
Bus yang kami tumpangi pun melaju dengan kecepatan sedang. Empat jam kemudian kami tiba di kota Rantau Prapat, bus kami istirahat sejenak di sebuah restoran di pinggir jalan.
" Makan...miinum", teriak pak sopir bus
Para penumpang bergegas keluar dari bus menuju restoran.
" Dek, bangun sayang, kita istirahat sejenak di restoran dulu, adek mau makan dan minum apa?, tanya suamiku.
" Emang udah nyampe dimana sekarang bang?", tanyaku balik.
" Ini sudah di Rantau Prapat dek", ujar bang Izal.
" Oo..ya udah, kita istirahat di restoran dulu sayang ", ucapku sambil bergegas berdiri dan berjalan menuju pintu keluar bus sambil menggenggam tangan suamiku.
" Kita duduk di kursi ini saja ya sayang", ucapku sambil menarik tangan suamiku untuk duduk di dekat kursi di depan pintu masuk restoran, karena saat ini hanya itu yang kosong.
" Abang yang mesan makanannya, adek mau ke toilet dulu ya sayang, adek mesan mie rebus sama teh manis hangat,ok", ucapku sambil berlalu pergi menuju ke toilet restoran yang ada di belakang restoran ini.
" Hati- hati ya sayang", ujar bang Izal.
Beberapa menit kemudian, aku selesai membuang hajatku di toilet. Aku keluar dari area, dan aku melihat sebuah cermin yang di gantung di dekat area toilet, ketika merapikan jilbabku, aku melihat sebuah dompet berwarna coklat.
Aku memungut dompet tersebut, dan melihat isinya yang lumayan besar, kira-kira ada sepuluh juta, uang seratus ribuan, aku segera memeriksa kartu identitasnya yang bernama Zainal Abidin, alamat. Gunung Tua.
Aku bergegas menuju ke dalam restoran.
Aku menceritakan tentang dompet yang aku temukan. Suamiku berinisial untuk mengembalikannya kepada pemiliknya melalui pak sopir bus, tapi aku tidak setuju, akhirnya aku mendapatkan sebuah ide.
" Perhatian semuanya", ucapku dengan lantang di dalam restoran.
Semua penumpang yang sedang menikmati makanan pun berhenti sejenak untuk mendengar pengumuman yang aku katakan.
," Bagi yang kehilangan dompet, silahkan datang kesini untuk mengambilnya", ucapku lagi.
Akhirnya semua penumpang memeriksa dompet masing-masing, dan da tiga orang yang datang menemui aku dan suamiku.
Penumpang pertama.
" Saya yang kehilangan dompet nak", ucap seorang wanita kira-kira berumur 45 tahun.
" Nama identitas dompet ibu yang hilang siapa", tanyaku, mungkin ini adalah dompet suaminya.
" Namanya Mawar nak, warna dompetnya merah", ucapanya ragu-ragu, dan aku jadi mencurigainya, mungkin dia hanya berbohong padaku, ucapku dalam hati.
" Maaf ya Bu, ibu salah, dompet yang saya temukan tidak seperti yang ibu katakan", ucapku sambil tersenyum.
Penumpang kedua...
" Bu, mungkin itu dompet saya, warna dompetnya apa ya Bu, karena saya lupa", ucapnya ingin menipuku.
__ADS_1
" Masa bapak ga ingat sama warna dompet sendiri, berarti bapak mau menipu saya kan", ucapku marah padanya, akhirnya dia segera pergi, karena suamiku melotot padanya.
Ternyata, suamiku bh Isa diandalkan juga jadi bodyguard, hehehe...
Penumpang ketiga...
" Dek, mungkin itu dompet saya, warnanya coklat, dan isinya sekitar sepuluh jutaan", ucapnya dengan sopan.
" Nama identitas Abang siapa?", tanyaku.
" Zainal Abidin dek, alamat. Gunung Tua", ucapnya dengan yakin.
Akhirnya, aku mengeluarkan dompetnya dari tas sandangku, dan memberikannya pada pria separuh baya itu.
" Terima kasih ya dek, sudah menyelamatkan dompet Abang, dan ternyata masih ada orang yang jujur dan baik seperti adek, apalagi zaman sekarang ini dek", ucapnya sambil menerima dompetnya kembali.
" Bang, per ok ksa dulu isinya, masih utuh atau ga di depan kami, karena aku tidak mau ada salah paham di kemudian hari ", ucapku sambil tersenyum.
" Abang percaya sama adek, pasti tetap utuh isinya ", ucapnya dengan sopan.
" Periksa aja bang, biar hati istri saya tenang, karena isi dompet Abang utuh, tidak kurang apapun ", ucap suamiku menambahi.
Pria itupun menmbuka dompetnya dan memeriksa semua isinya, dan dia berkata" Alhamdulillah, isinya utuh semu. Ini sebagai tandas terima kasihku untuk adek", ucapnya sambil memberikan uang sepuluh lembar seratus ribuan.
" Ga usah bang, terima kasih atas kebaikannya, tapi aku ikhlas membantu Abang, karena kita sesama umat manusia, harus saling tolong-menolong, apalagi di agama Islam, kita tidak boleh mengambil hak orang lain, hukumnya haram bang", ucapku menolaknya secara halus dan tersenyum padanya.
