
" Putriku sayang, ayahmu sedang tugas lapangan kerja ke luar kota, mungkin agak lama pulang ke rumah kita", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Ma, telpon ayah donk, biar Kira minta beliin oleh-oleh boneka sama ayah", ucapnya sambil merengek.
" Sabar ya sayang, nanti mama telpon ayahmu biar dibeliin boneka ya, sekarang mama buru-buru ada urusan penting, jadi Kita main di rumah Tante Dewi dulu ya sebentar", ucapku membujuknya.
" Baiklah ma, nanti beliin makanan ya ma", ucapnya melunak.
" Insha Allah ya sayang", ucapku sambil menggenggam tangannya menuju teras rumah, kemudian aku mengunci pintu rumah kami.
" Adek ikut ya ma?", tanyanya.
" Iya sayang, ga mungkin adek mama tinggal di rumah tante Dewi", ucapku sambil menggendong putraku menuju rumah kak Dewi.
" Assalamualaikum", ucapku sambil mengetuk pintu rumahnya.
" Wa alaikum salam", ucapnya sambil membuka pintu.
" Kalian udah datang, masuk dulu dek", ucapnya menawarkan.
" Nanti saja ya kak, aku berangkat dulu, biar urusanku cepat selesai kak, aku nitip Kira sebentar ya kak", ucapku.
" Iya dek, hati-hati ya, ngomong -ngomong, kakak masuk kerja jam dua siang ya dek, kalau seandainya adek telat, kabari kakak ya", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Iya kak", ucapku sambil tersenyum padanya sambil berlalu pergi menuju jalan raya untuk menaiki becak motor menuju sekolah putriku.
Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan sekolah putriku.
Aku segera masuk ke dalam lingkungan sekolah, sebelumnya sudah di idzinkan untuk masuk oleh satpam sekolah.
Aku bergegas menuju ruang kepala sekolah yang terletak di dekat ruang guru.
" Assalamualaikum pak, selamat pagi", ucapku sambil tersenyum kepada pak kepala sekolah yang kebetulan sedang duduk di depan ruangannya.
" Wa alaikum salam, ayo kita bicara di dalam ruangan saya bu", ucapnya sambil beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam ruangannya.
Akupun mengikutinya dari belakang.
" Silahkan duduk Bu ", ucapnya.
Akupun duduk di kursi yang ditunjuknya.
" Ada apa gerangan ibu datang menemui saya?", tanyanya.
Aku langsung menceritakan tentang tujuan datang ke menemuinya untuk mengurus surat mutasi sekolahnya putriku Syakira ke Sidempuan.
Karena putriku masih kelas dua SD, jadi urusannya bisa cepat selesai. Setelah semua berkas untuk mutasi sekolahnya putriku Syakira sudah selesai, aku bergegas menuju kantor kargo untuk mengirimkan barang pindahanku.
Saat di dalam perjalanan, ponselku berdering.
__ADS_1
" Assalamualaikum kak Khadijah", ucapku.
" Wa alaikum salam dek, ini teman bang Raka yang mau beli rumah adek, ingin melihat langsung kondisi rumah adek, apa bisa Sore ini kami datang ke rumah adek?", tanya kak Khadijah.
" Iya kak, lebih cepat lebih baik ", ucapku.
" Baiklah dek, nanti sore kami datang ya dek", ucapnya.
" Iya kak, ditunggu ya kak ", ucapku sambil mengakhiri telepon.
Aku merasa sedikit lega mendengar ucapannya kak Khadijah, semoga Allah memberikan kemudahan bagiku dalam urusanku ini, ucapku dalam hati.
Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan kantor kargo. Setelah membayar ongkos becak motor, aku bergegas menuju ruang administrasi kantor kargo nya.
Setelah berbicara panjang lebar, dan memberikan alamat lengkapku, agar mereka bisa menjemput barang pindahanku.
Aku segera pulang ke rumah kami, karena aku melihat jam di tanganku sudah menunjukkan pukul satu siang, dan aku takut terlambat dan bisa merepotkan kak Dewi.
Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan rumah kak Dewi.
" Assalamualaikum kak", ucapku sambil mengetuk pintu rumahnya.
" Wa alaikum salam dek", ucapnya sambil membuka pintu rumahnya.
" Maaf banget ya udah merepotkan kakak", ucapku sambil masuk ke dalam rumahnya.
" Terima kasih atas bantuan dan kebaikan hati Kakak, padahal kita tidak punya hubungan apa-apa, tapi kakak sudah baik pada kami ", ucapku sambil tersenyum haru padanya.
" Kita sesama manusia yg harus saling tolong-menolong dek, apalagi kita bertetangga, ooh ya, masalah rukomu, adekku yang akan menyewanya, kebetulan istrinya pandai menjahit pakaian sama sepertimu, dan sudah lama mereka ingin membuka toko seperti tokomu, baru de sekarang ini ada modalnya ", ucapnya menjelaskan.
