Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Yang Terakhir...


__ADS_3

POV. Izal1


Seminggu berlalu, ntah kenapa hatiku tak merasa tenang, dan akhir-akhir ini Mira selalu memancing emosiku, sehingga kami sering bertengkar.


Kemaren malam, hampir saja aku memukulnya, karena dia menuntutku untuk menjual rumah kami dan memberikan uangnya untuk membeli keperluan kami di rumah ini.


Dia memang belum tahu, kalau rumah itu sudah dijual oleh Ani, istriku yang pertama.


Aku bersyukur Ani menjual rumah itu, setidaknya anak-anak kami tidak akan kelaparan, karena aku yakin, Ani bisa membahagiakan anak - anak kami, tidak seperti aku yang bodoh dan tidak bertanggung jawab, karena sudah menelantarkan mereka.


Pagi ini, saat aku tiba di kantor, aku dipanggil oleh salah satu staff administrasi. Aku bergegas menuju kantor administrasi dan mereka memberikan aku sebuah surat dari pengadilan agama negeri Sipirok.


Aku bergegas menuju ruanganku untuk membaca surat gugatan cerai yang diajukan oleh istriku Ani. Aku terdiam dan terpaku melihat surat yang sudah kubaca yang kulemparkan ke atas mejaku.


Apakah sudah berakhir...?, tanyaku sambil meneteskan air mata yang mengalir deras dari pelupuk mataku, sungguh aku sangat menyesal atas semua perbuatanku kepada istri dan anak-anakku.


Ya Allah, ampunilah aku karena sudah berbuat dzalim kepada istri dan anak-anakku, ucapku sambil menangis terisak di ruangan kerjaku.


Nasi sudah menjadi bubur, penyesalan selalu datang terlambat.


Seandainya, aku cepat menyadari kesalahan yang kuperbuat, aku tidak akan merasakan rasa bersalah dan rasa kecewa terhadap diriku sendiri, ucapku dalam hati.


Setelah puas menangis, aku segera ke kamar mandi untuk mencuci wajahku, karena aku tidak mau ada yang mengetahui kalau aku tadi menangis.


Di saat termenung sendiri di ruanganku, bawahanku datang mengejutkanku.


" Permisi pak, Pak Bowo memanggil bapak ke ruangannya", ucap bawahanku yang bernama Satria.


" Iya, aku akan segera kesana", ucapku dengan malas.


Aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju ruangan pak Bowo atasanku.


" Permisi pak ", ucapku sambil mengetuk pintu ruangannya.


" Masuk saja pak Izal", ucapnya.


Akupun segera masuk ke dalam ruangannya.


" Silahkan duduk pak Izal", ucapnya sambil menunjuk kursi yang ada di depannya.


Kemudian, akupun duduk di kursi yang ditunjuknya.

__ADS_1


" Aku tahu pak Izal sedang ada masalah pribadi, tapi masalah pribadi pak Izal jangan mempengaruhi kinerja pak Izal, saya lihat akhir-akhir ini, pak Izal sering termenung dan tidak bersemangat dalam bekerja, apa pak Izal bisa memperbaiki kinerja pak Izal?", tanyanya.


" Iya pak, saya akan memperbaiki kinerja saya, dan aku minta maaf terlebih dahulu kepada bapak, jika sudah merugikan bapak ", ucapku sambil menatapnya dengan penuh keyakinan.


" Iya pak Izal, semoga masalahmu cepat selesai, atau bapak bisa mengambil cuti apabila diperlukan?", tawarnya.


" Mungkin minggu depan akan cuti selama dua hari pak, untuk menghadiri sidang perceraianku yang pertama, tolong bapak izinkan?", tanyaku.


" Baiklah pak Izal, Minggu depan, kamu langsung melapor saja ke staff administrasi, bilang saja kalau saya sudah mengizinkan", ucapnya.


" Terima kasih banyak ya pak, atas kebaikan bapak ", ucapku sambil tersenyum padanya dan beranjak dari tempat dudukku dan keluar dari ruangan atasanku.


Aku bergegas menuju ruanganku dan meneruskan pekerjaanku untuk mencek pembukaan nasabah.


Waktupun berlalu, aku dengan wajah yang kusut, dan tidak bersemangat pulang ke rumah Mira, istri keduaku.


Lima belas menit kemudian, aku tiba di depan rumahnya. Aku keluar dari mobil dan melangkahkan kakiku menuju rumah.


" Assalamualaikum", ucapku sambil mengetuk pintu rumah.


" Iya, tunggu sebentar", ucap Mira dengan suara keras.


" Kenapa wajahmu kusut begitu bang?", tanyanya dengan lembut padaku.


Pasti ada maunya nih, ucapku dalam hati.


"Adek masak apa hari ini?", tanyaku sambil duduk di kursi tamu.


