Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Perpisahan yang tidak terduga... part.4


__ADS_3

Waktu berlalu, bang Izal sudah kembali ke penginapan tempat dia menginap.


Dia berjanji akan mengantarkan Syakira besok ke water park Batu Nadua untuk berlibur kembali, karena memang hari libur nasional.


Setelah itu, barulah dia kembali ke kota Medan, karena esok harinya, dia akan kembali bekerja.


Triing..Lala


trring... trring...Lala...


Ponselku berdering pelan, karena anak-anakku sudah tidur.


Sebenarnya aku sudah merasa mengantuk, tapi mungkin ada hal yang penting, yang ingin bang Izal bicarakan.


Dengan berat hati, aku mengambil ponselku dan menekan tombol hijau di layar ponselku.


" Assalamualaikum", ucapku.


" Apa benar ini ibu Ani?", tanya seorang pria padaku.


" Iya benar, saya sendiri, ada apa ya?, yang punya ponsel ini kemana, kok ada sama kamu?", tanyaku dengan perasaan was-was.


" Iya Bu, yang punya ponsel ini, sedang dirawat oleh dokter di ruang bedah, karena kondisinya sekarang kritis Bu", ucapnya.


" Astaghfirullah, Aku akan segera kesana, dirumah sakit umum kan pak?", tanyaku.


" Iya Bu", ucapnya sambil mengakhiri sambungan telepon.


Aku bergegas ke kamar pamanku.


Aku mengetuk pintu kamar mereka.


" Ada apa nak, kenapa belum tidur?", tanya Bibiku.


" Gini Bi, tadi ada yang menelpon ke ponselku dengan menggunakan ponsel bang Izal, katanya bang Izal ada di rumah sakit dalam keadaan kritis, sekarang masih ada di ruang bedah", ucapku dengan perasaan khawatir.


"Kenapa bisa nak?, tadi dia masih baik-baik saja disini, apa penyebabnya?", tanya Pamanku penasaran.


" Aku juga belum tahu paman, sekarang aku mau ke rumah sakit umum melihat keadaannya, àku titip Syakira dan Habib ya paman", ucapku sambil berjalan menuju sepeda motorku.


" Iya nak, hati-hati ya, jangan ngebut bawa motornya ", ucap Bibiku.


Aku segera mengeluarkan motor matic andalanku dari garasi pamanku, dan menutupnya kembali, dan kulihat pamanku kembali menguncinya dengan kunci cadangannya.


Aku menghidupkan mesin motorku dan melajukannya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit umum Sidempuan.


Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan rumah sakit umum.


Aku mengunci motorku, karena aku takut dicuri orang.


Aku bergegas menuju resepsionis rumah sakit.

__ADS_1


" Bu, apa ada pasien yang bernama Izal disini, katanya sedang dioperasi disini ", tanyaku.


" Apa dia korban tabrak lari yang sedang dioperasi oleh dokter Mario ya", ucap resepsionisnya.


" Apa ibu yang namanya Ani?", tanya seorang pria yang cukup tua menurutku, usianya sekitar lima puluh tahunab.


" Iya pak, saya sendiri, bapak yang menelponku tadi?", tanyaku.


" Iya Bu, maaf sudah menelpon ibu malam-malam begini, TU karena pak Izal yang memintaku untuk menelpon ibu, saat perjalanan kerumah sakit, dia masih sadar, saat tiba di rumah sakit ini, dia sudah pingsan Bu, katanya ibu adalah istrinya ", ucapnya.


Aku terdiam sejenak mendengar perkataannya.


" Bagaimana kejadiannya sehingga membuat bang Izal kondisinya kritis seperti itu?", tanyaku.


" Dia mencoba menyelamatkan aku dari sebuah kecelakaan maut yang mungkin sudah direncanakan oleh musuhku yang tersembunyi, tapi Bu Ani tidak usah takut, karena polisi sedang mengejar si penabrak lari tersebut, kemungkinan besar, kita akan tahu siapa dalangnya", ucapnya.


" Bagaimana kronologinya pak, padahal tadi, bang Izal mau kembali ke tempat penginapannya, kejadiannya dimana?", tanyaku.


" Tadi pak Izal dan aku berterima di sebuah mini market, kami tidak saling mengenal ataupun saling menyapa, tapi saat aku ingin menyeberang jalan raya untuk kembali ke mobilku, dia arah yang berlawanan, ada sebuah truk pengangkut yang melaju kencang ingin menabrakku, dan Pak Izal mungkin melihatku dalam bahaya, sehingga dia tiba-tiba mendorong tubuhku untuk menyelamatkanku, tapi tidak sempat menghindar dari truk pengangkut yang melaju kencang tersebut, sehingga dia tertabrak dan kondisinya kritis seperti saat ini ", ucapnya menjelaskan.


" Astaghfirullah..semoga Allah menyelamatkan nyawa bang Izal ", ucapku dengan mata nanar.


" Maaf Bu Ani, mungkin aku sedikit lancang, sepertinya kita pernah bertemu, tapi ntah kapan dan dimana ", ucapnya sambil mencoba mengingat -ingat.


" Iya, pak, sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya, kalau boleh tau, nama bapak siapa?", tanyaku.


