Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Duka dan Luka...


__ADS_3

" Permisi Bu, Dokter spesialis saraf yang menangani suami ibu ingin bertemu dengan ibu", ucap seorang suster yang berdiri di samping kananku.


" Baiklah, mari kita ke ruangan dokter spesialis saraf tersebut", ucapku sambil berlalu menuju ruangan dokter spesialis saraf yang sudah kuketahui dimana letaknya.


" Assalamualaikum", ucapku sambil mengetuk pintu ruangan dokternya.


" Silahkan masuk", ucapnya.


Akupun membuka pintu ruangannya dan masuk ke dalam ruangannya.


" Tolong ditutup pintunya Suster ", ucap Sang dokter.


" Silahkan duduk Bu ", ucapnya sambil menunjuk kursi yang ada di depannya.


" Terima kasih pak, ada apa gerangan bapak memanggil saya?", tanyaku penasaran.


" Kondisi suami ibu saat ini sangat mengkhawatirkan, karena benturan keras pada kepalanya, membuat dia semakin lemah walau dia sempat siuman dan terlihat baik-baik saja dari luar, tapi ternyata bagian saraf kepalanya tidak berfungsi dengan baik, sehingga membuat pasien kembali koma", ucapnya menjelaskan.


" Jadi, apa solusi yang tepat untuk membantu pemulihan bang Izal pak?", tanyaku.


" Jika maksud ibu solusi dalam hal medis sudah kuamu lakukan dengan baik Bu, dan untuk kesembuhan pasien, semua itu atas idzin Allah SWT, dan seandainya jika suami siuman, dia akan kehilangan penglihatannya ", ucapnya menjelaskan.


" Astaghfirullah, pak tolong selamatkan bang Izal, karena dia harus kembali sehat seperti sedia kala banyak tanggung jawab yang harus dia pikul", ucapku sambil memohon kepada dokter spesialis saraf tersebut.


" Seperti yang kukatakan sebelumnya Bu, dalam hal medis, kami sudah melakukan hal yang terbaik untuk menyelamatkan pasien, dan untuk kesembuhan pasien, semuanya ada di tangan Allah SWT, berdoalah Bu untuk kesembuhan suami ibu", ucapnya sambil tersenyum padaku.


Aku terdiam mendengar perkataannya. Aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan menuju pintu ruangan.


Aku membalikkan tubuhku dan berkata" Terima kasih banyak pak atas kebaikan dan bantuan bapak kepada bang Izal ", ucapku sambil berlalu pergi melalui pintu sebelumnya.


Aku duduk terdiam di kursi teras rumah sakit dan bingung harus berbuat apa. Walau bang Izal sudah menyakiti perasaanku, tapi aku selalu berdoa agar bang Izal baik -baik saja dan selalu bahagia walau diatas penderitaanku.


Tapi, Allah SWT memberikan ujian hidup yang harus kami jalani dengan sabar dan tabah. Mungkin Allah SWT sudah menyiapkan solusi yang terbaik untuk kesembuhan bang Izal.


Ya Allah, engkau yang Maha Kuasa atas segalanya, kupasrahkan segalanya pada Mu, ucapku dalam hati.


Beberapa menit kemudian, aku dipanggil oleh salah satu suster yang merawat bang Izal.


" Bu, ada yang mencari ibu dan sekarang sedang menunggu ibu di depan meja resepsionis", ucapnya.


Aku mengikuti Suster tersebut dari belakang. Aku hanya melihat tubuh bagian belakangnya saja, sehingga membuatku semakin penasaran.


" Siapa ya pak?", tanyaku secara spontan.


" Ini aku dek, bang Zainal Abidin ", ucapnya sambil membalikkan tubuhnya.


" Maaf ya bang, aku pikir tadi siapa, karena Abang berpakaian rapi banget ", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Iya, ga apa-apa kok dek, ooh ya, aku sudah tahu tentang keadaan Izal, suamimu, tadi Susternya sudah cerita padaku, aku turut prihatin dengan kondisi suamimu", ucapnya.

__ADS_1


" Iya bang, terima kasih atas kepedulian Abang terhadap kami", ucapku.


" Aku ingin memberitahukan tentang penabrak lari suamimu, sekarang dia sudah ada di penjara, bahkan orang yang menyuruhnya juga sudah mendekam di balik jeruji besi untuk seumur hidup, karena sudah melakukan pembunuhan berencana ", ucapnya menjelaskan.


