
Selepas pertemuan keempat orang yang saling bersitegang itu berakhir, kehidupan Kinara yang penuh drama dan kebohongan dimulai kembali.
Kirana harus berpura-pura menjadi kekasih Ken selama Dika meminta itu dan juga selama tujuannya dan Agra belum tercapai.
Agra menjelaskan kenapa akhir-akhir ini dia susah dihubungi, atau lebih parah dari itu dia bolos kuliah. Semua alasan itu menjurus pada satu tujuan yaitu mempersiapkan diri dari serangan Dika terhadap perusahaannya, ketika nanti Kinara menggugat cerai.
Agra tidak mungkin menarik Kinara dalam pelukannya tanpa memberikan perlindungan yang pasti, hampir satu minggu dia dan Nathan bekerja keras untuk mempelajari dunia bisnis yang selama ini bahkan tak terbayangkan akan dia sentuh.
Selama bertahun-tahun dunianya hanya berputar pada kemewahan dan wanita, tapi kali ini perputaran itu berhenti pada satu wanita yaitu Kinara.
Demi Kinara, dia terjun langsung ke dalam dunia yang penuh persaingan itu. Hari itu pula Kinara menyerahkan beberapa bukti berupa foto dan video yang berhasil dia ambil ketika Dika sedang bersama dengan Carissa.
Kinara harap itu bisa sedikit mengurangi beban Agra, karena sepertinya Agra bekerja lebih keras dari dugaan Kinara.
Agra juga mengembalikan handphone Kinara dan membiarkan kondisinya seperti semula, tetap diretas. Hal ini agar Dika tidak menaruh perasaan curiga pada Kinara. Dengan catatan Kinara tidak boleh mengumpulkan bukti di handphone itu, ataupun juga tidak boleh mengirim pesan dan panggilan penting dengan handphone itu.
Kinara cukup terkejut ketika mengetahui handphone miliknya diretas oleh Dika, ternyata Dika memang menakutkan. Bisa bertindak sampai sejauh itu hanya karena cemburu, akhirnya terjawab sudah kenapa Kinara harus melakukan tugasnya sebagai seorang istri dengan cara dipaksa. Pikirnya.
***
Cuaca cukup cerah sampai sinar matahari yang tidak terlalu menyengat itu jatuh tepat di tubuh Kinara dan Alisa, sinar itu justru menghangatkan tubuh keduanya. Beberapa hari ini hujan turun berturut-turut, hanya berjeda satu dua hari saja, itu pun dengan kondisi cuaca mendung. Barulah sekarang matahari nampak di atas sana dan membagi sinarnya.
Kinara dan Alisa sudah bersiap masuk ke dalam minimarket setelah keduanya memarkir motor dan melepas helm, sampai sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan toko. Mobil itu bukan milik Dika atau Ken, apalagi milik Carissa.
Perlahan pintu mobil terbuka dan seorang laki-laki tampan dengan wajah dingin keluar dari dalamnya. Melihat itu Alisa panik, dia tergesa-gesa melangkahkan kaki untuk sampai ke dalam minimarket. Namun langkahnya kalah cepat dari laki-laki itu, dia sudah menarik pergelangan tangan Alisa dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang sebuah map coklat.
“Alisa! Kau Alisa, bukan?”
“Bukan! Aku bukan Alisa.” Alisa mengibaskan tangannya beberpa kali, namun tidak membuat laki-laki itu menyerah. Cengkraman tangannya justru semakin kuat.
“Kau tidak bisa berbohong padaku, Lisa. Kau memang Alisa!”
“Lepaskan aku, Nathan!” Alisa menggunakan tangan satunya lagi untuk memukul laki-laki yang dipanggil Nathan itu, tapi Nathan bergeming.
Nathan? Di mana aku pernah mendengar nama itu, rasanya tidak asing. Siapa yang pernah menyebut nama itu, yah? batin Kinara.
“Alisa, selama ini aku sudah berusaha mencari keberadaanmu," ucap Nathan.
“Aku tidak peduli. Kita sudah berakhir, kau tidak perlu bersusah payah mencari aku! Lepaskan aku, Nath, atau aku akan meneriakimu maling!” seruan Alisa terdengar marah, wanita yang selalu mengalah dan memiliki keluasan maaf itu ternyata bisa memperlihatkan ekspresi wajah seperti itu.
Ini kali pertama Kinara melihat Alisa seperti bukan Alisa yang dia kenal, Alisa yang lemah lembut sudah berubah menakutkan ketika berhadapan dengan Nathan.
“Teriak! Teriak saja jika kau ingin melihat aku mati dipukuli banyak orang!” Nathan balik mengancam. “Jelaskan padaku, Lisa! Kau berutang banyak kata maaf padaku!” Nathan berteriak, cengkraman tangannya semakin kuat sampai Alisa meringis kesakitan.
