Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Surat Cinta Untuk Kinara


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul lima sore. Amanda dan Ken sudah kembali dari minimarket, begitu juga dengan Kinara dan Mirna yang berhasil memanen beberapa hasil kebun seperti kangkung dan sawi. Tak lupa pisang kepok yang sudah setengah matang pun diangkut untuk dibuat pisang goreng esok nanti.


Kinara sudah memantapkan niatnya untuk memberi tahu perihal perlakuan Dika selama ini kepadanya, kesabaran Kinara sudah habis untuk menutupi semua itu dari Ibunya. Besok adalah waktu yang dipilih Kinara, lagipula malam ini dia harus istirahat dan membuka map coklat dari Agra.


Suasana kampung yang tenang selalu membawa kedamaian dan kerinduan di hati Kinara.


Sepuluh menit sebelum adan magrib berkumandang, di masjid sudah terdengar lantunkan ayat suci Al-Qur’an.


Orang-orang bergegas menutup pintu dan jendela, lampu-lampu mulai dinyalakan. Beberapa sudah berangkat ke masjid untuk melakukan sholat magrib berjamaah.


“Manda, berikan sarung dan topi untuk Mas Ken,” titah Mirna sembari menyodorkan sarung yang baru dikeluarkan dari dusnya.


Sarung itu masih baru, belum sempat dipakai oleh suaminya. Mirna sampai meneteskan air mata ketika mengingat almarhum suaminya.


“Baik, Bu.”


Amanda menerima itu dan segera berjalan menuju kamar tamu, rumah mereka memang tidak terlalu besar, tetapi mereka memiliki kamar khusus tamu. Hal ini karena Kinara dan Amanda sering membawa teman-teman mereka untuk menginap.


Ken sedang merebahkan diri di atas kasur, memegang smartphone sembari memeriksa beberapa pekerjaan yang tertunda selama dirinya menginap di rumah Kinara.


Ken sedang serius menatap layar poselnya sampai suara ketukan pintu membuat Ken terkesiap dan harus bangun dari ranjang.


Klak ...!


“Ada apa, Manda?” sapa Ken begitu pintu kamarnya terbuka.


Amanda tersenyum lalu berucap, “Ini.” Menyodorkan sarung dan topi. “Kata Ibu nanti kita sholat magrib berjamaah, biasanya Ibu yang mengimami sholatku. Tapi karena ada Mas Ken, jadi Ibu minta Mas yang mengimami. Apa tidak masalah?”


Glek ... Ken menelan salivanya, semoga Amanda tidak melihat itu. Ken bukan tidak bisa mengimami sholat, dia bisa melakukannya.


Didikan orang tua Ken cukup keras, dia pernah mengenyam pendidikan di pesantren, meskipun hanya dua tahun, tapi cukup untuk membuat Ken mengerti tata cara dan aturan mengimami sholat.


Namun, Ken sudah lama tidak melakukan itu. Mengimami sholat bukan hanya perkara bisa, tetapi juga harus paham betul arti dari Imam itu sendiri.


“Loh, kenapa, Mas? Apa, Mas ....” Amanda diam, memutar bola matanya. Dia tidak bisa melanjutkan kalimat itu, mungkin sebuah kesalahan juga karena dia mengucapkannya.


Ya Tuhan, seharusnya aku tidak mengucapkan itu, Mas Ken orang kota, mungkin saja dia tidak tahu caranya sholat, atau tidak paham bacaannya, batin Amanda.


Tidakkah dia terlalu kejam menghakimi Ken.


“Baiklah, Mas siap-siap dulu, nanti Mas keluar.” Ken tersenyum. Amanda mengangguk, berbalik badan, dan mengurut dadanya karena merasa lega. Beruntung Ken tidak tersinggung dengan sikap dan kalimatnya itu.


Apa aku sudah salah paham, ya ampun memang benar jika kita dilarang menilai seseorang dari asal dan penampilannya saja, batin Amanda.


Sepuluh menit berlalu, Ken benar-benar keluar untuk mengimami sholat mereka. Mirna hampir tidak percaya jika Ken bisa sebaik itu dalam membaca Al-Qur’an, Mirna pikir karena Ken adalah orang kota yang jauh dari tuntunan agama.


Ternyata Mirna salah, padahal Mirna juga tidak berniat memaksa Ken. Jika Ken mau, dia bisa menolak itu, tidak masalah bagi Mirna, tetapi Ken justru melakukannya dengan baik dan berhasil membuat Mirna kagum.


Bukan hanya Mirna yang kagum, Kinara sampai menggelengkan kepala karena tidak percaya Ken yang selalu berkata bijak itu benar-benar bisa melakukannya.

