
" Ada apa bang?", tanyaku sambil mendekatinya.
Ketika aku sudah dekat dengan bang Zainal. Tiba-tiba dia menarik tubuhku dan memeluk tubuhku dengan erat.
Aku berontak, namun tenagaku tidak cukup kuat untuk melawannya.
Kemudian, dia mendekatkan wajahnya ke wajahku, dan mencium bibirku dan ********** dengan penuh gairah.
Aku mendorong tubuhnya dengan kuat, tapi tidak bisa, akhirnya jurus andalanku yang harus aku lakukan.
Auuw...
Teriaknya sambil menggenggam bibirnya yang berdarah karena ulahku.
Yah, itulah jurus andalanku, agar dia jera menciumku tanpa idzinku.
Di saat tubuhku sudah terlepas dari pelukannya, aku bergegas masuk ke dalam rumah kami.
Aku mengunci pintu rumah kami, karena aku kesal dengan ulahnya yang mencuri ciumanku, walau bukan ciuman pertama, tapi aku tidak rela, jika orang menciumku tanpa idzinku.
Aku mengintip dari balik kaca jendela untuk memastikan apakah bang Zainal sudah pergi.
Setelah dia pergi, aku menghela nafas panjang untuk menenangkan hati dan pikiranku.
" Mama ngapain disitu pake ngintip segala?", tanya Syakira.
" Ga ada sayang, mama cuma mau melihat kacanya apa sudah dikunci atau belum", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Mana om Zain ma?", tanya Syifa.
" Om Zain udah pulang sayang", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Kok om Zain ga pamit sama aku ma?", tanya Syifa.
" Katanya tadi buru-buru pulang ke rumahnya, ada tamu penting", ucapku sambil berlalu pergi menuju kamarku untuk beristirahat.
Aku merebahkan tubuhku sambil mengingat kejadian yang barusan terjadi. Sebenarnya, aku bingung dengan perasaanku sendiri, aku mulai menyukai bang Zainal, karena kebaikan dan kesabarannya, tapi di sisi lain, aku masih mencintai Azam, cinta pertamaku.
Sebulan yang lalu, kami saling berkompetisi melakukan WhatsApp dan Video call. Jujur saja, aku sangat merindukannya, karena sudah sebulan kami tidak saling komunikasi.
Ntah apa yang dia lakukan disana, di negara asing, banyak cewek cantik dan seksi bak artis papan atas, apa mungkin dia akan menerima anak-anakku dan diriku yang sudah janda ini, pqdahak dia bisa mendapatkan cewek yang lebih daripada aku, ucap dalam hati.
Di saat aku hampir terlelap, adzan magrib pun berkumandang. Aku bergegas beranjak dari tempat tidurku dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
" Sayang, anak-anak mama yang cantik dan ganteng, Ayo sholat Maghrib yuk", ucapku dengan suara keras bak Tarzan dari arah dapur kami.
" Iya ma, kami segera datang ma", ucap Syakira menyahutiku.
Berapa menit kemudian, mereka datang menyusulku ke ruangan sholat.
Setelah sholat, aku segera ke dapur untuk memasak makanan untuk kami makan malam ini.
" Ma, makan malamnya udah Kira masak tadi, cuma telor dadar sama MK ie goreng aja ma, ga apa-apa kan ma?", tanya Kira.
" Emangnya Kita udah bisa masak sayang?", tanyaku heran, karena selama ini, setiap kali aku memasak, tugas Kira hanyalah merajang bawang, sayur, dan mengupas, tapi syukurlah, putriku Syakira sudah mau belajar mandiri.
__ADS_1
" Iya ma, karena aku selalu memperhatikan mama saat memasak", ucap putriku sambil tersenyum padaku.
" Mama bangga sama Kira, sudah mau belajar mandiri", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Iya ma, sudah seharusnya Kira belajar mandiri, agar bisa membantu Mama", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Syifa sama Habib juga ikut membantu kok ma!", ucap Habib menimpali.
" Iya ma, bantu memberantaki sama mengotori dapur ma", ucap Kira sambil tertawa.
" Ga kok ma, kami ga gitu kok, tanya aja sama Syifa!", ucapnya lagi.
" Iya ma, Abang Habib bener kok ma, kami ga gitu", ucap Syifa sambil tersenyum padaku.
" Iya ga apa-apa sayang, yuk kita makan malam bersama, biar makin nikmat rasanya", ucapku sambil tersenyum kepadanya.
Selesai makan malam, Kira dan Habib membersihkan meja makan dan mencuci peralatan masak dan makan yang sudah kotor.
Setelah itu, kami menonton televisi sambil duduk bersandar ke dinding.
Triing..triing..Lala
lala..lala...
Bunyi nada dering ponselku yang terdengar dari dalam kamar tidurku.
" Bib, tolong ambilkan ponsel mama sayang", ucapku.
