Takdir Cinta Kinara

Takdir Cinta Kinara
Handphone Agra


__ADS_3

“Sudahlah, tidak ada yang bisa menolak keinginanmu, bukan?” Kinara meraih jaket itu, memakainnya dan membiarkan rambut panjangnya tersimpan di dalam jaket milik Agra.


Agra tersenyum puas.


Agra sudah memacu motornya.


“Kau tahu di mana wartegnya?” Agra sedikit berteriak, helm itu membuat suaranya tenggelam.


“Mana aku tahu, aku kan masih baru di kota ini.” Kinara ikut berteriak.


Agra menepikan motornya, melepas helm dan memutar tubuhnya. “Coba cari di google warteg di sekitar jalan A.”


“Baik.” Kinara mengeluarkan handphone dan mulai mengetik.


“Ada satu warteg di jalan ini, apa cukup dekat dari sini?” Kinara menyodorkan handphone miliknya di depan wajah Agra.


Agra mulai membaca deretan nama jalan dan nama warteg terdekat yang ditampilkan layar handphone.


“Ingat yah namanya warteg sari rasa, matamu itu lihat kiri kanan. Jangan lihatin aku terus.” Agra mengenakan kembali helmnya.


"Kau pikir kepalaku ini ada dua? Yengok kiri ya kiri saja, kanan ya kanan saja. Kau harus memilih salah satu.” Kinara bersungut.


Benar-benar keras kepala.


Agra membatin.


“Aku memilihmu.” Agra terkekeh.


“Itu tidak termasuk.” Kinara mendengus, Agra hanya tersenyum. Dia kembali memacu motornya. Tak berapa lama Kinara menepuk-nepuk pundak Agra.


Agra menepikan motornya. “Apa sih, pakai tepuk-tepuk pundak segala.”


“Itu loh.” Kinara menunjuk.


“Aih, itu wartegnya. Itu kenapa kecil sekali, Kinara? Kau yakin itu tempat makan?” Agra meletakkan helmnya dan turun dari motor.


“Memang kau pikir apa? Kamar mandi? Kau tidak lihat orang-orang sedang makan? Ya jelas itu warteg.” Kinara melangkah mendekati warteg, Agra mengekor dari belakang.


"Apa di sini higienis?” Agra meragukan.


“Mudah-mudahan, tetapi tidak semua tempat makan di pinggir jalan itu kotor dan jorok, Agra.


Kau harus lebih memperhatikan mereka, mereka juga butuh uangmu. Untung saja mereka bekerja dan tidak meminta-minta belas kasihan orang lain,


kita juga harus membantu perekonomian para pedagang kecil.” Kinara masih berjalan, semakin dekat dengan warteg.


Agra hanya terpaku, terkagun-kagum dengan kebaikkan yang terpancar dari hati Kinara.


Warteg Sari Rasa.


“Bang, nasi setengah porsi. Pakai sayur sop sama telur dadar, jangan lupa sambalnya yah, bang.” Kinara segera memesan makanan begitu dirinya sudah duduk di warteg. “Kau mau makan apa, Agra?”


Agra terperanjat. “Eh..? Sama seperti yang kamu pesan.”


“Kau yakin?” Kinara meyakinkan.


Agra mengangguk, tidak tahu harus berkata apa lagi.


“Kau mau perkedel kentang?” Kinara menawarkan.


“Per... per apa?” Wajah Agra bingung.

__ADS_1


Kinar tertawa. “Sudahlah, aku yang akan memilihkan makanan untukmu.”


“Bang, satu lagi nasi setengah porsi pakai sayur sop, perkedel dan ayam goreng yah.” Kinara memesan makanan untuk Agra.


“Kau mau mustofa?” Kinar menununjuk.


Ya Tuhan, apa lagi itu? sejak kapan nama orang berubah menjadi nama makanan?


Agra membatin, heran.


“Mus... mus apa? Musafir?” Agra benar-benar kebingungan dengan nama makanan yang baru saja disebutkan Kinara.


“Kentang mustofa.” Kinara mengetuk kaca transparan yang menjadi pembatas menu makanan di warteg itu, menunjuk pada kentang mustofa yang dia maksud.


“Ti..tidak, sudah cukup.” Agra menyerah.


“Terima kasih, bang.” Kinara menerima dua piring nasi dari pemilik warteg. “Es teh manis dua yah, bang.”


“Nah, cobalah.” Kinara meletakkan piring makanan yang dipesannya untuk Agra.


Agra menatap nanar piring itu, seumur hidupnya ini kali pertama Agra makan di warteg dengan nama makanan yang terdengar asing di telinganya, terlebih lagi dengan nama makanan yang terakhir disebutkan Kinara.


“Ayo, dimakan.” Kinar sudah menyendok nasi dari piringnya dan mengunyah santai. “Coba dulu, enak kok masakannya.” Kinara meyakinkan.


Agra mulai menyendok nasi, memotong perkdel dan ayam goreng lalu memasukkan sendok itu ke dalam mulutnya.


Lindungi aku, Tuhan. Semoga perutku bisa dikompromi.


Agra membatin.


“Bagaimana?” Kinara penasaran dengan tanggapa Agra tentang makanan yang baru saja mendarat di mulutnya.


“Apanya.” Agra pura-pura tidak mengerti, meski sebenarnya dia mengerti jelas ke mana arah pertanyaan Kinara.


“E... enak, kok, enak.” Agra nyengir, jelas telihat dipaksakan.


