihat kode yang dia berikan kepada Mira di belakangku, tapi aku melihatnya dari kaca yang ada di depanku, di dekat tempat pembayaran warung makan ayam peecak ini.
Sebenarnya aku ingin....
__ADS_1
Bersambung....