" Iya ma", ucapnya sambil beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar tidurku.
Di saat Habib memberikan ponsel kepadaku. Nada dering ponselku sudah berhenti.
Kemudian, aku mengatur nada diam pada ponselku, agar tidak menimbulkan kebisingan.
drrt..drrrrt...
suara getaran ponselku yang menandakan pesan masuk.
Isi SMS dari bang Zainal.
" Adek marah ya sama Abang?, maafin Abang ya sayang, Abang khilaf tadi, soalnya Abang udah lama banget pengen nyium adek, karena Abang takut adek marah sama Abang", ucapnya.
" *Yah, begitu rendahnya aku di matamu bang, apa karena aku hanya seorang janda?, sehingga Abang seenaknya mencium aku?", ucapku.
" Ga dek, justru karena Abang siang mencintai dan menghargai adek, selama ini, aku tidak pernah melakukannya, aku selalu menahan diriku untuk melakukan hal yang tidak senonoh padamu sayang, maafkan kekhilafan Abang ya dek?", balasnya*.
Aku mendiamkan SMS nya dan tidak membalasnya lagi.
Rasain, emang enak dicuekin, ucapku dalam hati.
Beberapa menit kemudian, bang Zainal menelponku. Akupun hanya membiarkannya saja.
" Ma, kapan Kira Mama daftarkan ke pesantren Tahfidzul Qur'annya?", tanyanya.
" Mungkin Minggu depan mama daftarkan Kira ke pesantren Darul Qur'an yang ada di kota Medan ya nak", ucapku sambil tersenyum padanya.
__ADS_1
" Kak Kira sekolah di Medan ma?", tanya Habib.
" Iya sayang", ucapku.
" Habib juga pengen juga sekolah disitu sama kak Kira ma", ucap Habib dengan semangat.
" Iya nak, Habib nanti sekolah di Darul Qur'an juga, makanya yang bagus sekolahnya, yang rajin belajarnya, biar bisa masuk ke Darul Qur'an sama kayak kak Kira", ucapku menyemangatinya.
" Iya ma, Habib janji akan belajar sungguh-sungguh, agar bisa masuk Darul Qur'an dan bisa membuat mama bangga", ucap Habib sambil tersenyum padaku.
" Iya sayang, semoga Allah SWT menjadikan semua anak mama, jadi anak yang Sholeh dan Sholehah ", ucapku sambil memeluk mereka.
" Aku juga ya ma", ucap Syifa sambil duduk di pangkuanku.
" Iya sayang, Syifa juga putri mama, otomatis Syifa juga ikut dink mama doain selalu", ucapku sambil mencium pipinya.
" Ma, bobo yuk, Kira udah ngantuk nih", ucapnya.
" Iya ma, Habib juga ngantuk nih, Habib bahagia banget main sama om Zain, orangnya baik lagi", ucap Habib.
" Iya sayang, ayo bobo ke kamar masing-masing", ucapku sambil beranjak dari tempat dudukku dan mematikan televisi.
Kamipun tidur di kamar masing-masing, malam ini, Syifa tidur di kamar Syakira, Habib di kamarnya, sedangkan aku tidur sendirian di kamarku.
Untunglah dulu sewaktu Syifa berumur satu tahun, aku sempat merenovasi rumah kami ini, agar memiliki tiga Kamar, ruang sholat dan dua kamar mandi serta teras rumah yang bisa membuat kami hidup dengan nyaman di rumah kami ini. Rumah yang sederhana, tapi menenangkan dan membahagiakan, ucapku dalam hati sambil tersenyum di atas ranjang.
Malam pun berlalu, pagi pun menjelang.
Seperti ibu rumah tangga yang lain, aku melakukan aktivitasku seperti biasanya.
Memasak, mencuci pakaian yang kotor, dan membangunkan anak -anakku untuk sholat shubuh.
Setelah itu, aku meminta mereka untuk membantuku membersihkan rumah secara gotong royong.
Selesai membersihkan rumah, kami segera mandi untuk membersihkan tubuh kami, agar lebih segar dan sehat.
Kebetulan hari ini adalah hari minggu. Àku libur berjualan, karena ingin menghabiskan waktu bersama anak -anakku.
Selesai sarapan, kamipun bersantai di depan televisi sambil menonton film kartun kesukaan mereka.
Tok...tok..
Aku mendengar seseorang mengetuk pintu rumah kami.
Aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan menuju pintu rumah kami untuk melihat siapa yang mengetuk pintu rumah kami.
"Siapa ya?", tanyaku.
Tidak ada jawaban.
Aku membuka pintu rumah dan melihat ada sebuah buket mawar merah yang cukup besar dipegang oleh seseorang.
" Kamu siapa ya?", tanyaku penasaran.
Kemudian, dia menurunkan buket bunga mawar merahnya dari depan wajahnya, dan tersenyum padaku.
__ADS_1
" Kamu....
Bersambung...