Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Telah berakhir...


__ADS_3

Akhirnya malam yang menegaskan ini pun telah berakhir. Kami bisa bernafas lega, karena semua anggota komplotan begal tersebut sudah tertangkap.


Kami berencana untuk pulang ke Medan besok pagi.


Setelah suster rumah sakit melepaskan jarum infus yang ada di tangan kak Khadijah, kami dipersilahkan oleh suster untuk beristirahat di sebuah kamar pasien yang kosong, yang ada di dekat ruang tunggu.


Kami bergegas masuk ke dalam kamar tersebut untuk beristirahat.


Pagi yang diawali oleh adzan shubuh yang berkumandang. Aku membangunkannya kak Khadijah terlebih dahulu, agar kami bisa mandi terlebih dahulu untuk melaksanakan sholat subuh.


Selesai sholat, kami membangunkan bang Izal dan bang Raka. Kami bersiap -siap untuk berangkat ke Medan. Rencananya, kami akan sarapan di dalam perjalanan menuju ke kota Medan.


Selesai berkemas, kami melihat bang Izal dan bang Raka sudah selesai sholat subuh.


" Kita berangkat sekarang sayang?", tanyaku pada bang Izal.


" Bang Raka supirnya dek, buka. Abang, tanya bang Raka aja ya ", ucapnya cuek.


Aku jadi bingung dengan sikap bang Izal, aku salah apa ya, sungutku dalam hati, dan mencoba mengingat -ingat apa kesalahan yang kuperbuat tanpa sadar.


Terkadang aku juga bingung dengan sikap bang Izal yang bisa tiba-tiba berubah, aku yang hamil, kok dia yang baper terus - menerus ya.


Semoga kak Khadijah, ga ngalamin yang aku rasakan ini, doaku dalam hati.


Bang Raka memanggil kami untuk segera masuk ke dalam mobilnya.


Setelah kami masuk ke dalam mobilnya, bang Raka segera menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang.


Selama didalam perjalanan, aku dan suamiku tidak mengobrol atau saling menyapa Aku hanya diam membisu, tak mau melihatnya, biarin aja kami tidak berbicara sepatah katapun.


Setengah jam kemudian, bang Raka memarkir mobilnya di sebuah warung nasi gurih untuk sarana pagi.


Jujur saja, aku memang sudah merasa lapar, karena kejadian kemarin dan tadi malam menguras tenaga dan pikiranku.


Aku juga lelah melihat sikap suamiku , terkadang masih kekanak-kanakan. Dikit-dikit udah ngambek, padahal aku tidak tahu salahku apa.


Setelah kami masuk ke dalam warung nasi gurih, aku memesan porsi jumbo, karena saking laparnya.


" Emangnya Adek bisa ngabisinnya?", tanya kak Khadijah.


" Inshaa Allah, habis Kak", ucap sambil menyodorkan makanan yang sudah dihidangkan oleh pemilik warung di depanku.


Tanpa basa-basi, aku menyantap makanan tersebut seperti kesetanan, mungkin karena aku kelaparan, tapi aku tidak lupa membaca doa sebelum makan, walau perutku sangat kelaparan.


Aku tidak mempedulikan bang Izal yang menatapku dengan tatapan mata yang tak biasa.

__ADS_1


Kak Khadijah dan suaminya Raka, memesan nasi gurih dengan perkedel tahu, sedangkan suamiku memesan nasi gurih pakai perkedel kentang.


Aku terlebih dahulu selesai makan dibandingkan kak Khadijah,bang Raka dan suamiku. Karena, pesananku didahului oleh pemilik warung, mungil dia melihatku sudah sangat kelaparan dengan kondisi perut besar seperti ini.


Selesai makan, aku beristirahat sejenak sambil mengelus perutku yang sudah kenyang. Aku melihat pemilik warung, tersenyum lucu melihat tingkahku.


" Kandunganmu sudah berapa bulan nak?", tanya si pemilik warung.


" Alhamdulillah, udah genap tujuh bulan Bu", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Pantesan kamu mudah lapar, karena usia kandunganmu sudah besar seperti itu", ucapnya kemudian.


" Nama ibu siapa?", tanyaku balik.


" Panggil aja Bu Aminah, ibu tinggi disini juga", ucapnya sendu.


" Anak ibu berapa?", tanyaku lagi.


" Ibu ga punya anak nak, ibu tinggal di warung ini sendirian, setelah suami ibu meninggal, dan ibu hanya sebatang kara di dunia ini nak, tidak ada sanak saudara atau keluarga ibu disini, karena ibu dan suami ibu merantau kesini dari pulau Jawa, dan belum pernah pulang ke Jawa, ibu tidak pernah memberi kabar kesana, karena orang tua ibu sudah lama meninggal dunia", ucapnya sedih.


" Ibu ga usah sedih, anggap aja kami semua ini keluarga ibu, kapan-kapan kalau ibu ada waktu dan rezeki, ibu datang berkunjung ke rumah kami yang ada di Medan", ucapku sambil tersenyum padanya dan menulis alamat lengkap kami dan nomor hp kami juga di sebuah kertas kecil yang kebetulan ada di tasku.


" Terima kasih ya nak atas perhatian dan kepedulian kalian terhadap ibu, padahal kita baru kenal, itupun karena kalian sarapan di warung kecil ibu ini", ucapnya sambil tersenyum.


