Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Pesta Pernikahan... Part 3


__ADS_3

Aku hanya diam membisu, kemudian aku beranjak dari tempat dudukku bergegas masuk ke dalam rumah, aku tidak suka orang luar ngurusin suamiku. Mungkin aku terlalu sensitif menanggapi pertanyaannya,. tapi aku tidak suka sikapnya.


Aku menemui suamiku yang masih rebahan di kamar tidur kami.


" Bang, besok Setelah pesta, aku ikut pulang aja sama Abang ya!", ucapku posesif.


" Kata Adek mau nginep dua malam disini untuk nemanin nenek", tanya bang Izal heran dengan keputusanku.


" Ga jadi bang, ntar ga ada yang nemenin Abang di rumah ", ucapku sambil memeluknya.


" Baiklah sayang", ucapnya sambil mencium keningku.


Saat adzan magrib berkumandang, kami sholat Maghrib berjamaah di ruang shalat, karena rumah orang tua bibiku lumayan luas, yang menempati rumah ini hanya orang tua bibiku dan kak Khadijah. Ayah kak Khadijah adalah kakak kandung dari bibiku. Orang tua kak Khadijah sudah lama meninggal dunia karena kecelakaan lalulintas.

__ADS_1


Selesai sholat, kami makan bersama, para tetangga sudah pulang ke rumah masing-masing, sebelum adzan magrib tadi. Aku tidak tahu mereka pulang, karena aku dan suamiku sedang istirahat di kamar.


Saat di meja makan, aku mengambilkan nasi by dan lauk pauk untuk suamiku, dan juga untuku sendiri. Aku melihat gelagat Najwa yang curi-curi pandang ke arah suamiku. Aku jadi tidak nafsu makan melihat tingkahnya itu. Aku hanya menghabiskan separuh dari nasi dan lauk pauk yang ku ambil, sedangkan suamiku dan yang lainnya makan dengan lahapnya, karena masakan bibiku memang enak.


Selesai makan malam, kami membahas acara pernikahan kak Khadijah yang dihadiri orang terdekat saja dan para tetangga. Aku menanyakan nama mempelai pria nya, tapi tidak ada yang mau mengatakannya padku, aku jadi penasaran banget untuk mengetahui namanya


" Katakan saja nek, siapa nama mempelai prianya", ucapku membujuk nenekku.


Aku makin penasaran jadinya, tapi rasa penasaranku jadi hilang dalam sekejap, karena melihat bang Izal sedang mengobrol dengan Najwa, kulihat mata si Najwa, berbinàr- binar karena direspon suamiku.


Aku menatap mereka dengan berapi-api, mungkin kalau ada asapnya, sudah keluar dari ubun- ubunku. " Ani ga usah cemburu gitu ngeliat Izal bicara dengan Najwa", ucap nenek padaku,


" Laki-laki tidak suka dengan orang yang posesif, negatif thinking, kalian jadi sering berantem gara-gara hal sepele nantinya, jangan sampai Izal jadi illfeel sama kamu, karena sifat cemburu kamu. Kalau sering berantem, makin mudah orang ketiga untuk merusak hubungan kalian, percaya aja sama suamimu, dia ga mungkin khianati kamu, apalagi kamu sedang mengandung anaknya, kasihan anakmu, jika kamu stress hanya karena cemburu buta", ujar bibiku menimpali.

__ADS_1


" Tapi bi, bang Izal belum pernah mengungkapkan rasa cintanya padaku, aku ga tau bagaimana perasaannya padaku", ucapku sedih, karena memang itu kenyataannya.


" Terkadang cinta itu tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata, cukup perbuatan saja, mungkin Izal tidak tahu cara mengungkapkan perasaannya padamu, tapi bibi tau, kalau Izal juga mencintaimu, jadi positif thinking aja ya nak", ujar bibi menasehatiku.


Aku hanya diam membisu, mencoba mencerna semua nasihat nenek dan bibiku, terkadang pikiran dan kata hati ku berlawanan, terkadang sejalan, aku jadi bingung, mungkin ini karena aku sedang hamil, jadi posesif dan sensitif seperti ini, aku jadi lelah sendiri.


" Nek, bi, aku ngantuk, aku mau tidur duluan, biarin aja bang Izal ngobrol sampai pagi sama si ganjen itu", ucapku sambil berlalu pergi ke kamar tamu.


Aku sengaja lewat dari belakang mereka, agar bang Izal tidak tau, aku pergi ke mana.


Setibanya di kamar, aku merebahkan tubuhku lelah ini, pikiranku juga lelah. Aku tidak mengunci pintu kamar, karena aku tidak mau bang Izal salah paham padaku. Akhirnya, aku tertidur lelap, dan tidak menyadari kalau...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2