" Syukurlah kalau begitu bang, semoga mereka mendapat hidayah dari Allah SWT, agar mereka menjadi manusia yang lebih baik lagi di dalam penjara ", ucapku.


" Apa kamu tidak marah atau dendam kepada mereka?", tanyanya.


" Untuk apa aku marah atau dendam kepada mereka bang, ga ada manfaatnya, semua itu tidak akan bisa mengembalikan keadaan bang Izal seperti sedia kala, lagian mereka sudah mendapatkan hukuman yang setimpal dengan kejahatan yang mereka lakukan ", ucapku.


Dia pun terdiam mendengar perkataanku.


" Adek ga usah khawatir, semua biaya pengobatan suamimu sudah ditanggung oleh asuransi kesehatan dan aku juga akan membantu biaya pengobatan lainnya. Mobil suamimu sekarang ada di rumahku, jika kamu mau, kamu bisa datang ke rumahju untuk mengambilnya", ucapnya.


" Aku tidak menginginkan mobil itu bang, kalau Abang mau, Abang bisa membelinya, karena mobil itu bukanlah mobil perusahaan, itu mobil yang dia beli di pelelangan, begitu katanya kemarin sebelum kecelakaan itu terjadi, aku tidak pernah mempermasalahkannya, karena kami memang sudah bercerai, kami tinggal menunggu keputusan dari pengadilan agama negeri Sipirok", ucapku menjelaskan.


" Kalau soal itu, nanti saya bantu menjualnya ke teman atau saudaraku, mungkin uangnya bisa membantu biaya hidup anak-anak kalian nantinya", ucapnya.


" Iya bang, terima kasih atas bantuan Abang, surat-surat mobil kulihat ada di tas yang kemarin Abang kasih, jadi proses penjualannya bisa dilakukan dengan mudah ", ucapku.


" Baiklah, kalau itu keinginan adek", ucapnya.


Àku tidak akan membiarkan Mira mendapatkan apapun dari bang Izal, agar dia bisa merasakan rasanya sakit yang kurasakan atas perbuatannya merebut suamiku, ucapku dalam hati.


Setelah percakapan itu, bang Zainal kembali ke rumahnya, sedangkan aku kembali ke rumah pamanku untuk melihat anak -anakku.


Saat ini, kami sedang makan malam bersama di meja makan.


" Tadi siang dia sudah siuman paman, tapi saat kami dirumah ini, Sorenya dia kembali kritis, dan sekarang dia sedang dirawat di ruang ICU lagi", ucapku menjelaskan.


" Apa luka tabrakannya sangat parah?", tanya Bibiku.


" Kata dokter spesialis sarafnya, katanya luka dalam pada kepalanya yang membuat kondisi bang Izal menjadi parah seperti itu ", ucapku sambil mengunyah makananku dan menyuapi Habib putraku.


" Semoga Izal lekas sembuh ya nak, agar kamu tidak kepikiran lagi padanya", ucap pamanku.


Aku terdiam mendengar perkataan pamanku.


Selesai makan malam, aku menidurkan anak -anakku ke dalam kamar tidur kami.


Sudah lebih tiga hari, aku tidak berjualan, aku tidak bisa fokus mengurus anak-anakku dan rumahku, karena mengurus bang Izal. Syakira, juga sudah dua hari tidak sekolah, aku sudah memberitahu wali kelasnya tentang kondisi Ayahnya. Syukurlah, wali kelasnya bisa memaklumi kondisi kami.


Setelah menidurkan anak -anakku, aku bergegas menuju ruang tamu untuk menemui pamanku.


" Paman, aku permisi mau ke rumah sakit, nanti jam sepuluh malam, aku kembali lagi kesini, aku ingin melihat kondisi Bang Izal", ucapku.


" Iya nak, hati -hati dijalan ya, jangan ngebut bawa motornya", ucap pamanku.


" Iya paman", ucapku sambil berlalu menuju parkiran motor matic milikku.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan rumah sakit. Setelah memarkirkan motor matic ku, aku bergegas masuk ke dalam rumah sakit, dan berjalan menuju ruang ICU.


Aku melihat bang Izal yang masih terbaring lemah di atas ranjang pasien dengan beberapa bantuan alat-alat medis.


