
“Biar saya saja yang beli, Tuan Muda.” Ken bersiap turun dari mobil sampai Dika menghentikannya. Dia bilang, dia sendiri yang akan mengantre dan membeli bubur untuk mantan istrinya.
Inikan permintaan istriku, Ken. Kenapa kau harus repot-repot membelinya! Awas saja jika kau punya perasaan pada Kinaraku, batin Dika.
“Biasanya bubur seperti apa yang Kinara suka?” Dika memastikan lagi sebelum turun dari mobil dan ikut berjuang, mengantre demi bubur ayam idaman Kinara.
“Nyonya bukan seorang pemilih, Tuan.”
Iya, aku tahu itu. Aku ‘kan suaminya, jangan sok tahu deh! batin Dika kesal.
“Biasanya Nyonya beli bubur tanpa kacang dan daun bawang. Nyonya tidak suka dua jenis makanan itu," imbuh Ken.
“Baiklah.”
Mobil terbuka, Dika turun dengan setelan tiga potong yang sangat resmi. Lehernya yang dililit dasi, sepatu mengkilat, tatanan rambut berpomade, dan wajah tampannya jelas menyita perhatian pelanggan yang rata-rata kaum berdaster. Mereka
serentak menengok dan berdecak kagum melihat pemandangan indah di depan mereka. Sebenarnya mereka sering bertemu dengan laki-laki berjas, lagi pula tukang kredit panci dan tupperware juga mengenakan jas. Namun, aura yang Dika keluarkan jelas berbeda.
Ini pasar! Pasar! Untuk apa laki-laki super tampan datang ke pasar? Seharusnya dia berada di restoran mewah dengan menu berharga ratusan ribu di tangannya. Itulah yang dipikirkan sebagian emak-emak berdaster.
Namun, Kinara adalah alasan terpenting di dalam hidupnya. Seorang Tuan Muda yang memiliki segalanya rela turun ke pasar demi memenuhi keinginan mantan istrinya.
Hanya 5 menit Dika mengantre. Dia sudah kembali ke dalam mobil, duduk manis sembari memegang tiga kotak bubur dengan seutas senyum di wajahnya.
“Cepat sekali, Tuan Muda?” tanya Ken sembari menghidupkan mobil.
Mobil sudah melaju menuju rumah Kinara.
“Kau kan tidak sepintar diriku.” Dika tetap tersenyum.
Ken menelan ludah sembari membatin kesal, Kenapa tidak bilang saja kau 'kan bodoh? Kenapa harus memutar-mutar kalimat yang intinya sama?
“Jika itu dirimu, pasti saat ini masih mengantre,” ucapnya bangga dengan wajah super menyebalkan.
Ken tersenyum terpaksa. Benar, jika itu diriku mungkin aku harus menunggu sampai tiga jam baru dapat buburnya, batin Ken.
“Aku pandai menggunakan otakku.”
Tentu saja, kau memang pandai Tuan Muda. Aku sendiri bahkan lupa di mana terakhir kali menaruh otakku. Mungkin saja ketinggalan di pasar tadi, batin Ken semakin kesal. Sejak kapan Dika jadi semenyebalkan ini?
“Seharusnya kau banyak belajar dariku, Ken.” Senyumnya semakin lebar.
“Benar, Tuan. Banyak hal yang harus aku pelajari darimu.” Ken tersenyum masam.
Asal kau senang, aku akan menyanjungmu sampai ke puncak gunung Himalaya. Lain kali aku tidak akan bertanya. Aku bertanya satu pertanyaan dan dia bahkan tidak menjawab pertanyaanku, tetapi malah meremehkan aku tiga kali, batin Ken.
__ADS_1
“Kau tidak penasaran bagaimana aku bisa mendapatkan bubur ini dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya?” Dika bertanya dengan senyum lebar dan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
Aku jadi ingat pelajaran Sekolah Dasarku, dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya, batin Ken tertawa geli.
“Tentu saja aku penasaran, Tuan Muda. Dengan otakku yang hanya segaris ini aku tidak bisa menebak hal ajaib apa yang Tuan Muda lakukan pada emak-emak itu.”
Biar saja, biar dia senang. Padahal aku tidak penasaran. Aku tidak peduli jika saat ini terlihat seperti penjilat, batin Ken.
“Aku tadi membayar orang-orang yang sedang mengantre itu," katanya bangga.
Ken melongo, sembari tetap fokus menyetir. Tunggu, apa maksudnya dengan membayar? Memberi suap begitu? Dan dia bangga? batin Ken.
“Iya, aku bayar seratus ribuan per orang agar aku bisa dilayani lebih dulu," katanya lagi. Masih dengan wajah jumawa.
Ken tersenyum masam, cepat-cepat dia menyetel wajah terkagum-kagum daripada urusannya semakin panjang.
Aku pun bisa melakukan itu jika menggunakan uang, Tuan? Lalu di mana letak pintarnya? batin Ken.
