
Seminggu berlalu , semua persiapan pernikahan kami sudah selesai.
Pagi ini, kami akan melakukan akad nikah di rumah pamanku.
Acara pernikahan kami diadakan secara sederhana, hanya mengundang sanak saudara dan para tetangga.
Pamanku yang dari Sipirok juga sudah tiba dirumah pamanku ini sejak kemarin. Sedangkan, adik kandungku yang sudah menikah dan tinggal di Palembang tidak bisa datang, karena ibu mertuanya sedang sakit keras, tidak bisa ditinggal pergi untuk menghadiri acara pernikahanku yang kedua ini.
" Nak, apa kamu sudah siap?", tanya Bibiku.
" Inshaa Allah, aku siap bi!", ucapku dengan mantap.
" Mempelai pria nya sudah datang nak", ucap bibiku sambil merapikan kerudungku.
Ya Allah, semoga engkau merahmati dan meridhoi pernikahanku yang kedua kalinya ini, ucapku dalam hati.
Jujur saja, aku merasa gugup saat ini, walau ini pernikahanku yang kedua, tapi entah kenapa, hatiku merasa was-was dan gerogi, mungkin karena aku sudah lama menjanda, sehingga aku merasakan hal itu.
" Ayo nak, mereka sudah menunggu kita, waktu yang baik untuk akad nikah kalian sudah tiba ", ucap Bibiku.
"Bismillahirrahmanirrahim...", ucapku sambil berjalan menuju tempat akad nikah kami yang ada di ruang tamu sambil digandeng oleh Bibiku.
Dag .dug..dug..
rasanya saat tiba di dekat ruang tamu.
" Silahkan duduk di sebelah kiri mempelai prianya", ucap pak penghulu.
Akupun berjalan perlahan menuju tempat duduk yang dikatakan oleh pak penghulu.
Aku menundukkan wajahku, karena malu dengan tatapan mata bang Zain yang tidak berkedip menatapku.
Yah, di acara akad nikah kami ini, aku memakai baju brokat berwarna peach kesukaanku, dan bang Zain mengenakan kemeja putih dan jas hitam serta memakai peci berwarna hitam.
" Kamu cantik banget dek!", ucapnya sambil berbisik padaku.
Ehmmm... ehmmm..
ucap pak penghulu yang ada di depan kami yang membuatku semakin menundukkan wajahku karena malu.
Berhubung adik kandungku Insan, tidak bisa hadir, akhirnya yang menjadi wali nikahku adalah pamanku, ayah Akbar, pemilik rumah ini.
Sah..
Sah...
Begitulah ucapan para saksi yang menyaksikan akad nikah kami.
" Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri", ucap pak penghulu.
Bang Zain diminta pak penghulu untuk menyerahkan secara langsung maharku yang berupa seperangkat alat sholat dan uang sebesar dua puluh enam juta rupiah, sesuai dengan tanggal pernikahan kami, yaitu tanggal dua puluh enam bulan enam.
Setelah menyerahkan maharku, aku menyalaminya dan dia pun mencium keningku.
Setelah acara akad nikah, kami dan semua sanak saudara dan para tetangga yang hadir, melanjutkan acara makan siang bersama.
Mereka pun segera mengambil makanannya yang sudah disediakan oleh catering yang kami pesan.
Setelah menyantap berbagai macam makanan, mereka pun pulang dengan membawa plastik hitam yang berisi makanan juga, yang sudah disediakan oleh Bibiku.
Setelah acara selesai, kami beristirahat sejenak di ruang tamu.
" Selamat ya dek!", ucap kak Dewi sambil memelukku.
" Terima kasih ya kak", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Kok manggil adek, sekarang Ani adalah Tantemu Wi, dijaga sikap dan omonganmu mulai sekarang ya!", ucap bang Zain menegur kak Dewi.
" Iya om, ga usah galak gitu Napa, ntar Ani jadi takut ngeliat Om galak kayak gitu!", ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.
" Maaf ya Tante Ani, mulai sekarang kalau di depan om Zain, aku manggil Tante aja, tapi kalau cuma kita berdua, aku manggil adek ya!", ucapnya sambil tertawa lepas.