" Ga apa-apa Bu, kita sesama manusia harus saling tolong-menolong dan saling peduli ", ucap kak Khadijah menambahi.


" Ga usah berterima kasih Bu kepada kami, anggap aja kami ini keluarga ibu ", ucap bang Izal tersenyum.


" Iya nak, ternyata masih ada orang -orang yang tulus seperti kalian di dunia ini ", ucapnya terharu.


Di saat bang Izal ingin membayar tagihan makanan kami kepada Bu Aminah, dia berkata" makanannya ga usah dibayar nak, kita kan keluarga ", ucapnya sambil tersenyum.


" Kami ga membayar tagihan makanan kami Bu, anggap aja sebagai bantuan seorang anak kepada ibunya ", ucap suamiku sambil menyalamkan uang seratus ribuan sebanyak lima lembar ke tangan ibu Aminah.


" Terima kasih banyak ya nak, semoga Allah SWT melimpahkan rezeki dan rahmat-Nya kepada kalian semua ", ucapnya terharu sambil memeluk kami satu persatu.


Kamipun berpamitan untuk kembali melanjutkan perjalanan kami menuju kota Medan.


Beberapa jam kemudian, kami tiba di depan rumah kontrakan kami.


Aku keluar dari mobil dan bergegas membuka pintu rumah dengan menggunakan kunci rumah yang kubawa.


" Dek, kamu lagi ngapain?", tanyaku dengan bahasa isyarat yang kubuat-buat agar dia mengerti.


Kemudian dia menunjukkan Pakaiannya yang berantakan. Berarti, maksudnya untuk merapikan pakaiannya.

__ADS_1


" Kamu udah makan?", tanyaku lagi dengan bahasa isyarat.


Dia pun menganggukkan kepalanya menandakan kalau dia sudah makan.


Akupun meninggalkannya dan bergegas ke dapur untuk membuatkan minuman teh manis hangat untuk suamiku dan kak Khadijah beserta suaminya Raka.


Selesai membuatkannya, aku membawanya ke ruang tamu, dan meletakkannya di atas meja.


" Silahkan di minum tehnya kak, bang...!" ucapku sambil duduk di samping suamiku.


Kak Khadijah dan suaminya Raka meminum teh buatanku. Sedangkan suamiku sedang membalas SMS yang masuk ke ponselnya, mungkin itu dari atasan atau bawahannya, padahal ini adalah hari libur, minggu.


Aku tidak mempedulikannya yang sedang sibuk membalas SMS, sehingga dia tidak menyadari kalau aku duduk di sampingnya.


" Kak Khadijah gimana kondisi kakak ?", tanyaku, barulah bang Izal berhenti memegang ponselnya, membuat aku curiga.


" Alhamdulillah, Kakak baik-baik saja dek, adek ga usah khawatir, adek gimana?", tanya kak Khadijah.


" Sakitnya tuh disini...


di dalam hatiku...", ucapku sambil menyanyikan sebuah lagu yang pernah kudengar.


Kak Khadijah dan suaminya Raka, tersenyum melihat tingkahku. Mereka tau, tujuan laguku untuk siapa.


" Mungkin Izal cemburu sewaktu dek Ani secara refleks memeluk bang Raka sewaktu pria bertopeng waktu itu ingin menyerang kita, syukurlah pak polisi menembak kaki pria itu", ucap kak Khadijah sambil tersenyum.


Aku terbengong mendengar perkataan Kak Khadijah, barulah aku sadari, halbapa yang membuat bang Izal seketika berubah, untunglah kak Khadijah mengingatkanku.


Aku melihat wajahnya bang Izal dengan raut wajah kecewa, masalah sepele seperti itu, bisa merubah suasana hatinya, padahal aku tidak sengaja melakukannya, seharusnya dia menasehatiku, atau apalah itu, agar dia tidak salah paham padaku, tapi itu semua tidak dia lakukan, sungguh tragis..!, sungutku dalam hati.


" Dek, memang kata orang, rasa cemburu itu bisa menunjukkan seberapa besar seseorang mencintai kita, tapi terkadang rasa cemburu yang berlebihan, bisa menghancurkan cinta, sebesar apapun itu, maka rasa cemburu kita, harus bisa kota kendalikan sesuai pada kondisi dan tempatnya", ucap Kak Khadijah sambil tersenyum menasehati kami.


Kulihat bang Izal langsung terdiam mendengar perkataan kak Khadijah, dan akupun begitu.


Syukurlah, kalau kak Khadijah mengingatkanku akan kesalahan yang kuperbuat tanpa sengaja.


Setelah menghabiskan minuman teh yang kubuatkan, kak Khadijah dan suaminya Raka berpamitan untuk kembali ke rumah mereka yang ada di kota Binjai.


Aku mengantarkan mereka ke teras rumah. Setelah mobil mereka meninggalkan pekarangan rumah kami, aku masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.


Aku bergegas menuju kamar kami untuk merapikan barang bawaan kami dari kota Brastagi. Aku memberikan beberapa buah kepada adikku Marni, dan aku juga membagi -bagikan buah-buahan yang kami beli, ke dalam beberapa kantong plastik, untuk kuberikan ke para tetangga kami.


Aku melihat bang Izal yang masuk ke dalam kamar kami, tapi aku pura-pura tidak melihatnya. Karena aku masih kesal dengan reaksinya yang berlebihan.


Aku....

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2