Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Surprised... part. 2


__ADS_3

" Resep andalan Abang adalah Cinta", ucapnya sambil tersenyum.


" Ooh, itu mah bukan resep tapi gombalan", ucapku sambil mencubit hidungnya.


" Tapi, adek suka kan!", ucapnya sambil mencubit hidungku.


" Biasa aja tuh", ucapku.


Diapun tertawa melihat reaksiku yang cukup menggemaskan menurutnya.


" Abang pulang dulu ya sayang, tiga hari lagi Abang datang kesini lagi", ucapnya sambil tersenyum dan berjalan menuju ruang tv.


" Hey kids, om Zain pulang dulu ya ", ucapnya.


" Iya om, makasih ya om nasi gorengnya eenaak banget ", ucap mereka serentak.


" Iya sama-sama, kapan-kapan om masak lagi buat kalian ", ucapnya sambil berlalu pergi.


Aku hanya diam saja melihat adegan drama mereka.


" Abang pulang ya dek ", ucapnya.


" Iya bang, hati-hati dijalan ", ucapku sambil berjalan menuju teras rumah untuk mengantarkan kepergiannya.


Setelah bang Zainal pergi, aku mengunci pintu rumah dan bergegas menuju kamar tidurku.


Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang.


Aku mencek ponselku, apakah ada kabar dari Azam. Ternyata, tidak ada SMS ataupun WhatsApp yang masuk.


Aku merasa sedikit kecewa, padahal aku sangat mengharapkan kabar darinya.


Kucoba untuk menelpon ataupun mengirimkan SMS padanya, tapi tidak ada balasan.


Aku meletakkan ponselku kembali ke bawah bantalku. Aku menghela nafas panjang untuk menenangkan hati dan pikiranku.


Tiga hari adalah waktu yang sangat cepat, aku harus segera berkonsultasi dengan Paman dan bibiku.


Besok aku akan pergi ke rumah pamanku bersama anak -anakku setelah Habib pulang sekolah dan aku selesai berjualan, ucapku dalam hati.


Aku terlelap tidur sambil memeluk bantal gulingku.


Tiga jam kemudian, aku terbangun karena suara tertawa yang cukup keras dari arah ruang tv.


Aku beranjak dari tempat tidurku dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahku.


Setelah itu, aku bergegas menuju ruang tv untuk memeriksa anak -anakku.

__ADS_1


" Kira, ada apa sayang?", tanyaku penasaran dengan suara tawanya.


" Ini ma Tante Khadijah ngasih aku hadiah, jadi saking bahagianya, aku jadi tertawa bahagia mendapatkan hadiah kejutan dari Tante Khadijah", ucapnya.


" Emangnya kapan Tante Khadijah ngasih hadiahnya?", tanyaku bingung.


" Barusan ma, tuh orangnya ada di ruang tamu sama om Raka", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Kenapa mama ga dibangunin kalau Tante Khadijah datang dari tadi?", tanyaku dengan nada ketus.


" Tante Khadijah yang bilang mama ga usah dibangunkan", ucapnya menjelaskan.


"Ooh, Mama nyusul mereka dulu ya, kamu jagain adek - adekmu, disuruh mandi ya nak!", ucapku.


" Iya ma ", ucapnya.


" Udah lama nyampenya kak?", tanyaku saat tiba di ruang tamu dan duduk di ruang tamu.


" Baru satu jam yang lalu dek, kakak measa ga enak, jika mengganggu tidurmu dek", ucapnya sambil tersenyum.


" Ga apa-apa kok kak ", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Kakak udah ke rumah Bibi?", tanyaku.


" Iya, sudah dek, kami tadi pagi nyampe di rumah bibi, dan baru sekarang kami datang kemari untuk menanyakan sesuatu padamu!", ucapnya.


" Mau menanyakan hal apa kak?", tanyaku penasaran.


" Mau nanya apaan sih kak, bikin aku makin penasaran aja", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Begini dek, kita lakukan tanya Jawa dulu ya sebelum ke topik utamanya", ucapnya.


" Silahkan Abang tanyakan", ucapku dengan penuh keyakinan.


" Bagaimana pendapat adek tentang poligami di dalam sebuah pernikahan?", tanyanya.


" Yah, tergantung alasannya untuk berpoligami itu apa bang, sebagian pria ingin berpoligami, mungkin karena ingin mendapatkan keturunan, dan ada sebagian pria, hanya untuk kepuasan nafsunya saja", ucapku dengan tegas.


