
Aku sangat penasaran dengan pria yang mengetuk pintu rumahku, dengan perasaan was-was, aku melangkahkan kakiku menuju pintu rumahku untuk membuka pintu rumah.
" Assalamualaikum kak, maaf mengganggu, apa ini rumahnya ibu Ani?", tanya pria itu.
" Iya, saya sendiri, ada apa ya pak?", tanyaku.
" Kenalkan namaku Herman, aku adeknya kak Dewi, tetangga kakak, tadi aku terlebih dahulu ke rumah kak Dewi, tapi tidak ada orang, jadi aku kesini mencoba bertanya, apa ada kak Dewi disini?", tanyanya lagi.
" Ooh, berarti adek yang mau menyewa tokoku itu ya?", tanyaku.
" Iya kak ", ucapnya.
" Kak Dewi ada di dalam, tadi dia ke kemar mandi, saat aku mau buka pintu ini, sebentar lagi dia akan kesini, silahkan masuk dek", ucapku menawarkan.
Akhirnya dia pun masuk dan duduk di kursi tamu.
" Herman, udah lama nyampe dek?", tanya kak Dewi sambil duduk di samping Adeknya Herman.
" Barusan nyampe kak, tadi aku ke rumah kakak, ga ada orang, jadi aku datang kesini untuk menanyakan keberadaan kakak, untunglah kakak Uda cerita tadi malam, kalau toko yang mau kami sewa itu namanya ibu Ani", ucapnya.
" Panggil kakak aja Napa dek, rasanya kakak udah tua banget dipanggil adek kayak gitu ", ucapku sambil tertawa.
Mereka pun ikut tertawa mendengar ocehanku.
" Gimana kak, apa kita langsung ke toko kakak saja?", tanyanya.
" Iya dek, lebih cepat lebih baik ", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Syakira ", panggilku.
" Iya ma", ucapnya sambil mendatangiku.
" Bawa adek kesini nak, kita mau ke toko sebentar ", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Iya ma", ucapnya sambil berlari menuju ruang tv untuk menemui Habis putraku dan membawanya ke ruang tamu.
Aku menggendongnya keluar rumah, karena kak Dewi dan Herman sudah menunggu di luar.
Aku mengunci pintu rumah sambil menggendong putraku dengan menggunakan kain gendongan dan aku menggenggam tangan putriku Syakira menuju tepi jalan raya untuk menaiki becak motor bersama-kak Dewi dan adiknya Herman menaiki sepeda motornya.
__ADS_1
" Adek udah bawa kunci tokonya kan?", tanya kak Dewi.
" Udah kak, ini di dalam dompetku", ucapku sambil tersenyum padanya.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan tokoku.
Setelah membayar ongkos becak motor, kami berjalan menuju toko.
Aku membuka pintu ruko, dengan menggunakan kunci yang kubawa.
Setelah membuat pintu ruko, kami segera masuk ke dalam toko untuk melihat isi toko.
Adeknya kak Dewi merasa cocok dengan tokoku dan isinya, apalagi tempatnya strategis di tepi jalan raya.
Setelah serah terima kuncinya, kami bergegas menuju ATM yang ada di dekat toko untuk melakukan pembayaran senilai enam puluh juta rupiah.
Setelah mencek isi tabunganku melalui mesin ATM, kami bergegas pulang ke rumah dengan menaiki becak motor, sedangkan adek Herman pulang kerumahnya, karena besok pagi, dia sudah mulai jualan di tokoku.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah kami.
" Kak, singgah dulu yuk sebentar dirumah ku", ajakku.
" Terima kasih banyak ya kak, aku ga ada maksud apa-apa kak, ini hanya sebatas rasa terima kasihku sama kakak, dan ini sebagai kado kenangan dariku untuk Kakak", ucapku sambil memberikan sebuah bungkusan plastik hitam padanya.
" Ya ampun dek, kamu ga usah repot-repot ngasih sama kakak, kakak ikhlas membantu kalian dek", ucapnya sambil tersenyum haru.
