Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Akhirnya...


__ADS_3

Beberapa jam kemudian kami tiba di depan rumah kontrakan kami.


Setelah membuka pintu rumah, bang Izal membawa tas ransel bawaan kami ke dalam kamar.


Kami istirahat sejenak sambil rebahan di atas tempat tidur.


" Adek pasti kecapean ya naik sepeda motor dari kota Binjai sampai ke rumah kita ini", ujarnya sambil mengelus perutku yang mulai membuncit.


" Iya sayang, tapi seru juga naik motor sama Abang, bisa melihat pemandangan, makan makanan di pinggir jalan, walau harganya murah, tapi enak dan gurih", ucapku dengan penuh semangat.


" Adek doain ya biar Abang segera naik jabatan biar dapat mobil inventaris, Adek dan anak-anak kita ga kepanasan dan kehujanan, dan lebih nyaman kalau mau pergi perjalanan jauh", ujar suamiku sambil tersenyum.


" Ga usah Abang suruh, tiap sholat, Adek selalu mendoakan hal- hal yang baik untuk Abang,Adek, dan seluruh keluarga kita", ucapku sambil memeluknya.

__ADS_1


" Uang belanja bulanan ayah dan Adek di kampung udah transfer kemaren sebelum berangkat ke Binjai melalui kantor pos ya dek ", ujar bang Izal menjelaskan.


" Aku sampai lupa hal itu, untunglah Abang udah mengirimkan uang belanja ayah dan Adek di kampung, karena itu memang sudah tanggungjawab Abang sebagai anak yang berbakti, iya kan sayang?", ujarku sambil memeluk tubuhnya dengan erat.


Akhirnya kami ketiduran sampai mendekati waktu Maghrib. Aku terbangun dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku, karena tubuhku terasa lengket disebabkan oleh keringat. Selesai mandi, aku memakai piyama ku, dan menunggu adzan magrib selesai berkumandang. Karena ketiduran, aku melewatkan sholat ashar hari ini, ampuni dosaku ya Allah, ucapku dalam hati.


Saat menunggu adzan magrib, suamiku memanggilku dari arah dapur,


" Sayang udah lama bangunnya?", tanya suamiku sambil mengulurkan tangannya padaku, dan aku menyambut uluran tangannya dan duduk di pangkuannya di atas kursi tamu.


" Abang ga tega bangunin Adek yang tidur nyenyak seperti itu, karena menurut abang, pasti adek sangat kelelahan setelah acara pernikahan kak Khadijah dan perjalanan pulang ke rumah kita, makanya Abang biarkan saja y tidur sampai sebelum Maghrib, tau-taunya Adek udah bangun sendiri sebelum Abang ba bangunin, dan udah Wangi ku juga, enak untuk diciumun terus ", ucapnya sambil memeluk tubuhku dan mulai menciumiku.


" Aduuh..gelilah bang, Abang ciumin leher Adek, nanti makin nambah merah-merahnya bang", ucapku sambil beranjak dari pangkuannya.

__ADS_1


" Ayo sayang, kita sholat Maghrib berjamaah dulu, baru kita makan malam diluar ya sayang, Adek pengen makan ayam peecak sambal mata, tentunya kita request nya tanpa bawang putih, biar Abang bisa lebih menikmati makanannya, one sayang?", tanyaku sambil tersenyum padanya,


" Okelah kalau begitu ", ucap suamiku sambil tersenyum.


Kami bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu, dan sholat Maghrib berjamaah.


Selesai sholat, kami bersiap -siap untuk keluar dari rumah menuju warung ayam peecak. Setibanya kami di warung ayam peecak, kami berpamitan dengan mantan kekasih suamiku, Mira, tatapan matanya yang tajam, seperti ingin memakanku hidup -hidup, padahal aku tidak berbuat salah padanya, dan dia tersenyum sinis melihatku bergandengan tangan dengan suamiku.


" Ga usah diliatin orang kayak gitu sayang, anggap aja ga ada didunia ini", bisik suamiku sambil tersenyum padaku. Aku hanya diam saja dan tidak menjawab apa yang dikatakan oleh suamiku, karena aku juga tidak perduli apa yang akan dilakukan oleh Mira, dan aku sama sekali tidak takut padanya, karena aku yakin, bang Izal pasti lebih memilih aku daripada dia.


Kamipun duduk di bangku yang kosong yang sudah disediakan oleh pemilik warung. Kami segera memesan makanan yang sesuai dengan selera kami kepada koki warung tersebut. Warung ayam peecak ini cukup terkenal dengan masakannya yang enak dan gurih, harganya juga terjangkau, sehingga semua kalangan bisa menikmati makanan ayam peecak ini.


Setelah pesanan kami dihidangkan di atas meja, kami segera menikmatinya dengan lahap, karena kami memang sudah lapar. Selesai membaca tagihan makanan yang sudah kami makan, kami bergegas untuk pulang ke rumah kami, karena sudah hampir larut malam, karena sebelum makan, kami terlebih dahulu jalan- jalan keliling kota untuk menikmati malam yang indah, Walau dingin, tapi aku merasa hangat, karena memeluknya tubuh suamiku dengan erat.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah kami, dan aku segera turun untuk membukakan pintu, kemudian kami masuk bersama dengan si roda dua, kuda besi kami.


Bersambung...


__ADS_2