Sebenarnya, aku merasa sedih melihat keadaannya, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi, aku heran, kenapa Mira tidak pernah menghubungi nomor handphone bang Izal, karena ponsel bang Izal ada padaku beberapa hari ini, bahkan SMS pun tidak ada, apakah dia sudah memiliki pria lain yang lebih tajir dibandingkan dengan bang Izal, tanyaku dalam hati.


" Astaghfirullah, untuk apa aku mengurus wanita itu, yang penting aku harus fokus untuk mengurus anak-anakku dan bang Izal, mungkin besok aku akan berjualan kembali dan mengantarkan Syakira ke sekolah setiap hari, agar dia tidak ketinggalan pelajaran, ucapku dalam hati.


Di saa aku berjalan menuju kursi yang ada di depan ruang ICU, ada seseorang yang memanggil namaku.


" Ani, lagi ngapain disini?", tanyanya.


" Ooh, bang Zainal bikin kaget aku aja nih, pikir tadi siapa, ni aku lagi melihat kondisi Bang Izal ", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Ooh, apa sebaiknya kita mengobrol di kantin rumah sakit ini aja", ajaknya.


" Baiklah bang, aku juga pengen minum kopi ", ucapku sambil beranjak dari tempat dudukku dan berjalan mengikutinya menuju kantin.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di kantin rumah sakit, dan kami segera memesan minuman dan cemilan.


" Apa Abang boleh tahu, kenapa adek bisa bercerai dengan suamimu Izal?", tanyanya.


Aku terdiam mendengar perkataannya, karena menurutku ini adalah masalah pribadiku, dan aku tidak mau ada orang lain yang ikut campur dalam masalahku dengan bang Izal.


" Maaf ya dek, jika Abang sudah lancang menanyakan masalah pribadi adek, Abang hanya ingin tahu saja, kalau adek mau cerita, mungkin bisa mengurangi beban di hati adek, dan jika adek ga mau cerita, juga ga apa-apa kok", ucapnya lagi.


" Ga apa-apa kok bang, sebenarnya aku merasa berat untuk menceritakan tentang masalahku, tapi seperti yang Abang katakan, mungkin bisa mengurangi beban di hatiku", ucapku sambil menghela nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan.


" Bang Izal menikah dengan wanita lain di belakangku, dan wanita itu adalah mantan kekasihnya dulu, dan mereka saling mencintai, sedangkan aku hanya benalu diantara cinta yang mereka miliki, mungkin Abang sudah mengerti maksudku apa", ucapku sambil menatap matanya.


Bang Zainal pun terdiam mendengar perkataanku. Mungkin dia ragu dengan ucapanku, tapi aku tidak peduli dengan penilaiannya, dia mau percaya atau tidak, itu adalah haknya.


Selesai menghabiskan minuman kopiku, aku pamit pulang pada bang Zainal.


" Aku pulang duluan ya bang, karena aku harus mengurus anak -anakku dirumah pamanku ", ucapku sambil beranjak menuju meja kasir.


" Abang aja yang bayar dek, jangan permaluin Abang donk, dengan membayar tagihan makanan dan minuman kita ", ucapnya.


" Iya bang, aku tahu Abang yang akan bayar, aku mau dibungkusin gorengan kok bang, untuk kubawa pulang, bisa kan bang?", tanyaku sambil tersenyum padanya.


" Iya boleh dek, silahkan saja, bungkusin sebanyak -banyaknya, kalau boleh, Abang yang ngantar adek ke rumah paman adek, gimana?", tanyanya sambil tersenyum padaku.


" Maaf ya Bang, kayaknya ga bisa, karena aku ga mau ada fitnah yang akan terjadi jika Abang mengantarkan aku pulang, apalagi udah malam gini, lagian aku bawa motor matic kok bang, Abang tidak usah khawatir ", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Baiklah kalau begitu", ucapnya dengan singkat.


" Terima kasih ya bang, atas kebaikan Abang dan traktirannya ", ucapku sambil berlalu menuju parkiran motor matic milikku.


Aku melihat bang Zainal dari kejauhan yang terdiam sambil menikmati kopinya, dan sesaat dia melambaikan tangannya padaku, dan aku membalas lambaian tangannya dan berlalu pergi dengan menaiki motor matic milikku.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2