
" Kulihat perabotan rumah tangga Bu Ani, terbuat dari kayu jati yang paling bagus, àpalagi tempat tidur di kamar ibu, dan lemari pakaiannya serta meja riasnya, emangnya ibu mau jual berapa semuanya?", tanya Sartika.
" Kalau di totalkan semuanya, semuanya ada enam puluh juta rupiah Bu, tapi kalau ibu mau, lima puluh juta saja, karena jujur saja, semua perabotan ini masih seperti baru, karena empat bulan yang lalu baru kami beli", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Ngomong -ngomong, kenapa ibu Ani mau menjual rumah ini dan semua perabotan rumah tangganya?", tanyanya.
" Karena kami mau pulang ke kampung halamanky Bu di Sidempuan", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Ooh..jadi suami ibu gimana?", tanyanya.
" Suamiku sudah menyetujui rencanaku untuk menjual rumah ini Bu, sekarang sedang di luar kota untuk pekerjaan penting, surat rumah ini juga atas namaku, jadi urusan tentang surat balik namanya tak perlu khawatir ", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Baiklah Bu, kita selesaikan aja jual belinya ke kantor notaris kenalanku setelah pembayaran rumah ini kita selesaikan di Bank besok pagi ", ucap Sartika.
" Baiklah Bu, kutunggu kabar dari ibu besok pagi ", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Kalau begitu, kami pamit dulu ya dek ", ucap kak Khadijah dan suaminya Raka.
" Iya kak, terima kasih banyak ya kak ", ucapku sambil tersenyum padanya.
Mereka pun pergi meninggalkan rumah kami setelah berpamitan denganku.
Setelah kepergian mereka, aku mengunci pintu rumah kami dan merebahkan tubuhku di atas tempat tidur kami.
Aku akan menjual semuanya, agar aku tidak pernah mengingatmu lagi, ucapku dalam hati.
" Ma, adek sudah pipiis di ruang tv ma", ucap Kira sambil membawa adeknya ke kamar tidur kami.
" Iya sayang, sini mama ganti dulu celana dedek", ucapku sambil tersenyum padanya.
Setelah mengganti celana putraku, aku segera ke ruang tv untuk membersihkan bekas pipis anakku, agar tidak licin dan kotor.
" Ma, emangnya kita mau pulang ke kampung ya ma?", tanya putriku dengan wajah penasaran.
" Iya sayang, Syakira mau kan kita tinggal di Sidempuan, sama kakek nenek?", tanyaku.
" Iya ma, Kira mau, ayah juga ikut kan ma?", tanyanya.
" Mama belum tau, ayahmu ikut atau ga nak, karena kemungkinan besar, ayahmu tidak akan ikut, karena sibuk bekerja ", ucapku sambil tersenyum padanya dan menahan air mataku mengalir.
" Ooh.. ayah sibuk terus ya ma, ayah ga sayang lagi sama kita ", ucapnya sambil memeluk tubuhku.
__ADS_1
" Ga seperti itu nak, ayah kan kerja untuk Kira sama adek biar bisa sekolah, beli baju, punya rumah, ayah sayang kok sama kalian ", ucapku sambil membalas pelukannya dan mengelus-elus punggungnya.
Adzan magrib pun selesai berkumandang.
" Kira jaga adek dulu ya nak, mama mau sholat Maghrib dulu", ucapku sambil berlalu menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu, karena aku tidak ingin putriku melihatku menangis.
Didalam kamar mandi, aku menangis sepuasnya, walau tanpa suara, karena aku juga tidak ingin putriku mendengar suara tangisku yang memilukan ini
Ya Allah, berikanlah aku kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi ujian hidup ini, ucapku dalam hati sambil mencuci wajahku.
Setelah mengambil wudhu, aku keluar dari kamar mandi dan melaksanakan sholat Maghrib.
Setelah itu, kami makan malam bersama sambil menonton film sinetron kesukaanku.
" Ma, film mama ga enak ditonton, Kira ga suka sama si Mischanya tu Pelakor ya ma, seperti yang dibilang nenek buyutnya Farel itu, Kira ga suka, ganti film kartun aja ya ma", ucapnya sambil menatapku untuk meminta idzinku, dan aku hanya tersenyum mendengar ucapannya itu.
" Iya sayang, ganti aja film kartun kesukaan Kira", ucapku sambil tersenyum padanya.
Akhirnya kami menonton film kartun kesukaan mereka di siaran TV kids.
Kami merasa mengantuk, setelah mematikan televisi, kamipun tidur di kamar tidurku.
Aku mencium pipi Putriku dan putraku sebelum aku tertidur lelap sambil memeluk tubuh mereka.
Aku merasa bahagia, karena masalahku akan segera kuselesaikan hari ini.
Seperti biasa, aku melakukan aktivitasku sebagai ibu rumah tangga yang baik.
Aku mengurus anak-anakku dengan baik tanpa bantuan suamiku yang mungkin sedang asyik memadu kasih dengan wanita jal*Ng itu.
