Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Akhirnya...


__ADS_3

Waktu berlalu, siang berganti malam. Saat ini, aku sedang menidurkan putriku Syakira di kamarnya. Sebenarnya, ini hanya alasanku saja untuk menghindari ajakan suamiku, karena aku tidak mau berhubungan intim lagi dengannya.


Aku mendengar suara tangis putraku yang lumayan keras, aku terpaksa harus ke kamar kami.


Aku berjalan perlahan menuju kamar tidur kami, dan aku mengintip dari depan pintu untuk melihat suamiku sedang ngapain. Syukurlah kalau dia sudah tertidur lelap, sehingga aku bisa leluasa untuk menyusui putraku agar tertidur lelap kembali.


Di saat aku sibuk menyusui putraku, suamiku duduk di sampingku.


" Kenapa kamu selalu menghindar dariku?, kamu tahu, jika istri menolak ajakan suaminya untuk berhubungan intim, para malaikat akan menyumpahi si istri tersebut!", ucapnya sambil menatapku dengan tatapan yang tajam.


" Lalu bagaimana dengan hukuman untuk suami yang dengan kejam menghianati istrinya tanpa belas kasihan?", tanyaku sambil membalas tatapannya dengan tajam.


" Siapa yang kamu maksud yang berkhianat?, apa bukti perkataanmu itu?", ucapnya dengan nada tinggi.


" Aku memang tidak punya buktinya, tapi aku yakin suatu saat, Allah SWT akan menunjukkannya padaku, dan saat aku mendapatkan buktinya, aku pastikan kamu akan menyesal untuk selamanya ", ucapku sambil berlalu pergi menuju kamar putriku sambil menggendong putraku.


" Kamu mau kemana?", ucapnya sambil menarik tanganku.


" Aku tidak mau tidur satu kamar lagi denganmu, aku mau tidur di kamar Syakira", ucapku sambil berusaha melepaskan tanganku dari genggaman tangannya.


"Tidak bisa, kamu tetap tidur di kamar kita, jangan pernah meninggalkan aku sendirian di kamar ini", ucapnya sambil mendorong tubuhku masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamar kami.


" Letakkan Habib ke box bayi itu lagi, nanti dia terbangun lagi karena ulahmu yang keras kepala itu", ucapnya memerintahkan aku dengan sorot mata yang tajam.


Mau tak mau, aku meletakkan tubuh putraku kembali ke dalam box bayi.


Aku berdiri mematung di depan box bayi sambil menatap wajah putraku yang sedang tidur pulas.


Seketika aku teringat akan rencana rahasiaku, masih ada dua tahun lagi agar putraku genap berumur tiga tahun, masih ada urusan penting yang belum aku selesaikan.


Astaghfirullah, hampir saja aku menggagalkan semua rencanaku yang sudah separuh jalan, ucap dalam hati.


" Coba kamu katakan padaku, apa yang kamu inginkan sekarang?", tanya suamiku sambil menarik tanganku agar duduk di dekatnya di tepi tempat tidur.


Aku hanya diam saja, karena takut salah bicara, aku takut tersulut emosi lagi, dan bisa menyebabkan kerugian bagiku.


" Kamu hanya salah paham padaku dek, aku tidak seperti yang kamu pikirkan dan tuduhkan", ucapnya mulai melembut sambil mengelus tanganku.


Aku memang salah menilaimu, ucapku dalam hati.


Dia mulai membelai wajahku dan mencium keningku dan pipiku sambil berbisik padaku, " aku merindukan kehangatan tubuhmu sayang", ucapnya sambil ******* bibirku.


Aku tidak membalas semua cumbuannya, karena sejujurnya aku sudah merasa jijik dengannya, tapi apa boleh buat, aku hanya bisa pasrah dengan keadaan ini.


Mungkin dia sedang bertengkar dengan simpanannya, sehingga simpanannya tidak mau melayani nafsu birahinya, akhirnya aku yang menjadi pelampiasan nafsu birahinya.

