Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Berpisah...


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepat, hari berganti minggu. Seminggu yang lalu, pertemuan terakhir kami.


Setelah melakukan pembayaran senilai seratus lima puluh juta untuk rumahnya Bu Aminah, keesokan harinya kami langsung pindah dari rumah pamanku ke rumah kami yang baru.


Sebelumnya, aku meminta paman dan bibiku untuk merahasiakan alamat kami kepada bang Izal. Putriku Syakira sudah mulai sekolah di SD Negeri Sadabuan, aku mengantarkannya ke sekolahnya dengan berjalan kaki, karena jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah kami.


Setelah mengantarnya, barulah ke pasar untuk belanja kebutuhan dapur dan untuk jualanku di depan rumah kami, walau hanya warung kecil, aku berusaha untuk melengkapi jualanku agar pembeli banyak yang berminat untuk membeli jualanku dengan harga yang terjangkau.


Begitulah, kami lewati hari-hari kami tanpa bang Izal, karena aku juga tidak mau tahu atau peduli lagi dengannya. Semenjak hari itu, aku sudah mengganti nomor ponselku, agar dia tidak bisa mengganggu kehidupanku dan anak - anakku.


Kami juga sering berkunjung ke rumah pamanku, terkadang kami menginap di rumahnya.


Hari ini, aku dan pamanku sudah berada di pengadilan Agama Negeri, yang ada di Kota Sipirok.


Setelah mengajukan gugatan cerai terhadap Suamiku, kami pergi berkunjung ke rumah pamanku yang tinggal di desa Simaninggir, Sipirok. Sedangkan, pamanku langsung kembali ke Sidempuan, karena ada urusan penting yang harus diselesaikannya.


" Assalamualaikum", ucapku sambil mengetuk pintu rumah pamanku.


" W alaikum salam", ucap Bibiku sambil membuka pintu rumahnya.


" Udah lama nyampenya nak?, ayo masuk", ucap bibiku sambil tersenyum.


" Kami udah selesai ngajuin gugatannya Bi", ucapku sambil duduk di kursi tamu.


" Syukurlah kalau begitu, semoga Allah mempermudah segala urusanmu ya nak, yang penting Ani harus tetap semangat dan berpikiran positif", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Iya Bi, Inshaa Allah", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Dimana paman Bi?", tanyaku.


" Pamanmu masih mengajar di sekolah", jawabnya.


" Aku beliin gorengan tadi bi, di seberang jalan pas mau kesini", ucapku sambil berlalu menuju dapur untuk mengambil piring.


Aku menata gorengan ke atas piring dan membawanya ke ruang tamu.


" Ayi Bi, kita santap, enak lho gorengannya, apalagi dicocol saus cabai rawit, maantaap", ucapku sambil makan bakwan udangnya.


" Apa Ani menginap?", tanyanya.


" Ga Bi, karena Syakira kan sekolah, aku ga enak, kalau terus-terusan merepotkan Paman dan Bibi untuk mengurus Syakira", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Kalau hari libur, kalian berkunjunglah kemari", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Insha Allah ya Bi, kalau liburan sekolah nanti, kami akan berkunjung kesini", ucapku sambil menyantap gorengan yang ada di piring.


Setelah mengobrol selama dua jam sambil makan cemilan gorengan. Aku menitipkan Habib kepada Bibiku, agar aku bisa sholat Qashar Dzuhur dan Ashar, karena takut kesorean nyampe di rumah.


Selesai sholat, aku pun pamit untuk pulang ke Sidempuan. Karena hari mulai mendung, yang menandakan akan turun hujan.


Aku bergegas menuju tepi jalan raya untuk menaiki minibus menuju Sidempuan yang kebetulan sedang lewat dengan kecepatan sedang.


Aku berteriak agar si supir minibus menghentikan laju minibusnya. Setelah kami duduk dengan tenang, barulah si supir melajukan minibusnya.


Tiga jam kemudian, kami tiba di loket minibus yang ada di Sidempuan. Kami terlambat tiba di Sidempuan, karena terjadi kecelakaan di daerah Aek Milas, sehingga minibus yang kami tumpangi mengalami kemacetan cukup parah.


Setelah turun dari minibus, kami menaiki becak motor menuju rumah pamanku untuk menjemput putriku Syakira.


" Assalamualaikum", ucapku sambil mengetuk pintu rumah pamanku.