“Aku berutang maaf padamu? Tidakkah itu terdengar lucu?! Bukankah sebaliknya, kau yang berutang banyak padaku, Nathan?!” Alisa terisak, dari balik kacamata lebar itu meluncur bulir bening yang segera dia usap kasar. “Kau yang berutang padaku, Nathan ...,” lirihnya.
“Makanya, kita duduk dulu dan ayo bicarakan masalah ini baik-baik!" Nathan berusaha membujuk, tetapi tatapan mata Alisa tidak melunak sedikit pun. Ada kebencian yang teramat dalam di matanya.
“Aku tidak sudi duduk dengan manusia sepertimu!" Memukul dada Nathan. "Lepaskan aku, Nath. Ini sakit!” rintihnya.
“Bagaimana aku tahu di mana letak salahku jika kau terus sembunyi dan bersikap seperti anak kecil begini!” Nathan meninggikan suaranya lagi, terdengar melengking di tengah teriknya matahari.
“Lepaskan aku.” Alisa mulai terisak, ada tarikan napas yang mulai tak beraturan.
“Hey, lepaskan! Kau sudah menyakitinya, lihatlah pergelangan tangannya yang merah karena cengkraman tangan besarmu!” Kinara beridiri di depan Alisa dan membuka lebar matanya.
__ADS_1
Dia hanya berusaha melindungi temannya, Kinara berharap dengan menaikan volume suara dan melebarkan matanya seolah bola mata itu mau keluar bisa membuat laki-laki bernama Nathan itu sedikit takut.
Ternyata Kinara salah, laki-laki yang memiliki tatapan lebih dingin dari Dika itu tidak berkedip sedikit pun. Raut wajahnya yang angkuh dengan garis wajah yang tegas memperkuat citra menakutkan didirinya, alisnya tebal dan bibirnya yang tidak tersentuh sedikit pun senyuman sejak dia turun dari mobil semakin membuat Kinara jengkel. Kinara seperti sedang melihat kembaran Dika.
Nathan bergerak maju, Kinara mundur dua langkah dan memasang kuda-kuda seperti yang sering dia lihat di televisi. Namun kuda-kuda itu seratus persen salah, Kinara hanya berusaha terlihat kuat. “Ja ... jangan mendekat! Aku bilang jangan mendekat, jika tidak aku akan ....” Kinara menoleh melihat alisa.
“Aku akan apa, Lis? Memukulnya? Menendangnya? Aku tidak bisa melakukan itu,” gumamnya. Alisa menarik napas dalam, merengkuh bahu Kinara dan membuat Kinara berdiri di belakangnya.
Lucu sekali, pantas saja Tuan Muda jatuh hati pada Nona. Dia memikul banyak derita, tetapi terlihat seperti tidak memiliki masalah, batin Nathan.
“Apa yang kau lakukan, Lis? Dia mengincarmu, sebaiknya serahkan dia padaku dan kau lari cari bantuan, ok!” Kinara berusaha beridiri di depan Alisa.
“Tidak apa-apa, Kinara." Menyentuh bahu Kinara. "Dia adalah Nathan. Mantan kekasihku, dia tidak akan menyakiti kita berdua, yah itu pun jika dia belum banyak berubah.” Alisa menaikan sudut bibirnya.
Baiklah, Kinara mundur. Saat ini Alisa terlihat seperti landak, disentuh sedikit saja duri-duri di tubuhnya akan berdiri dan melukai siapa pun, lagipula itu urusan asmara, Kinara tidak berhak ikut campur jika yang punya masalah tidak meminta bantuan darinya.
“Kita bicara nanti, Alisa.” Nathan menepuk bahu Alisa. “Ada tugas yang harus aku selesaikan.” Nathan berjalan maju melewati Alisa dan mendekati Kinara.
“A ... ada apa ini? Ma ... mau apa kau? A ... aku teriak, yah. Jangan mendekat.” Kinara merogoh kantung tas dan mengeluarkan parfum miliknya. “Aku peringatkan jangan mendekat lagi, jika tidak akan aku semprot dengan ini.” Kinara menunjukkan parfum itu dengan mata tertutup.
Nathan tersenyum lebar. “Bagaiamana kau bisa menyemprot itu jika matamu tertutup?”
“Benar juga.” Kinara membuka matanya, masih dengan posisi berjaga-jaga.
“Apa kau Nona Kinara?” tanya Nathan.
Dari mana kau tahu namaku? batin Kinara.
“Kinara, ya aku Kinara, a ... ada apa?” jawab Kinara terbata.
Cih, wanita memang merepotkan, Nathan menggeram di dalam hati.
“Begini.” Nathan melepaskan dasi yang melingkar di lehernya dan menggulung lengan kemeja berwana maroon itu sampai siku.
“Apa dia pernah menyakitimu, Alisa? Kenapa saat ini dia seperti bersiap untuk menyerang kita?" Kinara berbisik.
“Tidak mungkin.” Alisa tersenyum sinis.
“Kenapa tidak?”
