
" Assalamualaikum", ucapku.
" Wa alaikum salam", jawab mereka bersamaan.
Aku terpaku melihat mereka yang menjawab salamku adalah paman dan bibiku dari Sidempuan.
Setelah tersadar, aku bergegas berjalan perlahan mendekati mereka dan menyalami mereka satu-persatu.
" Kapan datangnya Paman, perasaan tadi sebelum aku pergi jalan-jalan, Paman dan bibi belum disini?", tanyaku.
" Kami baru setengah jam yang lalu tiba dirumah ini, karena bus Bayang Pane yang kami tumpangi rusak di dalam perjalanan, jadi kami harus menunggu busnya diperbaiki, agar bisa melanjutkan perjalanan, akhirnya kami terlambat tiba disini", ucap Bibi menjelaskan.
" Ooh.. syukurlah kalian tiba dengan selamat, tapi paman dan bibi kenapa tidak mengabari kami, agar kami jemput ke loket busnya ", ucapku sambil tersenyum.
" Kami mau ngasih kejutan buat kalian ", ucap paman.
" Gimana kandungan Bibi?", tanya kak Khadijah.
" Alhamdulillah sehat nak, dan sekarang udah masuk bulan ke sembilan", ucap bibiku sambil mengelus perutnya yang membesar.
" Apa Bibi ga Kenapa-kenapa naik bus dengan perut besar seperti itu?", tanyaku penasaran.
" Ga apa-apa kok nak, malahan Bibi sangat suka jalan- jalan, lagian Bibi kangen banget sama kalian berdua ", ucap bibi sambil tersenyum.
" Ya udah, bibi mandi dulu dan istirahat di kamar, biar lebih segar, karena kulihat dari wajah bibi keliatan capeknya ", ucapku sambil beranjak menuju kamar yang kosong untuk membersihkannya sambil menggendong putriku Syakira.
" Ga usah dek, tadi kamarnya udah dibersihkan bang Raka, jadi adek disini ngobrol sama kita“, ucap kak Khadijah menahan tanganku.
" Ooh.. baiklah kalau begitu, makasih ya bang", ucapku kepada bang Raka yang sedang sibuk menggendong putranya.
Dia hanya tersenyum mendengar ucapanku.
" Paman dan bibi hanya tiga hari bisa menginap disini, ga apa-apa kan kalau Paman dan bibi cepat pulang ke Sidempuan lagi?", tanya bibi.
" Ga apa-apa bi, aku bahagia melihat Paman dan bibi mengunjungi kami disini, padahal kondisi bibi lagi hamil besar seperti itu loh, malahan aku kepikiran kalau paman dan bibi cuma istirahat selama tiga hari, padahal perjalanan jauh, apa sebaiknya seminggu aja ya nginapnya disini", ucap kak Khadijah membujuk bibi.
" Pamanmu ga bisa lama-lama liburnya, ni aja bisa datang karena ada tanggal merah selama dua hari berturut-turut, jadi kalau Pamanmu libur satu hari lagi, ga masalah", ucap bibi menjelaskan.
" Ya udah, terserah Paman dan bibi saja", ucap kak Khadijah sambil tersenyum.
" Ngomong -ngomong, apa Izal ga datang kesini mengunjungi kalian?", tanya bibi padaku.
" Datang kok bi, mungkin besok dia akan datang lagi kesini, karena hari libur, tapi ga tau juga ya bi, ntah dia ada urusan pekerjaan dadakan ", ucapku pesimis.
" Ga boleh so udzon gitu nak, husnudzon aja, semoga Allah memberikan Izal kesempatan dan kesehatan untuk datang lagi kesini untuk menjenguk kalian ", ucap pamanku menasehati.
__ADS_1
" Yah.. semoga aja ya paman", ucapku sambil tersenyum.
Waktu berlalu, adzan magrib berkumandang, kami bergegas melaksanakan kewajiban kami kepada Allah SWT.
Selesai sholat, kami makan malam bersama di dapur sambil mengobrol dengan serunya.
Setelah kami makan, aku bergegas membersihkan meja makan dan menyapu dapur sampai bersih. Sedangkan putriku Syakira sedang bermain dengan pamanku di ruang tv.
Setelah selesai mengerjakan pekerjaan dapur, aku bergegas menuju ruang tv untuk menemui mereka.
" Duduk dulu nak, ntar aja nidurkan Syakira ya", ucap Pamanku.
" Iya paman", ucapku sambil duduk di atas karpet merah yang ada di lantai.
Aku memperhatikan wajah putriku yang tertawa bahagia di saat bermain bersama kakeknya.
" Ni, bukannya paman mau ikut campur urusan pribadi kalian nak, Khadijah sudah menceritakan tentang masalah yang sedang kamu hadapi dengan Izal, maafkanlah Izal nak, dan kembalilah bersamanya, karena putrinu sangat membutuhkan kasih sayang dari ayahnya. Kita tidak akan menjadi rendah, jika mau memaafkan kesalahan orang lain, apalagi keluarga sendiri, menurut paman, itu adalah solusi yang terbaik, dan itu semua tergantung keputusanmu nak", ucap Paman menasehatiku.