__ADS_1


Aku tidak merasakan apa-apa saat kami bercinta, walau dia mencapai kepuasan maksimalnya, aku hanya pasrah dengan apa yang dia lakukan padaku.


Setelah dia tertidur, aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang terasa pegal -pegal.


Selesai membersihkan tubuhku, aku memakai piyama ku yang dibukanya tadi saat dia mencumbuiku.


Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur kami, dan membelakanginya sambil memeluk bantal gulingku, dan akhirnya aku tertidur lelap dengan air mata yang bercucuran dari mataku.


Waktu berlalu, pagi pun menjelang. Seperti biasanya, aku melakukan aktivitasku sebagai ibu rumah tangga yang baik. Aku melakukan semua tugasku dengan ikhlas, karena aku hanya mengharapkan ridho Allah SWT semata.


Semua yang kualami adalah taqdir dari Allah SWT, yang aku tahu pasti ada hikmahnya, yang penting aku harus sabar dan tabah dalam menjalani ujian hidup ini, ucapku dalam hati sambil tersenyum melihat tingkah putraku yang sedang berusaha berjalan sendiri tanpa bantuanku.


" Hati-hati sayang", ucapku sambil menggenggam tangannya.


Putraku berusaha melepaskan tanganku, agar dia berjalan sendiri, dan aku menuruti keinginannya untuk berjalan sendiri.


Syakira dan ayahnya sudah berangsur tadi setelah sarapan pagi. Adik iparku sedang menonton televisi sambil memakan keripik singkong.


Aku melihat putraku mulai menguap yang menandakan kalau dia sudah mengantuk. Akupun menggendongnya dan memasukkannya ke dalam buaian agar dia bisa tidur nyenyak siang ini.


Begitulah hari-hari kulewati selama ini. Tidak ada yang spesial untukku, walau hari ulang tahunku atau anniversary kami, akan tetap sama seperti hari biasanya.


Hari berganti hari, minggu berganti bulan. Tepat bulan ini adalah bulan Oktober, tiga hari lagi putraku genap berumur dua tahun.


" Bang, aku mau minta tambahan uang belanja untuk membagikan makanan untuk anak yatim-piatu dan fakir miskin yang ada di komplek ini", ucapku saat kami sarapan pagi.


" Emang mau berapa bungkus yang mau dibagikan?", tanya suamiku.


" Kira-kira ada seratus bungkusan bang, nanti aku dibantu kak Dewi, tetangga kita untuk membagikannya ke tetangga yang lain", ucapku sambil menyuapi putraku.


" Ooh, nanti Abang kasih uangnya dua juta, cukup kan?", tanyanya.


" Kuranglah bang, tambah satu juta lagi, ga mungkin lah ga ada snacknya, cuma nasi sama ikan doank bang", ucapku membujuknya.


" Ooh, iya juga sih, ya udah nanti Abang kasih tiga juta ya dek", ucapnya sambil tersenyum padaku.


Tumben bang Izal baik hari ini, pasti ada maunya nih, biasanya kalau aku minta uang tambahan pasti banyak pertanyaan, sekarang ga ada pertanyaan,ucapku dalam hati.


Selesai sarapan, suamiku memberikan uang tiga juta rupiah yang kuminta. Aku sangat senang menerima uang itu, karena aku bisa melaksanakan niatku untuk bersedekah makanan untuk yatim-piatu dan fakir miskin.


Setelah itu, suamiku berangkat kerja dengan menaiki mobil inventaris kantornya. Arah sekolah putriku berlawanan dengan arah kantor suamiku, sehingga putriku dijemput dengan mobil jemputan sekolahnya.


" Ma, Emangnya adek ulang tahun?", tanya Syakira sambil sibuk memakai sepatu sekolahnya.


