
Terima kasih ya sebelumnya untuk dukungan dan komentar positif dari readers...
bikin makin semangat nulisnya...
Ke topik utama ya guys...!
Saat aku membuka pintu ruang kerja suamiku aku melihat adegan yang membuat aku terdiam mematung sambil menonton adegan romantis yang dilakukan oleh suamiku sendiri dengan Mira.
Saking sibuknya mereka, sehingga mereka tidak menyadari kalau aku sedang menonton adegan romantis yang sedang mereka lakukan.
Aku mengambil ponselku dan merekam adegan romantis yang sedang mereka lakukan dengan penuh gairah yang membara.
Setelah selesai merekam adegan romantis mereka, aku menutup pintu ruangan kembali dengan perlahan. Aku melangkahkan kakiku menuju keluar kantor suamiku, dan membawa dua plastik besar yang berisi makanan yang akan aku bagikan untuk teman sekantor suamiku, tapi aku membatalkan niatku untuk membagikannya, karena aku takut suamiku tahu kalau aku sudah mengetahui penghianatan yang dia lakukan.
Di tengah perjalanan menuju rumah kami, aku memberhentikan becak motor yang kunaiki di sebuah persimpangan lampu lalu lintas. Aku membagikan makanan yang ada di plastik besar yang kubawa kepada anak jalanan yang sedang mangkal di persimpangan lampu lalu lintas tersebut.
Setelah membagikan makanan, aku menaiki becak motor kembali untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah kami.
Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan rumah kami. Aku bergegas masuk ke dalam rumah sambil menggendong putraku yang masih tidur lelap di dalam gendongan.
Aku berjalan perlahan menuju kamar tidur kami dan meletakkan tubuh putraku ke dalam box bayi. Aku mencium pipi putraku dengan pelan untuk menenangkan bathinku yang sedang berkecamuk.
Aku sudah memiliki bukti penghianatannya, apa aku harus mengajukan gugatan cerai, padahal putraku masih berumur dua tahun, apa aku harus bersabar setahun lagi atau aku meninggalkannya sekarang, ucapku dalam hati dan bingung harus berbuat apa.
Jika aku meninggalkannya sekarang, si Mira akan merasa menang dan bisa menguasai harta kami dan akan membuat anak - anakku menderita, ya Allah berikanlah aku petunjuk dan bantulah aku menghadapi ujian hidup ini, ucapku sambil menangis terisak.
Aku menangis bukan karena merasa kecewa atau sakit atas penghianatan suamiku, karena aku sudah mati rasa padanya, sedikitpun aku tidak merasa sakit atau kecewa, aku hanya memikirkan nasib anak-anakku dan aku takut mereka akan menderita karena keegoisan dari orang tua mereka.
Ketika aku sedang bingung sambil menangis, putriku Syakira masuk ke dalam kamar tidur kami.
" Ma, kenapa mama menangis?", tanya putriku sambil menghapus air mataku.
" Mama ga nangis kok sayang, mata mama kelilipan ajatadi kena debu pas beli kue ulang tahun kalian ", ucapku berbohong pada Putriku, karena aku tidak mau melihat dia bersedih jika mengetahui aku sedang menangis.
" Mana kue ulang tahunnya ma?", tanyanya dengan penuh semangat.
" Ada di kulkas sayang ", ucapku sambil memeluknya.
" Aku mau makan kue ulang ya ma", ucapnya sambil melepaskan pelukanku dan keluar dari kamar tidur kami dan berjalan menuju dapur untuk mengambil kue ulang tahunnya yang sudah kubeli secara online dan sudah diantar tadi siang saat putriku sedang tidur siang.
Aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dan mengganti pakaianku, karena sebentar lagi, suamiku pasti akan tiba di rumah. Mungkin dia akan terlambat pulang hari ini, karena kelelahan akibat percintaannya dengan Mira di ruangan kerjanya tadi, ucapku dalam hati.
