Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Berakhir... part.2


__ADS_3

POV. Izal


Lima hari berlalu, aku sibuk mengurus istriju yang sedang ngidam ini itu. Jujur saja, aku merasa lelah juga, tidak seperti dulu, saat istriku Ani mengandung, dia tidak pernah membuatku repot seperti ini, malahan aku yang merepotkannya dulu.


Sudah lima hari ini, aku tidak pernah menghubungi ponselnya, dan aku tidak tahu kabarnya mereka.


Padahal aku sudah berjanji untuk bersikap adil terhadap istriku Ani dan Mira, tapi entah kenapa, pikiranku selalu tertuju pada Mira, dan tidak mengingat istriku Ani.


Jujur saja, sudah hampir tiga bulan, aku tidak pernah memberikan nafkah lahir maupun bathin kepada istriku Ani, karena dia tidak pernah memintanya padaku.


Aku juga merasa gengsi saat ini untuk memulai terlebih dahulu, karena aku juga merasa bersalah padanya. Dia tidak pernah mempermasalahkan haknya yang tidak aku berikan padanya.


Sore ini, aku berniat sepulang dari kantor, aku akan pulang ke rumah kami dan bermalam disana untuk melepaskan rinduku kepada Putriku dan putraku.


Di saat aku tiba di depan rumah kami, yang membuka pintu rumah kami adalah orang lain. Katanya rumah kami sudah dijual istriku Ani kepadanya.


Otomatis aku merasa panik dan marah, aku mencoba bertanya kepada si pembeli rumah kami, kemana istriku pergi, dan dia tidak tahu kemana mereka pergi.


Aku mendatangi rumah tetanggaku yang sering mengobrol dengan istriku, mungkin dia tahu kemana mereka pergi.


" Assalamualaikum", ucapku sambil mengetuk pintu rumahnya.


" Wa alaikum salam", ucapnya sambil membuka pintu rumahnya.


" Kak, apa kakak tahu kemana istriku Ani dan anak-anakku pergi?", tanyaku dengan buru-buru.


" Ooh...ini ada koper titipan dari Ani, isinya semua pakaianmu, tanpa ada satupun yang dia bawa, dan katanya mereka berada di tempat yang terbaik yang seharusnya, dimana mereka disayangi dan dihargai, dan di tempat kamu melamarnya dulu, begitu pesannya", ucapnya sambil menutup pintu rumahnya tanpa mau mendengar perkataanku.


Selama lima belas menit aku diam terpaku di depan pintu rumah kak Dewi ini.


Di saat aku tersadar, aku terduduk sambil menangis terisak karena rasa bersalahku pada istriku dan anak-anakku.


Setelah puas menangis, aku bergegas menuju mobilku dengan menyeret koperku yang berisi semua pakaianku.


Ya Allah, ampunilah dosaku, karena sudah mendzolimi anak dan istriku, sungguh aku sangat menyesal, ucapku dalam hati sambil berjalan gontai menuju mobilku.


Aku menghidupkan mesin mobilku dan melajukannya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Mira istri Siriku.


Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan rumahnya.


Aku keluar dari mobil sambil membawa koperku menuju ke dalam rumah.


" Kamu kenapa bang, wajah kusut begitu", tanya Mira padaku.


" Ani pergi dari rumah dan kembali ke Sidempuan", ucapku dengan lesu.


" Bagus donk, lebih baik, kamu ceraikan saja Si Ani yang tidak berguna itu, syukurlah dia sudah sadar, kalau dia memang tidak pantas menjadi istrimu, karena kamu hanya mencintai akudan hanya milikku", ucapnya sambil tersenyum bahagia.


Sebenarnya, aku sangat marah mendengar perkataannya, tapi karena dia sedang mengandung, aku menahan emosiku dan pergi meninggalkan menuju kamar tidur untuk beristirahat menenangkan pikiranku.


Malam pun berlalu, aku tertidur lelap sampai pagi dengan menggunakan pakaian kerjaku yang semalam kupakai.


Setelah adzan shubuh berkumandang, aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dan mengambil wudhu untuk sholat shubuh.

__ADS_1


Ya Allah, sungguh hinanya hamba Mu ini, yang terbuai oleh kenikmatan dunia, sampai aku lupa membahagiakan istri dan anak-anakku, dan di saat terpuruk dan bersedih seperti ini, barulah aku mengingat diri-Mu, ampunilah semua dosaku ya Allah, aamiin, ucapku sambil menyapu air mataku.