" Tolonglah adek terima saja, anggap saja, sebagai hadiah untuk adek setelah melahirkan nanti, adek belikan pakaian atau keperluan bayinya adek nantinya", ucapnya dengan penuh harap.
Suamiku pun ikut berterima kasih kepada pria itu.
Setelah menyantap makanan dan minuman yang kami pesan, dan membayar tagihan pesanan kami, kamipun istirahat sejenak di teras restoran sambil bergenggaman tangan.
Beberapa menit kemudian, pak sopir berteriak lagi.
" Naik..naik ...!"...
Semua penumpang pun bergegas menuju ke pintu masuk bus, dan duduk di bangku masing-masing.
Pak sopir pun melajukan bus dengan kecepatan sedang.
Empat jam berlalu, kami tiba di loket bus Bayang Pane, di Gunung Tua. Setelah memeriksa semu tas dan barang bawaan kami. Kamipun berangkat dengan becak motor menuju rumah kami.
Kami tiba dirumah sekitar jam lima Shubuh. Suamiku mengetuk pintu rumah.
" Assalamualaikum dek Marni", ucap suamiku setengah berteriak, tapi tidak ada sahutan.
Akhirnya, aku mencoba menggedor jendela kamar adik iparku dari samping, dan adikku segera terbangun dan membuka pintu rumah.
Kamipun masuk ke dalam rumah, dan suamiku mengangkat barang bawaan kami ke dalam kamar kami, yang selalu dibersihkan adik iparku.
__ADS_1
Aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu untuk sholat shubuh, dan selesai sholat aku segera merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, karena tubuhku terasa lelah selama perjalanan. Sedangkan suamiku, sedang di kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan melaksanakan sholat subuh setelahnya.
Selesai sholat, suamiku merebahkan tubuhnya di sampingku dan memeluk tubuhku, sambil mengelus perutku yang membuncit, in karena ulah kami sendiri, mungkin dia sangat merasa bangga, akan keberhasilan usahanya untuk menanam bibitnya di rahimku, dan aku bahagia akan kasih sayangnya.
Semoga, kami bisa terus bersama sampai kakek nenek nantinya, ucapku dalam hati.
Kamipun terlelap sambil tersenyum, saling berpelukan.
Waktu berlalu dengan cepat, sekarang sudah pukul 12 siang, aku terbangun karena perutku merasa lapar, aku bergegas ke kamar mandi untuk mencuci wajahku, dan aku menuju dapur untuk mengambil makanan.
Aku memeriksa lemari yang ada di dapur, dan aku melihat ada makanan, syukurlah ada makanan,ucapku dalam hati, dan aku yakin adik iparku yang memasaknya, dan setelah kucoba, makanannya lumayan enak, dan aku menyantap makanan yang ada di piringku sampai habis, dan perutku by merasa kenyang.
Selesai mencuci piring kotor, aku bergegas mencari suamiku di teras, ternyata bang Izal sedang mengobrol dengan ayah mertuaku, yang mungkin sudah datang sejak tadi pagi, karena setiap tahun baru, anaknya pasti pulang untuk berlibur.
Aku segera menyalami ayah mertuaku dan duduk di sebelah suamiku.
" gimana kabarnya yah", tanyaku.
" Alhamdulillah ayah masih sehat berkata doa kalian", ujarnya sambil tersenyum.
Aku pamit kepada mereka untuk ke dapur membuatkan minuman,
" Untuk abang air putih hangat aja ya dek", ucap suamiku.
" Kalau ayah, kopi hitam saja ya nak", ucap ayah mertuaku.
Aku bergegas ke dapur, dan saat melintasi depan kamar kami, aku mendengar suara HP ku yang berdering, dan aku sempatkan untuk mengambil HP ku, dan mengangkat telepon selulerku.
" Assalamualaikum paman", ucapku,
" Wa alaikum salam nak, kalian udah di ka mm pung suamimu sekarang?", tanya pamanku yang di Sidempuan.
" Iya paman, kami baru tiba di rumah, tadi pagi, kayaknya ada hal penting yang ingin paman bicarakan", ucapku sambil terus membuatkan minuman di dapur.
" Iya Ni, nenekmu sedang sakit, kena stroke ringan, dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit Sipirok, karena pelayanan di rumah sakit itu lebih bagus dibandingkan di puskesmas desa kita, begitu kata pamanmu yang di Sipirok", ucap pamanku.
" Astaghfirullah, kapan kejadiannya paman, kenapa bisa nenek kena stroke?", tanyaku sambil menangis.
" Kamu ga usah khawatir, keadaan nenek udah lumayan baik, hanya saja masalah penyebab stroke nya, tanya saja sama pamanmu yang di Sipirok", ucap pamanku.
" Baiklah paman, aku akan mengajak bang Izal untuk menjenguk nenek di Sipirok", ucapku sambil menutup telepon selulerku.
Aku bergegas menuju teras sambil membawa minuman yang aku buat, dan meletakkan minuman di atas meja.
" Bang, ada yang mau aku bicarakan sama abang", ucapku dengan terburu-buru.
" Ada apa dek ?", ujar suamiku.
Ada kabar buruk tentang nenek, bang...!
__ADS_1
Bersambung....