Setelah memakai pakaian gamis warna peach kesukaanku, aku mengantarkan putriku ke rumah kak Dewi, karena sebentar lagi, kak Khadijah dan Sartika akan tiba di rumah kami untuk menyelesaikan urusan pembelian rumah.
Setelah menitipkan putriku Syakira di rumah kak Dewi, aku bergegas kembali ke rumah kami untuk menunggu kedatangan mereka.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di depan rumah kami, dan tanpa banyak basa-basi lagi, aku segera masuk ke dalam mobil mereka setelah mengunci pintu rumah kami.
Suaminya Sartika melajukan mobil menuju Bank terlebih dahulu untuk melakukan pembayaran senilai dua ratus lima puluh juta rupiah. Setelah mencek tabunganku, yang sudah berisi tiga ratus juta rupiah, kami meninggalkan Bank. Setelah itu, baru kami ke kantor notaris kenalannya untuk menyelesaikan surat jual beli dan surat balik namanya.
Tiga jam berlalu, semua urusan tentang jual beli rumah kami selesai.
" Jadi kapan ibu Ani bisa mengosongkan rumah ini?", tanya Sartika padaku setelah kami tiba di rumah dan duduk di ruang tamu.
__ADS_1
" Kemungkinan besar, besok malam, kami akan berangkat ke kampung kak", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Kalau begitu, saya tunggu kabarnya, nanti kunci rumahnya ibu kasih aja sama Khadijah, besok malam, dia yang akan mengantarkan kalian ke loket katanya, benar kan Khadijah?", tanyanya pada kak Khadijah.
" Iya dek, besok kakak yang ngantar kalian ke loket busnya ya", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Iya kak, terima kasih banyak ya kak atas bantuannya", ucapku sambil tersenyum padanya.
Merekapun segera meninggalkan rumah ini setelah berpamitan denganku.
Saa mereka pergi, kak Dewi datang mengantarkan putriku Syakira ke rumahku.
" Assalamualaikum dek", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Wa alaikum salam kak, ayo masuk kak", ajakku.
" Apa udah selesai urusannya tentang rumah ini?", tanyanya padaku.
" Alhamdulillah, udah kak, dan sekarang tinggal urusan ruko kak, agar kami besok malam bisa berangkat ke kampung ", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Iya dek, ntar lagi adekku akan tiba disini, jadi kita bisa langsung ke tokomu, untuk serah terima kuncinya ", ucap kak Dewi.
" Iya kak, aku sangat bahagia dan bersyukur kepada Allah SWT yang sudah mengirimkan orang-orang baik seperti kalian untuk membantuku, semoga Allah SWT memberikan segala kebaikan kepada kalian juga ya kak ", ucapku sambil tersenyum haru padanya.
" Aamiin dek, semoga Allah SWT memberikanmu kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi ujian rumah tanggamu ini, dan semoga anak-anakmu menjadi anak yang Sholeh dan Sholehah ya dek ", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Kak Dewi, ayo kita makan siang dulu, walau lauknya hanya ikan teri kacang pake cabe sama tumis kangkung, tapi enak lho kak", ucapku menawarkan.
" Ayo dek, memang kakak belum makan siang tadi dirumah, karena Kakak langsung kesini ngantar Syakira, dia nanyain kamu terus, tadi pas kulihat ada mobil Pajero di depan rumahmu, aku langsung yakin kalau kamu Uda ada di rumah, makanya kami langsung kesini ", ucapnya menjelaskan.
Kamipun makan siang bersama dengan lahapnya, aku makan sambil menyuapi putraku, dan putriku makan sendiri.
Selesai makan, kami membersihkan dapur dan mencuci piring bersama.
" Jujur dek, aku tidak habis pikir, kenap bisa ya Isl berbuat seperti itu padamu?", tanyanya saat kami duduk di ruang tamu, sedangkan anak-anakku sibuk menonton televisi.
" Iya kak, dulu dia memang menceritakan tentang mantan kekasihnya si Mira itu padaku, tapi si Mira sudah menikah duluan, aku tidak tahu, mengapa mereka bisa tiba-tiba menikah seperti itu, dan aku pikir bang Izal memang mencintaiku, tapi kenyataannya sebaliknya, dan aku memang harus ikhlas menerima taqdirku ini", ucapku sambil meneteskan air mata.
" Kamu yang sabar ya dek, pasti semuanya ada hikmahnya, dan kamu memang harus ikhlas menerimanya, agar bathinmu tidak terbebani ", ucapnya menasehatiku.
" Iya kak, aku memang mencoba untuk ikhlas menerimanya, dan aku harus kuat untuk anak-anakku", ucapku sambil tersenyum padanya.
__ADS_1
Disaat kami asyik ngobrol, ada seorang pria yang mengetuk pintu rumah kami yang membuat hatiku berdebar kencang, siapakah gerangan pria itu?", tanyaku dalam hati.
Bersambung...