Selesai sholat, aku bersiap-siap untuk berangkat menuju Sidempuan untuk menyusul istri dan anak-anakku, barulah aku sadar, kalau aku mencintai istriku Ani, mungkin sudah terlambat untuk aku sadari, tapi aku harus memperjuangkan cintaku pada Ani, semoga Ani mau memaafkan aku.


" Kamu mau kemana bang?", tanya Mira padaku.


" Aku mau menyusul Ani dan anak-anakku", ucapku sambil bergegas menuju pintu rumah sambil membawa tas yang berisi beberapa pakaianku dan kunci mobilku.


" Kamu tidak usah pergi menyusulnya, siapa yang akan mengurusku disini, aku sedang hamil anakmu bang", teriaknya sambil menarik tanganku.


Aku tidak mempedulikannya, toh anak itu belum lahir, dan aku belum yakin kalau anak yang di dalam kandungannya adalah anakku, mungkin saja itu adalah anak dari pria lain untuk menjebakku, ucapku dalam hati sambil berusaha melepaskan tanganku dari genggaman tangannya.


" Bang, kalau kamu pergi, aku akan bunuh diri", teriaknya di depan pintu.


" Silahkan saja, itu lebih baik, kamu pikir aku takut ancamanmu itu, toh yang mati adalah kamu sendiri, ga usah bersikap bodoh", ucapku sambil masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesin mobilku dan melajukannya dengan kecepatan sedang menuju Sidempuan.


Kembali ke topik utama ya guys...


Satu hari berlalu, saat ini kami sudah berada di rumah pamanku yang ada di Sidempuan, karena dia sudah punya anak yang bernama Sholeh, kulanggil saja paman Sholeh.


" Paman, aku berangkat dulu ke sekolah SD Sadabuan untuk mengurus sekolah pindahannya Syakira ya, agar dia cepat sekolah dan tidak ketinggalan pelajaran untuk kenaikan kelas bulan depan", ucapku sambil tersenyum padanya sambil menggendong putraku Habib.


" Kamu duduk dulu sebentar nak, paman mau bicara hal penting padamu", ucapnya.


Akupun duduk di kursi tamu yang ada di depannya. Jujur saja, aku merasa tidak enak tinggal di rumah pamanku ini dengan membawa kedua anakku, karena aku takut menyusahkan mereka, walau mereka bersikap baik dan menyayangi anak-anakku, tapi aku tetap merasa tidak nyaman.


Aku berencana untuk mencari rumah yang dijual di sekitar komplek Sadabuan, tapi di tepi jalan raya, agar aku bisa sekalian berjualan. Walau aku memiliki banyak uang, hasil dari penjualan rumah dan sewa toko, aku tidak ingin berpangku tangan.


" Ada hal apa yang ingin paman bicarakan?", tanyaku penasaran.


" Ini masalah rumah tanggamu nak, seandainya Izal datang kesini dan meminta maaf kepadamu, apa yang akan kamu lakukan?", tanyanya padaku.


" Jika dia memang datang untuk meminta maaf kepadaku, aku akan memaafkannya, karena aku ingin mengurangi beban di hatiku akibat rasa sakit yang kurasakan di hatiku, tapi jika dia memintaku untuk kembali padanya, itu tidak akan pernah terjadi Pama MB, karena dia tidak memiliki tempat lagi dihatiku, semua hubungan kami sudah berakhir, hanya hubungan dia dengan anakku yang tidak bisa aku putuskan, dan aku meminta dukungan dari paman dan bibi untuk mengurus perceraianku dengannya seminggu lagi", ucapku menjelaskan.


" Baiklah nak, kalau itu yang kamu inginkan, paman dan bibi akan selalu mendukungmu sampai kapan pun ", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Terima kasih paman, mungkin jika paman dan bibi tidak mendukungky, aku akan merasa rapuh, tapi aku sangat bersyukur, paman dan bibi selalu menyayangiku dan mendukungku", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Iya nak, sampai kapan pun, kami akan selalu menyayangimu dan mendukungmu", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Paman, aku berangkat dulu ya", ucapku sambil beranjak dari tempat dudukku dan berjalan menuju halaman rumah pamanku dan memanggil becak motor yang sedang mangkal di tepi jalan raya.


Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan sekolah SD Negeri Sadabuan. Aku segera menemui kepala sekolah Sekolah tersebut sambil membawa berkas-berkas yang diperlukan.


Tiga jam kemudian, urusan kepindahan putriku Syakira sudah selesai, dan besok pagi, putriku Syakira sudah mulai sekolah di sekolah ini.


Aku mengucapkan terima kasih terlebih kepada kepala sekolahnya, kemudian staff administrasinya.