" Namaku Zainal Abidin, aku dulu pernah tinggal di kota Gunung Tua, tapi saat istriku meninggal dunia, tiga tahun yang lalu, aku pindah ke Sidempuan ini, dan aku bekerja sebagai kontraktor disini", ucapnya menjelaskan.


" Astaghfirullah.. apa kamu Ani yang mengumumkan siapa yang kehilangan dompet kulit berwarna coklat dulu saat istirahat di rumah makan perhentian bus Bayang Pane dulu?", tanyanya balik.


" Iya pak, ternyata Kita bisa bertemu lagi ya", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Iya, padahal sudah ada delapan tahun ya sudah berlalu ", ucapnya.


Di saat kami sedang mengobrol, seorang perawat keluar dari ruang operasi.


"Apa ada yang bernama Ani disini?", tanya perawat tersebut.


" Saya sendiri bu", ucapku sambil berjalan mendekatinya.


" Pasien sudah melewati kondisi kritis, sekarang dia akan kami pindahkan ke ruang ICU untuk pemeriksaan lebih lanjut, apa ibu sudah menyelesaikan administrasinya?", tanya perawat tersebut.


" Semuanya sudah selesai bu, kalian tangani saja Pasien dengan baik, agar dia lekas sembuh ", ucap pak Zainal Abidin menanggapi percakapan kami.


" Baiklah kalau begitu, Bu Ani bisa ikut kami ke ruang ICU untuk memantau kondisi suami ibu", ucapnya.


Kamipun mengikutinya dari belakang.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan ruang ICU.


Para perawat membawa bang Izal masuk ke dalam ruang ICU. Aku melihat wajahnya yang pucat dan tubuhnya yang terlihat lemah tidak berdaya.

__ADS_1


Semoga kamu lekas sembuh bang Izal, ucapku dalam hati sambil melihatnya dengan perasaan sedih.


" Ani, aku pamit dulu ya, karena aku harus mengurus hal yang penting, kalau ada apa-apa, tolong hubungi aku ya, sini biar ku ketikkan nomor ponselku", ucapnya sambil mengulurkan tangannya padaku.


Aku memberikan ponselku padanya, dan dia mengetikkan nomor ponselnya dan memanggil nomor ponselnya dengan menggunakan ponselku.


Setelah itu, dia pamit kepadaku. Akupun mengiyakan kepergiannya.


Aku menunggui bang Izal sambil duduk di kursi rumah sakit yang ada di dekat ruang ICU, agar aku bisa memantau kondisi bang Izal setiap saat.


Waktu berlalu, aku melewati malam ini dengan rasa khawatir akan keselamatan bang Izal dan keadaan anak -anakku, bagaimana jika bang Izal meninggalkan dunia ini, anak -anakku akan menjadi anak yatim, sama seperti aku, tidak akan merasakan kasih sayang dari seorang ayah.


Apa aku terlalu egois, jika ingin berpisah dari suamiku yang tidak menghargai perasaanku, selalu menyakiti perasaanku, ucapku dalam hati yang berkecamuk penuh tanda tanya.


Akupun tertidur lelap di atas kursi panjang rumah sakit, tanpa selimut atau bantal.


Adzan shubuh pun berkumandang di aku terbangun dari tidurku.


Aku menemui perawat penjaga ICU untuk pamit pulang ke rumah pamanku untuk melihat anak -anakku, karena aku takut mereka akan menangis histeris, jika tidak melihatku pagi ini.


Setelah meminta nomor ponselnya,.aku bergegas ke parkiran motorku. Aku menghidupkan mesin motorku dan melajukannya dengan kecepatan sedang.


Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan rumah pamanku.


" Assalamualaikum", ucapku sambil mengetuk pintu rumah pamanku.


" Wa alaikum salam", ucap bibiku sambil membuka pintu rumahnya.


" Untung saja kamu udah disini Ni, dari tadi Habib sudah bangun dan menangis mencari kamu di seluruh ruangan rumah ini", ucap Bibiku dengan nada khawatir.


" Maaf ya Bu, udah merepotkan Bibi, sekarang bang Izal sedang dirawat di ruang ICU, karena dia belum siuman setelah operasi", ucapku sambil bergegas menuju kamar tidur tempat putraku Habib menangis.


" Sayangku Habib", ucapku sambil menggendongnya dan mencoba membujuknya.


" Mama Cemana?", tanyanya sambil menangis.


" Mama nengokin ayah sayang ke rumah sakit", ucapku sambil terus membujuknya dengan kue yang ada di kulkas Bibiku.


" Ooh..", ucapnya sambil menyantap kue yang kuberikan.


Setelah Habib menghabiskan kuenya, Syakira tiba-tiba terbangun sambil menangis terisak mencari ayahnya.


" Kamu kenapa nak?", tanyaku sambil memeluknya.


" Ma,aku mimpi buruk tentang ayah ma", ucapnya sambil memeluk tubuhku dan menangis.


" Ayah baik -baik saja kok sayabg", ucapku sambil memeluknya erat, agar dia bisa tenang.


" Apa benar ma, ayah baik-baik saja?", tanyanya sambil melepaskan pelukanku dan menatap wajahku.


Akupun merasa dilema, apa aku harus mengatakan hal yang terjadi pada bang Izal ?, tanyaku dalam hati.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2