" Iya nak, tiga hari lagi ulang tahun adekmu, dan Syakira seminggu sesudahnya, jadi maksud mama, sekalian aja sedekahnya untuk ulang tahun Putri cantik mama dan anak ganteng mama", ucapku sambil tersenyum padanya.

__ADS_1


" Hooree...Kira ulang tahun juga", Ucapnya dengan gembira.


" Ya udah, itu mobil jemputannya udah datang, Kakak hati-hati ya sayang di sekolah, jangan bertengkar", ucapku sambil mencium pipinya.


" Iya ma, Kira berangkat dulu ya ma", ucapnya sambil mencium tanganku.


Aku mengantarnya sampai ke mobil jemputannya, sambil menggendong putraku. Aku melambaikan tanganku melepas kepergiannya.


Setelah mengantar putriku, aku kembali ke dalam rumah kami sambil menggendong putraku. Setibanya di dalam rumah, aku mulai melakukan aktivitasku seperti biasanya.


Tidak terasa waktu berlalu. Hari ini, tepatnya pukul dua siang, aku sudah selesai memasak makanan yang akan kami bagikan. Nasi putih dengan lauk ayam rendang seadanya.


Sebenarnya uang yang diberikanna masih kurang lima ratus ribu rupiah lagi, untuk membeli kue tart ulang tahun putriku Syakira dan Habib putraku, tapi aku takut memintanya, jadi aku memakai uang ju sendiri sebagai tambahannya.


Aku dan tiga orang lainnya, tetangga dekatku, kami menyelesaikan pekerjaan kami dengan cepat, agar tidak kemalaman.


Aku menyisihkan dua puluh bungkus untuk teman sedia kantor suamiku, dan aku akan mengantarkannya setelah sholat ashar.


" Kak, kalian mau kan bantuin aku untuk membagikannya kepada anak yatim piatu dan fakir miskin yang ada di komplek perumahan ini ataupu yang ada di luar komplek ini sama tetangga kita yang lain", tanyaku kepada mereka.


" Iya adek tenang saja, kami akan bantu adek sampai selesai", jawab mereka dengan semangat.


" Terima kasih ya kak, atas bantuan yang kalian berikan", ucapku sambil tersenyum.


Setelah selesai membersihkan dapur dan mencuci peralatan masak dan makan yang sudah kotor, kami bersiap -siap untuk berangkat membagikan makanan yang sudah kami bungkus sebanyak seratus bungkus.


Lelah dan capek, itu yang kami rasakan, tapi semua terbayar dengan ucapan rasa syukur dan terima kasih yang diucapkan oleh para penerima makanan yang kami sedekahkan.


Saat ini, adzan ashar sedang berkumandang. Aku melihat putraku Masi tertidur lelap setelah makan siang tadi, sedangkan putriku sedang tidur pulas di kamarnya.


Aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu untuk sholat ashar. Setelah itu, aku bersiap -siap untuk mengantarkan makanan yang sudah kuasingkan untuk teman sekantor suamiku sebanyak dua puluh bungkus.


Aku menggendong putraku yang sedang tidur dengan menggunakan kain gendongan. Aku pamit terlebih dahulu kepada adik iparku, agar dia menjaga Syakira dan mengunci pintu rumah kami.


Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan kantor suamiku. Aku membayar ongkos becak motor kepada supirnya sambil mengucapkan terima kasih padanya.


Aku berjalan perlahan sambil menenteng dua bungkusan besar yang isinya masing-masing sepuluh bungkus.


Aku meletakkan kedua bungkusan besarnya di teras kantor suamiku, dan aku segera masuk kedalam kantor, karena tidak ada satpam yang berjaga, mungkin dia sudah pulang terlebih dahulu.


Aku melihat tulisan di atas sebuah pintu, " Ruang koordinator", aku bergegas menuju ke ruangan itu, dan aku mengetuk pintu tersebut.


Saat pintu dibuka, aku melihat adegan yang membuat aku ....


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2