Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Perpisahan yang tidak terduga... part. 3


__ADS_3

Ternyata jenderal kamar kami masih terbungkus. Aku meminta Suamiku untuk menutup jendela kamar kami yang tadinya terbuka.


Setelah me menutupi jendela kamar kami, suamiku mulai mencumbuiku dan akupun membalas cumbuannya, sehingga suamiku semakin bergairah dan bersemangat.


Kami menghadirkan sore ini dengan penuh gairah dan keringat yang bercucuran. Untunglah, putriku masih bayi, dan belum mengerti apa yang sedang dilakukan oleh orang tuanya.


Kami mengakhiri percintaan kami, dengab berpelukan mesra. Akhirnya, kami merasakan kenikmatan dan kepuasan yang maksimal.


" Makasih ya sayang, udah menjadi istriku dan ibu dari anakku", ucap suamiku sambil mencium keningku.


" Terima kasih juga sayang, sudah menjadi imam dan ayah yang baik", ucapku sambil mencium pipinya.


Setelah memakai pakaian kami kembali, aku bergegas menuju kamar mandi untuk mandi dan mengambil wudhu. Walau waktu sholat sudah hampir habis, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, pikirku sambil membersihkan tubuhku sampai bersih.


Selesai mandi, aku langsung sholat ashar. Setelah itu, aku membangunkan suamiku yang sedang tertidur lelap, karena kelelahan akibat percintaan yang kami lakukan sore ini.


" Bang, cepetan bangun, mandi dulu, ntar lagi waktu Maghrib, Abang ga bisa mandi nanti, lagian katanya tadi mau sholat ke masjid", ucapku sambil menggoyang tubuhnya.


" Bentar lagi ya sayang, Abang masih ngantuk, ini kan gara-gara ulah adek juga, Abang jadi ngantuk gini", ucapnya menggodaku.


" Gara-gara ulahku gimana nih bang maksudnya, Abang yang ngajak duluan, kok nyalahin adek", ucapku sambil mencubit hidungnya.


" Adek sih, bahenol banget, jadi Abang pengen terus jadinya, hahah", ucapnya sambil tertawa membuatku semakin gemas melihat tingkahnya.


" OOO.. kalau gitu, biarin aja kalau Abang mau tidur sampe malam, biar badannya Abang gatal - gatal, karena ga mandi", ucapku sambil keluar dari kamar sambil menggendong putriku.


" Dek ", ucapku sambil melambaikan tanganku pada Marni.


" Ayi bantu kakak masak", ucapku sambil tersenyum.


Kami bergegas menuju dapur. Rencananya aku mau masak mie rebus dan telur dadar goreng aja biar lebih simpel. Karena hanya bahan makanan itu yang ada di lemari dapur.


Aku meminta adik iparku untuk merajang bawang merah dan bawang putih, serta tomat dan cabai merah keriting campur cabai rawit hijau, biar lebih mantap.


Aku menaruh kuali ke atas tungku kompor, dan menyalakan apinya. Aku terlebih dahulu memasak telur dadar, kemudian mie rebusnya.


Setelah memasak, aku menghidangkan makanannya ke atas meja makan dan menutupnya dengan tudung saji. Aku memisahkan kuahnya dari mie nya, agar tidak mengembang, dan mie rebusnya tetap enak untuk dinikmati.

__ADS_1


Setelah itu, kami menuju ruang tamu, aku melihat suamiku sedang memainkan hp nya.


" Abang udah mandi?", tanyaku.


" Udah dek", jawabnya singkat.


" Kapan mandinya, kok aku ga tau ya Abang mandi?", tanyaku lagi.


" Tadi adek kan lagi sibuk memasak, jadi adek ga tau kalau Abang mandi, lagian Abang kan ga ngelapor tadi sama adek", jawabnya cuek.


" Iya ya, masa Abang harus ngelapor sama radek, tapi kalau bisa ngelapor dulu, biar adek tau kegiatan Abang apa, ok", ucapku sambil mencubit hidungnya.


" Baiklah nyonyaku yang bahenol ", ucapnya sambil mencium pipiku.


" Ihh..ga malu apa cium-cium dilihat adek Marni", ucap sambil mencubit perutnya pelan.


" Ga apa-apa kok, enjoy aja ya Marni ga ngerti tuh, àpalagi putriku yang cantik ini ", ucapnya sambil mencubit pipi Syakira.