Setelah memandikan anak -anakku sore ini, aku sedang menemani anak-anakku menonton televisi sambil memakan kue ulang tahun mereka. Tepat pukul lima sore, suamiku tiba di rumah kami.
" Assalamualaikum", ucapnya sambil tersenyum padaku.
__ADS_1
" Wa alaikum salam", jawabku seperti biasa.
" Ma, kuenya enak banget ya ma, ada gambar kartunnya", ucap Putriku.
" Iya sayang, doain ya biar rezeki kita makin berlimpah, agar kita tetap bisa bersedekah setiap ulang tahun kalian dan beli kue ulang tahun juga", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Iya ma, Kira doain ya setiap hari", ucapnya sambil menyantap kue ulang tahun yang ada di piringnya dengan menggunakan sendok makan.
" Kok baru pulang bang?, biasanya jam empat sore udah nyampe rumah?", tanyaku pada suamiku saat melewati kami.
" Ooh, iya de kk, tadi abang lembur, atasan Abang dari pusat datang nyurvei kantor", ucapnya sambil tersenyum padaku.
Aku terdiam melihat raut wajahnya yang biasa tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
Mungkin dia memang sangat bahagia bersama Mira, ucapku dalam hati sambil memalingkan wajahku darinya.
Lebih baik aku fokus untuk mengurus anak-anakku, ucapku dalam hati sambil tersenyum melihat anak-anakku yang sedang meniru tingkah konyol yang ada di film kartun lucu yang sedang kami tonton.
Waktu berlalu dengan cepat, saat makan malam, aku bertanya padanya.
" Bang, rumah kita yang di gunung tua, yang kita kontrakkan, sebaiknya kita jual saja, dan kita beli rumah disini untuk kita kontrakkan atau bisa kita gunakan untuk modal usaha buka toko?", tanyaku memulai pembicaraan.
" Emangnya Adek mau buka toko apa?", tanyanya.
" Rencananya aku mau buka toko peralatan menjahit yang lengkap sekalian aku menjahit pakaian juga untuk menambah penghasilan kita juga ", ucapku mulai membujuknya.
" Semoga pak Putin mau membeli rumah kita ", ucapku sambil tersenyum padanya.
Selesai makan malam, aku membereskan meja makan dan membersihkan dapur, agar suamiku terlebih dahulu ke dalam kamar tidur kami.
Aku berusaha bersikap seperti biasa, agar aku bisa melaksanakan rencana rahasia yang sedang aku laksanakan tanpa dia sadari, karena aku tidak akan membiarkan mereka untuk bahagia di atas penderitaanku dan anak-anakku, ucapku dalam hati sambil sibuk menyusun peralatan makan yang sudah dicuci adik iparku.
Selesai membereskan pekerjaan dapur, aku menghidupkan televisi untuk menonton film kesukaanku film komedi.
Aku sedikit terhibur melihat adegan lucu yang dilakukan oleh para aktor komedi tersebut sambil melihat arah kamar tidur kami.
Aku berjalan perlahan menuju pintu kamar tidur kami untuk memastikan apakah Suamiku sudah tidur atau belum, dan ternyata dia sudah tertidur lelap sambil memeluk bantal gulingnya.
Aku kembali ke ruang tv untuk mematikan televisi dan ingin beristirahat.
Aku merebahkan tubuhku membelakanginya dan memeluk bantal gulingku sambil berselimut.
Aku melihat putraku yang sedang tidur pulas dengan gaya enjoynya, kaki diatas bantal.
Ya Allah, kuatkanlah jiwa dan ragaku dalam menghadapi ujian rumah tanggaku yang tidak mungkin aku perbaiki lagi, karena dia tidak memiliki tempat lagi dihatiku, cintaku hanya bertepuk sebelah tangan, dan percuma untuk diperjuangkan, karena cintanya bukanlah untukku, ucapku dalam hati sambil menghapus air mata yang mengalir dari kedua mataku.
