Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Akhirnya...


__ADS_3

Setelah menceritakan tentang semua masalahku pada Paman dan bibiku, hatiku merasa lebih tenang dan aku bisa mewujudkan rencanaku selanjutnya.


Aku segera menelepon kak Khadijah.


" Assalamualaikum kak", ucapku setelah telepon seluler kami tersambung.


" Wa alaikum salam dek", jawabnya.


" Apa kakak sedang sibuk?", tanyaku.


"Ga dek, ada apa dek, apa kamu ada masalah?", tanya kak Khadijah dengan nada khawatir.


" Iya kak, aku akan berpisah dengan bang Izal, karena dia sudah menikah diam-diam dengan mantan kekasihnya Mira, dan sekarang sedang hamil, aku tidak mau menerima dia sebagai maduku, apakah kakak bisa membantuku?", tanyaku penuh harap.


" Apa yang harus kakak lakukan dek?", tanyanya.


" Tolong kakak beli rumah kami ini kak seharga dua ratus juta, karena aku ingin pindah ke Sidempuan, dan aku ingin menetap disana, agar aku dan anak - anakku bisa memulai hidup baru tanpa bang Izal, sekalian aku mau buka usaha juga disana", ucapku dengan penuh harap.


" Kebetulan sekali dek, ada teman sekantor suamiku Raka yang sedang mencari rumah di Medan, karena dia dipindah tugaskan ke kota Medan, kakak tanya bang Raka dulu ya, nanti kakak kabari", ucapnya.


" Iya kak, surat rumah ini atas namaku , dan proses penjualannya tidak akan ribet, tapi bang Izal jangan tau y kak, karena setelah rumah kami ini laku terjual, kami akan langsung kembali ke Sidempuan", ucapku.


" Iya dek, kamu yang sabar ya dek", ucapnya.


" Iya kak, mohon doa dan dukungannya ya kak ", ucapku sambil menghapus air mataku yang mengalir dari kedua mataku.


" Iya de, tetaplah semangat, jangan berputus asa, semua pasti akan ada hikmahnya dek, kakak tutup dulu ya teleponnya", ucapnya sambil mematikan sambungan telepon seluler kami.


Aku bergegas bersiap -siap untuk pulang ke rumah kami.


" Dek kita libur dulu ya, nanti kakak kabari kapan buka toko lagi", ucapku kepada Shakila.


" Iya kak, jangan lupa kabari ya kak", ucapnya sambil merapikan jualan kami.


Satu jam kemudian, kami selesai menutup toko kami. Aku dan anak-anakku pulang ke rumah kami dengan menaiki becak motor, sedangkan Shakila berjalan kaki menuju rumahnya, karena tidak terlalu jauh dari toko kami.

__ADS_1


Untunglah, aku baru memberikan gajinya kemaren untuk satu bulan terakhir ini, sehingga aku bisa menghemat uangku, dan aku bersyukur karena uangku yang Lima puluh juta rupiah untuk membeli rumah, sudah dilunasi oleh suamiku dua bulan yang lalu, Allah SWT Maha Mengetahui, semoga Allah mempermudah segala urusanku, doaku dalam hati.


Beberapa menit kemudian kami tiba di depan rumah kami. Setelah membayar ongkos becak motor, kami turun dari becak motor dan berjalan perlahan menuju pintu rumah kami.


Aku bergegas membuka pintu rumah kami dengan menggunakan kunci pintu yang selalu kubawa.


" Ma, kenapa kita cepat banget pulang jualan, apa kita mau pergi Ma?", tanya Syakira.


" Ga nak, kita ga pergi kemana-mana kok", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Kira bobo siang dulu ya ma di kamar mama", ucapnya sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur kami.


" Iya sayang ", ucapku sambil meletakkan tubuh putraku yang masih terlelap ke dalam box bayi yang ada di dekat tempat tidur kami.


Aku bergegas menuju ruang tamu untk menelpon kak Dewi langgananku.


" Assalamualaikum kak", ucapku setelah telepon seluler kami tersambung.


" Wa alaikum salam dek, ada apa?", tanyanya penasaran, karena biasanya aku langsung kerumahnya jika ingin mengobrol.


" Bantu apa dek?", tanyanya lagi.