“Iya, benar, Tuan. Jika itu aku, aku tidak akan terpikirkan untuk melakukannya. Pikiranku tidak akan sejauh itu."
Apa kau puas? batin Ken.
Tanpa terasa mobil sudah berhenti di depan rumah Kinara.
Ken turun dari mobil sambil menenteng tiga kotak bubur ayam. Saat ini Kinara sedang menikmati buah apel yang sudah di potong-potong.
“Loh, Ken?” Kinara bangkit dari kursi. “Kenapa kau ada di sini? Apa ada yang tertinggal?"
Ken sudah berdiri di depan Kinara. “Tidak ada, Nyonya. Tadi aku kebetulan lewat jalan yang dekat pasar itu, dan aku membeli bubur kesukaan, Nyonya.” Ken menyodorkan bubur itu.
“Eh, bubur?”
Kenapa kebetulan sekali, aku memang sedang ingin bubur. Lagipula arah kantor dan arah rumah Dika tidak sama dengan arah pasar, batin Kinara.
“Hari ini saya ada rapat di perusahaan lain, Nyonya. Jadi lewat jalan itu,” sergah Ken segera menepis keraguan Kinara.
“Oh ... terima kasih, Ken. Aku memang sedang ingin makan bubur."
Dan berhasil, Kinara menerima begitu saja bubur itu tanpa tahu sebenarnya dari siapa bubur itu berasal.
Dika yang berada di dalam mobil tentu sangat bahagia manakala usahanya menyuap emak-emak berbuah manis. Dia melihat ekspresi Kinara dari balik kaca mobil.
“Apa yang kau tunggu? Aku sudah menerima buburnya." Kinara tersenyum.
“Anu ....”
__ADS_1
Aku menunggumu makan buburnya, Nyonya. Karena mantan suamimu yang sedang bersembunyi di dalam mobil itu, sudah memberiku peringatan agar kau langsung memakan bubur ini, batin Ken.
“Jika tidak keberatan, aku ingin melihat Anda makan buburnya, Nyonya.” Ken menundukan kepala, merasa tidak enak.
Kinara tertawa kecil sembari meletakan bubur di atas meja.
Beruntung Nyonya hanya tersenyum, Ken. jika itu wanita lain, mungkin kau akan ditampar atau dilempari sandal karena bersikap lancang, batin Ken.
“Itu, Nyonya tahu 'kan jika Kang bubur ini antrenya bukan main?”
Kinara menganguk.
Mati saja, Ken!
“Itu, aku hanya ingin memastikan Nyonya memakannya. Jadi ....”
Ken nampak mengagntung kalimatnya.
“Kau tidak ingin aku menyia-nyiakan pengorbananmu selama mengantre untuk mendapatkan bubur ini?” Kinara langsung bicara ke inti. "Begitu?"
Benar, itu benar sekali, Nyonya. Batin Ken.
Ken hanya mengangguk diikuti senyum tipis.
Apa kali ini ayahmu juga datang, Nak? batin Kinara, dia mengelus perutnya sembari memperhatikan mobil yang terparkir di depan rumahnya. Tepat menghadap teras di mana sekarang dia duduk.
Kinara sudah curiga sejak Ken membawa berkas perceraian di tengah hujan berpetir, tetapi ngotot untuk bicara di teras rumah. Sudah pasti ada yang tidak beres,
juga kebetulan-kebetulan lainnya. Pasti salah satu dari pelayannya ada yang bekerja sama. Seperti saat ini, dia ingin bubur dan tiba-tiba Ken berdiri di depannya dengan tiga kotak bubur. Jika itu kebetulan, jelas kebetulan yang tidak masuk akal.
“Baiklah. Aku akan makan jika kau mau duduk di sampingku, Ken.” Kinara membuka sekotak bubur. Ken tidak banyak bertanya. Dia sudah duduk di samping Kinara, di kursi sebelahnya.
“Boleh aku bertanya sesuatu, Ken?” tanya Kinara disela kegiatan makan bubur.
Ken mengangguk.
“Kenapa setiap kali ke rumahku kau selalu membawa mobil itu?”
Ken nampak berpikir. Ke mana arah pertanyaan Kinara.
“Apa mobil itu di desain khusus? Aku tidak bisa melihat ke dalam mobilnya.”
Ken tetap tenang, tidak menunjukan gelagat mencurigakan.
“Iya, Nyonya. Itu mobil kesukaan Tuan Muda. lebih aman katanya.” Ken menjawab sekenanya. “Baiklah, karena Nyonya sudah makan buburnya, jadi saya pamit pulang.” Ken bangun dari kursi.
__ADS_1
Kenapa kau terkesan buru-buru begitu, Ken? Apa dugaanku benar? Dika ada di dalam mobil itu, tapi kenapa tidak keluar saja? Apa enaknya mengawasi diam-diam begitu? Aku harus membuktikan kecurigaanku, batin Kinara.
Bersambung.....