__ADS_1
Akhirnya aku tertidur lelap sambil memeluk bantal gulingku yang selalu setia menemani tidurku.
Pagi menjelang, aku bangun pagi seperti biasanya, dan kulakukan tugas sebagai ibu rumah tangga seperti ibu rumah tangga lainnya yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan ikhlas tanpa pamrih, walau terkadang tidak dihargai, sudah resiko kita sebagai ibu rumah tangga, yang penting kita melakukannya dengan sepenuh hati.
Waktu berlalu, hari berganti minggu, mingguan berganti bulan.
Setelah rumah kami yang di kota Gunung Tua terjual, aku membuka sebuah toko peralatan menjahit disebuah ruko di tepi jalan raya kota Medan, jaraknya lumayan jauh dari rumah kami.
Yang penjualan rumah kami yang di gunung tua, hanya cukup untuk menyewa ruko selama dua tahun kedepan dan sebagai modal awal usaha toko peralatan menjahit.
Saat ini umur putraku sudah dua tahun setengah, dan putriku sudah berumur hampir delapan tahun. Aku membawa putraku ke toko kami setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengurus putriku Syakira ke sekolah.
Sekarang putriku masih kelas dua Sekolah Dasar. Putriku Syakira lumayan cerdas, karena selama ini dia selalu mendapatkan peringkat pertama di kelasnya.
Hari ini aku tidak bisa ke toko kami, karena adik iparku tiba-tiba sakit dan tidak sadarkan diri. Kami panik melihat keadaannya yang tiba-tiba seperti itu, apakah dia terlalu lelah membantuku mengerjakan pekerjaan rumah tangga, atau apa ada penyakit yang dia derita selama ini, tanpa kami ketahui.
Selama ini, dia sehat dan baik-baik saja, walau dia tidak bisa bicara atau mengatakan isi hatinya, tapi dari raut wajahnya, aku bisa melihat dia bahagia bersama kami, karena kami selalu memperhatikan kebutuhannya, walau aku sudah tahu penghianatan suamiku, tapi aku tidak pernah menyakitinya akan dihal itu.
Setelah dirawat di rumah sakit selama tiga hari terakhir, adik iparku meminta kami untuk membawanya pulang ke rumah kami, karena dia sudah merasa sehat, dan kamipun menurutinya.
Saat ini, adik iparku sedang beristirahat di kamarnya. Aku menidurkan putraku terlebih dahulu, agar aku bisa mengerjakan pekerjaan rumah, sedangkan suamiku sedang bekerja di kantor. Putriku belum pulang dari sekolah.
Dua jam kemudian, aku selesai mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang terbengkalai selama tiga hari ini.
Aku mendengar suara tangis putraku dari kamar tidur kami.
Aku bergegas menuju kamar untuk menemui putraku.
Aku menggendong putraku untuk mendiamkannya.
" Assalamualaikum ma", panggil putriku yang baru pulang sekolah dari teras rumah kami.
Aku bergegas menuju pintu rumah kami untuk membukakan pintu rumah.
" Wa alaikum salam sayang", ucapku setelah membuka pintu.
Putriku segera masuk ke dalam rumah kami dan berjalan menuju kamar tidur mereka.
Akupun mengikutinya dari belakang sambil menggendong putraku Habib yang sudah tak menangis lagi.
" Ma, Bibi udah sehat kan?", tanya putriku.
" Iya sayang, Bibi udah sehat kok", ucapku sambil tersenyum padanya dan duduk di tepi tempat tidur mereka.
" Tapi Ma, Bibi kok ga bergerak - gerak ma Bobonya kayak orang mati", ucapnya sambil melihat adik iparku.
__ADS_1
Otomatis aku memperhatikan dada adik iparku yang tidak bergerak, dan aku pun memegang tangannya yang ternyata...
Bersambung...