Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Kembali... Part. 3


__ADS_3

Mungkin putriku merasakan rasa sakit yang kurasakan saat ini, sehingga dia tiba-tiba menangis histeris.


" Putri mama ...!", ucapku sambil memeluknya erat dan mencoba menenangkannya dengan menyanyikan sebuah lagu timang - timang.


Di saat putriku sudah mulai tenang, aku langsung menyusuinya, mungkin dia sedang lapar, ucapku dalam hati.


Selesai menyusuinya, aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur sambil memeluk dan mencium putriku. Hanya dengan cara ini, hatiku bisa tenang dan rasa sakit yang kurasakan terobati dengan perlahan.


" Gimana dek, kita pulang hari ini ya, karena besok aku harus kembali bekerja", ucapnya membujukku setelah dia duduk di tepi tempat tidur.


Aku hanya diam dan pura- pura tidur.


Aku mendengar langkah kaki suamiku yang keluar dari kamar tidur.


Aku membuka mataku dan kulihat wajah putriku yang sedang tersenyum padaku.


Aku langsung mencubit hidungnya dan mencium pipinya.


Putriku sayang, apapun yang terjadi, selama mama masih bernafas, tidak akan ada yang bisa memisahkan kita selain dari taqdir Allah SWT, ucapku dalam hati.


" Dek Ani..!", panggil kak Seto di depan pintu kamar.


" Iya kak", ucapku sambil beranjak duduk di tepi tempat tidur.


" Ayo dek, kita bicara di ruang tamu", ucap kak Khadijah sambil tersenyum padaku.


Mau tak mau, aku harus menuruti keinginannya kak Khadijah, karena aku sangat menyayanginya, dan aku tidak mau melihat dia bersedih.


" Iya kak, ayo ke ruang tamu untuk bicara, pasti Bang Izal sudah mengadu sama kakak kan?", tanyaku sambil berjalan mendekati kak Khadijah dengan menggendong putriku Syakira.


" Iya, agar kita bisa menyelesaikan masalah kalian dek, jangan sampai berlarut-larut, kasihan Putri kalian juga nantinya", ucap kak Khadijah sambil menggenggam tanganku.

__ADS_1


Kamipun bergegas menuju ruang tamu. Aku melihat bang Izal dan bang Raka sudah duduk di ruang tamu sambil mengobrol.


Kamipun duduk berdampingan dengan kak Khadijah.


" Jadi dek, Izal cerita kalau dek Ani ga mau pulang ke Medan bersama dengannya?", tanya kak Khadijah padaku.


" Iya kak, memang benar kak, untuk apa aku pulang bersamanya dike Medan, dan tinggal bersamanya, sedangkan aku tidak dianggapnya ada di rumah itu, gaya hidupnya bagaikan anak lajang, Pergi dan pulang sesukanya", ucapku menahan emosi.


" Apa benar dek Izal?, kakak disini tidak akan memihak kepada siapapun antara kalian berdua, yang Kakak inginkan rumah tangga kalian tetap kuat dan harmonis, agar putri kalian tidak menderita", ucap kak Khadijah.


" Itu tidak benar kak, aku kan bekerja mencari nafkah untuk keluargaku, terkadang aku memang lembur, jadi sering pulang terlambat", ucapnya membela diri.


" Mana mau ngaku tuh kak, maksudnya itu semua itu karena salahku, aku juga ga tau kenapa dia bisa berubah 180 derajat, dari yang baik menjadi jahat seperti itu ", ucapku masih berusaha menahan emosiku.


" Aku ga berubah jahat dek, namanya aja sibuk kerja untuk cari nafkah, otomatis sibuk terus ", ucapnya masih membela diri.


" Ya udah, jadi Dek Izal, jujur aja dulu, hal apa yang membuatmu bisa berubah menjadi seperti ini, dulu Kakak lihat, kamu sangat sayang dan perhatian kepada istrimu, dan sekarang malah sebaliknya, aku tidak bermaksud untuk menyalahkanmu, tapi agar hubungan kalian bisa diperbaiki demi putri kalian juga nantinya ", ucap kak Khadijah.


" Baiklah, aku mengaku salah selama ini, semua sikapku yang sudah menyakiti perasaan istriku sendiri, dikarenakan egoku. Tapi, itu semua karena akibat perkataan dek Ani, yang membuat hatiku kesal dan sakit hati, tapi semua sudah terjadi, dan aku yang terlalu bersikap arogan terhadap istriku sendiri, jika kata maaf bisa membuat semuanya menjadi lebih baik, aku minta maaf padamu dek Ani dan kalian berdua", ucapnya sambil menatap kami secara bergantian.


