Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Ujian yang butuh kesetiaan...


__ADS_3

Malam ini, hujan turun dengan derasnya, sehingga kami merasa kedinginan. Setelah sholat isya, kamipun bergegas ke kamar untuk tidur. Sebelum tidur, bang Izal mencium keningku seperti biasanya. Kami tertidur lelap sambil berpelukan sampai pagi.


Pagi yang cerah...


Hari ini aku akan menghadapi sidang skripsiku, semoga aku bisa lulus sidang skripsiku ini dengan nilai yang baik, doaku dalam hati. Ketika sedang bersiap-siap, bang Izal memelukku dari belakang dan berbisik, " yang semangat ya sayang sidang skripsinya, semoga adek lulus dengan nilai yang baik", aku membalikkan tubuhku dan langsung memeluknya, terimakasih ya sayang atas doanya, ucapku dengan tersenyum.


Setelah sarapan pagi, kami bergegas untuk pergi, bang Izal akan mengantarkanku terlebih dahulu ke kampus, barulah bang Izal berangkat ke kantornya.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan kampus, dan aku segera turun dari sepeda motor. Aku menyalami dan mencium tangannya, kemudian masuk ke dalam kampus.


Di dalam kampus, banyak mahasiswa yang kulihat berpakaian yang warnanya sama dengan yang ku pakai, yaitu: kemeja putih, rok /celana hitam. Berarti banyak juga mahasiswa/i yang ikut sidang skripsi hari ini, ucapku dalam hati.


Tepat pukul 9 pagi, sidang skripsi pun di mulai, kebetulan namaku yang pertama di panggil oleh dosen pembimbing,


" Siti Khairani...!!", panggil sang dosen pembimbing,


"Aku bergegas ke depan meja berwarna hijau di depan dosen pembimbing dan penguji, mereka mempersilahkan aku untuk duduk di kursi yang sudah tersedia.


Tiga puluh menit berlalu, akhirnya selesai sudah sidang skripsiku, dan Alhamdulillah aku bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh dosen pembimbing dan penguji. Setelah aku beranjak dari kursi, temanku yang lain segera dipanggil namanya, begitu seterusnya sampai selesai.


Aku bergegas keluar dari ruang sidang. Aku segera menelepon suamiku untuk mengabarinya,


" Assalaamu alaikum Sayang!", ucap suamiku di seberang telepon, aku tersenyum mendengar ucapannya,


"wa alaikum salam sayang, adek udah selesai sidang bang, kebetulan adek yang pertama di panggil tadi, Alhamdulillah adek bisa menjawab semua pertanyaan dari dosen pembimbing dan penguji", ucapku dengan tersenyum bahagia.


"Syukurlah sayang, ini adalah kabar baik buat abang, tapi abang masih bekerja, jam 12 nanti baru abang bisa jemput adek, gimana pulangnya mau naik apa?", tanya bang Izal,

__ADS_1


" Aku masih ada urusan penting di kampus bang, untuk mendaftar waisuda, dan mengurus persyaratannya, biar ga repot nanti kalau sudah mau wisuda", jawabku dengan hati-hati,


"OOO.. kalau begitu nanti pulangnya abang jemput ya ke kampus?", ujar bang Izal,


" Iya sayang", jawabku dengan singkat, aku bergegas menutup telepon selulerku.


Aku melihat ke kiri dan ke kanan mencari teman ku Putri, dia tadi mengirimkan SMS padaku, kalau dia dan kakak nya sudah menunjukkan di taman kampus. Sekarang aku sudah berada di taman, tapi aku belum melihat wujudnya, tiba-tiba ada yang memanggilku,


" Rani...!", panggilnya dengan lembut,


aku terkesiap mendengar suaranya, seperti nya aku mengenalnya, aku langsung membalikkan tubuhku untuk melihat siapa yang memanggil namaku seperti itu, karena seingatku hanya bang Azam yang memanggil ku seperti itu.


Setelah aku berbalik, aku melihat wajahnya, memperhatikan kemeja biru kotak-kotak yang dipakainya, adalah hadiah ultah yang terakhir dari ku untuknya, hanya itu yang membuatku mengenalinya, karena wajahnya sedikit berubah, dulu dia tidak berkumis, sekarang ada kumis tipis di atas bibirnya, dan rambut gondrongnya, semakin membuatku terpaku, dan heran melihat perubahannya. Kami saling memandang cukup lama, dan tanpa sadar aku berucap" Bang Azam...?"..


Dia pun tersenyum melihat ku, dan berkata" Ternyata adek masih ingat dengan abang!",


" Berarti kamu sudah tahu tentang aku dan kakak sepupu mu ini?" , tanyaku dengan nada marah kepada temanku Putri,


" Aku baru tahu setelah bang Azam disini, dan sebenarnya dia tidak mau menceritakan tentang hubungan kalian dulu, tapi aku yang memaksanya, kalau tidak aku tidak mau mempertemukan nya denganmu, sebelum nya aku kurang percaya dengan ceritanya, tapi barusan melihatmu mengenali kakakku, aku baru mempercayainya", ucapnya membela diri.


