
Tiga hari berlalu!
Hari ini adalah hari Kamis, hari dimana aku akan mengatakan keputusan akhir tentang lamaran bang Zainal.
" Dek, nanti malam Abang datang ya!", ucapnya melalui sambungan telepon seluler kami.
" Iya bang, datanglah kemari", ucapku sambil tersenyum.
Yah!, setiap pagi selama tiga hari ini, dia selalu menelpon ataupun mengirimkan SMS padaku, bahkan lebih perhatian akhir-akhir ini.
Mungkin, dia ingin aku semakin yakin untuk menerima lamarannya.
Saa ini, aku sedang melayani pembeli di warungku. Sedangkan putriku Syakira dan Syifa sedang menonton televisi. Habib sekarang masih berada di sekolahnya.
Waktu pun berlalu, aku melihat jam di dinding menunjukkan pukul dua belas siang. Saatnya untuk menjemput putraku Habib ke sekolahnya.
" Kira, jagain jualan bentar nak!, mama mau jemput adekmu Habib ke sekolahnya!", ucapku dengan suara keras.
" Iya ma!", ucapnya sambil mendatangiku.
Akupun bergegas menuju motor matic milikku dan menaikinya.
Setelah menghidupkan mesin motorku, aku melajukannya dengan kecepatan sedang menuju sekolah Habib.
Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan sekolahnya dan memanggilnya, karena dia sudah berdiri di depan gerbang sekolahnya untuk menungguku.
" Bib, udah lama pulangnya nak?", tanyaku setelah dia duduk di belakangku.
" Lumayan lama ma, karena ujian kami cuma satu mata pelajaran ma, jadi cepat selesainya", ucapnya.
" Ooh!, kok ga naik becak motor aja tadi nak, biar ga kelamaan nunggu mama, ongkos becaknya kan bisa mama bayar di rumah ", ucapku.
" Iya ma, Habib ga kepikiran tadi buat naik becak motor ma, sempat bosan juga tadi nungguin mama datang, mau jalan kaki pulang ke rumah, takut mama marahin!", ucapnya.
" Sekali lagi, kalau cepat pulangnya, naik becak motor ya nak!, sebenarnya mama ga marah kalau kamu pulang ke rumah dengan jalan kaki, tapi menurut mama kurang aman sayang, apalagi sekarang musim penculikan anak -anak, jadima khawatir aja kamu pulang sendirian jalan kaki, ntar kalau naik becak motor, tengok dulu supir becaknya, kenal atau ga, ingat ya nak!", ucapku sambil melajukan motor matic milikku.
" Iya ma, akan Habib ingat semua nasihat mama!", ucapnya sambil memeluk tubuhku dari belakang.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah kami.
Setelah memarkirkan motor, kami bergegas turun dari motor dan segera masuk ke dalam rumah.
" Habib ganti baju dulu ya ma!", ucapnya.
" Iya nak", jawabku.
" Ma, Syifa lapar ma", ucapnya sambil memeluk tubuhku.
" Tunggu ya nak, mama ambilin dulu makanannya", ucapku sambil berlalu pergi menuju dapur untuk mengambil makanan untuk Syifa.
Aku menaruh nasi dan lauk pauknya ke atas piring dan membawanya ke ruang tv.
" Sini nak, makan sambil nonton tv aja", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Iya ma", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Mama suapin ya sayang!", ucapku sambil menyuapinya.
__ADS_1
Selesai menyuapi Syifa, aku meminta Habib untuk makan siang terlebih dahulu.
Aku bergegas menuju warung untuk menemui Syakira.
" Kira, sana makan siang dulu nak, ntar gantian sama mama!", ucapku.
" Mama aja duluan makan siangnya, ntar maag mama kambuh kalau telat makan", ucap nya.
" Baiklah nak, mama makan siang duluan ya sayang", ucapku sambil berlalu pergi menuju dapur.
Setelah kenyang menyantap makananku, aku bergegas mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat Dzuhur.
Selesai sholat, aku berjalan menuju warung untuk menemui putriku lagi.
" Udah nak, sana makan siang dulu, mama udah selesai, jangan lupa sholat Dzuhur ya setelah makan siang, atau sholat dulu baru makan, terserah Kira aja ya nak!", ucapku.
" Iya ma", ucapnya sambil berlalu pergi menuju dapur.
Waktu berlalu, siang berganti dengan sore hari.
Setelah menutup warung, aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dan mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat ashar.
Setelah sholat ashar, aku merebahkan tubuhku di atas ranjang.
Aku masih ingat dengan jelas tentang mimpiku tadi malam setelah melaksanakan sholat istikharah.
Aku tersenyum mengingat wajahnya yang selalu datang ke dalam mimpi selama tiga malam ini.
Semoga itu adalah petunjuk dari Allah SWT untuk mengatasi kebimbanganku akhir -akhir ini, ucapku dalam hati.
" Iya nak, ada apa ?", tanyaku masih terbaring di atas ranjang.
" Ada seseorang yang mencari mama", ucapnya.