" Oke deh!", ucapku sambil tertawa pula.
" Aku duluan pulang ya Om, mau siap-siap di rumah om untuk menyiapkan acara penyambutan Tanteku ini!", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Kami masih mau bulan madu dulu, kalian siap-siapin aja dulu, ntar om kabarin kapan ke rumah ya!", ucap bang Zain.
" Iya Om, ntar dikabarin ya!, biar kami bisa segera menyiapkan semuanya", ucapnya sambil tersenyum padanya.
" Iya Wi, ooh ya, ingat pesan om ya!", ucapku.
" Iya Om, Dewi ingat kok Om!", ucapnya sambil berlalu pergi mene Paman dan bibiku untuk berpamitan.
Setelah pamit kepada Paman dan bibiku, Kak Dewi dan beberapa sanak saudaranya meninggalkan rumah pamanku.
Kami pun bergegas menuju ruang tamu untuk mengobrol dengan Bibiku yang sedang duduk santai sambil menikmati cemilan bersama anak -anakku.
Kamipun ikut bergabung bersama mereka, sedangkan para Pamanku sedang sibuk menyusun kursi dan meja untuk hidangan makanan yang tadi siang.
" Jadi, kalian akan tinggal dimana?", tanya Bibiku.
" Kami ikut keputusan bang Zain aja mau tinggal dimana", ucapku.
" Kalau menurut Abang, rumah adek dikontrakin aja, kita tinggal di rumah abang yang ada di Komplek DPR aja ya dek!", ucapnya.
" Iya Bang, tapi bisa kan kalau kita tinggal beberapa hari di rumah kami, sekalian packing barang-barang kami yang akan dipindahkan ke rumah Abang", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Iya dek, kalau untuk tiga hari, bisa dek, karena Abang sudah ngambil cuti selama tiga hari ke depan, jadi adek ga usah buru-buru packingnya, lagian biar bisa Abang bantu berkemasnya ", ucapnya.
" Ma, menurut Kira, mama sama papa bulan madu aja dulu ke Sibio-bio, ntar yang ngemasin barang-barang pindahannya Kira aja sama Habib", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Syifa juga ikutlah kak bantuin!", ucap Syifa sambil cemberut pada kakaknya.
" Iya, Syifa juga ikut", ucap Kira kemudian.
" Ya udah, untuk malam ini, Kira dan adik-adiknya tidur dirumah ini dulu, kalau kalian udah pulang besok, baru kalian jemput mereka kesini, gimana?", tanya Bibiku yang dari Sipirok.
" Emangnya, paman dan bibi kapan pulang ke Sipirok?", tanyaku mengalihkan pembicaraan.
" Inshaa Allah besok nak, karena Bibi masih bantuin Bibimu disini untuk beres-beres ", ucapnya.
" Ya udah, mama sama papa berangkat aja sekarang ke Sibio-bio nya, kami nginap disini aja dulu ma", ucap Kira sambil tersenyum.
" Ya udah, sana berangkat, ntar kesorean, sekarang masih jam tiga sore", ucap Bibiku lagi.
" Ya udah, kalau kalian ngizinin, aku ngambil baju ganti dulu ya di kamar!", ucapku sambil berlalu pergi menuju kamar tidur kami.
Beberapa menit kemudian, aku selesai mengambil baju gantiku dan menaruhnya ke dalam tas sandangku yang berukuran sedang.
" Kami pamit dulu ya Bi", ucap kami bersamaan.
" Iya nak, hati -hati ya dijalan, ga usah ngebut- ngebut ya nak!", ucap Bibiku sambil tersenyum.
" Daah..ma!, jangan lupa bawa oleh-oleh ya ma!", ucap anak-anakku sambil melambaikan tangan.
Akupun tersenyum dan melambaikan tanganku di saat mesin mobil kami sudah dihidupkan oleh bang Zain.
Bang Zain melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju penginapan Sibio-bio.
Setengah jam kemudian, kami tiba di depan penginapan Sibio-bio.