Aku bergegas pergi meninggalkan mereka berdua, dan bang Azam menghentikan langkah ku," Rani ,aku mau meminta maaf padamu atas kesalahanku dulu yang tanpa sengaja ku lakukan, sehingga membuatmu membenciku", ucapnya memelas padaku,


" Semua sudah berlalu dan aku sudah melupakan nya, sekarang aku sudah menikah dan aku bahagia dengan pernikahanku", ujarku dengan baik padanya.


" Apakah suamimu mencintaimu sebesar cintaku padamu Rani?", ucapnya padaku,


" Tentu saja, kalau dia tidak mencintaiku, dia tidak mungkin membuatku sampai hamil", ucapku dengan bangga padanya.

__ADS_1


" Baiklah jika kamu bahagia dengan pernikahan mu, satu hal penting yang ingin kusampaikan padamu, dari dulu sampai sekarang, aku tetap mencintaimu, dan tidak pernah menghianati mu, karena yang kamu lihat waktu itu hanyalah salah paham, dan kamu tidak memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi dulu, suatu saat jika kamu bertemu lagi dengan Mira, jangan berteman lagi dengannya, karena dia sangat benci dan iri padamu, dia tidak pernah tulus berteman denganmu", ucapnya dengan penuh keyakinan.


Aku terdiam mendengar ucapanya, dan mencoba mencernanya.


" Baiklah, jika memang itu kenyataannya, aku juga meminta maaf padamu karena sifat keras kepalaku, tidak memberikanmu kesempatan untuk menjelaskan kesalah pahaman yang dulu terjadi, mungkin ini sudah taqdir yang ditentukan Allah SWT untuk hubungan kita dulu, kita tidak berjodoh, carilah gadis yang lebih baik dari aku segalanya, tapi ingatlah tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, semoga kamu bahagia dengan jodohmu nantinya, hanya itu doaku untukmu", ucapku padanya sambil bergegas pergi meninggalkan mereka di taman itu.


Setelah menunggu beberapa saat, aku melihat bang Izal datang menjemputku, dan aku bergegas menemuinya menyalaminya.


" Silahkan naik ratuku", ucapnya menggogaku, aku tersenyum mendengar ucapannya, dan segera menaiki sepeda motor nya, dan kami segera berangkat menuju rumah kami.


POV. Putri


Namaku Putri, aku mahasiswi tranferan dari universitas Siantar, aku pindah kampus ke kampus di Medan ini, karena aku ingin merasakan pengalaman yang baru di kota yang baru. Keluargaku lumayan berkecukupan, sehingga aku bisa dengan mudah mendapatkan apapun yang aku inginkan.


Seminggu sudah aku di kampus yang baru ini, tapi belum ada yang cocok menurutku untuk kujadikan teman, tapi di saat aku bertemu dengan Ani, aku langsung nyaman bercerita dengannya, dia orangnya ramah dan murah senyum, dan aku sangat suka sikapnya yang seperti itu, sehingga rasanya sudah lama mgenalnya. Dia orangnya tulus dan tidak neko-neko, malahan dia sering membagi ilmunya padaku, baik ilmu agama maupun sosial, dan dia tidak pernah menyombongkan kepintarannya.


Enam bulan berlalu, kami sekeluarga mendapatkan kabar yang menyedihkan dari tanteku yang tinggal di kota kecil, gunung tua, kami bergegas berangkat ke rumah tanteku di gunung tua. Om ku memang sudah lama meninggal dunia, sekarang hanya tinggal tanteku dan kakak sepupuku, kebetulan dia sedang di gunung tua, biasanya dia datang mengunjungi tanteku. Karena dia bekerja di sebuah kapal tengker.


Setibanya kami di rumah tanteku, kami melihat banyak orang di luar rumah dan di dalam rumah, padahal katanya hanya sakit biasa saja, tapi ternyata tanteku sudah meninggal di waktu Shubuh tadi.


Setelah pemakaman tanteku, kami kembali ke rumah om ku, yang sekarang hanya di tempati kakak sepupuku seorang diri saat dia berkunjung ke rumah orang tua nya ini.


" Bang Azam yang sabar dan tabah ya, semua ujian yang diberikan oleh Allah selalu ada hikmahnya", ucapku pada bang Azam untuk menguatkannya, Bang Azam hanya tersenyum mendengar ucapanku.


Dia bergegas ke kamarnya, dan aku menyusul nya ke kamarnya untuk menanyakan apakah dia sudah punya pacar, kalau tidak, aku berniat mengenalkannya pada bang Azam, aku bisa masuk ke dalam kamar bang Azam yang memang pintunya tidak dia kunci,saat di dalam kamarnya, aku melihat begitu banyak foto seorang gadis yang dipajang di dinding kamar bang Azam, aku penasaran ingin melihat nya, siapa tahu aku kenal dengan gadis yang di foto itu.


Akupun mendekati foto-foto yang melekat di dinding, dan memperhatikan nya sedemikian rupa, akhirnya aku mengenali foto siapa itu...!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2