
" Aku sangat bahagia dengan suamiku, Alhamdulillah pernikahan kami harmonis dan manis, kalau ga bahagia, gak mungkinlah perutku bisa buncit seperti sekarang ini", ucapku sambil tertawa.
Suamiku tersenyum mendengar ucapanku.
" Syukurlah kalau begitu, hati-hati ya Ni sama Pelakor, apalagi suamimu macho abis, zaman sekarang, Pelakor lebih kejam dibandingkan dengan penjajah", ucap Gita menggodaku.
" Tenang aja say, aku gak pandang bulu untuk menghukum siapapun Pelakornya baik itu sahabat atau wanita lainnya", ucapku sambil tertawa.
" Aku pergi dulu ya Ni ke seberang air terjun, ada kolam derasnya, ada temanku yang nungguin aku disitu", ucapnya sambil berlalu.
Aku kembali menikmati mandi bersama dengan suamiku. Aku takut masuk angin jika terlalu lama berendam di dalam air, sehingga aku mengajak Suamiku untuk pergi ke penginapan untuk beristirahat.
" Sayang, balik yuk ke penginapan, adek udah capek nih, lagian takut masuk angin kelamaan di dalam air", ucapku sambil menarik tangannya.
" Iya sayang, sabar dulu, pelan-pelan aja jalannyq, karena licin, ntar kepeleset Giman sayang", ucapnya sambil menahan tanganku.
__ADS_1
Kamipun bergegas menuju penginapan. Setibanya di penginapan, aku langsung membersihkan tubuhku di dalam kamar mandi penginapan, selesai mandi, aku mengganti pakaianku dengan piyama warna peach kesukaanku.
Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang, sambil telentang dan menikmati Wangi bunga melati dari pengharum ruangan otomatis yang ada di kamar kami ini. Akhirnya aku tertidur lelap dan bermimpi yang indah.
Selesai mandi, suamiku merebahkan tubuhnya disampingku, dan menyelimuti tubuh kami, dan dia memelukku dengan erat sambil mengelus perutku.
Aku semakin nyaman dan semakin nyenyak dengan perlakuannya itu, karena aku masih bisa merasakan kehangatan hatinya.
Dua jam kemudian, kami terbangun, sudah pukul tiga siang menjelang sore. Suamiku merasa lapar, dan dia ingin memesan makanan untuk kami.
" Sayang mau makan apa?", tanya suamiku.
" Ok sayang, abang pergi dulu ke warung makan yang di samping penginapan ini ya, apa adek mau ikut sama Abang atau kita makan disitu aja?", tanyanya.
" Makan disini aja ya sayang, adek masih capek", ucapku manja.
__ADS_1
"Ok sàay, tunggu ya kedatangan Abang disini ", ucapnya menggodaku.
Setelah suamiku pergi keluar. Aku duduk di dekat jendela. Saat aku menikmati pemandangan dari jendela kamar, aku melihat Gita sedang bergandengan tangan dengan seorang pria yang lebih tua dari usianya, mungkin lebih pantas menjadi ayahnya.
Aku melihat pria itu memeluk pinggangnya dengan mesra, sambil membuka pintu kamar penginapan yang mereka booking.
Aku tidak kaget melihat kelakuannya itu, sejak aku pergoki dia terus menatap wajah suamiku sambil berbicara denganku, aku sudah yakin kalau dia bukan wanita yang baik.
Wajahnya memang cantik, tapi hatinya bagai kain lap comberan tanpa ada hal yang tersisa.
Aku kembali merebahkan tubuhku di atas ranjang sambil menunggu kedatangan suamiku untuk membawa makanan yang kupesan.
Beberapa menit kemudian, suamiku datang dengan membawa bungkusan makanan yang kupesan padanya.
Aku bahagia melihat kedatangannya. Aku bergegas menuju dia untuk mengambil makanan yang aku minta.
__ADS_1
Setelah menghidangkannya menggunakan piring yang dibawa suamiku dari pemilik penginapan,aku menghidangkannya di atas meja nakas. Kamipun makan dengan lahapnya sambil saling menyuapi.
Bersambung...