Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Taman Belakang


__ADS_3

Ken masih memimpin jalan sementara Kinar mengekor dari belakang. Ken berhenti tepat di depan pintu dan memegang kedua gagang pintu lalu membukanya.


“Silakan Nyonya, ini taman belakang dari mansion Tuan Dika” Ken menggerakkan tangan seperti memberi isyarat agar Kinar melangkah lebih dulu, memilih tempat duduk yang sekiranya nyaman untuk Kinar.


Begitu pintu terbuka mata Kinar terbelalak, kini pandangannya menangkap taman berukuran luas dengan berbagai jenis bunga, ada kolam ikan berukuran cukup besar, dengan bunga teratai yang sedang bermekaran di atas kolam itu. Sesaat rasa sakit di hatinya hilang begitu saja, berganti dengan perasaan nyaman dan tenang. Kinar memejamkan mata, menghirup udara yang begitu sejuk. Berkali-kali ia menarik napas dan menghembuskan perlahan.


Kakinya terus melangkah, sampai menemukan beberapa kursi yang terpasang rapi.


Wahh ada ayunan juga, ternyata tempat ini tidak seburuk itu. Batin Kinar


Kinar menghampiri kursi yang berbaris rapi dan mengangkat salah satu kursi. melihat Kinar mengangkat kursi Ken merasa tidak enak hati “Biar saya yang mengangkat kursi itu Nyonya, mau di bawa kemana kursinya?” Ken berusaha mengambil kursi dari tangan Kinar. Namun Kinar menggelengkan kepala sembari tersenyum.


“Tidak perlu Ken, kau ambil saja kursi untukmu. Dan ikuti aku.” Kinar kembali mengangkat kursi itu dan meletakkannya tepat di depan kolam ikan. Ken segera berhambur, mengambil salah satu kursi dan membawanya ke tempat yang sama. Di mana Kinar sedang duduk sembari tersenyum, matanya kembali terpejam. Pelan sekali Ken meletakkan kursi itu, ia tidak ingin membuat Kinar membuka mata hanya karena suara langkahnya.


“Ken.” Kinar mengambil kalimat pertama, matanya masih memandang ke arah kolam ikan.


“Iya Nyonya.” Ken masih berdiri di samping Kinar, sementara kursi yang di bawanya dibiarkan kosong.


“Duduklah, untuk apa kau membawa kursi jika kau sendiri terus berdiri?” Kinar menggerakkan kepala, memberi isyarat agar Ken segera duduk. Ragu Ken masih dalam posisi berdiri. “Tapi Nyonya, saya tidak boleh duduk di samping Nyonya.” Ken menundukkan kepala.


Sepertinya, Dika benar-benar menakutkan. Hanya meminta Ken duduk di sampingku, itu pun dengan jarak yang cukup jauh. Tapi Ken terlihat sangat ketakkutan.


Batin Kinar.


“Baiklah Ken, lakukan apa pun yang menurutmu benar. Ken apa aku boleh bekerja paruh waktu?”


Ken terkejut mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Kinar. Untuk apa Nyonya rumah ini bekerja. Dia hanya perlu meminta, maka semua permintaannya akan di berikan Tuan. Pikir Dika


“Itu, sepertinya harus Nyonya katakan sendiri pada Tuan. Saya tidak bisa memutuskannya Nyonya” Ken mencoba menjelaskan.


“Jam berapa biasanya Tuan pulang?” tanya Kinar

__ADS_1


“Tidak tentu Nyonya, terkadang sore sudah pulang. Terkadang tengah malam atau bahkan dini hari Tuan baru pulang.” Jawab Ken sopan


“Haaah....” Kinar kembali menghela napas “Oh, hampir lupa. Apa daerah ini bisa di lewati kendaraan umum Ken?” Kinar kembali bertanya tanpa mengubah posisi tubuh, dia tetap tersenyum setiap kali matanya melihat ikan di dalam kolam yang saling berkejaran.


“Seperti yang Nyonya lihat hari ini, mansion Tuan terletak di area khusus. Hanya ada hutan di kiri kanan jalan, ini area milik keluarga Mahendra. Jadi kendaraan umum tidak mungkin bisa memasuki area ini Nyonya” Ken menjelaskan sopan, masih berdiri di belakang Kinar.


“Lalu bagaimana dengan kuliahku Ken?” sebenarnya Kinar tahu betul, berada dalam cengkraman tangan Dika benar-benar menakutkan, bahkan semua akses untuk sedikit kebebasannya saja tidak ia dapat. Tetapi, pesan ayahnya selalu terngiang di telinga Kinar.


Menjadi istri yang baik, menjadi istri yang baik. Seperti itulah Kinar terus meyakinkan hatinya, seperti sedang merapal doa.


