
Tiga hari berlalu, aku sibuk mengurus nenekku yang sakit, menemaninya pijat refleksi si rumah, dan menemaninya mandi ke pemandian air panas, terkadang kami berjalan- jalan setiap pagi setelah sholat shubuh.
Pagi ini hujan turun derasnya, aku dan nenek tidak jadi berjalan pagi. Aku bergegas menuju kamar tidur kami yang terletak di sebelah kamar nenek, selesai buang hajat di kamar mandi.
Aku melihat suamiku masih tidur lelap di bawah selimut. Sebenarnya aku kasihan melihatnya seperti itu, tapi karena ingin memberinya pelajaran, memang harus aku lakukan, agar dia jera.
Ketika mataku mulai mengantuk, suamiku memeluk tubuhku dari dalam selimut, dan dia mulai mencumbuiku.
" Adek ga bisa kabur lagi sekarang", bisiknya sambil ******* bibirku dengan penuh nafsu.
Aku tidak bisa mengelak lagi, dan sebenarnya aku juga merindukan sentuhan suamiku yang sudah tiga hari, kami tidak saling menyalurkan hasrat kami, tapi karena egoku, aku malu untuk memintanya duluan.
Kami bercinta selama satu jam, untuk saling memuaskan dan mengobati rasa rindu yang kami pendam selama beberapa hari terakhir ini.
Selesai bercinta, aku bergegas memakai pakaianku, dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku, mandi junub.
Setelah selesai mandi, aku memakai pakaianku kembali di kamar mandi, dan keluar menuju dapur untuk membantu bibiku memasak.
Aku tidak merasa enak, ketika aku tiba di dapur, bibiku sudah selesai memasak makanan untuk sarapan pagi, berupa nasi goreng, mie goreng dan telur dadar.
" Maaf ya bi, aku telat bangun", ucapku merasa bersalah pada bibiku.
" Ga apa-apa nak, ga masalah, lagian kan memang hujan, jadi udaranya terasa semakin dingin, mungkin Ani jadi makin nyenyak tidurnya", ucap bibiku sambil tersenyum.
Aku menghidangkan makanannya ke atas meja makan, dan menyusun piring dan gelas sesuai dengan jumlah orang yang anggota keluarga yang akan makan di meja makan, karena biasanya nenek makan di kamarnya, karena nenek belum kuat untuk duduk di kursi untuk waktu yang lama.
Di saat mengantarkan makanan untuk nenek, aku sempatkan ke kamar kami untuk membangunkan suamiku, agar dia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, karena sebentar lagi Kami akan sarapan pagi bersama paman dan bibi di ruang makan.
Setelah suamiku ke kamar mandi, aku melanjutkan tujuanku untuk ke kamar nenek mengantarkan makanannya.
" Nek, ini sarapan nenek sudah aku bawakan", ucapku sambil tersenyum.
Aku meletakkan piring yang berisi sarapan neyke atas nakas, kemudian membantu nenek untuk duduk sambil bersandar ke dinding kamar. Aku menemani nenek menghabiskan makanannya. Nenek selesai makan, aku memberikan nenek air putih dan obat resep dokter yang biasanya dikonsumsi oleh nenek selama proses pengobatan berlangsung.
Selesai mengurus keperluan nenek, aku membawa piring kotor yang sudah dipakai menuju dapur. Aku melihat suamiku dan paman serta bibi sudah mulai sarapan pagi.
Aku bergegas mencuci tangaku dan segera bergabung dengan mereka untuk sarapan bersama.
__ADS_1
Kami menyantap sarapan kami dengan lahapnya, karena masakan bibiku memang enak. Selesai sarapan, aku membersihkan meja makan dan mencuci piring yang sudah kotor.
Selesai membereskan pekerjaan dapur, aku bergegas ke ruang tamu untuk berkumpul dengan paman dan suamiku.
" Om, sepertinya kami akan pulang ke Gunung Tua besok pagi, karena masih ada hal yang penting yang harus aku selesaikan di kampung", ujar bang Izal.
" Baiklah kalau kalian memang mau pulang, paman tidak keberatan dengan hal itu", ucap Pamanku.
" Jadi siapa yang akan menemani nenek selama proses pengobatan", tanyaku.
" Nanti Paman akan mencari seseorang untuk merawat nenekmu selama pengobatan disini sampai nenekmu sembuh", jawab pamanku dengan tersenyum.
" Itu lebih baik paman, karena ga mungkin bibi bisa mengerjakan semuanya, apalagi Raihan masih kecil", ucapku dengan penuh keyakinan.
" Iya nak, Paman tau itu, makanya paman fikir akan menyewa seseorang untuk merawat nenekmu", ujar Pamanku.
Aku merasa lega dengan solusi yang diberikan oleh paman.
Hari menjelang siang, hujan deras yang mengguyur sejak pagi, akhirnya berhenti juga. Kami berencana untuk jalan-jalan ke Tor Simago- maho, namun karena hujan deras dari pagi, jalannya akan licin, karena masih tanah liat, dan mendaki pula, terlalu berbahaya untuk kami, àpalagi kondisiku yang sedang hamil.
Akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Torsibohi, kemudian keliling kota Sipirok sambil menikmati pemandangan alam yang indah, udara yang dingin dan segar serta menikmati makanan khas daerah ini, yaitu: Ikan Mas Sinyar- nyar, dan sambal taruna, yang terbuat dari ubi kayu. Pokoknya sampai puas liburannya.
Terlebih dahulu kami jalan- jalan ke Torsibohi, dan kami berselfie ria disana sambil menikmati pemandangan yang indah. Kemudian kami jalan-jalan keliling kota Sipirok, dan mampir di rumah makan Sinyar-nyar untuk makan siang.
Selesai makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju danau buatan, tidak berapa jauh dari rumah makan yang kami kunjungi sebelumnya. Kami menaiki perahu karakter itik angsa yang mengapung di atas danau buatan. Kami mendayungnya secara bersamaan. Kami juga berselfie ria di atas perahu sambil berpegangan tangan.
Karena merasa bosan dan lelah, kami menepikan perahu kami, by untuk beristirahat di gazebo yang sudah disediakan.
" Sayang, adek mau minum, haus nih", ucapku dengan manja.
" Tunggu ya sayang, pelayannya datang dulu, baru abang pesan", ucap suamiku.
Beberapa menit kemudian, si pelayan datang untuk mencatat pesanan kami. Tak berapa lama, pesanan kami diantar oleh pelayan dan menghilangkannya di depan kami.
" Silahkan pak, Bu, dinikmati makanan dan minumannya, jika ada yang kurang, silahkan panggil kami ya pak, Bu", ucap pelayannya dengan ramah dan sopan.
" Terima kasih ya dek atas pelayanannya dan keramah tamahannya ya", ucapku sambil tersenyum.
__ADS_1
Aku segera mengambil gelas kristal yang berisi jus lemon kesukaanku, dan suamiku juga sama denganku. Sambil menikmati pemandangan yang indah dan udara yang segar, kami memakan sambal taruma, khas kota Sipirok ini yang rasanya memang sangat enak dan renyah.
Kami berniat membelinya dalam jumlah yang cukup banyak, untuk oleh-oleh kami di kampung dan pulang ke Medan nanti, karena menurut kami, makanan sambal taruma ini, dibisa tahan selama bulan beberapa hari, jika dibungkus dengan baik dengan menggunakan plastik yang ramah lingkungan.
Hari semakin Sore, setelah membayar tagihan makanan kami dan oleh -oleh yang akan kami bawa pulang, kami bergegas pulang ke rumah paman.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah pamanku.
" Assalamualaikum bi", ucapku sambil mengetuk pintu rumah.
" Wa alaikum salam", ucap bibiku sambil membuka pintu.
Kami segera masuk ke dalam rumah sambil membawa makanan yang kami beli tadi.
Aku menyerahkan bungkusan sambal taruma yang sudah kuasingkan untuk paman dan bibiku, sedangkan sisanya aku bawa ke kamar tidur, karena akan kami bawa pulang besok sebagai oleh -oleh kami.
Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang, karena merasa lelah. Suamiku mengikutiku sambil mengelus perutku dan mencium pipiku.
" Apa Adek ga marah lagi sama abang karena masalah kemaren?", tanyanya padaku.
" Masalah yang mana ya bang?", tanyaku pura-pura tidak tahu.
" Ya sudahlah kalau adek tidak tau, daripada ngambek lagi nanti sama abang, jadi junior abang yang adek siksa, ga dapat jatah harian", ucapnya sambil memeluk tubuhku dengan erat.
" Besok kita berangkat jam berapa sayang?", tanyaku mengalihkan perhatiannya.
" Kira -kira jam delapan pagilah dek, biar kita siangnya nyampe di rumah, karena teman Abang mau datang kerumah sore harinya", ujar suamiku menjelaskan.
" Baiklah sayang, ntar lagi, barang bawaan kita adek rapikan ke koper ya, biar besok pagi, kita tidak terlambat", ucapku membalas pelukannya dan mencium pipinya.
" Adek jangan mancing -mancing abang donk, ntar kebablasan lagi, mana bisa mandi malam hari disini, kayak di kampung, megang airnya aja Abang ga tahan ", ucap suamiku sambil tersenyum.
" Abang kali ya nafsunya terlalu, jadi gini aja udah terpancing", ucapku sambil mencubit hidungnya.
Malam pun berlalu, setelah memberikan nenek Makan malam, dan minum obat, aku bergegas menuju kamar, karena tidak tahan dengan udara dingin yang ada disini. Aku masuk ke dalam selimut tebal yang àda di atas ranjang, dan memeluk tubuh suamiku yang sudah terlelap, karena kecapean atau kedinginan.
Tubuhku terasa hangat, saat memeluknya. Semoga hubungan kami semakin erat, setiap harinya, dan mengukir kenangan indah setiap saat, doaku dalam hati..
__ADS_1
Aamiin..
Bersambung...