Aku melihat dia tertegun sejenak mendengar jawabanku.


" Bagaimana kalau menurut adek, jika alasannya untuk melindungi seseorang?", tanyanya.


" Melindunginya dari apa bang?", tanyaku lagi.


" Yah, contohnya: untuk melindungibya dari murka Allah, jika dia melakukan perbuatan Zina dan fitnah dari lingkungan sosialnya", ucapnya.


" Kalau menurutku, itu memang bisa menjadi alasan untuk berpoligami, tapi harus dengan persetujuan dari istri pertamanya, tupun harus dengan ikhlas, tanpa ada paksaan dari pihak manapun ", ucapku dengan tegas.

__ADS_1


Mereka pun terdiam mendengar ucapanku.


" Jadi, topik utamabya apa bang Raka?", tanyaku makin penasaran.


" Gini dek, adek jangan salah sangka sama Abang, Abang hanya memiliki niat yang baik, tidak ada yang lain", ucapnya.


" To the point ajalah bang, ga usah basa-basi ", ucapku tak sabar.


" Maukah adek menikah dengan Abang untuk menjadi istri kedua abang?, Abang berjanji akan bersikap adil terhadap kalian berdua", ucapnya dengan mantap.


Bagai tersambar petir di siang bolong, aku kagetnya bukan kepalang. Mimpi apa aku semalam, ucapku dalam hati sambil menatap bang Raka dengan tajam.


Tapi, aku harus tetap bersikap baik kepadanya, untuk menjaga perasaan kak Khadijah, ucapku dalam hati.


Aku menghela nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan untuk menenangkan hati dan pikiranku.


Ya Allah, ujian apalagi ini, sedikitpun aku tidak kepikiran untuk menjadi istri kedua siapapun, karena aku tidak sudi menjadi Pelakor alias perebut laki orang.


Astaghfirullah, ucapku dalam hati.


" Tanpa mengurangi rasa hormatku kepada ababg dan kak Khadijah, aku anggap, bang Raka dan kak Khadijah tidak pernah mengatakan hal ini padaku", ucapku dengan nada ketus.


." Pikirkan dulu matang-matang dek, Kakak ikhlas kok, kalau adek menjadi madunya kakak", ucapnya sambil tersenyum padaku.


Aku menatap wajahnya Kak Khadijah dengan tajam, untuk melihat apa yang sedang dialaminya saat ini.


Sehebat-hebatnya wanita, tidak akan pernah bisa ikhlas, jika dirinya disakiti dengan dimadu, ucapku dalam hati.


" Aku tidak menerima dan tidak bisa menjadi istri kedua abang ", ucapku dengan tegas.


" Kenapa?", tanyanya lagi.


" Tadi kan sudah kujawab bang, aku tidak sudi menjadi Pelakor, karena aku sudah pernah merasakan bagaimana sakitnya, jika suami kita direbut oleh orang lain ", ucapku dengan tegas.


" Baiklah, kalau itu keputusan terakhir adek, kami pamit pulang ke kota Binjai hari ini juga", ucapnya sambil beranjak dari tempat duduknya dan berlalu pergi.


Sedangkan kak Khadijah mengikutinya dari belakang, sesaat sebelum mereka pergi, kak Khadijah sempat tersenyum bahagia saat melihatku sekilas, saat itu aku tahu, bahwa aku mengambil keputusan yang tepat.


Karena sampai kapanpun, aku tidak akan mau menyakiti perasaan wanita lain, apalagi kak Khadijah yang sudah bik dan sangat sayang padaku.


Betapa rendah dan hinanya aku jika tega menyakiti perasaannya.


Walau seorang wanita juga yang menyakiti perasaanku dulu, tapi aku tidak akan mau berbuat hal yang sama kepada wanita lain.


Entah bagaimana keadaan wanita itu, Mira, ibu kandung dari putriku Syifa, apakah dia masih hidup atau tidak, aku juga tidak perduli.


Aku yakin, suatu saat nanti, dia pasti akan datang kehadapanku atau datang ingin mengambil putrinya kembali, aku tidak akan pernah menyerahkan untuk memperjuangkan anak-anakku sampai kapanpun.

__ADS_1


Walau Mira adalah ibu kandungnya sendiri, aku tidak akan pernah melepaskan Syifa padanya, ucapku dalam hati.


Bersambung...


__ADS_2