" Alhamdulillah ya Allah, terima kasih ya kak, padahal aku sudah merasa bingung untuk mengatasi masalah ruko itu, syukurlah kakak dan adek kakak mau membantuku ", ucapku sambil tersenyum bahagia.
" Iya, sama-sama dek, kira-kira berapa totalnya semua yang yang harus dibayarkan?", tanyanya.
" Sewa ruko selama satu tahun setengah, tiga puluh lima juta, dan barang-barang jualan yanga ada di toko semua sama mesin jahitnya, tiga puluh lima juta, jadi totalnya tujuh puluh juta, adek kakak bayarkan enam puluh lima juta saja kak, kukorting lima juta, gimana kak?", tanyaku.
" Apa kamu ga rugi ngasih kortingan segitu banyak, padahal adek kan lagi butuh uang juga untuk mengurus anak-anakmu?", tanya kak Dewi.
" Ga kak, malahan aku sangat berterima kasih kepada kalian, karena sudah banyak membantuku, kalau soal anak-anakku, aku serahkan semuanya kepada Allah SWT yang Maha pemberi Rezeki", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Baiklah dek, besok adekku akan datang kesini, dan kita akan ke tokonu untuk serah terima kuncinya ya dek", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Iya kak, kalau begitu kami panitia dulu ya kak, kakak kan mau berangkat bekerja, apalagi udah pake seragamnya lengkap begitu ", ucapku sambil berlalu menuju ruang tv nya untuk memanggil putriku Syakira yang sedang asyik menonton film kartun upan dan opon.
" Syakira sayang, ayo pulang nak, Tante Dewi mau berangkat bekerja ", ajakku.
" Iya ma", ucapnya sambil beranjak dan berlari mendekatiku.
Kamipun pamit kepada Sang empunya rumah. Kami berjalan beriringan sambil bergenggaman tangan dan aku masih menggendong putraku.
__ADS_1
Putraku tidak rewel, mungkin dia tahu kalau mamanya lagi sibuk, ucapku dalam hati.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah kami.
Saat membuka pintu rumah, mobil kargo yang akan membawa barang-barang kami sudah tiba di depan rumah kami.
" Assalamualaikum Bu, apa ini betul rumahnya ibu Ani?", tanya si supir mobil.
" Iya saya sendiri, kalian dari Kantor kargo Permata, yang kutemui tadi?", tanyaku.
" Iya Bu, kami datang kesini untuk membawa barang-barang pindahan ibu", ucapnya lagi.
" Iya, ayo masuk ke dalam pak, karena aku ga kuat ngangkatin barang-barangnya, karena lumayan berat, ongkosnya udah kubayarkan tadi di kantor kalian, dan resinya sudah ada sama saya", ucapku sambil menunjuk barang-barang yang akan mereka bawa.
" Iya Bu", ucapbya sambil mengangkati barang-barang kami ke dalam mobil kargonya.
Beberapa menit kemudian, si supir, selesai mengangkati barang -barang kami, dan pamit untuk pergi ke kantornya kembali untuk membawa barang langganan yang lain.
Aku meletakkan tubuh putraku di atas tempat tidur kami, sedangkan putriku Syakira melanjutkan acara nonton tv nya.
Aku mengambil makanan untuk putriku dan putraku untuk makan siang.
Aku menyuapinya makan di depan televisi sambil menonton film kartun kesukaan mereka.
Selesai menyuapi mereka makan, barulah aku makan siang.
Anak-anakku menonton film sambil bermain.
Putraku yang sudah bisa berjalan dengan baik dan sesekali berlari, membuat aku semakin siaga untuk mengawasinya, karena aku takut dia terjatuh, walau terkadang dia memang jatuh sendiri.
Sore pun menjelang, aku sedang menunggu kedatangan Kak Khadijah dan orang yang akan membeli rumah kami.
Beberapa menit kemudian, ada seorang wanita yang mengetuk pintu rumah kami, yang tak lain adalah Kak Khadijah.
" Assalamualaikum...", ucapnya sambil mengetuk pintu rumah kami.
" Wa alaikum salam", jawabku sambil membuka pintu rumah kami.
Aku segera memeluk kak Khadijah dan mempersilakan mereka masuk ke dalam rumah kami.
Si pembeli rumah yang bernama Sartika dan suaminya bernama Akbar, berjalan perlahan memeriksa semua isi rumah kami, baik kamar mandi, kamar tidur dan lain-lain.
Mereka merasa cocok, karena rumah kami sesuai dengan keinginan mereka, dan mereka juga memuji kebersihan rumah kami, karena aku selalu rajin membersihkan seluruh ruangan rumah kami dan halaman rumah kami juga.
" Baiklah Bu Ani, kami merasa cocok dengan rumah ibu ini, dan mengenai harganya juga kami setuju, dua ratus juta rupiah", ucap Sartika.
" Alhamdulillah Bu, kalian mau membeli rumah kami ini, ngomong -ngomong, bagaimana dengan perabotan rumah tangganya, apa ibu tidak berminat?", tanyaku penasaran.
Bersambung...
__ADS_1