Akupun bergegas menuju tepi jalan raya untuk berjalan kaki menuju rumah yang kulihat saat dalam perjalanan menuju sekolah putriku, ada spanduk yang mengatakan " Rumah ini dijual", dan tertera Nomr ponsel yang BB Isa kuhubungi, karena aku melihat ada sebuah toko kecil di depan rumahnya, dan aku merasa tertarik dengan rumah itu, mudah-mudahan harganya tidak terlalu mahal, ucapku dalam hati.


Lima belas menit kemudian, aku tiba di depan rumah tersebut, dan aku mengambil ponselku untuk menghubungi nomor handphone yang tertera.


" Assalamualaikum", ucapku setelah telepon seluler kami tersambung.

__ADS_1


" Wa alaikum salam, ni siapa ya?", tanyanya padaku.


" Ini Bu, aku sedang berdiri di depan rumah ibu, katanya rumah ini dijual ya?", tanyaku balik.


" Ooh..iya Bu, itu rumah ibuku dulu, karena ibuku sudah meninggal dunia, dan kami sudah punya rumah masing-masing, mqkanya rumah itu kami jual, murah kok Bu", ucapnya menjelaskan.


" Ngomong -ngomong, rumah ibu dimna,b biar Kita bisa membicarakan tentang harganya, kalau melalui telepon seluler, rasanya kurang puas ya Bu", ucapku sambil tersenyum.


" Ooh, iya ya Bu, rumahku ada di seberang halte yang ada di tepi jalan raya itu Bu, cat warna hijau, berpagar warna coklat Bu, keliatan kok dari rumah ibu saya, jika ibu melihat sebelah kanan ibu", ucapnya menjelaskan.


" Ooh, iya Bu, aku segera datang ya kerumah ibu", ucapku sambil berjalan menuju rumah yang dikatakannya.


Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan rumah si penjual tersebut.


" Silahkan masuk Bu, ibu kan tadi yang menelpon saya", ucapnya sambil tersenyum membuka pagarnya.


" Iya Bu, kenalin nama saya Ani Bu", ucap sambil mengulurkan tanganku padanya.


" Nama saya Aminah ya Bu, senang bertemu dengan Bu Ani, silahkan duduk Bu", ucapnya sambil tersenyum mempersilahkan aku untuk duduk.


Akupun duduk di kursi yang ada di depannya.


" Kira-kira berapa harga rumah itu ibu jual?, karena aku butuh tempat tinggal untukku dan anak-anakku Bu", ucapku memulai pembicaraan.


" Emangnya suami ibu kemana?", tanyanya padaku.


Aku terdiam sejenak mendengar pertanyaannya.


" Maaf ya Bu, bukannya aku bermaksud lain, tapi ini masalah pribadiku, aku dan suamiku sudah berpisah, dan saat ini aku menumpang di rumah pamanku, dan aku tidak ingin menyusahkan mereka ", ucapku menjelaskan.


" Ooh .maaf juga ya Bu, aku tidak bermaksud apa-apa kok Bu, aku keceplosan ngomongnya", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Ga apa-apa kok Bu, itu sudah hal biasa, jika seseorang mendengar hal seperti itu, pasti akan menanyakan hal yang sama ", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Ooh, iya Bu, maaf ya sekali lagi ya Bu", ucapnya sambil tersenyum padaku.


Kamipun melanjutkan pembicaraan kami mengenai harganya, dan aku rasa harganya lumayan mahal untuk ukuran rumah sederhana seperti itu, tapi karena lokasinya strategis dan aku bisa berjualan, akhirnya aku menyetujui harganya, dan kami sepakat untuk melakukan proses jual belinya esok hari.


Hari pun sudah siang, dan anakku Habib mulai merengek, karena merasa lapar.


Akupun pamit kepada Bu Aminah untuk pulang ke rumah pamanku.


Aku bergegas berjalan perlahan menuju tepi jalan raya. Aku melihat sebuah warung makan Ampero. Aku melangkahkan kakiku menuju rumah makan tersebut untuk mengisi perutku yang mulai keroncongan.


Aku bergegas masuk ke dalam warung makan tersebut, dan memesan makanan.


Setelah makanan yang kupesan di hidangkan di depanku, aku langsung menyantapnya sambil menyuapi putraku Habib yang sudah merasa lapar juga.


Selesai makan siang dan membayar tagihan makanan, aku bergegas memanggil becak motor yang sedang mangkal di tepi jalan raya untuk kembali ke rumah pamanku.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah pamanku, dan aku heran melihat sebuah mobil yang kukenal yang sedang terparkir di depan rumah Pamanku, apakah benar itu dia?", tanyaku penasaran sambil mempercepat langkah kakiku menuju rumah pamanku.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2