
Dua hari berlalu,
tepatnya hari Minggu, kami akan kembali ke kota Medan, ke rumah kami.
Sebenarnya, aku sangat merindukan rumah kami, yang sudah hampir sebulan aku tinggalkan.
Ntah bagaimana keadaan rumah kami sekarang, walaupun adik iparku memang rajin membersihkan rumah kami, tapi aku belum yakin seratus persen padanya untuk merawat rumah kami.
Paman dan bibiku akan kembali nanti malam ke kota salak, Padangsidimpuan dengan menaiki bus Bayang Pane dari kota Binjai menuju Padangsidimpuan.
Setelah berpamitan dengan paman dan bibi, serta kak Khadijah dan suaminya Raka,kami berangkat menuju kota Medan dengan menggunakan sepeda motor.
Koper pakaian kami, dikirimkan melalui minibus menuju kota Medan, sedangkan aku dan suamiku serta putriku Syakira akan menaiki sepeda motor sambil bernostalgia.
Kami beberapa berhenti untuk beristirahat dan menikmatinya pemandangan.
Dua jam kemudian, kami tiba di rumah kami. Aku melihat adik iparku sedang duduk di kursi teras rumah.
Kulihat dari kejauhan, dia tersenyum melihat kami kembali. Kami bergegas masuk ke dalam rumah, sedangkan suamiku pergi ke loket minibus untuk mengambil koper kami.
Aku bergegas menuju kamar tidur kami dan merebahkan tubuh putriku Syakira yang sudah tertidur lelap ke dalam box bayi yang ada di dekat tempat tidur kami.
Aku merebahkan tubuhku yang terasa pegal -pegal ke atas tempat tidur.
Memang lebih nyaman di rumah sendiri, ucapku dalam hati.
Setelah beristirahat sejenak, aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku agar lebih segar dan lelahku menghilang.
Benar saja, setelah mandi dan keramas, aku merasa lelahku menghilang dalam sekejap dan tubuhku terasa segar.
Aku melihat pantulan wajahku di cermin, aku melihat ada kerutan dan flek hitam di wajahku, karena aku tidak pernah merawat kulit wajahku.
Pantas saja, suamiku bosan padaku, karena aku terlihat sangat tua, ucapku dalam hati.
Aku berniat untuk merawat kulit wajahku, agar lebih terawat dan kembali seperti dulu.
Umurku masih dua puluh lima tahun, sudah seperti umur empat puluh tahun, ucapku dalam hati.
Aku mengambil ponselku untuk memesan satu paket skincare yang sudah teruji khasiatnya dengan menggunakan uang tabunganku.
Setelah menerima balasan dari reseller skincare yang kupesan, katanya akan diantar besok pagi, barulah aku ingat kalau aku harus memasak makanan untuk makan malam.
__ADS_1
Di saat aku keluar dari kamar tidur kami, suamiku memanggilku sambil membawa koper.
" Mau kemana dek?", tanyanya padaku.
" Mau ke dapur untuk memasak makanan untuk makan malam bang", jawabku sambil tersenyum padanya.
" Ga usah masak dek, malam ini kita akan makan malam diluar ", ucap suamiku sambil tersenyum padaku.
" Baiklah kalau begitu bang ", ucapku dengan bahagia.
Terima kasih ya Allah, dengan izinmu, suamiku kembali seperti dulu lagi, ucapku dalam hati.
" Aku ngerapiin pakaianku dan Syakira dulu ya bang", ucapku sambil berlalu menuju kamar tidur kami.
Suamiku tersenyum dan berjalan menuju kamar tidur kami untuk menyusulku.
Di saat pintu kamar kami sudah dia tutup dan dia kunci, dia memelukku dengan erat dari belakang, dan mulai menciumiku dengan penuh gairah.
" Aku merindukanmu sayang", bisiknya sambil mencumbuiku.
Aku hanya pasrah dan membalas semua cumbuannya, karena aku juga sangat merindukannya, dan sentuhannya.
Kami menghabiskan sore hari ini dengan percintaan yang begitu menggebu dan penuh gairah untuk saling memuaskan satu sama lain. Tubuh kami bermandikan keringat dan kamipun melanjutkan permainan kami di dalam kamar mandi.