Setelah mengambil tas sandangku dan tas hitam berukuran sedang milik bang Zain yang ada di bagasi mobilnya, kami berjalan menuju resepsionis penginapannya tersebut.
" Selamat Sore pak!", ucap receptionist.
" Selamat sore!, satu kamar Honeymoon ya dek!", ucap bang Zain sambil terus mengandeng tanganku.
__ADS_1
" Iya pak, kebetulan hari ini banyak yang kosong, bapak mau yang di lantai satu atau dua pak?", tanyanya.
" Lantai dua aja dek, sekalian nanti dibawakan minuman dan cemilan ya!", ucapnya.
" Iya pak, untuk berapa hari pak?", tanya resepsionis.
" Satu hari dek", ucapnya.
" Ini kunci kamarnya ya pak, selamat honeymoon ya pak!", ucapnya setelah menerima uang dari bang Zain.
" Iya terima kasih ", ucapnya sambil menggandeng tanganku meninggalkan meja resepsionis menuju kamar yang sudah kami bayar untuk satu malam.
" Lumayan capek juga ya bang naik tangganya ke lantai dua", ucapku sambil menggenggam tangannya.
" Iya sabar ya sayang, ntar kalau kakinya pegal, Abang kusukin deh!", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Beneran ya bang!", ucapku sambil mencubit hidungnya.
" Iya sayang, tenang aja!", ucapnya.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan kamar nomor enam belas, sesuai dengan nomor kunci kamar yang diberikan oleh resepsionis tadi.
Setelah membuka pintu kamar, kamipun bergegas masuk ke dalam kamar dan meletakkan tas yang kami bawa.
" Pengap juga make baju brokat ini, mpe keringatan begini!", keluhku sambil meletakkan kerudungku.
" Ya udah, mandi dulu biar segar dek!", ucapnya.
" Bantuin bukain resletingnya dari belakang bang", ucapku sambil menyodorkan tubuh bagian belakangku padanya.
Bang Zain terlebih dahulu memeluk tubuhku dari belakang sambil meremas gunung kembarku.
" Bukain dulu bang, biar adek ga keringatan terus", ucapku mencoba mengulur waktu.
" Sabar sayang", ucapnya sambil mulai menciumiku.
Dia pun membalikkan tubuhku, akhirnya saat ini kami saling berhadapan.
Dia langsung memeluk tubuhku dengan erat dan mulai menciumi wajahku.
Aku tersenyum melihat wajahnya yang memerah karena dipenuhi dengan nafsu.
Akupun membalasnya perlakuannya dengan penuh gairah.
Saat ini, kami sedang berciuman dengan penuh gairah sambil melepaskan pakaian kami satu persatu.
" Adej cantik banget!, sampai Abang tidak sabar untuk memiliki adek sepenuhnya", ucapnya sambil mencumbuiku yang saat ini sedang berada di pangkuannya.
" Makasih atas pujiannya bang!, Abang juga tampan dan gagah", ucapku sambil membelai wajahnya.
Kamipun kembali berciuman sampai kehabisan nafas masing -masing.
Setelah puas bercumbu, kamipun melakukan penyaringan secara perlahan.
" Milik adek sempit banget, kayak masih perawan, padahal udah dua kali melahirkan", bisiknya sambil mencoba menembus milikku.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya sambil menikmati aksinya.
Beberapa jam kemudian, setelah puas bercinta di atas ranjang, kami melakukannya lagi di kamar mandi, di dalam bath up.
Walau usia bang Zain sudah separuh baya, dia masih kuat dalam melakukan aksiy, malahan aku yang kewalahan mengikuti permainannya. Tapi, aku berusaha untuk mengikuti permainannya, agar dia tidak merasa kecewa di malam pengantin kami ini.
Selesai mandi, kami bergegas merebahkan tubuh kami di atas ranjang.
" Makasih ya sayang!", ucapnya sambil mencium bibirku dan memeluk tubuhku.
Aku hanya tersenyum sambil memeluk tubuhnya, karena aku sudah lelah dan mengantuk.
Kamipun tertidur lelap sambil berpelukan.
__ADS_1
Bersambung...