__ADS_1


" Wa alaikum salam", ucap bibiku.


" Kok lama nyampenya nak, apa terjadi sesuatu di jalan, sehingga kalian terlambat, biasanya perjalanan dari Sipirok ke Sidempuan paling lambat dua jam", ucap Bibiku.


" Iya Bi, tadi terjadi kecelakaan di jalan raya daerah Aek Milas, jadinya kami terjebak macet, akhirnya kami nyampe Sidempuan kesorean gini Bi, Ooh ya, mana Syakira Bi?", tanyaku.


" Dia ketiduran di kamar belakang, dari tadi dia nanyain kamu terus", ucapnya.


" Iya Bi, aku tadi singgah di rumah paman yang di Sipirok, ngobrol sebentar, baru aku pulang kesini", ucapku menjelaskan.


" Gimana urusan gugatan ceraimu, udah beres?", tanya Bibiku.


"Alhamdulillah udah Bi, untunglah Paman punya kenalan pengacara di kantor pengadilan agama itu, sehingga urusan kami cepat selesai, tapi aku belum tahu tanggal sidangnya kapan Bi", ucapku menjelaskan.


" Mungkin nanti ada pemberitahuannya", ucap Bibiku.


" Kami nginap aja ya Bi, lagian Syakira masih tidur, dan sekarang udah turun hujan, deras banget pula ", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Iya, kalian nginap aja, Bibi juga senang kalian sering nginap disini, biar rame ", ucap Bibiku.


Sebelum adzan magrib berkumandang, aku membangunkan putriku Syakira untuk mandi


Sekalian aku memandikan putraku Habib.


Selesai mandi, mereka bermain dengan anak pamanku. Setelah adzan magrib, kami sholat secara bergantian. Setelah itu, kamipun makan malam bersama.


Keesokan harinya, setelah sholat shubuh dan sarapan pagi, kami kembali ke rumah kami yang di Sadabuan, karena hari ini, putriku Syakira akan berangkat ke sekolah seperti biasanya, dan aku akan berjualan kembali.


Hari ini, aku berniat untuk mencek saldo rekeningku, karena aku sudah banyak mengambil uang tabunganku untuk membeli rumah, sedikit renovasi rumah, agar lebih fresh, modal usaha untuk berjualan sembako, serta uang sekolah putriku Syakira.


Setelah mengantar putriku Syakira ke sekolahnya, aku bergegas menuju pasar tradisional untuk belanja kebutuhan dapur dan jualanku dengan menaiki becak motor.


Jika saldo rekeningku masih banyak, aku berniat untuk membeli sepeda motor matic sebagai transportasiku untuk mengantarkan anakku ke sekolah dan untuk belanja, agar bisa menghemat pengeluaran, waktu dan tidak terlalu lelah jalan kaki kesana kemari.


Aku menarik uang tabunganku sebanyak sepuluh juta dan menaruhnya ke dalam dompetku, karena uangku masih ada sisa Lima juta rupiah lagi di dalam dompetku.


Nanti siang, aku akan pergi ke showroom sepeda motor untuk membeli sepeda motor matic yang cocok untukku, ucapku dalam hati sambil menyimpan kartu ATM ku ke dalam dompetku.


Setelah keluar dari ruang ATM, aku bergegas menuju toko sembako tempatku belanja untuk mengambil belanjaanku sambil menggendong putraku Habib yang baik hati, tidak pernah rewel, mungkin dia tahu, mamanya sedang berjuang untuk bertahan hidup di dunia ini, ucapku dalam hati.


Aku memanggil supir becak motor yang sedang mangkal di pinggir pasar. Selesai menyusun belanjaanku ke dalam becak motor, akupun duduk di dalam becak motor.


Di dalam perjalanan menuju rumah, kami melewati sebuah showroom sepeda motor yang baru dibuka dan lagi promosi.


Di spanduknya tertulis pelanggan pertama hari ini mendapatkan sebuah hadiah kejutan.


Aku tertarik melihatnya dan menyuruh si supir becak motor untuk melajukan becaknya menuju showroom tersebut.


Taulah kalau emak-emak ya guys, suka sama yang gratis gitu, ucapku dalam hati sambil berjalan menuju ke dalam showroom sepeda motor.


" Selamat pagi Bu", ucap si receptionist.


" Selamat pagi juga", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Ibu rencananya mau beli sepeda motor apa ya Bu?", tanya salesmannya.