Kami merebahkan tubuh kami di atas tempat tidur untuk melepaskan lelah kami.
Malam pun tiba. Kami bersiap -siap untuk makan malam di luar rumah. Rencananya, kami akan makan malam di sebuah warung ayam peecak kesukaan kami dulu.
Setelah membayar tagihan makanan yang kami makan dan satu porsi yang dibungkus untuk adik iparku, kami bergegas kembali ke rumah kami, karena takut putriku Syakira terlalu lama kena angin malam, dan tidak bagus untuknya.
Selama perjalanan menuju rumah kami, putriku Syakira sudah tertidur lelap di dalam gendonganku.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah kontrakan kami. Kami bergegas masuk ke dalam rumah yang sudah dibuka oleh adik iparku, dan aku memberikan bungkusan plastik yang berisi nasi ayam peecak untuknya.
Setelah itu, aku bergegas menuju kamar tidur kami untuk merebahkan tubuh putriku ke dalam box bayi.
Aku mencium wajahnya dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang tipis, agar tidak kedinginan.
Aku membuka pintu lemari pakaian kami untuk mengganti pakaianku.
Sekilas aku melihat gaun malam ku yang dulu, yang kupakai saat malam pertama kami di kota Brastagi.
__ADS_1
Aku melepaskan pakaianku dan memakainya. Gaun malam ku terlihat longgar di tubuh kurusku ini, aku melepaskan gaun malam ku itu, dan memakai piyama ku yang berwarna kuning langsat.
Setelah mengganti pakaianku, aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.
" Sudah mau tidur dek?", tanya suamiku yang sedang berdiri di dekat pintu kamar kami.
Aku terkejut mendengar ucapannya dan langsung duduk di tepi tempat tidur kami.
" Apa Abang sudah lama berdiri disitu?", tanyaku penasaran.
" Iya sayang, dan aku melihat semuanya", ucapnya sambil berjalan perlahan menuju tempat tidur kami dan duduk di sampingku.
" Abang minta maaf ya dek, jika selama ini sudah membuat adek menderita karena keegoisan Abang", ucapnya sambil menggenggam tanganku.
" Lupakan saja semua yang telah berlalu, kita hanya manusia biasa yang tidak luput dari khilaf, yang penting kita mau menyadari kesalahan yang kita perbuat dan mau memperbaiki diri ", ucapku sambil memeluk tubuhnya.
" Iya sayang, jika seandainya Abang melakukan kesalahan, adek harus mengingatkan Abang ya", ucapnya lagi.
" Iya sayang, tapi Abang harus berjanji akan mendengarkan pendapatku, dan jangan mengulangi kesalahan yang sebelumnya ", ucapku sambil tersenyum.
" Iya dek, insha Allah, Abang akan mendengarkan adek dan mau memperbaiki diri ", ucapnya sambil mengelus rambutku yang tergerai.
Kamipun kembali memadu kasih dan melaksanakan percintaan kami kembali. Kami saling memuaskan satu sama lain sehingga tubuh kami bermandikan keringat. Kami menghabiskan malam kami dengan percintaan yang begitu menggairahkan sampai kami tertidur lelap sambil berpelukan sampai pagi tiba.
Pagi yang indah, akhirnya rasa itu bersemi kembali, walau aku tidak tahu pasti, apakah ini rasa cinta atau hanya rasa saling membutuhkan, hanya waktu yang bisa menjawabnya.
Jujur saja, hati ini masih memerlukan waktu untuk menata hati, takut terluka lagi, dan luka itu akan semakin dalam, sehingga membuat aku lebih berhati-hati dan lebih mandiri untuk menjalani rumah tangga kami ini.
Tidak selamanya malam itu gelap gulita,
tak selamanya hitam menandakan keburukan,
yang penting kita mau memperbaiki diri,
karena setiap ujian hidup pasti akan bisa kita lalui, jika kita mau bersabar dan berusaha.
Badai pasti berlalu,
aku selalu berdoa, agar Allah SWT selalu meridhoi pernikahan kami.
Aamiin...
__ADS_1
Bersambung....