" Kakak mau menyewa ruko tempat jualanku sisa satu setengah tahun lagi, karena aku bayar kontrakan ruko tempat jualanku selama dua tahun cash kak, baru enam bulan aku tempati", ucapku.


" Emangnya Adek mau kemana?", tanyanya.


" Aku mau pulang ke kampungku kak,tapi kakak jangan bilang sama siapapun ya kak", ucapku membujuknya.


" Apa kamu bertengkar dengan suamimu?", tanyanya.


" Kami tidak bertengkar kak, hanya saja, suamiku dan aku tidak saling mencintai lagi, karena dia sudah menikah dengan wanita lain, dan aku ingin bercerai dengannya, tapi aku tidak ingin wanita itu bisa menikmati harta yang sudah kami dapatkan selama kami berumah tangga, aku tidak mau melihat mereka berdua bahagia di atas penderitaanku", ucapku sambil menahan air mataku mengalir.


" Astaghfirullah, kakak tidak menyangka kalau suamimu bisa tega seperti itu terhadapmu, padahal aku lihat dari raut wajahnya, dia adalah seorang pria yang baik ", ucapnya.


" Ini sudah taqdir dari Allah SWT yang harus kujalani kak, dan aku ingin membawa anak- anakku bersamaku, dan besok aku akan ke sekolah Syakira untuk mengurus surat mutasi sekolahnya ke Sidempuan ", ucapku.

__ADS_1


" Baiklah dek, besok kakak kabari tentang keputusan untuk menyewa ruko tempat adek jualan ya", ucapnya.


" Terima kasih ya kak, kutunggu kabar dari kakak, assalamualaikum kak", ucapku sambil mengakhiri telepon.


Setelah itu, aku mulai mengemasi barang-barang kami ke dalam sebuah kardus besar, dan menyusunnya di dalam kamar putriku, karena akan aku kirimkan ke alamat rumah pamanku yang di Sidempuan, sebelumnya sudah kuberitahu kepada mereka.


Beberapa jam kemudian, aku selesai menyusun semua barangku ke dalam sepuluh kardus besar dan dua koper besar, karena barang kami lumayan banyak.


Tempat tidur, lemari, dan semua perabotan rumah tangga yang sudah ada, akan kujual ke pembeli rumah kami ini, karena masih bagus dan kelihatan baru, mungkin pembelinya juga menyukainya, agar dia tidak repot lagi membrlu perabotan yang baru.


Sore pun tiba, setelah memandikan anak -anakku, kami menonton televisi sambil memakan cemilan.


Walau kami hanya bertiga, kami tidak merasakan kesepian dirumah ini, karena kebahagiaan utama bagiku adalah anak-anakku.


Malam pun tiba, selesai makan malam, kami tidur bersama di dalam kamar tidurku.


Aku memandangi wajah anak-anakku satu persatu, ada rasa sesak di dada ini.


Ya Allah, apakah aku berdosa karena aku ingin berpisah dari suamiku yang tidak pernah mencintaiku seperti aku mencintainya?, ucapku dalam hati.


Apakah aku ibu yang egois, jika aku ingin pergi dari suamiku yang lebih memilih wanita lain daripada aku dan anak-anak kami?, ucapku dalam hati yang berkecamuk.


Akhirnya, aku tertidur lelap sambil memeluk anak -anakku. Kami melewati malam ini dengan penuh hangat dan kasih sayang sambil berpelukan.


Pagi pun tiba, aku melakukan aktivitasku seperti biasanya. Tapi hari ini, aku akan menitipkan putriku Syakira ke rumah kak Dewi tetanggaku, karena aku akan ke sekolahnya untuk mengurus surat mutasi sekolahnya ke Sidempuan.


" Mama, aku mau ikut sama mama", rengek putriku.


" Mama cuma sebentar kok nak, Kira dirumah Tante Dewi aja main sebentar ya", ucapku membujuknya.


" Emang Ayah kemana ma?, udah dua hari ga pulang ke rumah kita?", tanya putriku.


Aku tersentak mendengar ucapannya, dan memikirkan alasan apa yang akan aku katakan padanya, agar putriku tidak merasa kecewa terhadap ayahnya.


" Putriku sayang, ayahmu sedang....

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2