Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Perpisahan yang menyedihkan atau membahagiakan...?


__ADS_3

POV. Izal


Setelah berada di dalam mobilku, aku berhenti sejenak untuk melihat Ani dan anak-anakku. Maafkan aku, ucapku dalam hati sambil menghapus air mata yang keluar dari sudut mataku.


Aku menghidupkan mesin mobil dan mulai melakukan mobilku dengan perlahan.


Di tengah perjalanan, aku merasa lelah, dan aku berencana untuk istirahat sejenak di sebuah penginapan yang ada di kota Tarutung.


Setelah menemukan penginapan yang sesuai untukku, aku memarkirkan mobilku di t iniempat parkir yang sudah disediakan.


" Selamat malam pak, ada bisa saya bantu?", tanya resepsionis.


" Iya saya mau booking satu malam, ada kamar yang kosong mbak?", tanyaku.


" Ada pak, bapak mau kamar eksekutif atau deluxe?", tanyanya.


" Deluxe aja mbak", ucapku sambil menyerahkan identitasku.


" Ooh ya, Kalau bapak mau mesan makanan atau layanan kamar, silahkan memakai telepon yang ada di kamar ya pak", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Terima kasih mbak", ucapku sambil berlalu menuju kamar nomor sebelas yang sudah ku booking sambil menjinjing tas ransel yang berisi pakaianku.


Memang apes banget aku tanggal sebelas ini, ucapku dalam hati sambil membuka pintu kamarku dengan kunci yang diberikan oleh receptionist.


Setelah mengunci pintu, aku merebahkan tubuhku di atas ranjang yang lumayan besar dan empuk menurutku.


Tanpa sadar, aku tertidur lelap sambil memeluk bantal guling yang ada di sampingku.


Tok..tok...


Aku terbangun dengan suara ketukan pintu.


" Siapa ya?, ada apa mengganggu tidurku?", tanyaku di depan pintu.


"Layanan kamar pak", ucapnya.


" Aku tidak memesan layanan kamar, pergilah ", ucapku dengan tegas.


" Iya pak, saya tahu bapak tidak memesan layanan kamar, tapi saya datang sendiri untuk melayani kebutuhan bapak", ucapnya.


Aku jadi penasaran mendengar ucapannya, layanan apa ya maksudnya, ucapku dalam hati sambil membuat pintu.


Aku terpaku melihat wanita sexy yang memakai pakaian yang tipis dan kurang bahan, karena belum selesai dijahit.


" Kamu siapa?", tanyaku.


" Namaku Rani pak, aku masuk aja ya, biar enak ngobrolnya!", ucapnya sambil masuk ke dalam kamarku tanpa kusuruh masuk.


Aku mengikutibya dari belakang tanpa menutup pintu kamarku.


Aku duduk di sofa yang tersedia di kamar.


" Kok pintunya ga ditutup pak?", tanyanya.


" Kita kan cuma ngobrol, Kenapa harus ditutup", ucapku pura-pura tidak tahu apa tujuannya.


" Ga enak manggil bapak, manggil Abang aja ya", ucapnya.


" Terserah kamu aja ", ucap santai.


" Kamu udah lama kerja disini?", tanyaku.

__ADS_1


" Iya bang, lumayan lama, ada lima tahunan lah", ucapnya sambil duduk didekatku.


Akupun pindah tempat duduk untuk menjaga jarakku dengannya.


" Kok jauh-jauh bang, emang Abang ga pernah jajan diluar gitu?", tanyanya.


" Selama ini ga pernah ", ucapku singkat.


" Abang udah nikah?", tanyanya.


" Sudah, aku punya dua istri ", ucapku sambil tersenyum padanya.


Diapun terdiam mendengar perkataanku.


" Kenapa Abang tidak membawa salah satu istri Abang untuk menemani Abang agar tidak kesepian?", tanyanya sambil beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju tempat dudukku.


" Itu bukan urusanmu ", ucapku dengan tegas.


" Abang lagi marahan ya sama kedua istri Abang, aku mau kok jadi istri ketiga Abang ", mulai meraba-raba tanganku.


Aku hanya diam dan membiarkan aksinya. Aku melihat seberapa pandai dia merayuku.


" Tapi, kamu sudah banyak melayani lelaki, dan aku tidak mau memiliki istri binal ", ucapku sambil tersenyum.


" Aku akan berusaha untuk menjadi wanita yang baik untuk Abang, Abang mau kan?", bisiknya mulai menciumi wajahku.


Aku diam saja dan tidak merespon aksinya. Reaksiku semakin membuat dia penasaran dan mulai meraba-raba tubuhku dan senjata andalanku.


Karena takut terangsang, dan takut melakukan zina, aku langsung berdiri dan berjalan menuju pintu kamar.


" Silahkan keluar, waktu ngobrolnya sudah selesai", ucapku dengan tegas.


" Kok gitu sih bang, nanggung nih", ucapnya sambil berjalan mendekatiku.


" Dasar baancii..ceemeeb loe...!", ucapnya memaki dengan suara keras.


Aku tidak peduli dengan makiannya, aku langsung menutup pintu kamarju.


Aku bergegas menuju tempat tidurku untuk merebahkan tubuhku.