" Iidiih ayah genit suka ciumin aku", ucapku sambil bernyanyi.


Kamipun tertawa bersama.


Setelah bersiap -siap, dan membawa berkas persyaratan pendaftaran pasien yang diperlukan untuk di rumah sakit umum.


Kamipun bergegas menuju ke tepi jalan untuk memanggil becak motor.


Kami menaiki dua becak motor untuk kerumah sakit umum. Beberapa menit kemudian kami tiba di depan rumah sakit umum.


Setelah membayar ongkos kami ke supir becak, kami bergegas masuk ke dalam rumah sakit. Kami duduk di kursi lobi rumah sakit, sedangkan ke loket pendaftaran pasien untuk mendaftarkan ayah mertuaku ke poli penyakit dalam.


Setelah memberikan berkas ke loket pendaftaran, suamiku datang ke kursi tempat kami menunggunya.


Satu jam menunggu, akhirnya kami dipanggil juga oleh petugas loket pendaftaran pasien dan kami diminta untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan dokter spesialis penyakit dalam.


Karena aku membawa bayi, aku disuruh menunggu di luar ruangan, sedangkan suamiku dan ayah mertuaku masuk ke dalam ruangan dokter.


Beberapa menit kemudian, suamiku dan ayah mertuaku keluar dari ruangan dokter spesialis penyakit dalam.

__ADS_1


" Apa hasil pemeriksaannya bang?", tanyaku penasaran.


" Kata dokter, penyebab sakit kepala yang diderita oleh ayah, adalah penyakit darah tinggi yang sudah lama dideritanya, dan diakibatkan pola makan yang tidak teratur dan kurang olahraga", ucap suamiku menjelaskan.


" Jadi, apa solusinya yang disarankan oleh dokter", tanyaku penasaran.


" Yah.. katanya kita harus mengatur pola makan ayah, dan jenis makanannya harus yang bergizi, dan mengwasi aktivitasnya", ucap suamiku lagi.


," Jadi, gimana nih, kita kan tinggal dua hari lagi dikampung?", tanyaku pada suamiku yang tampak bingung.


" Gimana kalau dek Marni dikampung saja untuk merawat ayah atau ayah dan Marni kita bawa ke Medan?", tanyaku sambil berjalan mengiringi langkah kaki suamiku.


" Nanti dirumah baru kita bicarakan ya di rumah, ga enak kalau kita ngobrol di rumah sakit ini, kalian tunggu Abang di lobi ya, Abang mau ngambil obat yang diresepkan oleh dokter spesialis penyakit dalam untuk ayah ke apotek", ucapnya sambil berlalu pergi menuju apotek.


Kami bergegas menuju lobi rumah sakit untuk menunggu suamiku.


Beberapa menit kemudian, suamiku datang ke lobi rumah sakit untuk menemui kami sambil membawa obat resep untuk ayah mertuaku.


Kami bergegas menuju halaman rumah sakit untuk memanggil becak motor untuk membawa kami kembali ke rumah kami.


Setengah jam kemudian, kami mendapatkan dua becak motor yang kosong, dan kami menaikinya untuk kembali ke rumah kami.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah. Suamiku membayar ongkos kami, dan aku segera masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju kamar tidur kami.


Aku meletakkan tubuh putriku yang tertidur lelap ke atas kasur. Aku mencin pipinya dan menyelimutinya.


Aku bergegas menuju ruang tamu untuk membicarakan tentang rencana kami selanjutnya mengenai ayah mertuaku.


" Syakira masih tidur ya dek?", tanya suamiku.


"Iya bang ", jawabku singkat.


" Kata ayah, semua keputusan ada di tangan kita, jadi apapun yang akan kita putuskan, ayah akan menyetujuinya, gimana menurut Adek?", tanya suamiku sambil tersenyum.


" Setelah kupikirkan, lebih baik, ayah dan Marni ikut kita ke Medan, kalau masalah rumah ini, kita sewakan saja, gimana menurut abang?", tanyaku.


Aku melihat suamiku terdiam sejenak sambil berfikir. Aku tidak sabar menunggu keputusan yang diambilnya yang menurutku adalah yang terbaik.

__ADS_1


" Menurut Abang, solusi yang terbaik untuk masalah ini hanyalah....


Bersambung...


__ADS_2