" Adek masak makanan kesukaannya Abang, ikan teri kacang pake sambal belacan, sayurnya daun ubi tumbuk pake santan bang, pasti Abang ketagihan ", ucapnya sambil tersenyum manis padaku.


Aku makin penasaran, apa yang akan dimintanya nanti sebagai imbalan.


Aku bergegas menuju dapur untuk mengambil makananku.


" Adek aja yang ngambilin, Abang duduk santai aja di kursi itu", ucapnya sambil mengambil piring yang ada di tanganku.


Aku menuruti keinginannya saja, lagian sudah ada dua minggu aku tidak dilayani seperti ini, ucapku dalam hati.


Selesai menyantap makanan yang dihidangkan oleh Mira, aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku, karena berkeringat dan bau, biar lebih segar, aku mencuci rambutku sekalian.


Setelah itu, aku bergegas menuju kamar tidur untuk memakai pakaianku yang sudah disediakan oleh Mira di atas tempat tidur.

__ADS_1


Seandainya, Mira seperti ini melayaniku setiap hari, pasti aku akan berusaha untuk menjadi suami yang lebih baik lagi.


Dulu, Ani juga melayani aku dengan baik, tanpa mengeluh sedikitpun. Dia dengan ikhlas mengurus keperluanku dan anak-anak kami dengan baik dan penuh kasih sayang, sungguh bodoh diriku yang tidak bisa melihat cinta dan ketulusannya padaku, aku lebih memilih perunggu dibandingkan emas, ucapku dalam hati.


Malam pun tiba, Mira menidurkan putranya di kamar sebelah kami. Anaknya dengan Fauzi, bernama Arya. Anaknya lumayan tampan, seperti ayahnya. Tapi, kami kurang dekat, mungkin karena aku bukan ayah kandungnya, tapi aku berusaha bersikap baik dan memberikan kasih sayangku padanya, yang tidak bisa kuberikan kepada anak -anakku.


Sungguh malang, nasib anak-anakku, mereka tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ayah lagi, jika aku dan ibunya berpisah, malahan anak orang lain yang aku berikan kasih sayangku, apa ini hukuman untuk semua perbuatanku, ucapku dalam hati sambil merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.


" Ngelamunin apa sayang", ucap Mira sambil memeluk tubuhku dari belakang.


" Abang ga ngelamunin apa -apa, Abang hanya mikirin sidang perceraian Abang dengan Ani, Minggu depan diadakan di Sipirok", ucapku sambil menghela nafas panjang.


" Apa Abang menyesal jika bercerai dengan Ani?", tanyanya dengan nada tidak suka.


Aku hanya diam dan pura-pura tidak tahu apa yang dikatakannya, karena jika kujawab, ujung-ujungnya berantem, dan aku lagi malas berantem.


Mira pun terdiam, karena tidak mendapat jawaban dariku.


Dia membalikkan tubuhku menghadapnya.


Dia mulai mencumbuiku dengan penuh gairah. Awalnya, aku tidak mau meresponnya, tapi dia dengan lihai memainkan senjata andalanku.


Akhirnya, aku membalas cumbuannya dengan penuh gairah dan semangat, sampai akhirnya kami berkeringat dan kelelahan.


Kami berpelukan mesra, setelah kami puas bercinta dengan penuh gairah.


" Bang, kalau Abang udah cerai sama Ani, kita ngesahin pernikahan kita ya, agar anak kita nantinya, bisa memiliki akta kelahiran yang sah dan diakui negara", ucapnya sambil


mencium bibirku dengan penuh gairah.


" Iya sayang, nanti kalau sudah selesai urusannya, kita ngesahin pernikahan kita ke pengadilan agama negeri, agar anak kita bisa memiliki akta kelahiran yang sah dan diakui negara ", ucapku sambil membalas ciumannya.


Maklumlah, sudah seminggu, kami tidak bercinta, sebagai pria normal, kami sangat membutuhkan pengeluaran, agar tidak mudah stress, dan selalu segar dan bugar.


Setelah puas bercinta dua ronde, kamipun tertidur lelap sambil berpelukan.


Waktu berlalu, lima hari berlalu. Besok pagi, aku akan berangkat ke Sipirok untuk menghadiri sidang perdana perceraianku dengan Ani, yang sebentar akan menjadi mantan istriku.


Inilah taqdir pernikahan kami yang harus kami jalani. Walau aku sudah menyadari rasa cintaku kepada Ani, tapi sudah terlambat, karena aku sudah menghancurkan perasaannya dan menghancurkan rumah tangga kami.


Maafkan aku Ani, semoga kamu bertemu dengan seorang pria yang baik, yang lebih tulus mencintai kamu dan bisa membahagiakanmu selamanya, ucapku dalam hati.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2