Aih, sebenarnya apa yang biasa tuan muda ini makan? Aku sudah memilih menu yang lumayan mahal, sudah pakai ayam goreng pula.


Kinara membatin.


“Kemarikan piringmu.” Pinta Kinara.


"Apa lagi? Tidak, Kinar. Ini sudah cukup." Agra menggeleng.


"Berikan padaku, ayolah." Kinara membujuk.


Agra menyerah, dia menyodorkan piring makanan miliknya.


"Bang minta mustofa, yah.”


Tuh kan, itu lagi. Nama makanannya saja aneh, apa lagi rasanya.


Agra menggerutu di dalam hati. Seumur hidup, dia tidak akan berani mengatakan langsung di depan para pecinta warteg.


Mereka berjejer, duduk di samping Agra seperti peserta yang sedang mengikuti acara lomba makan. Agra melirik ke samping kananya.


Astaga, kakinya nangkring di kursi.


“Nah, coba mustofanya.” Kinara meletakkan piring yang sudah ada mustofa di atas nasinya.


“Ini, apa tadi? Musafir? Musrofa?” tanya Agra.

__ADS_1


“Mustofa, sudahlah coba dulu.” Kinara memaksa.


Pemaksa, selain keras kepala aku baru tahu jika Kinar pintar memaksa. Aku sampai tidak berkutik dibuatnya.


Batin Agra.


“Bagaimana?” tanya Kinara.


Agra mencobanya, menyendok kentang mustofa dan menelannya. “Ini, enak. Serius enak, kriuk dan bumbunya terasa. Aku suka mustapa ini.” Agra kembali menyendok nasi dan kentang mustofanya.


“Mustofa, Agra, mustofa.” Kinara mengulangi.


“Yah, pokoknya itu lah.”


Setelah selesai makan, Kinara melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


Seharusnya sebentar lagi kuliah sudah selesai, aku harus segera ke kampus. Duh, aku tidak punya nomor Alisa.


Lupa minta pula.


“Agra, kau punya nomor Alisa?” Kinara meneguk es teh manisnya. “Aku ada perlu dengannya, aku takut Alisa keburu pulang. Habis ini kita balik ke kampus yah?”


“Nih, cari sendiri.” Agra menyodorkan handphonenya. Dia terlalu asik dengan kentang mustofa.


Kinara menerima handphone itu, menekan tombol kecil yang ada di samping. Mata Kinara terbelalak ketika melihat walpaper di layar handphone Agra.


“Walpapernya...” Kinara tidak berani melanjutkan kalimatnya.


“Oh, itu dirimu. Dari belakang, maaf aku memotretmu diam-diam, tapi dari belakang, kok. Aku bahkan terlalu pengecut untuk meminta fotomu.” Agra meneguk es teh manisnya.


Kinara lebih memilih diam, tidak ingin semakin dalam melukai hati Agra.


“Kodenya?” Kinara melirik.


Agra menoleh. Keduanya beradu tatap. “Namamu, bukankah hari itu kau sudah tahu?”


Kinara tidak tahu harus berkata apa lagi, semua yang di lakukan Agra lebih dari cukup. Haruskah dirinya berkata jujur? Bisakah Agra tetap menerima Kinara sebagai seorang teman? Jika Agra mengetahui Kinara telah menyembunyikan statusnya dari Agra. Sekelumat kekhawatiran menggelayuti hati Kinara.


Kinara mulai membuka handphone Agra, berusaha melupakan perasaan bersalahnya. Di lihatnya daftar kontak di handphone Agra. Kontak paling atas adalah namanya, dengan simbol hati di bagian depan dan diikuti nama ‘My Kinara’.


Deg... hati Kinara bedegup tidak karuan.


Cepat-cepat Kinara menggeser dan mencari nama Alisa, namun Kinara tidak menemukan nama Alisa di sana. Hanya ada nomor ayahnya, ibunya, dan nomor Kinara.


“Agra, hanya ada tiga nomor di handphonemu.” Kata Kinara.


Uhukkk... Agra tersedak. “Aku lupa, aku menghapus semua daftar kontak di handphoneku.”


“Loh, kenapa?” Kinara memutar tubuhnya.


“Bukankah aku sudah mengatakannya, untuk bisa mendampingi wanita baik-baik sepertimu aku juga harus menjadi laki-laki yang baik, bukan?” Agra menoleh. Keduanya beradu tatap.


“Lalu apa hubungannya dengan nomor di hanphonemu.” Kinara menyodorkan kembali handphone milik Agra.


“Kau tahu, Kinara? 90 % penghuni handphoneku adalah nomor wanita. Yang pernah aku kencani, yang sedang aku kencani, dan yang akan aku kencani.” Agra menerima handphone itu dan memasukkan kembali ke kantung celananya. “Karena aku sudah memutuskan untuk berhenti menjadi laki-laki brengsek, aku memilih untuk tidak berhubungan dengan wanita-wanita itu. Dan langkah pertama yang aku ambil adalah memutus hubungan baik melalui telepon maupun media sosial.” Agra serius.


\=\=\=\=> Bersambung....


Mana tanda dukungan kalian untuk Author nih??


Jangan lupa KLIK LIKE, FAVORITE, KOMENTAR, VOTE YANG BANYAK DAN RATE BINTANG 5.

__ADS_1


Salam sayang dari author AL ❤️❤️


Bantu author dengan like yah kak.. yang kelupaan like tiap babnya, bisa boom like yah, yang belum vote.. buruan di vote.. author sedih masa like nya msih segitu2 ajah.. votenya gak naik2 😪😪


__ADS_2