__ADS_1


Kinara sempat mengacungkan jempol ketika tanpa sengaja Ken menoleh dan keduanya beradu tatap. Kontan tindakan Kinara itu membuatnya harus menahan malu, Ken sendiri tidak mengerti kenapa Kinara seolah-olah sedang menguji seberapa baiknya Ken untuk Amanda.


Amanda sendiri tidak merasakan apa pun, dia terlalu polos untuk mengerti tatapan mata Ken yang memiliki beribu arti. Bagi Amanda tatapan mata Ken sama seperti tatapan mata seorang guru di sekolahnya, memangnya seperti apalagi tatapan pria dewasa? Bukankah selalu sama! Pikir Amanda.


Selepas acara makan malam, Amanda memilih masuk ke dalam kamar untuk belajar, Mirna memilih tidur lebih dulu. Sementara itu Ken lebih memilih duduk di teras rumah, menikmati suasana pedesaan sembari mengerjakan tugas kantor yang bisa dia kerjakan, untung saja dia selalu membawa laptop di mobilnya. Setidaknya setelah Ken kembali, pekerjaan kantornya tidak terlalu menumpuk.


Dan Kinara, tentu saja dia sedang di dalam kamarnya.


Kinara duduk di tepi ranjang, mengatur ritme napasnya. Dia melirik tas slempang yang tergeletak di meja belajarnya, Kinara segera meraih tas itu dan membawa duduk di atas kasur. Dia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, memposisikan diri senyaman mungkin agar bisa lebih tenang ketika membuka isi map yang diberikan Agra.


“Tuhan, semoga kau mempermudah segala urusanku sebagaimana aku selalu berusaha mempermudah urusan orang lain,” gumamnya.


Map coklat itu sudah berpindah dari dalam tas ke tangannya. Kinara memutar pengaitnya dan mengeluarkan isi di dalamnya secara perlahan. Mata Kinara membulat sempurna begitu dia melihat apa saja yang ada di dalam map itu.


Hasil visum atas kekerasan yang Dika lakukan padanya, foto kemesraan Dika dan Carissa, bukan hanya foto yang berhasil Kinara ambil hari itu, tetapi masih banyak foto yang lainnya. Dahi Kinara berkerut, entah dari mana Agra mendapatkan semua foto itu.


Tidak hanya foto dan hasil visum, ada juga flashdisk yang berisi video Dika dan Carissa, setidaknya bukti itu cukup untuk menyeret Dika ke pengadilan, atau jika memang ingin dibicarakan secara pribadi, Kinara bisa menggunakan semua bukti yang dia pegang untuk mengancam Dika agar bersedia melepaskannya.


“Apakah aku harus bertindak sampai sejauh ini hanya untuk melepaskan diri darimu, Dika?” gumamnya, ada sedikit keraguan yang menyelusup ke dalam dadanya.


Kinara meletakan lagi semua bukti itu di samping tubuhnya, dia menutup mata dengan kedua tangannya untuk beberapa menit dan mengembuskan napas panjang.


Satu-satunya keraguan yang dia rasakan saat ini hanyalah karena pernikahan antara dia dan Dika disaksikan langsung oleh almarhum Ayahnya dan Dika adalah suami yang dipilihkan Ayahnya.


Kinara berjalan mendekati jendela kamarnya yang langsung menghadap jalan setapak depan rumah.


Malam itu langit cukup teduh dengan gugusan bintang yang berkelap-kelip di atas sana, hanya tinggal beberapa hari saja bulan akan membulat sempurna. Embusan angin yang cukup kencang membuat dedaunan bergoyang.


Kinara menatap lagi bukti-bukti yang dipersiapkan Agra untuk menguatkan pilihannya, sampai sebuah kertas berwarna merah muda meluncur jatuh dari tangannya. Teronggok di atas lantai mengusik rasa penasaran Kinara.


“Eh, apa ini?”


Tidak ada tulisan untuk siapa surat itu ditunjukan. Ragu, tetapi Kinara memilih untuk tetap membukanya.


“Surat? Apa mungkin dari Agra?”


Iya,


kertas merah muda itu adalah surat dari Agra untuk Kinara. Perlahan Kinara membuka surat itu dan memebaca kata demi kata yang ditulis tangan oleh Agra.


Dear, Kinara.


Apakah aku terlalu lucu untuk menulis sebuah surat? Kau tahu ‘kan, saat ini dunia sudah sangat berkembang, teknologi juga sudah maju pesat. Aku bisa mengirimi dirimu pesan whatsapp, atau menghubungimu via telepon, bahkan mengirimi kau DM.


Kenapa aku harus repot-repot menulis surat ini untukmu, dengan tinta dan tanganku yang gemetar ketakutan ini?


Kinara, dengan segenap kekuatan dan keyakinan yang aku miliki. Aku mencoba memberimu sebuah kesempatan untuk memilih.