Aku hanya diam membisu mendengar perkataannya itu, yang tidak bisa ketebak. Aku pikir, bang Izal akan mempertahankan egonya, sehingga biduk rumah tangga kami akan hancur dalam sekejap, tapi ini semua bagaikan mimpi bagiku atau hanya sebuah sandiwara, ucapku dalam hati.


" Bagaimana dek Ani, apa pendapatmu tentang pengajuan yang dilakukan oleh suamimu?", tanya kak Khadijah padaku.


"Jujur saja kak, aku belum bisa mempercayai perkataannya sepenuhnya, karena aku takut semua itu hanyalah sandiwara, dan aku harus memikirkannya matang-matang", ucapku sambil menatap mereka.


" Bagaimana Izal, dek Ani meminya waktu untuk berfikir, mungkin karena hatinya sudah terlalu kamu sakiti, dalam rumah tangga, kita harus mudah saling meminta maaf dan memaafkan, karena tidak ada manusia yang sempurna, semua manusia tidak luput dari dosa dan kesalahan, bagaimana pendapatmu Izal?", tanya kak Khadijah pada bang Izal.


" Baiklah kak, aku akan memberikan waktu tiga hari untuk dek Ani mengambil keputusan, semoga keputusannya bisa memperbaiki hubungan kami dan bisa membahagiakan kami juga tentunya, aku akan terlebih dahulu pulang ke Medan, setelah tiga hari, aku akan datang menjemput mereka kesini lagi", ucap bang Izal penuh keyakinan.


" Bagaimana menurumu dek Ani ?

__ADS_1


Jika itu sudah menjadi kesepakatan kalian berdua gimana baiknya saja, kalian harus memikirkan putri kalian yang masih membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya", ucap kak Khadijah tegas.


" Baiklah kak, selama tiga hari ini, aku akan memikirkan hal yang terbaik untuk rumah tangga kami ini", ucapku dengan penuh keyakinan.


Akhirnya, setelah kami sepakat, bang Izal pun berangkat ke kota Medan untuk kembali ke rumah kami yang di Medan, karena besok, dia harus kembali bekerja.


Aku tidak mengantarkannya sampai ke teras, biar saja dia pergi dengan sendirinya, ucapku dalam hati.


" Kak, aku ke kamar dulu ya, mau istirahat sekalian mau nidurkan Syakira", ucapku sambil beranjak dari tempat dudukku.


" Iya dek, tapi, pikirkanlah matang-matang, utamakan kepentingan putrimu, bagaimanapun juga, Izal adalah ayah kandungnya, seandainya kamu memilih berpisah, putrimu akan terpisah denganmu, karena hak asuh putrimu akan jatuh ke tangannya", ucap kak Khadijah menjelaskan.


" Iya kak, nasehat yang kakak berikan, akan menjadi bahan pertimbanganku", ucapku sambil tersenyum padanya dan berlalu menuju kamar tidur kami sambil menggendong putriku Syakira.


Setibanya di kamar tidur, aku merebahkan tubuhku dan tubuh putriku di atas ranjang. Aku memiringkan tubuhku untuk menyusuinya. Karena merasa lelah dan mengantuk, akhirnya kami tertidur lelap.


Waktu berlalu, aku melakukan aktivitasku seperti biasanya. Sore ini, setelah memandikan putriku dan aku juga turut serta mandi di dalam kamar mandi ini. Setelah mandi, aku memakaikan baju gamis bayi yang bermotif bunga mawar, dan aku juga memakai daster panjang bermotif bunga tulip merah kesukaanku.


Rencananya, Sore ini, aku akan membawa putriku untuk jalan - jalan Sore di sekitar komplek ini.


Lama-kelamaan, aku bosan juga, kalau dirumah terus seharian.


" Kak, kami jalan-jalan dulu di sekitar komplek perumahan ya kak", ucapku pada kak Khadijah sambil tersenyum.


" Iya dek, hati-hati ya, jaga Syakira", ucapnya sambil tersenyum padaku.


Aku bergegas pergi ke luar rumah dan berjalan - jalan di sekitar komplek perumahan bibiku sambil menggendong putriku Syakira.


Di saa berjalan menuju taman kecil yang ada di tanah lapang perumahan ini, aku melihat...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2