“Nyonya akan diantar oleh Pak Budi, supir pribadi yang dipersiapkan Tuan untuk mengantar Nyonya kemana pun Nyonya pergi.” Jawab Ken.


“Ke mana pun?” Sumringah Kinar memalingkan wajahnya, menatap Ken yang seketika menundukkan kepala ketika pandangannya beradu dengan Kinar.


“Iya Nyonya, selain mengantar Nyonya ke kampus. Pak Budi bisa mengantar Nyonya ke tempat lainnya, nanti pak Budi akan melaporkaan pada Tuan.” Ken masih menundukkan kepala.


“Apa maksudmu dengan kalimat melaporkan pada Tuan, Ken?” Tanya Kinar


“Jadi, jika Nyonya ingin diantar ke tempat lain selain ke kampus. Misalnya ke tempat teman Nyonya, maka Pak Budi akan melapor kepada Tuan Dika dan meminta persetujuannya. Jika Tuan setuju maka Pak Budi akan mengantar Nyonya, begitu pun sebaliknya.” Dengan berat hati Ken mengatakan kalimat yang mungkin akan membuat Kinar merasa tertekan.


"Hahahaha.. Ini rumah atau penjara Ken?” Kinar tertawa terbahak-bahak sampai pundaknya bergerak naik turun, tak berapa lama tawa itu berganti tangis. Napasnya tersengal, segera ia menyapu bersih air mata yang mulai turun satu-persatu membasahi pipinya.


“Maafkan saya Nyonya.” Ken tertunduk lesu.


“Kenapa kau harus minta maaf Ken, setiap manusia memiliki takdirnya masing-masing. Dan ini adalah takdirku” Kinar memalingkan wajahnya, lalu tersenyum. Ia mengerti Ken hanya bawahan yang tidak bisa berbuat apa-apa. “Oh, hampir lupa. Ada apa dengan kamarku Ken, letaknya benar-benar di ujung. Ukurannya benar-benar kecil jika di bandingkan dengan semua ruangan yang ada di mansion ini.”


Ken menghela napas panjang, sepersekian detik ia membuka mulutnya. Kalimat sepahit apa pun jika itu sebuah kenyataan, tetap harus dikatakan. “Sebenarnya kamar Nyonya semula adalah gudang alat-alat musik yang sudah tidak digunakan Tuan, tapi.” Belum sempat Ken menyelesaikan kalimat Kinar sudah memotongnya.


“Tapi diubah menjadi kamar untuk aku tempati, begitu?” Kinar kembali tertawa, tangan kirinya menutupi bagian mulut sementara tangan kanannya menepuk bagian samping kursi.


“Itu...” Ken tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun, Ken yakin betul jika wanita lain yang di perlakukan sekejam ini. Mungkin sudah melarikan diri atau bahkan melawan, tapi Kinar seperti memiliki kekuatan besar.

__ADS_1


“Baiklah Ken, aku mengerti.” Tawa di bibir Kinar dalam sekejap menghilang. Ketegaran nampak jelas di wajah Kinar.


“Oh iya Nyonya, selain supir pribadi yang siap mengantar Nyonya kapan pun. Nyonya juga memiliki pelayan pribadi, namanya Bibi Ane. Nanti akan saya perkenalkan.” Ken tersenyum sopan.


“Apa pun itu Ken, terserah Tuanmu saja. Aku hanya tamu di sini. Dan aku harus mengikuti perintah Tuan rumah, begitu lebih baik agar aku tidak meminta terlalu banyak.” Kinar memjamkan mata, mengingat kembali masa-masa lajang yang penuh dengan canda tawa. Masa yang telah berakhir, berganti dengan dunia yang entah akan seperti surga atau sebaliknya.


“Nyonya jangan beranggapan jika Tuan itu kejam, Tuan adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab.” Ken masih menundukkan kepalanya.


Hahahaha... “Iya-iya aku tahu itu, Tuan adalah laki-laki terbaik yang pernah aku temui. Kau puas Ken?” Kinar kembali terbahak.


Aku berkata jujur Nyonya, sebenarnya Tuan itu orang yang baik. Batin Ken


“Pergilah Ken, aku ingin menikmati udara segar di sini.” Kinar, mengibaskan tangan tanpa mengubah posisi tubuhnya.


Ken hanya mengangguk sopan dan berlalu pergi meninggalkan Kinar.


Kinar menyandarkan tubuhnya di punggung kursi, meluruskan kaki. Menutup mata rapat-rapat agar tak terlintas bayang-bayang kebahagiaan yang telah berlalu, ia menarik napas panjang dan menarik sudut bibirnya.


\=\=\=>Bersambung 💕💕


Jangan lupa klik Like 🖒


Tinggalkan komentar 💬


Klik Favorit ❤


Klik beri Tip & Vote


Kasih bintang 5 buat Author.


Dan Follow akun author.

__ADS_1


__ADS_2