
Perjalanan ke kota Medan, lumayan jauh, setelah beberapa jam, sekarang kami sudah tiba di kota Rantau Prapat, disini kami istirahat untu makan atau minum di sebuah rumah makan. Pak sopir juga ikut makan bersama kami. Sebelum berhenti disini, kami tadi sempat berhenti di desa Langga Payung untuk sholat Maghrib dan makan malam.
Sesampainya di depan rumah makan, aku pamit kepada suamiku untuk ke toilet sebentar, sekalian mau sholat isya. Suamiku pun mau ikut serta bersamaku ke toilet dan ikut sholat isya juga, suamiku berpesan kepada pak sopir, agar makan duluan, tidak usah menunggu kami. Kamipun ke toilet bersama, dia ke toilet laki-laki, aku ke toilet perempuan. Setelah membersihkan diri, aku mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat isya. Di saat aku keluar dari toilet, suamiku sudah menungguku di luar toilet, dan kami bersama menuju musholla rumah makan itu, Kamipun sholat isya berjamaah.
Selesai sholat, kami kerumah makan kembali, pak sopir sudah selesai makan dan minum, dan dia pun pamit untuk ke mobil duluan untuk istirahat di mobil. Suamiku mengangangguk mengiyakan pak sopir, kasihan juga si pak sopir, kecapean dan kurang tidur, jadi matanya kelihatan merah dan lelah. Setelah pak sopir pergi, kami memanggil pelayan untuk memesan makanan dan minuman yang kami inginkan. Aku memesan nasi goreng telur mata sapi, minumnya teh manis hangat, sedangkan suamiku memsan mie rebus telur mata sapi dan minumnya segelas kopi hitam.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa menit, pesanan kami diantar oleh pelayan rumah makan. Setelah dihidangkan di atas meja di depan kami,kamipun menyantap makanan dan meminum minumannya, karena kami memang sudah lapar, walaupun sewaktu magrib tadi kami sudah makan malam, tapi tengah malam seperti ini, karena dalam perjalanan membuat perut kami merasa lapar. Selesai makan, suamiku membayar tagihan makanan kami dengan si pak sopir, aku mendengar pelayan mengatakan tagihan kami sebesar seratus ribu rupiah, kemudian suamiku segera mengambil uang seratus ribu-an dari dompetnya.
Setelah membayar tagihan, kami duduk sejenak di teras rumah makan sambil duduk berdampingan, dan menatap bintang di langit. Suamiku berkata," kita duduk sebentar disini selagi pak sopir istirahat, agar dia lebih fresh nanti bawa mobilnya dan tidak mengantuk, karena bahaya membawa mobil sambil mengantuk, bisa menyebabkan kecelakaan lalulintas ".
Aku hanya mengangguk mengerti apa yang dikatakan oleh suamiku, dan aku menyandarkan kepalaku ke bahunya sambil menggenggam tangannya. Setelah beberapa satu jam berlalu, kamipun menuju mobil, suamiku membangunkan pak sopir, dan menyuruhnya untuk mencuci wajahnya agar lebih segar, dan kami bisa segera berangkat.
__ADS_1
Aku meletakkan kepalaku di pangkuan suamiku, dan tertidur lelap selama perjalanan, sedangkan suamiku tidak tidur, karena dia takut pak sopir mengantuk, jadi dia mengajak pak sopir mengobrol sesekali sambil memperhatikan jalanan.
Saat adzab Shubuh berkumandang, aku dibangunkan oleh suamiku untuk sholat shubuh di sebuah masjid di kota Tanjung Morawa. Kami bergegas turun dari mobil, dan melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid. Selesai sholat, kami memakan roti isi kacang, dan coklat yang kami beli di warung depan masjid sambil minum teh manis hangat, dan pak sopir hanya minum kopi hitam saja.
Setelah istirahat, kami masuk ke mobil kembali, dan melanjutkan perjalanan. Beberapa jam kemudian, kami tiba di depan rumah kontrakan, di jalan Titi Kuning. Kami segera keluar dari mobil, dan pak sopir mengangkat barang-barang kami dari mobil ke dalam rumah kontrakan yang sudah dibuka pintunya oleh bawahan suamiku. Aku segera masuk ke dalam rumah dan melihat-lihat isi rumah, aku kaget melihat isinya yang...
__ADS_1
Bersambung...