“Dia hanya menjadi pacarku selama tiga hari. Bagaimana dia sempat menyakiti aku?!” Alisa mencibir.
Tiga hari? Kisah asmara macam apa itu? singkat sekali, batin Kinara.
“Nona, aku adalah sekretaris Tuan Agra,” ucap Nathan terputus, “Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan anda.”
Agra? Jadi selama ini jarak antara kau dan aku sudah sedekat itu? Tapi aku bahkan tidak pernah mengetahuinya? Selama satu tahun ini aku seperti orang gila yang kehilangan dirimu, batin Alisa.
“Agra Grissham?” tanya Kinara ragu.
“Iya, memangnya ada Agra siapa lagi yang Nona kenal?!” jawab Nathan tegas.
Astaga, dingin sekali. Apa Agra kuat berada didekat laki-laki yang memiliki atmosfer lebih panas dari bumi ini? Sejak tadi dia tidak tersenyum sedikit pun, wajahnya terlalu kaku. Bagaiamana kau bisa memiliki hubungan denga laki-laki seperti ini, Lisa?” batin Kinara.
Kinara menoleh menatap Alisa. “Apa?” gumamnya sembari mengangkat bahu.
__ADS_1
“Apa tidak masalah jika Lisa tetap di sini? Mendengar pembicaraan kita?!” Nathan menaikan sudut alisnya sebagai bentuk peringatan.
Tidak, itu tidak mungkin. Kau pasti ingin berbicara soal Dika, ‘kan? Alisa belum tahu semuanya, batin Kinara.
“Alisa, maafkan aku, tapi bisakah ....” Kinara menundukan kepala.
Setelah sekian lama terpisah dan keduanya baru bertemu dengan suasana yang tidak baik, Kinara justru meminta Alisa untuk meninggalkan mantan kekasihnya dengan sahabatnya sendiri. Bagaimana Kinara bisa melakukan itu?
“Tidak apa-apa, Kinara. Aku mengerti, aku tahu seleranya bukan gadis sepertimu! Kau terlalu pintar untuk dibodohi seperti aku!” Alisa memutar tubunya, mengayun langkah lebar dan sudah menghilang di balik pintu minimarket.
Mendengar kalimat yang diucapkan Alisa membuat wajah Nathan semakin dingin seperti gletser yang baru saja pecah.
Keduanya sudah duduk di kursi pengunjung yang ada di depan toko.
“Jadi ada apa kau datang menemui aku?” tanya Kinara yang membuat fokus Nathan kembali tertuju padanya.
“Oh.” Nathan berdehem beberapa kali. “ Begini, Nona, sebenarnya ....”
“Kinara! Panggil aku Kinara saja, aku tidak terbiasa dipanggil seperti itu.”
Dipanggil Nyonya saja sudah membuat bulu kudukku berdiri, dan sekarang ada lagi sebutan Nona. Terima kasih, aku lebih suka dipanggil Kinara, batin Kinara.
“Mohon maaf, Nona, tapi aku tidak bisa melakukannya.”
Meskipun Kinara bersikeras melawan Nathan, pada akhirnya Kinara kalah dan harus mengalah. Sudahlah suka-suka Nathan saja mau memanggilnya apa. pikir Kinara.
Nathan menyodorkan map coklat pada Kinara. “Tuan memintaku memberikan ini pada Nona.”
Dahi Kinara berkerut menerima map itu. “Apa ini?”
“Aku tidak tahu pasti apa isi di dalamnya, tetapi yang jelas Tuan bilang ini akan membantu Nona untuk bicara dengan Ibu Nona. Besok Nona akan pulang ke kampung halaman, bukan? Menemui Ibu Nona.”
Kinara menatap lekat map coklat itu, kedua tangannya mengepal. Jika dugaannya benar map itu berisi beberapa bukti tentang kalakuan jahat Dika. Kinara menelan salivanya, akankah Kinara sanggup membongkar kelakuan buruk Dika padanya, menantu yang dipilih langsung oleh Almarhum Ayahnya.
"Kenapa, Nona? Apa aku perlu bertanya pada Tuan tentang isinya?"
"Tidak! Tidak perlu, Nath."
Kinara mengerti ke mana arah pembicaraan Nathan. Dia segera meraih dan menyimpan map itu ke dalam tas tanpa melihat isinya.
“Hanya ini?” tanya Kinara.
“Iya, Nona.” Nathan mengangguk sopan.
“Baiklah, terima kasih, Nathan. Senang bertemu denganmu.” Kinara bangkit dari kursi. “Lain kali jika datang menemui Alisa kau harus berlatih tersenyum, wajahmu terlihat menakutkan.”
Nasihat Kinara itu menutup pertemuan keduanya.
\=\=\=> Bersambung....
.
Hayooo, ada hubungan apa Nathan dan Alisa 🤣😅
.
__ADS_1
Jangan lupa klik Like dan VOTE yah 😍❤️