Aku tidak pantas menyebut dirimu sebagai kekasihku. Kau bukan milikku, aku hanya mencintaimu, belum memilikimu, juga tidak pernah tahu apakah kau juga mencintaiku.

__ADS_1


Aku memberimu beberapa bukti untuk kau berikan kepada Ibumu. Namun, jika aku boleh memberimu saran, sebaiknya jangan kau berikan bukti itu pada Ibumu. Beliau akan merasa sangat sedih dan bersalah ketika tahu anak kesayangannya diperlakukan dengan tidak manusiawi. Oleh menantunya, pilihan suaminya sendiri.


Kenapa aku melakukan ini? Bukankah lebih bagus jika Ibumu tahu, maka kau akan berpisah dari suamimu dan aku bisa memilikimu.


Tidak, Kinara. Egoku mungkin sangat besar, tetapi hatiku tidak sekejam itu. Aku bisa menyakiti suamimu, menghancurkannya sampai ke dasar, tapi tidak dengan dirimu dan keluargamu.


Aku harap kau bisa menggunakan cara lain untuk memberi tahu Ibumu, Tuhan akan selalu membantu hamba-Nya yang kesusahan. Jika memang tidak ada pilihan lain, maka kau boleh menggunakan senjata terakhir yang aku berikan itu.


Kinara, selepas membaca surat dariku aku tidak ingin kau bimbang untuk menentukan pilihan. Aku mencintaimu tanpa perlu balasan darimu, jika pada akhirnya kau tetap memilih bersama suamimu. Aku bisa mengerti dan menerima dengan lapang dada.


Jangan memilihku hanya karena kau merasa kasihan denganku, aku tidak butuh belas kasihmu untuk urusan hati. Cinta dan perasaan kasihan memang memiliki jarak yang berdekatan, jadi aku harap kau tidak salah menentukan pembatas di antara jarak itu.


Kinara, jika aku tidak bisa memilikimu di kehidupan ini. Semoga aku bisa memilikimu di kehidupan berikutnya, karena sepertinya aku sudah menghabiskan perasaan cintaku dan kutumpahkan seluruhnya hanya untuk mencintaimu.


Aku tahu, haram hukumnya untukku mengucapakan kata cinta kepadamu. Kau milik laki-laki lain, sebagaimana ikatan suci itu sudah mengikatmu. Namun biarlah aku bersalah untuk sekali ini saja, bolehkah?


Sungguh aku sangat mencintaimu, Kinara. Jika kau tidak juga memilihku sebagai pilihan hatimu, kau tetap bisa memilihku sebagai tempat istirahatmu ketika kau lelah menghadapi kejamnya dunia. Aku akan di sini, tetap ada untukmu membagi luka.


Jika aku telah beristrikan wanita lain, kau juga tetap memiliki tempat yang paling penting di hatiku. Tidak terusir oleh apa pun atau siapa pun, kau tetap menjadi kebangganku. Selamanya.


Apakah aku berkata melampaui kekuasaan Tuhan? Tolong maafkan aku, aku hanya ingin kau mengerti jika rasa cintaku bukan seperti aku ingin menjadikan dirimu kekasihku seperti yang sudah-sudah. Lalu setelah aku puas aku akan pergi meninggalkanmu tanpa permisi.


Tidak, kinara. Aku mengatakannya karena aku ingin menjadi persinggahan terakhirmu, menjadikan diriku sebagai laki-laki yang layak untuk membimbingmu atau setidaknya aku bisa memperlakukan dirimu selayaknya wanita yang paling berharga. Terjaga, baik harkat maupun martabat sebagai seorang istri.


Akhirnya kita telah sampai di penghujung keputusan, begitupun ujung surat ini sudah mulai terlihat. Aku hanya memintamu untuk berpikir sejenak, renungi apa yang menurutmu baik, berundinglah dengan Tuhan karena Dia selalu memiliki keputusan yang tepat. Pernikahan bukan hanya sekadar menepati janji, lebih dari itu kau harus menemukan surga di dalamnya.


Jika kau menemukan surga dalam diri suamimu, kau boleh tidak memeilihku. Namun jika kau hanya menemukan neraka di dalamnya, mungkin saja surgamu ada pada diriku.


Sekali lagi, jangan mengasihani diriku yang lemah karena mencintaimu. Pilihlah apa yang menurut hati dan nuranimu baik.


Agra Grissham.


\=\=\=> Bersambung....


.


.


Sapa naroh bawang di sini 😭 Nemuin cowo kayak Agra di mana? Bisa beli Online kagak 😭🤣


.


.


Ciiie yang bapar ciiie...


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote yah nakanak. Bantu supaya rank novel ini naik, ok ❤️😍


__ADS_2