
“Wa’alaikumsalam,” jawab Mirna dan Ken serentak. Keduanya langsung menoleh dan mencari sumber suara. Begitu nelihat Amanda masuk ke ruang keluarga Ken segera menggelengkan kepala pelan ke arah Mirna, berharap Mirna mengerti dengan bahasa yang ditunjukan Ken. Namun, Mirna justru tersenyum tipis.
“Sedang apa, Bu? Tadi kudengar Ibu menyebut namaku?” tanya Amanda sembari melepas tas sekolahnya dan meletakan kotak tempat gorengan di samping Mirna. “Gorengannya masih sisa 5, Bu,” imbuhnya sembari berlalu ke dapur. Sepertinya Amanda haus.
“Tadi Nak Ken bertanya sesuatu sama Ibu,” ucap Mirna begitu Amanda kembali dari dapur.
“Tanya apa? Memang ada hubungannya dengan Manda? Kok sampai sebut-sebut nama Manda.” Amanda duduk dengan segelas air dingin di tangannya.
“Kau tanya langsung saja.” Mirna bangun dari kursi sembari menenteng kotak tempat gorengan dan sempat tersenyum ke arah Ken.
“Kenapa Mas Ken? Ada yang bisa Manda bantu?” Amanda menatap wajah Ken dengan tatapan polos, dia tidak tahu seserius apa pertanyaan yang akan Ken ajukan padanya.
“Itu ...,” ucap Ken terputus. Apakah aku harus bertanya langsung? Bukankah ketika seseorang melakukan ta’aruf saja si calon bisa bertanya ke orang lain? Apakah tidak ada yang bersedia membantuku, begitu?
“Kenapa?” Amanda tersenyum. Dia sampai bertanya untuk yang kedua kalinya karena Ken diam saja.
Berhenti tersenyum seperti itu, Manda. Kenapa kau begitu menggemaskan, bahkan baru pulang sekolah saja kau masih terlihat manis, batin Ken.
“Ayolah, Mas Ken mau bertanya soal apa? Manda harus ganti baju.” Amanda nampak tidak tenang dalam duduknya. Sesekali menggaruk punggung dan lehernya, mungkin karena gerah, padahal sejak tadi kipas di ruang keluarga sudah menyala dengan kekuatan penuh. Rupanya terik matahari berhasil membuat tubuh kecilnya kepanasan.
“Nanti saja. Sekarang lebih baik Manda ganti baju dulu. Setelah itu Mas baru tanya lagi.” Lebih baik seperti ini kan? Apalagi jika dia lupa dan aku tidak perlu bertanya padanya.
“Manda sekalian mandi yah Mas. Gerah sekali ini, tadi jalanan panas jadi keringetan.”
“Iya, soal pertanyaan mah gampang, kapan-kapan saja, tidak terlalu penting juga.” Ken tersenyum terpaksa. Sabar, Ken. masih banyak waktu, kau tidak perlu terburu-buru begitu. Kenapa kau terlihat seperti remaja yang sedang kasamaran?
Amanda menggangguk dan segera bangun. “Ditinggal dulu yah, Mas.” Masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil handuk.
Selepas Amanda pergi Ken lebih memilih untuk kembali ke kamar dengan laptop dan tumpukan berkas di tangannya. Masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Jangan bertanya ke mana perginya Dika. Dia sedang asik dengan dunianya, merayu dan membujuk Kinara.
“Aiiis, mungkin pepatah yang benar itu bukan ‘Di balik pria sukses ada wanita hebat’ pepatah itu benar-benar salah. Yang benar adalah ‘Di balik Boss yang sukses ada Asisten yang teraniaya’ yah, itu baru benar.” Ken sempat menggerutu ketika tangannya menekan gagang pintu. Makiannya baru berakhir begitu dia masuk ke dalam kamar.
***
Waktu sudah menunjukan pukul empat sore. Ken masih sibuk di dalam kamar, sementara Dika sedang menemani Mirna bercocok tanam. Mungkin lebih tepatnya merusak kebun, alih-alih membantu Dika justru membuat beberapa tanaman rusak.
“Manda.” Kinara masuk ke kamar Amanda dengan tergesa, bahkan tanpa mengetuk pintu lebih dulu, membuat gadis berusia 16 tahun yang sedang berada di depan meja belajarnya melonjak terkejut.
“Astaghfirullah, kaget aku, Kak. Kenapa?” tanya Amanda sembari melepas kacamata dari wajahnya.
“Kakak harus bagaimana, Manda?” Kinara menjatuhkan kasar tubuhnya di atas kasur. Menutup wajahnya dengan telapak tangan, tarikan napasnya terdengar berat.
__ADS_1
Setelah meletakan buku dan pulpen Manda berjalan mendekati ranjang dan duduk di tepinya. Tepat di samping Kinara yang sedang telentang. “Kenapa, Kak?”
Kinara tersenyum. “Tidak apa-apa, Dek. Kakak hanya ingin istirahat di kamrmu.”
Amanda mengerutkan keningnya. Alasan itu terdengar mengada-ada, karena pada dasarnya kamar yang ditempati Kinara jauh lebih nyaman dari kamar Amanda.
“Terkadang kita perlu membagi beban dengan orang lain agar duka di hati kita sedikit berkurang, Kak.”