" Rencananya aku mau membeli sepeda motor matic untuk transportasiku sehari-hari ", ucapku lagi.


" Ibu mau yang mana silahkan dipilih dan daftar harganya ada tertera di depan sepeda motornya ", ucap salesmannya.

__ADS_1


" Aku nanya dulu ya, itu yang di spanduknya, betul apa ga, katanya ada hadiah kejutan untuk pelanggan pertama hari ini?", tanyaku penasaran.


" Iya Bu, itu betul sekali, kebetulan ibu adalah pelanggan pertama kami untuk hari ini ", ucapnya sambil tersenyum.


" Aku milih motor matic yang warna merah kombinasi warna hitam yang itu aja ya", ucapku sambil menunjuk sepeda motor yang ku inginkan.


" Ooh.. iya Bu, harganya sebelaas juta rupiah ya Bu, pembayarannya cash atau melalui transfer bank?", tanyanya.


" Cash aja", ucapku sambil berjalan menuju meja kasirnya.


Setelah membayar tagihan pembelian sepeda motor, dan aku memberikan alamat lengkapku kepada mereka, agar mereka mengantarkannya secara langsung ke rumah kami.


" Terima kasih ibu atas partisipasinya, dan selamat untuk ibu, mendapatkan hadiah kejutan sebuah mesin cuci untuk membantu meringankan pekerjaan rumah tangga ibu sehari-hari ", ucap salesmannya.


" Alhamdulillah, terima kasih ya pak atas hadiahnya, nanti sekalian diantar ke rumahku ya pak", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Iya Bu, untuk surat-surat lengkapnya, nanti kami bawakan ya Bu, silahkan ibu simpan kwitansi pembayaran sepeda motornya ", ucap kasirnya.


" Iya, terima kasih banyak ya dek", ucapku kepada mereka, karena aku merasa belum tua amat sampai harus memanggil mereka nak, ucapku dalam hati sambil tersenyum pada mereka.


Setelah itu, aku bergegas menuju becak motor yang masih menungguku dengan setia, walau hari mulai beranjak siang.


" Maaf ya pak supir, kelamaan nungguny, ntar ongkos becaknya ku tambah sepuluh ribu lagi ya pak", ucapku sambil tersenyum.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah kami. Setelah membayar ongkos becak, si supir becak membantuku untuk mengangkati belanjaanku ke dalam rumah kami, setelah itu, dia langsung pergi melanjutkan pekerjaannya mencari pelanggan.


Aku menurunkan putraku yang sudah tertidur di dalam gendonganku ke atas tempat tidur kami.


Aku meletakkan tubuhnya perlahan, agar tidak terbangun. Setelah itu, aku mulai mulai menyusun belanjaanku sesuai pada tempatnya.


Aku membersihkan rumah dengan perlahan, agar tidak menimbulkan suara yang keras.


Selesai kebersihan, aku membersihkan tubuhku.


Setelah itu,aku memasak makanan untuk kami makan siang dan makan malam.


Aku melihat jam di dinding menunjukkan pukul sebelas. Aku bergegas menuju kamar tidur kami untuk menggendong putraku, karena aku harus pergi menuju ke sekolah putriku Syakira untuk menjemputnya.


Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan sekolah putriku Syakira. Saat aku duduk di kursi yang ada di dekat gerbang sekolah, suara bel sekolah berbunyi menandakan bahwa jam pelajaran telah berakhir.


Aku melihat Putriku Syakira berlari menuju tempatku duduk.


" Hati-hati nak, ga usah lari", ucapku padanya setengah berteriak.


Dia pun berjalan perlahan menuju ke tempat dudukku.


" Ayo pulang sayang", ucapku sambil menggenggam tangannya menuju rumah kami.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di rumah kami dengan selamat.


" Kira ganti baju dulu ya sayang", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Iya ma", ucapnya sambil berlalu menuju kamarnya yang ada di samping kamarku.


Rumah kami memiliki dua kamar, ruang tamu sekaligus ruang tv, dan bagian belakang ada dapur dan kamar mandi.


Aku bergegas menuju dapur untuk mengambil makanan untuk kami makan siang ini.


Putriku Syakira makan sendiri dan aku menyuapi putraku sambil makan juga.

__ADS_1


Aku sangat bahagia dengan kehidupanku yang sekarang, karena aku bersama anak-anakku, selamanya, ucapku dalam hati.


Bersambung...


__ADS_2