" Iya sebentar nak", ucapku sambil beranjak dari pembaringanku.
"Siapa ya nak?", tanyaku penasaran sambil berjalan menuju ruang tamu.
" Ani!", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Kak Dewi ya?", tanyaku terheran -heran.
Diapun langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekatiku dan kamipun saling berpelukan.
" Kak Dewi, gimana kabarnya?", tanyaku sambil menangis dalam pelukannya. Tak kusangka, kami akan bertemu kembali.
" Alhamdulillah, kakak sehat dek, kalian sehat-sehat juga kan?", tanyanya sambil melepaskan pelukannya.
" Alhamdulillah kami juga sehat kak, Kapan Kakak datang?, Darimana kakak tahu kalau aku tinggal disini?", tanyaku bertubi-tubi.
" Aku jawab satu -persatu aja ya Ni!", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Ya udah, ayo duduk kak!", ajakku.
" Ini ada oleh-oleh untuk anak-anakmu", ucapnya sambil memberikan kantung plastik hitam yang berukuran sedang.
" Ya ampun kak, malah ngerepotin kakak pake bawa oleh-oleh, makasih ya kak oleh-olehnya", ucapku sambil tersenyum padanya.
__ADS_1
" Kira, bawa kantung plastik ini ke dapur ya nak, buatin minum untuk tante Dewi ya!", ucapku.
" Iya ma!", ucapnya sambil berlalu pergi menuju dapur dengan membawa kantung plastik hitam tersebut.
" Syakira udah besar ya dek, dia udah kelas berapa sekarang?", tanyanya.
" Dia baru tamat Sekolah Dasar kak, rencananya, aku mau daftarin dia ke Pesantren Tahfidzul Qur'an yang ada di kota Medan", ucapku.
" Alhamdulillah, bagus donk dek, kalau anak kita disekolahkan ke pesantren, Inshaa Allah, akidah akhlak dan imannya akan terjaga, apalagi jaman sekarang, sudah mendekati akhir zaman dek, jadi kita perlu memperbanyak ibadah kepada Allah SWT dan memperbaiki iman dan taqwa kita kepada Allah SWT ", ucapnya.
" Iya kak, makanya aku berinisiatif untuk menyekolahkan Syakira ke pesantren, dan Habib juga berminat untuk sekolah ke pesantren, jika dia sudah lulus sekolah dasar ", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Habib, putramu yang masih bayi dulu sewaktu kamu masih bersama Izal dulu kan?", tanyanya.
" Iya kak, sekarang dia sudah kelas dua SD, bentar lagi naik kelas dua ", ucapku.
" Tadi ada anak cewek umur tiga tahun, itu namanya siapa?", tanyanya.
" Itu namanya Syifa, Putriku kak", ucapku.
" Ooh!, putrimu dengan Izal ya?", tanyanya.
" Iya kak", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Ma, Tante Dewi kenal sama ayah?", ucap Syifa sambil duduk disampingku.
" Iya sayang, Tante kenal sama ayahmu, dulu sewaktu ayah dan mamamu tinggal di Medan, kami bertetangga dekat ", ucap kak Dewi sambil tersenyum padanya.
" Ayahku ganteng kan Tante?, soalnya aku cuma melihat wajah ayah dari fotonya saja", ucapnya sambil menunjukkan foto yang dibawanya.
" Iya sayang, ayahmu ganteng kok, sama kayak yang di foto itu ", ucapnya sambil menunjuk foto yang ada di tangannya Syifa.
" Gimana kak, kakak kapan datang kesini?", ucapku mengalihkan pembicaraan kami.
" Ooh, Kakak nyampe Sidempuan ini tadi pagi, dan beristirahat di rumah om nya Kakak, dan aku melihat ada fotomu dipajang om nya Kakak di kamarnya, jadi kakak menanyakan alamatmu pada om nya Kakak", ucapnya sambil tersenyum padaku, dan semakin membuatku penasaran.
" Emangnya, siapa nama om nya kak Dewi?", tanyaku.
" Namanya Zainal Abidin", ucapnya.
Aku langsung kaget mendengar ucapannya.
"Astaghfirullah, ternyata BG Zainal, adalah om Kakak?", tanyaku meminta kepastian.
" Iya dek, jujur saja, kakak juga kaget melihat ada fotomu dipajang dikamarnya, kemudian aku menanyakan alasan mengapa ada fotomu, ternyata om Zain juga kaget mendengar pertanyaanku, dan menanyakan mengapa aku bisa mengenal dek Ani, lalu aku menceritakan tentang persahabatan kita, sehingga aku bisa mendapatkan alamat rumahmu ini dari om Zain", ucapnya.
" Ooh, begitu ceritanya ", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Emangnya, adek pikir apa?", tanyanya.
" Ga ada kok kak", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Ngomong -ngomong, Om Zain bilang, kalau dia sudah melamar adek, apa jawaban adek atas lamaran om ku?", tanyanya dengan nada penasaran.
" Ooh, itu rahasia donk...!", ucapku sambil tersenyum padanya.
bersambung....
__ADS_1