Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Pesta pernikahan...


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, kami tiba di rumah family kami yang akan mengadakan pesta pernikahan, yang berada di perumahan Payaroba Indah.


" Assalaamu alaikum..!", kami mengucapkan salam bersamaan,


" Wa alaikum salam", jawab paman yang sedang duduk santai sambil minum kopi di teras rumah.


Kamipun menyalami paman bergantian.


" Bibi dan nenek ada di mana paman ?", tanyaku,


" Bibi mu lagi di dapur lagi masak sama tetangga yang lain, kalau nenek mu sedang mengobrol dengan para tetangga yang ada di dapur juga, sambil bantu-bantu masak", jawab paman sambil tersenyum padaku.


Aku bergegas masuk ke dalam rumah dan menemui nenekku, sedangkan suamiku menaruh barang bawaan kami di kamar tamu yang sudah disediakan, dan kembali ke teras rumah untuk menemani pamanku sambil mengobrol.


" Assalaamu alaikum", ucapku menyapa semua orang yang sedang duduk di dapur sambil merajang kacang panjang dan cabe hijau, mungkin untuk membuat sayur tauco.


" Wa alaikum salam", jawab mereka serentak.


Aku menyami mereka semua bergantian.


" Udah lama nyampe nak?", tanya bibiku,


" Baru saja bi", jawabku sambil tersenyum dan menghampiri nenekku, dan langsung memeluk dan mencium pipinya.


" Suamimu mana Ni?", tanya nenekku,

__ADS_1


" Di teras nek, ngobrol sama paman", jawabku sambil ikutan merajang cabe hijau.


" Mana yang mau nikahan bi?", tanyaku penasaran pada bibiku.


" Di kamarnya lagi melakukan perawatan kulit dan wajah dengan seorang temannya, temuin aja di kamarnya", ucap bibiku sambil tersenyum.


" Nanti ajalah bi, nanggung kerjaannya", ucapku sambil terus merajang cabe hijau.


" Gimana kandunganmu, sehat kan Ni?", tanya nenekku sambil tersenyum.


" Alhamdulillah sehat nek", jawabku dengan singkat.


" Ani udah berapa bulan kandungannya?", tanya Bu Tuti, salah satu tetangga bibiku.


" Jadi Ani ngidam apa sekarang?", tanya Bu Tari menyahuti.


" Aku ga ngidam Bu, suamiku yang ngalamin ngidam, ga bisa cium bau bawang putih, kalau sempat terciumnya, bakalan muntah sampai pucat Bu", ucapku sambil tersenyum.


" Kok bisa gitu ya, aku aja dulu waktu ngidam anak pertama, ga mau makan sampai harus di infus segala", ucap Bu Aisah menimpali


" Tu karena Izal sangat mencintai cucuku Ani", ucal nenekku sambil tersenyum.


Semua orang yang di dapur langsung bersorak menggodaku, dan aku hanya tersenyum mendengar ucapan mereka. Sampai sekarang aja, bang Izal tidak pernah mengucapkan kata cinta padaku, ucapku dalam hati.


Setelah selesai membantu bibiku dan para tetangga, aku bergegas menuju kamar calon pengantin, dan mengetuk pintu kamarnya.

__ADS_1


" Assalamualaikum kak Khadijah ", ucapku sambil mengetuk pintu kamar.


Beberapa menit kemudian, dia membuka pintu kamarnya.


" Wa alaikum salam, ada dek Ani rupanya, kapan datang dek, kk kok ga tau adek datang ?", ucapnya ramah.


" Beberapa jam yang lalu kk nyampenya, cuma aku langsung ngobrol sama bibi, nenek dan para tetangga di dapur kak", jawabku sambil tersenyum.


" Kenalin ini temanku Najwa", ucapnya sambil mengenalkan temannya padaku.


" Namaku Ani", ucapku sambil mengulurkan tanganku ke Najwa, dan dia menerima tanganku dan tersenyum padaku.


Menuruku teman kak Khadijah tidak cocok berteman dengan Najwa, karena menurut pandangaku, kak Khadijah seorang muslim yang taat dan 'alim, selalu pakai hijab sampe ke paha kalau di luar rumah.


Sedangkan si Najwa, pakaian nya serba ketat dan menonjol, aku jadi illfeel nengoknya, firasatku jadi tak enak jika dia nanti ketemu suamiku pasti keganjengan, ucapku dalam hati.


" Astaghfirullah, aku kok punya pikiran negatif sama dia, belum tentu dia seperti itu, pikiran positif ajalah, aku percaya sama suamiku.


" Ani, mana suamimu dek, apa dia tidak ikut, kk minta maaf karena tidak bisa hadir di acara pernikahanmu karena waktu itu kk lagi sakit parah dek, adek ga marah kan sama kk?", ucapnya merasa bersalah padaku.


" Ga kak, masa aku marah sama kk, namanya aja penyakit kk, kita tidak tahu kapan akan datang menimpa kita, semua ujian yang diberikan Allah SWT kepada kita, karena dia menyayangi kita dan iman kita semakin kuat. Kalau suamiku ada di teras kak, ngobrol sama paman", ucapku sambil tersenyum.


" Ngomong- ngomong, kakak sakit apa waktu itu?", tanyaku penasaran. Kemudian kak Khadijah mengulurkan kedua tangannya, dan aku melihatnya terkejut, karena....


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2