Kinara melepas telapak tangannya, menatap lekat wajah adiknya yang saat ini sedang tersenyum. “Benar kata Bapak.” Kinara tersenyum. “Kau gadis yang luar biasa, Manda.” Tanpa mengubah posisi Kinara membelai pipi mulus adiknya.
“Apa sih, Kak? Apa Kakak datang hanya untuk memujiku? Itu tidak perlu, sudah banyak yang memujiku.” Amanda tersenyum lebar, akhirnya Kinara pun tertawa melihat tingkahnya. “Ceritakan semuanya pada Manda, siapa tahu Manda bisa bantu Kakak.” Membelai tangan Kinara.
“Apa kau percaya jika jodoh itu rahasia Tuhan?”
Amanda menganggukan kepala. “Tentu saja, hal itu tidak perlu diragukan. Jika jodoh bukan rahasia Tuhan, aku bisa minta sama Tuhan supaya dijodohkan dengan Hamish Daud.”
“Sudah punya Raisa. Kau tidak akan menang dari Raisa.” Menyentil dahi Amanda.
“Aku kan hanya mengumpamakan.” Amanda mengusap keningnya sembari mengerucutkan bibir. “Memangnya kenapa sampai bertanya begitu?”
“Apa mungkin Tuhan salah memberi kita jodoh?” Kinara menggigit bibir bawahnya. Dia tidak berharap banyak Amanda bisa menjawab pertanyaan seperti itu, tetapi lebih tidak mungkin jika dia bertanya pada Mirna.
Kinara menoleh. “Kenapa terdengar seperti judul sinetron?”
Amanda tertawa kecil. “Ada yang bilang seperti ini padaku. ‘Terkadang kita harus bertemu dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang benar’ tapi aku sedikit tidak setuju jika kalimat itu digunakan untuk masalah jodoh. Menurutku jodoh itu seperti cerminan diri kita, Kak.”
“Jadi jika kebetulan kita bertemu dengan laki-laki yang jahat, artinya kita juga jahat? Kan sesuai cerminan diri kita.”
Amanda nampak diam. “Ini yang sering menjadi perdebatan. Katanya, kita sudah menjadi pribadi yang baik, tetapi malah berjodoh dengan laki-laki yang tidak baik. Kalau menurutku mungkin kita itu masuk golongan istimewa.”
Kali ini Kinara yang mengerutkan keningnya. “Golongan istimewa?”
Amanda mengangguk. “Kita tergolong orang pilihan yang diminta Tuhan untuk lebih bersabar dalam menghadapi ujian pernikahan. Sekarang begini, coba kita kerucutkan masalahnya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Kakak dan Mas Dika?”
Kinara bangun. Nampak terkejut dengan pertanyaan Amanda. “Kenapa kau bertanya seperti itu? Yang kita bicarakan tidak ada hubungannya dengan Kakak dan Mas Dika.”
“Ayolah, Kak. Aku bukan anak kecil, Kak. Aku tahu Kakak memiliki masalah yang sangat berat dengan mas Dika, sampai Kakak memutuskan untuk berpisah. Sebenarnya Kakak juga sedang bimbang ‘kan?”
Kinara menundukan kepala, meremas ujung bajunya. “Intinya Mas Dika ingin kami rujuk.”
“Ya sudah, rujuklah. Lalu di mana masalahnya?”
__ADS_1
“Kakak terlalu sakit hati dengan kelakuan Mas Dika, Manda.”
“Kak, memelihara rasa sakit hati itu seperti memelihara ular berbisa di dalam rumah. Suatu hari ular yang Kakak rawat itu bisa berbalik menggigit dan membunuh Kakak. Tidak ada ruginya membuang perasaan sakit hati. Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan dosa, kita semua berdosa. Hanya saja berbeda takaran dan cara melakukannya. Hanya ada satu yang harus Kakak pertimbangkan.”
“Apa?”
“Apakah Mas Dika sudah berubah?”
Kinar mengangguk.
“Berarti cukup. Tuhan saja tidak menilai masa lalu hamba-Nya asalkan dia mau berubah.”
“Lalu jika Kakak tidak mencintainya bagaimana?”
“Kakak tidak mencintai Mas Dika. Aku sedikit terkejut, karena jika menurutku sebenarnya Kakak masih mencintai Mas Dika. Terlihat jelas di mata Kakak."
“Tidak. Kakak tidak mencintainya.”
“Emmm ... untuk soal cinta sepertinya aku tidak bisa memberikan banyak masukan untukmu, Kak. Aku saja belum pernah jatuh cinta. Hanya saja, yang perlu Kakak tahu. Cinta dan benci itu bedanya sangat tipis.” Amanda meraih buku di meja belajarnya. “Sekatnya hanya seperti ini. Setipis sampul buku dengan lembar kertas, dibuka sedikit saja maka kebencian bisa berubah menjadi cinta.”
Bersambung...
.
.
Jangan lupa LIKE, KOMEN POSITIF, DAN VOTE YAH.
.
.
Follow IG. emak yah, karena ada beberapa info yang di post di ig. Termasuk tentang novel baru emak.
.
.
IG : @RoseeLily16
FB : RoseeLily
__ADS_1