Kamipun saling berpelukan sambil menangis haru.
" Kamu yang sabar dan tabah ya dek, tetaplah kuat, dan jangan pernah berputus asa, dan jangan lupain kakak ya, kalau ada waktu dan rezeki, adek datang berkunjung ke rumah kakak dan Kakakpun sebaliknya akan mengunjungi adek kesana", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Insha Allah ya kak, aku ga akan pernah ngelupain kakak, terima kasih sudah baik padaku selama ini ya kak", ucapku sambil memeluknya kembali.
" Iya dek, adek juga baik sama kakak, terima kasih sudah menjadi adik yang baik untuk kakak", ucapnya sambil membalas pelukanku
" Ooh ya kak, aku mau minta tolong satu hal lagi sama kakak", ucapku melepaskan pelukan kami.
" Apa itu dek?", tanyanya penasaran.
" Nanti kalau bang Izal datang kesini dan bertanya kepada kakak, tolong kakak berikan koper yang berisikan semua pakaiannya itu kepadanya, karena aku tidak mau menyimpan barangnya, selain baju yang dipakainya yang satu helai, yang sudah kusimpan, karena aku takut, anak -anakku sakit karena merindukannya, biarlah baju yang satu itu sebagai obat rindu mereka terhadap ayahnya", ucapku sambil berlalu menuju kamar tidur kami untuk mengambil koper berisi pakaian suamiku.
__ADS_1
" Baiklah dek, kalau soal itu, adek tenang saja, gimana kalau dia menanyakan keberadaan kalian, kakak bilang apa padanya?", tanyanya.
" Kakak bialang saja, kami di tempat yang terbaik, dimana kami disayangi dan dihargai, tempat dimna dia pertama kali melamarku dulu", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Baiklah dek, semoga Allah SWT memberikan kekuatan dan ketabahan kepadamu ya dek", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Aamiin kak, kakak juga semua doa yang terbaik untuk kakak sekeluarga", ucapku sambil tersenyum padanya, dan dia pun. akhirnya kembali kerumahnya.
Setelah mengunci pintu rumah, aku bergegas menuju ruang tv untuk menemui anak-anakku yang sedang menonton televisi.
Setelah adzan magrib, setelah sholat Maghrib, kami makan malam bersama di ruang tv sambil menonton film kartun.
Setelah itu, kami istirahat sejenak sambil menunggu waktu shalat isya tiba.
Setelah adzan Isya berkumandang, kami dan untuk sholat isya.
Aku menidurkan putraku Habib terlebih dahulu di dalam kamar tidur kami.
Mungkin aku akan membongkar box bayi rakitan ini besok, agar bisa kubawa ke Sidempuan, karena menurutku putraku tidak akan nyenyak tidur jika tidak di dalam box bayi itu, ucapku dalam hati sambil tersenyum melihat gaya tidur putraku yang menggemaskan.
" Syakira !", panggilku.
" Iya ma", sahutnya.
" Ayo tidur sayang, tv nya dimatiin dulu ya baru ke kamar mama", ucapku agak keras.
" Iya ma", ucapnya sambil mematikan televisi dan berjalan menuju kamar tidur kami.
Setelah putriku tertidur, aku bergegas mengemasi pakaian kami yang belum aku kemas. Besok, aku tidak terlalu repot jika hanya membawa satu koper, dan satu kardus besar, karena sebagian besar barang pindahan kami sudah sampai di rumah pamanku yang ada di Sidempuan.
Selesai berkemas, aku membersihkan tubuhku terlebih dahulu di dalam kamar mandi dan mengganti pakaianku dengan piyama.
Malam ini, kami tertidur lelap sambil berpelukan. Walau tanpa kehadiran suamiku, kami harus tetap bahagia, mungkin dia sedang berbahagia dengan keluarga barunya, sehingga dia tidak mengingat kami sedikitpun.
Biarlah, mungkin ini yang terbaik untuk rumah tangga kami. Akhir yang menyakitkan.
Inilah taqdir yang sedang kami jalani.
Bersambung...
__ADS_1