Aku jadi susah tidur sekarang karena juniorku mulai menegang, mungkin karena perbuatan wanita binal itu, ucapku dalam hati.


Aku mengambil ponselku dan ingin menonton video percintaan yang ada di ponselku.


Aku membayangkan wajah Ani sambil nonton film percintaan yang ada di ponselku.


Karena merasa sesak dan bergairah, aku bergegas ke kamar mandi untuk menuntaskan hasratku dengan menggunakan sabun mandi yang tersedia.


Setelah puas menikmati aktivitasku yang mendebarkan sambil membayangkan wajah Ani yang cantik jelita, yang telah kusia- siakan. Aku mandi dengan air hangat untuk menenangkan diriku.


Selesai mandi, aku memakai pakaianku yang kuambil dari tas yang kubawa.


Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang sambil memeluk bantal gulingku.


Aku tertidur lelap sambil memimpikan Ani yang kucintai terlambat.


Kembali ke topik utama ya guys...


Tiga hari berlalu, aku masih sibuk dengan aktivitas seperti biasa, yaitu mengurus anak - anakku dan berjualan.


Aku melakukan aktivitasku sebagai single mother dengan sepenuh hatiku. Karena merasa beruntung memiliki anak - anak seperti Syakira dan Habib. Mereka adalah malaikat kecilku yang sangat berharga bagiku.

__ADS_1


Kemaren, aku telah mendepositokan uangku di Bank yang kupercaya sebagai Bank yang Amanah dan berkualitas sebanyak delapan puluh juta rupiah untuk biaya pendidikan anak - anakku di masa depan.


Aku ingin menyekolahkan anak -anakku ke pesantren untuk belajar agama dan Tahfidzul Qur'an. Aku ingin anak-anakku menjadi anak - anak yang Sholeh dan Sholehah, tentunya dengan idzin Allah SWT yang Maha Kuasa atas segalanya.


Sedangkan untuk biaya sehari-hari kami, bisa kudapatkan dari hasil berjualan dan sisa saldo tabunganku di rekeningku masih ada lima belas juta lagi.


Aku melewati hari-hariku dengan bahagia.


Triing.. triing


triing..Lala...lala..


Suara ponselku yang berdering keras dari arah rumah tamu kami, karena aku meletakkan ponselku disana.


" Assalamualaikum", ucapku.


" Wa alaikum salam dek", ucap kak Khadijah.


" Gimana kabarnya kak?", tanyaku.


"Alhamdulillah sehat dek, adek lagi ngapain sekarang?", tanyanya.


" Ini lagi jaga jualan kak", ucapku.


" Syakira dan Habib dimana?", tanyanya.


" Syakira lagi sekolah kak, sedangkan Habib lagi main di kamar, bentar lagi aku mau jemput Syakira ke sekolahnya, karena sudah mendekati jam pulang sekolah kak", ucapku menjelaskan.


" Ooh.. sebenarnya kakak mau ngobrol sama kamu dek, tapi takut mepet juga waktunya, ntar kamu telat jemput Syakira, nanti aja kita ngobrolnya ya dek ", ucapnya.


" Iya kak, gimana baiknya saja ", ucapku.


" Nanti kakak telpon lagi ya dek, assalamualaikum", ucapnya sambil mengakhiri sambungan telepon seluler kami.


" Wa alaikum salam", ucapku sambil tersenyum, karena kak Khadijah sudah mematikan sambungan telepon seluler kami terlebih dahulu.


Aku bergegas menuju ruang tamu untuk menemui Habib untuk membawanya bersamaku untuk menjemput putriku Syakira ke sekolahnya yang tidak seberapa jauh dari rumah kami dengan menaiki motor matic milikku.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan sekolah, aku melihat putriku sudah menungguku di dekat pintu gerbang sekolah.


" Syakira", panggilku sambil memarkirkan motor maticku di depan gerbang sekolah.


"Iya Ma", ucapnya sambil berlari menemuiku dan menaiki sepeda motor kami.


Setelah putriku duduk dengan tenang dan memelukku, aku melajukan motor maticjy dengan kecepatan sedang, agar cepat tiba di rumah, karena tempat jualanku tidak ku kunci, hanya pintu rumahku saja yang kukunci tadi.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah, dan aku memarkirkan motor maticku di samping tempat jualanku. Aku segera membuka pintu rumah kami, dan anak-anakku langsung masuk ke dalam rumah.


Syakira langsung ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya, sedangkan Habib melanjutkan permainannya di ruang tamu.


Aku bergegas menuju tempat jualanku yang ada di depan rumahku.


Lokasi kami memang terkenal aman, karena banyak para abdi negara yang bertempat tinggal di daerah ini, bahkan mereka juga adalah langganan jualanku sehari-hari.


Saat sibuk melayani pembeli, ponselku berdering kembali.


Aku segera menyelesaikan pekerjaanku, dan mengambil ponselku yang ada di dalam dompetku.


" Assalamualaikum", ucapku tanpa melihat nama yang tertera di layar ponselku.


" Ani...", ucapnya dengan lembut.

__ADS_1


Aku terdiam mendengar suaranya, apakah dia....


Bersambung...


__ADS_2