" Iya paman, sebenarnya aku memang ingin memaafkan kesalahannya bang Izal, tapi aku hanya ingin memberikan dia pelajaran, agar dia mau menghargai aku sebagai istrinya, dan aku ingin dia berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi dikemudian hari ", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Alhamdulillah nak, syukurlah hatimu masih mau memaafkan Izal, semoga kalian tetap bahagia sampai maut memisahkan kalian nak", ucap Pamanku sambil tersenyum padaku.
Satu jam berlalu, putriku Syakira mulai menguap karena mengantuk.
" Paman, aku menidurkan Syakira dulu ya di kamar", ucapku sambil bergegas menggendong putriku Syakira.
Aku berjalan perlahan menuju kamar tidur kami sambil menggendong putriku Syakira yang terus-menerus menguap karena mengantuk.
Aku merebahkan tubuhnya dan tubuhku di atas tempat tidur. Aku mengelus kepalanya, agar dia cepat tertidur lelap.
Setelah putriku tertidur, aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar ini untuk mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat isya.
Selesai sholat, aku memeriksa ponselku, ada lima panggilan tidak terjawab dari suamiku.
Aku menonaktifkan ponselku dan merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, karena aku tidak mau tidurku terganggu karena ponsel.
Waktu berlalu, malam yang sepi pun berlalu, pagi yang cerah, akhirnya tiba.
Seperti biasa, aku melakukan aktivitasku setiap pagi, dimulai dari sholat shubuh, memasak, mencuci piring dan membersihkan rumah dan pekarangannya.
Setelah itu, aku membersihkan tubuhku dengan mandi air bersih, agar saat putriku terbangun, aku sudah dalam keadaan bersih dan tanpa kuman dan bau keringat.
Tepat pukul delapan pagi, kami kedatangan tamu. Di saat aku sedang berjemur di bawah panas matahari pagi, yang menyehatkan tubuhku.
" Assalamualaikum", ucapnya.
__ADS_1
" Wa alaikum salam", ucapku sambil berdiri di teras rumah.
" Adek kaget ya Abang datang pagi-pagi sekali kayak gini?", tanyanya padaku.
" Emang Abang ga kerja", ucapku mengalihkan pembicaraan.
" Ini tanggal merah dek, selama dua hari, lagian Abang kangen banget sama kalian, jadinya Abang buru-buru kesini", jawabnya sambil tersenyum padaku.
" Ooh... ya udah, Abang udah sarapan pagi?", tanyaku.
" Belum dek, ayo temenin Abang sarapan", ajaknya sambil menggenggam tanganku menuju dapur.
Setibanya di dapur, dia duduk di kursi, dan aku menghidangkan nasi goreng dan telur mata sapi di depannya.
" Mana Syakira dek?", tanyanya sambil menyantap makanannya.
" Masih tidur di kamar, mungkin dia kecapean karena main lama sama paman tadi malam", ucapku sambil duduk di kursi yang ada di sebelah kanannya.
" Paman yang mana dek?", tanyanya penasaran.
" Paman yang dari Sidempuan", ucapku dengan singkat.
" Kapan datangnya?", tanyanya lagi.
" Kemaren sore", jawabku.
Setelah sarapan, suamiku berjalan ke teras rumah untuk merokok, sedangkan aku menuju kamar tidur kami untuk melihat putriku Syakira, apa sudah bangun.
Aku bergegas mendekatinya yang ingin turun dari atas tempat tidur, untunglah aku tiba tepat waktu, kalau ga, mungkin putriku sudah terjatuh ke lantai kamar.
Bisa berabe ntar urusannya, ucapku dalam hati, sambil menggendong putriku untuk keluar kamar.
Aku melihat paman dan bibi serta kak Khadijah dan suaminya Raka sedang sarapan di dapur.
" Siapa yang datang dek?", tanya kak Khadijah.
" Bang Izal kak", ucapku sambil menyuapi putriku bubur ayam yang kumasak tadi.
" Ooh..dia dimana sekarang?", tanya bibiku
" Dia di teras bi, sedang merokok", ucapku sambil menyuapi putriku.
Selesai sarapan, kami berkumpul di ruang tamu untuk membicarakan tentang masalah yang sedang kami hadapi.
Beberapa jam kemudian, setelah mendapatkan solusi yang tepat dan terbaik untuk kami, Paman dan bibi memberikan nasihat yang baik untuk kami kedepannya.
__ADS_1
Alhamdulillah, ternyata setiap masalah yang kita hadapi, Allah SWT selalu memberikan solusi yang tepat dan terbaik untuk hanba-Nya, ucapku dalam hati.
Bersambung...